Story Of The Twins

Story Of The Twins
Rencana Diana


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Sementara Ivan sedang menikmati masa masa bulan madunya, berbeda dengan Jonathan yang kini sudah mulai aktif kembali untuk memimpin perusahaan pusat Agueno group.


Pagi ini dia sudah duduk dikursi kebesaran nya. Memeriksa berkas berkas yang sudah menumpuk dan juga pekerjaan yang lain nya.


Namun yang menjadi fokusnya, adalah pada layar monitor komputer. Dia sedang memeriksa sesuatu disana. Sesuatu yang akan menjadi misinya sekarang.


Bahkan suara pintu yang terbuka tidak lagi dia hiraukan. Dirga masuk kedalam dengan membawa beberapa dokumen lagi.


"Tuan, ini proposal kerja sama yang diajukan oleh perusahaan Domani" kata Dirga seraya meletakkan dokumen diatas meja Jonathan.


"Hmm" gumam Jonathan yang masih serius pada pekerjaan nya. Dia sama sekali tidak ada menoleh pada Dirga sedikitpun


"Sehabis makan siang nanti kita harus menghadiri rapat dengan perusahaan Dopindo" kata Dirga lagi. Dan Jonathan hanya mengangguk pelan dan masih tetap mengabaikan Dirga.


Dirga memandang Jonathan dengan lekat. Ada hal yang sebenarnya ingin dia bicarakan pada sahabat sekaligus atasan nya ini. Tapi melihat sikap Jonathan yang acuh dan dingin begitu, membuatnya jadi tidak berani untuk berbicara lebih.


"Saya permisi tuan" pamit Dirga yang langsung berlalu keluar meninggalkan Jonathan yang masih saja fokus pada pekerjaan nya.


Sudah beberapa hari, bahkan sejak Jonathan tahu jika Dirga dekat dengan Kasih, hubungan mereka sedikit merenggang. Bahkan mereka tidak pernah lagi berbicara hal hal diluar pekerjaan. Mereka sekarang layaknya hanya seorang bawahan dan atasan. Tidak ada lagi suasana hangat dan perbincangan random layak nya teman. Jonathan yang diam dan dingin membuat Dirga tidak berani berbicara apapun. Dia tahu jika Jonathan pasti kecewa padanya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri, jika kini entah kenapa hatinya juga tidak bisa mengabaikan Kasih. Gadis malang yang masih membutuhkan bantuan nya.


Dirga menghela nafasnya dalam dalam seraya duduk kembali dikursi nya. Hatinya tidak tenang dan merasa bersalah. Dia tahu Kasih adalah orang yang hampir mencelakai Karina, dan sudah pasti gadis itu adalah musuh keluarga Agueno. Bahkan Rico, papa nya sendiri saja sudah melarang nya untuk dekat dengan gadis itu. Tapi sungguh, Dirga belum mampu untuk melakukan itu. Apalagi saat ini Kasih masih harus menyelidiki tentang kasus kematian orang tua nya, dan juga merebut kembali apa yang telah diambil oleh paman dan bibinya. Dia sendirian, dan Dirga tidak bisa membiarkan itu.


Tok tok tok


Pintu terdengar diketuk, membuat Dirga sedikit terkesiap karena dia malah larut dalam lamunan nya tadi. Dia menoleh kearah pintu, dan dapat dia lihat jika Diana yang masuk kedalam sana.


"Permisi tuan" ucap Diana, dia memeluk sebuah dokumen didada nya


"Ada apa?" tanya Dirga


"Saya mau menyerahkan dokumen ini untuk anda periksa. Laporan pemasukan Minggu lalu" ungkap Diana yang langsung meletakan dokumen itu diatas meja Dirga.


