
Ivan melajukan motor nya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Membelah jalanan yang terasa panas akibat terik matahari disiang itu, sama seperti hati nya yang sedang terbakar cemburu.
Ivan hanya berhenti untuk beristirahat sejenak dan kembali melajukan motor nya agar segera tiba dirumah bapak dan ibu nya. Dan udara terik matahari kini telah berganti dengan udara sejuk dan pemandangan yang membuat hati sedikit lebih tenang saat motor yang dikendarai Ivan telah memasuki daerah dikampung nya yang terletak di kaki gunung yang memiliki pemandangan menyejukan karena dikelilingi oleh area persawahan yang berbukit bukit dan juga berbagai perkebunan sayuran dan buah buahan yang terbentas luas sejauh mata memandang. Juga aliran sungai yang menjadi pembatas jalanan setapak yang menambah kesan segar dan sejuk di perkampungan itu.
Ivan membuka kaca helm nya dan memelankan laju motor nya sembari menikmati angin sore yang terasa menyegarkan.
'ah, ini bener bener buat hati dan fikiran tenang' batin Ivan sembari terus melajukan motor nya
Udara diperkampungan memang sangat jauh berbeda dikota, dan untung nya dia pernah tinggal disini sehingga ada tempat untuk menenangkan diri dari segala kegundahan hati nya.
Beberapa warga desa yang kebetulan sedang melintas semua melihat kearah Ivan yang dengan gagah nya memakai motor besar keluaran terbaru dan pasti nya mahal apalagi dengan penampilan yang terlihat keren, dengan jaket kulit dan sepatu mewah yang menghiasi kaki nya.
Dia memberi sapaan pada warga desa yang terlihat antusias melihat nya, sungguh sudah lama sekali dia tidak melihat suasana yang hangat seperti dikampung ini.
Dan tidak lama kemudian Ivan tiba dirumah pak Tarman, dia memarkirkan motor nya didepan rumah pak Tarman yang kini telah berubah, Maxwel telah memerintahkan orang suruhan nya untuk merenovasi rumah orang tua angkat Ivan itu menjadi lebih baik.
Jika dulu nya hanya berdinding papan dan beratapkan genteng usang, maka kini rumah itu sudah menjadi rumah yang kokoh dan lumayan besar untuk ukuran warga kampung.
Sari yang sedang menyapu dihalaman rumah itu begitu terkejut melihat seorang pemuda yang memarkirkan motor besar nya disana. Dan saat Ivan melepaskan helm dari kepala nya barulah dia tahu bahwa pemuda itu adalah Ivan, anak angkat nya.
"Bu, apa kabar?" tanya Ivan langsung dan berjalan mendekat kearah Sari
"Oalah koe to Van, aku kira sopo." kata Sari sembari memukul pelan pundak Ivan yang langsung tertawa kecil
"koe sendirian Van?" tanya Sari saat Ivan selesai mencium punggung tangan nya
"iya Bu, Toni ada ujian besok, jadi gak bisa ikut pulang" jawab Ivan
"Oalah, yowes ayo masuk. bapak mu dibelakang itu lagi ngasih makan bebek nya" kata Sari dan Ivan hanya mengangguk mengikuti langkah kaki ibu nya itu menuju ke belakang rumah setelah sebelum nya dia meletakan tas nya didalam kamar yang memang disediakan untuk nya.
Sari yang sekarang sudah lebih hangat pada Ivan, mungkin karena tahu jika semua yang dia dapat karena orang tua kandung Ivan, sehingga dia tidak lagi bersikap ketus pada anak angkat nya itu. Ya, sejak Ivan bertemu orang tua kandung nya, kehidupan pak Tarman dan Sari begitu berubah, mereka tidak pernah lagi kekurangan apapun, semua nya sudah tersedia, berhektar hektar tanah, kebun dan puluhan ternak yang menjadi bekal hidup mereka diberikan oleh Maxwel.
Ivan langsung tersenyum melihat seorang paruh baya dengan kain sarung dan kaus oblong nya tengah memberikan pakan bebek bebek nya yang sangat banyak.
