Story Of The Twins

Story Of The Twins
Lamaran Faiz Dan Diana


__ADS_3

Amel memandang Ivan tidak percaya saat Ivan menceritakan tentang Faiz dan Diana padanya. Saat ini mereka sedang duduk ditaman belakang rumah Amel sembari menikmati sup ikan tuna buatan Indah.


"Seriusan Faiz mau ngelamar Diana? cepet banget. Pendekatan juga belum" tanya Amel masih tidak percaya


Ivan mengangguk seraya menyeruput kuah sup yang terasa menghangat kan perutnya itu.


"Beneran. Gak tahu deh kenapa gitu. Diana juga setuju. Besok malam aku mau nemeni dia kerumah ibu Diana di Bandung. Masih mau ngelamar, belum tunangan" ungkap Ivan


"Ya ampun. Secepat itu. Gak nyangka banget aku" gumam Amel


"Yaudah lah. Faiz gak pernah deket sama cewe selama ini. Baru kali ini dia mau deketin cewe. Eh sekalinya deketin malah mau langsung nikah" kata Ivan tertawa kecil


"Iya yakan. Udah lama kenal, tapi baru kali ini kak Faiz Deket cewe. Diana pula, cocok sih mereka" sahut Amel


Dia meletakkan mangkuk sup nya keatas meja. Begitu pula dengan Ivan


"Menurut kamu, Diana gimana? Aku takut dia Nerima Faiz cuma karena Faiz udah mapan dan punya segalanya. Aku gak rela banget kalau Faiz dikecewain nantinya" ungkap Ivan.


Faiz adalah sahabat nya sejak kecil, bahkan melebihi sahabat, dia sudah seperti saudara untuk Ivan. Susah senang sudah mereka lalui bersama sama. Dari kecil hingga dewasa seperti sekarang. Faiz adalah salah satu orang yang cukup penting untuk Ivan. Dan karena itu Ivan tidak ingin dia salah memilih, apalagi ini bersangkutan dengan masa depan nya. Pasangan yang akan menemani nya seumur hidup.


Ini kali pertama Faiz berhubungan dengan seorang gadis, dan Ivan tidak ingin dia salah memilih. Apalagi mereka baru beberapa kali bertemu.


Amelia terlihat menghela nafasnya sejenak. Mengingat kembali seperti apa Diana yang dia kenal.


"Aku juga gak tahu yang. Kamu kan tahu aku sama dia juga baru kenal. Itu juga karena dia yang dekat sama Karina. Tapi sependek pengetahuan aku, dia memang gadis baik. Gak pernah aneh aneh sih, maka nya Karina juga mau temenan sama dia" ungkap Amel


Ivan mengangguk pelan. Diana memang baik, bahkan dia mau mengorbankan nyawanya menolong Karina waktu itu. Tapi, entah lah. Ivan hanya berharap jika dia bisa menyayangi Faiz dengan tulus tanpa pamrih.


"Berdoa aja. Semoga kalaupun mereka berjodoh. Perasaan mereka bisa sama sama tulus dan menguatkan" kata Amel lagi


"Iya, semoga aja" jawab Ivan


"Lagian kalau memang jodoh, berarti kan kisah cinta kak Faiz gak pakek ribet kayak kita" ucap Amelia dengan tawanya


Ivan langsung menarik hidung nya dengan gemas


"Iya ya, kita memang ribet banget. Bertahun tahun ngelaluin banyak suka duka. Mana banyak duka nya lagi" ungkap Ivan dengan helaan nafas panjang.


Amel langsung tertawa dan sedikit merapat ketempat Ivan, menyandar kan kepala nya dibahu Ivan. Ivan langsung melingkarkan tangan nya dipinggang Amel. Mereka menatap langit malam itu yang dipenuhi oleh banyak bintang yang bertaburan.


Mengenang perjalanan cinta mereka yang tidak mudah. Banyak hal yang telah mereka lalui bersama hingga detik ini.


Banyak air mata yang telah mereka tumpahkan hanya untuk bisa bersama.


Penantian, pengorbanan dan semua nya, telah mengajarkan mereka arti cinta yang sesungguhnya.