Dirga mengernyit bingung melihat ini


"Bukan kah seharus nya memberikan pada tuan Jonathan langsung" tanya Dirga memandang Diana yang tampak tersenyum canggung


"Tadi saya sudah keruangan tuan Jo, tapi dia sedang sibuk, jadi dia bilang kalau dia ingin tuan yang memeriksa ini" jawab Diana


Dirga terdiam melirik Diana sekilas dan kembali menoleh pada dokumen diatas mejanya, menarik nya dan membuka helaian kertas itu dengan perasaan bingung. Kenapa Jonathan menyerahkan ini, ini bukan tugas nya. Lagi pula sejak kapan dia melempar tugas pada orang lain, meski sibuk, tapi Dirga tahu jika Jonathan adalah orang yang perfeksionis.


"Emmm... tuan" panggil Diana tiba tiba, Dirga sedikit terkesiap dan kembali menoleh pada Diana yang kini sudah duduk didepan nya, bahkan tanpa dia suruh.


"Apa?" tanya Dirga memandang bingung Diana


Gadis cantik milik Faiz ini terlihat gugup, seperti ada yang ingin dia katakan. Membuat Dirga semakin bingung saja


Dan memang seperti itu perasaan Diana sekarang. Dia dan Dirga tidak pernah dekat seperti ini sebelum nya. Tapi malah dia yang menjadi korban dari keempat orang itu. Memang menyebalkan.


Diana menarik nafasnya dalam dalam dan memandang Dirga dengan yakin


"Emm ... bisakah saya meminta bantuan anda tuan" ucap Diana dengan wajah yang terlihat serius


"Bantuan apa?" tanya Dirga dengan bingung


"Besok malam kan ulang tahun kak Faiz, saya ingin membuat kejutan untuk nya" kata Diana dengan canggung


Dirga mengernyitkan alis nya menatap Diana


"Lalu?" tanya Dirga masih tidak mengerti


"Tuan Ivan kan sedang tidak ada, jadi saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Dari yang saya dengar, anda dan tuan Faiz kan berteman dekat sejak dulu, sama seperti pada tuan muda kembar itu. Jadi saya boleh meminta bantuan pada anda kan, saya tidak mungkin meminta bantuan pada tuan Jo" kata Diana dengan wajah memelas nya. Namun degup jantung nya sudah cukup bergemuruh sekarang

__ADS_1


"Kamu mau bantuan apa dariku?" tanya Dirga


"Saya ingin anda membantu saya untuk memesan kembang api dan tempat yang romantis untuk kejutan besok malam" jawab Diana


Dirga mengernyit bingung


"Kembang api?" gumam Dirga dan Diana langsung mengangguk


"He'em, kata tuan Jo, anda yang paling tahu semua itu" ucap Diana


Dirga tertegun, namun beberapa detik kemudian dia langsung mendengus senyum dan menggeleng pelan


"Tidak juga" jawab nya dengan wajah yang tertunduk


"Tidak juga apa nya, memang begitu. Bahkan tuan Jo bilang jika kembang api dimalam pesta tuan Ivan juga dari anda" sahut Diana dan Dirga kembali menoleh padanya


"Bagaimana dia tahu" tanya Dirga dengan bingung


"Ya jelas tahu, bukan kah anda sahabatnya" jawab Diana


Dirga kembali tertegun. Sahabat?? Apakah itu masih berlaku sekarang. Bahkan untuk memandangnya saja Jonathan sudah tidak mau lagi


"Tuan mau kan membantu saya, please" pinta Diana dengan mengakupkan kedua tangan nya, memohon pada Dirga yang terlihat menghela nafas nya dan mengangguk pasrah


Diana langsung tersenyum senang dan bertepuk tangan melihat itu. Dia jadi lupa sedang berhadapan dengan siapa


"Yeay, terimakasih tuan. Tuan juga harus datang, dan jangan lupa membawa Kasih" ujar Diana


Dirga tersenyum dan menggeleng


"Tidak, aku akan menyiapkan nya untuk Faiz, tapi untuk datang, itu tidak mungkin" jawab Dirga. Diana langsung terdiam dan kebingungan.