__ADS_1
"pak" panggil Ivan membuat pak Tarman terkesiap kaget
"loh Van, koe Dateng le" kata Pak Tarman langsung meletakan pakan ternak nya dan mencuci tangan nya dengan cepat sebelum akhirnya Ivan datang pada nya dan mencium punggung tangan nya
"bapak sehat kan" tanya Ivan menatap wajah keriput orang yang sudah membesarkan nya itu
"sehat le, bahkan lebih sehat karena koe Dateng kemari" jawab Pak Tarman membuat Ivan langsung tertawa lucu, ya, salah nya juga sudah hampir dua bulan dia tidak mengunjungi keluarga ini
"maaf ya pak, Ivan baru bisa pulang sekarang, banyak tugas kuliah, jadi libur nya juga gak lama" kata Ivan tak enak
"gak papa to le, bapak juga ngerti. seng penting koe sehat disana, bahagia, bapak udah seneng" kata Pak Tarman dengan mata berkaca kaca menatap Ivan yang kini mengambil alih makanan bebek dan melemparkan nya pada kerumunan ternak peliharaan pak Tarman itu
"Iya pak, Ivan seneng kalo bapak sehat sehat disini. oh iya, Toni gak bisa ikut pulang, dia ada ujian besok" ungkap Ivan membuat pak Tarman mengangguk
"gak papa, dia kan baru Minggu lalu pulang kemari. jadi koe dianter sama bang Roy lagi le?" tanya pak Tarman dan Ivan langsung menggeleng
"enggak pak, Ivan sendiri, naik motor" jawab Ivan membuat pak Tarman sedikit terkesiap
"Oalah, kan jauh kok malah naik motor to" kata Pak Tarman menggeleng kan kepala nya dan Ivan kembali tertawa
Mereka pun berbincang bincang kecil sembari memberi makan ternak pak Tarman hingga Sari datang dan memanggil mereka
"Van, sini duduk dulu, kebetulan tadi ibu buat kue" seru Sari , Ivan dan pak Tarman pun langsung mendekat keteras belakang rumah itu setelah sebelum nya Ivan mencuci tangan nya terlebih dahulu
"wong anak capek baru Dateng, bukan nya disuruh duduk malah diajak ngobrol" omel Sari pada pak Tarman sementara Ivan hanya tersenyum lucu, sudah lama sekali dia tidak mendengar Omelan Sari yang terkadang membuat nya rindu itu
"bapak lupa Bu, habis nya wes lama gak ketemu" jawab Pak Tarman tertawa sembari mencomot makanan yang dibalut daun pisang itu
"ini ibu yang buat?" tanya Ivan yang juga mengambil dan mencicipi kue buatan Sari itu
"iya lah, siapa lagi, kebetulan kepengen makan itu" jawab Sari sembari menuangkan teh kedalam gelas Ivan dan Pak Tarman
"udah lama gak ngerasain makanan kayak gini, dikota gak nemu" kata Ivan sambil mengunyah kue nya, terasa begitu nikmat meski hanya olahan kampung
__ADS_1
"dikota makanan nya kan lebih enak enak to Van" balas Sari
"iya sih Bu, tapi kadang rindu juga pengen makanan yang biasa ada disini" kata Ivan lagi
"yowes , besok sebelum pulang biar ibu buatin apa yang koe mau" kata Sari membuat Ivan dan pak Tarman terkesiap dan saling pandang kagum
"beneran Bu?" tanya Ivan tak percaya
"iya" jawab Sari
"wah, akhir nya, kalo gitu nanti malem aku mau dimasakin rendang jengkol sama ikan bakar plus sambel terasi Bu" kata Ivan langsung membuat Sari tersedak dan pak Tarman langsung tertawa
"koe ini kok malah ngelunjak toh, mintak langsung dibuatin" omel Sari namun dari mata nya dia begitu bahagia sebab Ivan masih mau menganggap nya sebagai ibu nya meski perlakuan nya begitu kasar pada Ivan selama ini
"ya kan mumpung ibu tawarin. " jawab Ivan terkekeh
"iya yowes" dengus Sari
"memang nya disana juga gak nemu makanan itu le?" tanya Pak Tarman
"mana ada pak, orang orang dirumah itu mana ada yang doyan rendang jengkol" jawab Ivan tertawa membuat pak Tarman dan Sari juga ikut tertawa
"bapak ini ada ada aja, mana ada orang kaya makanan nya kayak kita gini" ucap Sari masih tertawa
"lah, Iki bukti nya, doyan nya rendang jengkol" kata Pak Tarman menunjuk Ivan yang langsung tersedak makanan nya
"uhuk uhuk, aku kan beda pak. aku ini wong Deso rejeki ne Kuto" jawab Ivan membuat pak Tarman kembali tertawa lucu
Mereka menghabiskan sore itu dengan bercengkrama hangat sembari terus bersenda gurau hingga Ivan lupa jika hati nya saat ini sedang tidak baik baik saja, dan ini memang tempat yang paling cocok bagi nya untuk menenangkan hati nya yang sedang patah.
Saat Sari sibuk memasak sesuai dengan permintaan Ivan, dan pak Tarman yang kini sibuk dengan ternak nya, maka Ivan setelah selesai membersihkan diri , dia berjalan kaki keluar rumah, dan tujuan nya adalah rumah Faiz, karena dia juga sudah sangat dekat dengan ibu Faiz.
Sepanjang jalan semua warga menyapa nya dengan hangat, bahkan banyak yang tidak segan segan menggoda nya dan mereka terlihat semakin terkesima dengan penampilan Ivan yang sekarang. Apalagi bagi para wanita dan gadis gadis dikampung itu, mereka seperti melihat artis saat melihat Ivan, bagaimana tidak, Ivan yang sekarang terlihat lebih bersih, lebih gagah dan lebih dewasa dan penampilan nya juga sudah sangat mencolok untuk ukuran warga kampung, meskipun dia hanya memakai pakaian sederhana, namun karena yang dipakai dari brand brand ternama tetap saja tidak bisa disembunyikan bagaimana keren nya tubuh gagah nya .
__ADS_1
Ya, sekarang tidak ada lagi orang yang berani menghina nya, tidak ada lagi yang berani merendahkan nya, setiap kali dia pulang kampung, semua orang pasti terlihat segan dan mengagumi nya dari jauh, bahkan Aldo tidak lagi berani menampakkan diri nya didepan Ivan. Sungguh, harta bisa merubah segala nya, meski segala nya bukan cuma tentang harta.