"Aku berharap kita bisa tetap sama sama terus sampai tua nanti" pinta Amel dengan mata yang menerawang jauh keatas sana


Ivan tersenyum, mengecup sekilas pucuk kepala gadis pemilik hati nya itu


"Aamiin. Aku juga berharap, cinta kita bisa tetap saling menguatkan meski bagaimana pun cobaan nya nanti" kata Ivan pula


Amel beranjak dan memandang Ivan dengan penuh cinta seperti biasa. Wajah tampan yang sangat dia cintai


"Jangan pergi lagi, aku gak akan kuat hidup tanpa kamu" pinta Amel begitu dalam


Ivan meraih tangan nya dan menggenggam nya dengan lembut


"Aku gak akan pergi, aku kan udah janji sama kamu. Aku selalu berdoa sama Tuhan, untuk memanjangkan umur kita berdua. Dan kalaupun kita mati, kita mati sama sama biar gak ngerasain kehilangan satu sama lain" jawab Ivan


Amel langsung mengangguk cepat dengan mata yang berkaca kaca. Dia bahkan langsung memeluk tubuh Ivan dengan erat


"Amin, amin, amin. Semoga doa kita dikabulin yang" harap Amel


Ivan mengangguk dan kembali mencium pucuk kepala Amel. Matanya memandang ke atas. Melangitkan sebuah harapan dan doa, semoga cinta mereka bisa selalu terus bersama hingga kedunia yang berbeda.

__ADS_1


"Aku sayang kamu Mel. Sayang banget. Makasih untuk segala cinta yang udah kamu kasih ke aku" ucap Ivan


Amel mendongak memandang wajah tampan itu


"Aku juga sayang kamu. Jangan pernah berubah dan pergi lagi ya" pinta Amel


"Aku janji" jawab Ivan


Mereka sama sama tersenyum dan kembali berpelukan. Menikmati malam yang dingin namun begitu cerah. Secerah hati mereka yang sudah berkali kali ditempah untuk kuat.


Ya, bagaimana mungkin mereka bisa saling melepaskan dan meninggalkan. Ketika semua yang mereka punya hanya tentang cinta dan kehidupan satu sama lain nya.


Semoga nanti dikehidupan yang akan datang, cinta mereka akan tetap kuat, karena pasti akan selalu ada badai disetiap jejak kehidupan manusia.


...


Keesokan harinya ...


Ivan sudah rapi dengan baju kemeja berlengan pendek nya. Begitu pula dengan Delisha dan Karina. Sore ini mereka akan menemani Faiz kerumah Diana untuk mengunjungi ibunya. Berniat untuk melamar Diana. Ya, hanya melamar dulu, untuk acara tunangan Delisha meminta Faiz menunggu sesudah pernikahan Ivan.


Ivan pergi bersama mama nya dan juga Karina. Maxwel dan Jonathan tidak bisa pergi karena mengurus perusahaan. Lagi pula hanya temu keluarga, jadi mereka memutuskan untuk Delisha dan Karina saja yang menemani Faiz dan ibunya.


Amel juga tidak bisa pergi, karena dia masih butuh istirahat yang cukup. Jarak Jakarta Bandung juga lumayan jauh, jadi Ivan tidak mengizinkan nya untuk pergi.


Ivan pergi bersama mama dan kakak iparnya dengan mobil yang dikemudikan oleh Roy. Sedangkan Faiz membawa mobil bersama ibunya dan juga Diana.


Faiz mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari juga masih sore, jadi mereka masih ada sedikit waktu untuk tidak terburu buru.


"Kamu udah bilang mama kamu kalau kita mau kesanakan nak?" tanya ibu pada Diana yang duduk disebelah Faiz


Diana menoleh kebelakang, dan mengangguk pelan


"Udah kok Bu, mama udah tahu. Abang Diana juga udah disana" jawab Diana


"Bagus lah. Ramai gak dirumah kamu. Takut oleh oleh nya kurang Di" kata Ibu lagi. Dia menoleh kebelakang melihat tumpukan plastik dan kotak kotak makanan yang cukup banyak.