"Kenapa, bukan kah kak Faiz juga teman anda" kata Diana begitu keberatan


"Lagi pula, Kasih adalah orang yang sudah membuat kamu masuk kerumah sakit, bukan kah seharus nya kamu juga ikut membencinya?" tanya Dirga lagi


Diana langsung menggeleng dan memandang sedih Dirga.


"Tuan, meskipun dia sudah membuat saya celaka. Tapi saya tahu dia gadis yang baik, dia terpaksa melakukan itu, dan tidak ada alasan untuk saya membencinya" ungkap Diana membuat Dirga memandang nya dengan lekat


"Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika ada diposisi Kasih, tapi dia.. dia masih bisa berfikiran jernih untuk tidak melakukan apa yang seharusnya diperintahkan orang itu" kata Diana lagi


"Kamu.....kamu tidak membencinya?" tanya Dirga dan Diana langsung menggeleng dan tersenyum


"Tuan, semua orang berhak bahagia walau seburuk apapun masa lalu nya. Menjadi mantan narapidana sudah cukup untuk menghukum kesalahan nya. Dan sekarang, saya tidak berhak untuk memutus kebahagiaan nya dengan membenci dia kan. Lagipula dulu pilihan saya yang memang ingin menolong nona Karina, jadi saya tidak menyalahkan siapapun" jawab Diana panjang lebar


Dirga menghela nafasnya sejenak dan tertunduk dalam


"Saya senang jika kamu tidak mendendam pada dia. Tapi bagaimana dengan yang lain, kamu tahu, saya begitu sedih melihat dia yang selalu takut dan merasa bersalah pada keluarga Jonathan. Saya membawa nya kemarin karena saya ingin membuktikan pada semua orang jika Kasih bukan gadis yang seburuk itu, tapi nyatanya, apa yang saya fikirkan ternyata salah. Mereka semua memandang benci pada Kasih, dan itu membuat dia merasa semakin tertekan dan merasa bersalah sekarang" ungkap Dirga begitu menyesal. Diana yang mendengar itu benar benar iba jadinya.


"Tuan... apa tuan yakin jika dia gadis baik?" tanya Diana


Dirga memandang Diana dan mengangguk yakin


"Apa tuan menyukai nya?" tanya Diana lagi. Dan kali ini Dirga mengernyit bingung


"Apa maksud kamu?" tanya Dirga tidak mengerti


"Tuan, hanya dengan melihat bagaimana tuan memperlakukan dia saja semua orang tahu jika tuan memang menyukai nya" ungkap Diana membuat Dirga langsung tertegun


"Tuan, maafkan saya jika saya berbicara seperti ini. Tapi menurut saya, tuan Jonathan dan juga keluarga nya bukan membenci Kasih. Tapi mereka tidak ingin tuan mendapatkan pilihan yang salah. Mereka menyayangi tuan, maka dari itu ketika tuan membawa Kasih keacara itu, mereka hanya terkejut, pasal nya Kasih adalah orang yang sudah terlibat dalam rencana untuk mencelakai keluarga mereka. Mereka tidak mungkin membenci tuan" ungkap Diana dan Dirga langsung tertunduk kembali. Dia menarik nafas nya dalam dalam. Apa benar dia memang sudah menyukai Kasih? Tapi dia memang ingin sekali membantu gadis itu, dia tidak suka melihat Kasih bersedih. Dia iba dan dia tidak terima jika ada yang membuat gadis itu bersedih


"Tuan..." panggil Diana lagi dan Dirga kembali menoleh kearah nya

__ADS_1


"Jika tuan memang menyukai dia dan ingin menolong nya. Maka tuan harus menunjukkan pada semua orang jika Kasih memang gadis yang baik" kata Diana dengan senyum teduh nya