"Kamu ini, ini juga masih kurang. Biasanya kalau dikampung semua dibawa. Ibu Sampek bingung mau bawain apa lagi" kata Ibu. Seperti nya dia begitu antusias ingin bertemu calon besan


"Masih mau ketemu dulu Bu, belum tunangan. Beda lah," sahut Faiz pula. Namun ibu langsung berdecak kesal


"Kamu ini tahu apa. Ini aja kalau gak ibu yang siapin, kamu santai aja dari semalem. Mau ketemu calon besan kan harus baik baik. Kalau ditolak kan gak enak. Gagal nikah kamu" ucap Ibu pada Faiz


Diana langsung tertawa mendengar nya


"Mama pasti seneng, soalnya udah lama dia pengen Diana nikah. Umur Diana udah tua katanya" ungkap Diana dengan tawa kecil nya dan langsung disambut oleh ibu. Sementara Faiz hanya melirik nya dengan senyum tipis


"Waaah, senasib berarti kamu sama Faiz. Ibu juga udah lama pengen punya mantu. Mana anak semata wayang, gak pernah punya cewe. Ibu takut banget kalau dia gak laku. haha" kata ibu terbahak membuat Diana juga ikut tertawa


"Ibu... suka banget memang jelekin nama aku" dengus Faiz terdengar kesal. Namun ibu hanya acuh saja dan kembali bercanda dan tertawa bersama Diana.


Meskipun kesal, tapi didalam hatinya Faiz begitu bahagia melihat kebahagiaan ibunya. Wanita yang paling berharga didalam hidupnya. Sejak ayahnya meninggal sewaktu kecil, hanya ibunya yang dia punya, berjuang sendirian membesarkan nya. Dan sekarang, Faiz sudah bisa membahagiakan nya dan tentu saja kebahagiaan nya terasa lengkap dengan kehadiran Diana.


Dia sadar, jika pertemuan mereka masih terlalu cepat. Tapi dia yakin dengan pilihan nya. Dia yakin jika Diana adalah seseorang yang memang ditakdirkan untuk dia.


Dan Faiz berjanji didalam hati, jika Diana sudah menjadi istrinya, maka dia tidak akan pernah mengecewakan gadis ini, dan dia berharap jika Diana juga demikian.


Dan tidak terasa, setelah beberapa jam diperjalanan, mereka tiba disebuah rumah yang cukup besar. Rumah yang cukup asri dan seperti nya Diana memang orang berada. Tapi kenapa dia masih bekerja??


Diana mengajak ibu dan Faiz untuk turun dari mobil. Diikuti oleh mobil Ivan dibelakang nya.


Mereka disambut oleh beberapa orang pelayan dan security dirumah itu.


"Ayo bu" ajak Diana pada Ibu Faiz yang mengangguk seraya membenarkan pakaian nya


"Nyonya, tuan Ivan, mari masuk" kini Diana beralih pada Delisha yang mendekat pada nya

__ADS_1


"nona ayo" ajak Diana pada Karina yang mengangguk dan mendekati nya


Mereka semua berjalan masuk kedalam dan didepan pintu mereka langsung disambut oleh mama Diana yang duduk dikursi roda nya yang didorong oleh seorang lelaki muda seumuran dengan Ivan dan Faiz mungkin. Lelaki itu tampak terkesiap melihat Ivan, entah ada apa.


"Mama" Diana langsung memeluk mama nya sekejap dan mencium kedua pipi nya


"Ma, ini calon suami Diana, dan ini calon mertua Diana" kata Diana memperkenalkan Faiz dan ibu yang langsung mendekat kearah mama Diana


"Wah, kamu calon anak saya" tanya Mama Diana pada Faiz yang mengangguk dan menyalami punggung tangan nya..Membuat mama Diana langsung tersenyum senang


"Semoga kedatangan kami tidak menganggu ya Bu" kata ibu Faiz


"Ah tentu tidak, saya sangat senang akhirnya Diana pulang membawa calon suami" jawab Mama Diana yang bersalaman dengan ibu Faiz


Kini mama Diana tampak menoleh pada Delisha yang tersenyum melihat nya


"Nyonya Delisha, anda datang juga" ucap mama Diana yang sedikit terkejut melihat kedatangan Delisha. Dia belum tahu apapun tentang calon menantu nya ini


"Iya jeng, gimana keadaan nya" sapa Delisha seraya berpelukan sejenak


"Yah, begini lah saya. Tapi sudah jauh lebih baik. Ayo semua masuk lah. Kenalkan juga ini dua Abang Diana." kata mama Diana memperkenalkan kedua pemuda berbeda usia


Kedua Abang Diana langsung tersenyum tipis dan membungkukkan sedikit tubuh mereka.


"Yang tertua Dimas,dan yang ini Dion" ungkap mama


"Selamat datang dirumah kami. Mari nyonya, ibu dan tuan tuan silahkan masuk" ajak Abang tertua Diana


Sementara yang bernama Dion sesekali memandang Ivan dengan tatapan penuh makna, membuat Ivan yang merasa dilihat sedikit aneh. Apa mereka saling kenal???


"kak ayo"


Ivan langsung terkesiap saat Karina menepuk bahunya dan mengajak nya untuk masuk kedalam.


Mereka semua masuk kedalam rumah dan duduk disofa ruang tamu yang cukup besar.


Kakak ipar Diana datang bersama dua pelayan dan menyajikan minuman dan makanan untuk mereka..Roy dan security didepan juga membawa masuk oleh oleh yang cukup banyak kedalam. Membuat mama Diana terkejut melihat nya.


"Banyak sekali membawa oleh oleh nya dik" kata mama Diana pada ibu Faiz


"Gak apa apa Bu, saya juga gak tahu mau bawa apa tadinya" jawab ibu Faiz membuat mama Diana langsung tertawa


"Jadi niat kamu kemari mau melamar anak tante" kini mama Diana bertanya pada Faiz yang langsung mengangguk mantap


"Benar tante, saya harap niat baik saya diterima" jawab Faiz


Mama Diana tersenyum dan memandang Diana yang duduk disebelah nya


"Tentu saja, jika kamu memang serius. Niat kamu pasti kami terima dengan baik, benar kan nak" mama Diana terlihat meminta persetujuan kedua Abang Diana


"Benar, yang terpenting kamu bisa membahagiakan adik kami. Dia adik perempuan kami satu satunya. Jadi kami harap kamu tidak mengecewakan dia" kata Dimas


"Tentu mas. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Diana" jawab Faiz dengan yakin.


Ivan tampak tersenyum bangga mendengarnya. Tidak menyangka jika sahabatnya yang cupu ini ternyata bernyali besar. Ivan yang menghadapi satu Abang Amel saja sudah bergetar takut, tapi dia langsung dua. Wow sekali


"Apa kamu bekerja bersama tuan muda Jonathan nak, sehingga dengan bangga nya kami bisa bertemu dengan nya dan nyonya Delisha" tanya mama Diana


Delisha sedikit tertawa mendengar nya


"Ini Jovankha jeng, kembaran Jonathan. Kebetulan Faiz adalah tangan kanan anak saya, dan saya juga sudah menganggapnya sebagai anak sendiri" ungkap Delisha


"Ya ampun, maaf kan saya tuan, saya benar benar tidak bisa membedakan" kata mama Diana pada Ivan yang mengangguk dan tersenyum


"Tidak apa apa nyonya. Jangan sungkan" jawab Ivan . Matanya juga sesekali melirik Dion yang masih memandang kearah nya sejak tadi. Dan Ivan ingin bertanya sebenarnya, kenapa dia melihat sampai sebegitu nya? Apa mereka pernah kenal?

__ADS_1


Namun Ivan langsung menepis nya, dia lebih memilih mendengarkan tentang tanya jawab calon menantu dan mertua sekarang, juga tentang pembahasan pertunangan dan pernikahan mereka nantinya.


Ya, siapa yang bisa menolak pengaruh dan kekuasaan seorang tangan kanan pemimpin perusahaan terbesar di Indonesia itu. Mereka bahkan terkejut saat tahu Ivan dan Delisha hadir disana.


__ADS_2