Dirga tersenyum getir dan menggeleng pelan


"Rasanya begitu sulit" gumam Dirga


"Jika yakin, semua pasti dipermudah" sahut Diana


"Kamu tidak mengerti" jawab Dirga


"Saya memang tidak mengerti. Tapi nona Amel juga pernah bilang pada saya, jika dulu hubungan nya dengan tuan Ivan juga ditentang oleh tuan besar. Tapi lihat sekarang, mereka malah bisa menjadi suami dan istri" balas Diana lagi


Dirga tertegun, dan seketika dia jadi mengingat bagaimana perjalanan cinta Ivan dan Amelia dulunya. Bahkan lebih parah dari dia dan Kasih. Amel sudah jelas jelas menjadi anak dari musuh keluarga Agueno, bahkan telah mencerai beraikan keluarga itu. Dirga juga masih ingat bagaimana Amelia dan kakak nya yang menjadi mata mata mereka, membuat mereka menjalani hari yang sulit dan selalu dalam bahaya.


Tapi Ivan tetap berusaha meyakinkan Maxwel dan keluarga nya jika Amel memang gadis yang baik dan telah berubah. Seharusnya dia juga bisa begitu kan????


Diana langsung tersenyum saat melihat raut wajah Dirga berubah


"Bagaimana, tuan pasti bisa mempertimbangkan nya bukan" ucap Diana lagi


Dirga tersenyum dan mengangguk


"Yah, seharusnya aku belajar dari Ivan dan Amel. Terimakasih sudah membuka fikiran ku" jawab Dirga


Diana tersenyum dan mengangguk


"Tuan harus semangat. Kasih gadis baik dan sangat cantik. Kalian cocok kok" kata Diana lagi


"Kamu merayuku untuk tetap datang" sahut Dirga membuat Diana langsung tertawa dan mengangguk


"Saya tidak mau tahu, tuan harus datang. Mana seru kalau cuma tuan Jonathan. Tuan tahulah bagaimana dia" bisik Diana sedikit memajukan tubuhnya pada Dirga


"Baiklah, aku akan datang, tapi aku minta kamu untuk jangan mengacuhkan Kasih ya. Dia gadis yang cengeng, dia tidak akan sanggup berada ditengah tengah kalian jika kalian mengabaikan nya dan memandang nya sebagai musuh" pinta Dirga dan Diana langsung mengangguk yakin


"Tuan tenang saja. Saya yang mengundang, maka saya yang akan bertanggung jawab. Jangan khawatir. Bukan kah kita semua bershabat" kata Diana dengan senyum lebar nya membuat Dirga juga ikut mendengus senyum


"Sejak kapan" tanya Dirga


"Sejak saya menjadi calon istri kak Faiz, hehe" jawab Diana dengan tawa lucunya


"Ya, tapi ingat, disini kamu tetap bawahan saya" sahut Dirga


"Siap tuan... tapi setidak nya bawahan ini yang bisa menenangkan sedikit hati yang sedang galau itu bukan" goda Diana seraya beranjak dari duduk nya


Dirga tertawa kecil dan mengangguk. Benar memang yang dikatakan oleh Diana. Akhir akhir ini dia memang tidak tahu harus bagaimana, otak nya buntu apalagi melihat sikap Jonathan yang semakin dingin padanya. Tapi kehadiran Diana hari ini, sedikit membuat nya merasa tenang dan fikiran nya yang terbuka. Ternyata Faiz memang mendapatkan seseorang yang sefrekuensi dengan nya.


"Ya , karena kamu sudah sedikit berjasa hari ini. Maka saya yang akan menanggung biaya kejutan malam besok" ucap Dirga membuat Diana langsung terkesiap


"Waaah tidak perlu tuan, itu tidak murah" kata Diana namun Dirga langsung menggeleng


"Anggap saja hadiah ulang tahun saya untuk kekasihmu" ujar Dirga


"Tapi kan uang nya bisa anda tabung untuk biaya pernikahan dengan Kasih nantinya " kata Diana


"Uang ku sudah cukup banyak, dan biaya pernikahan kami, sudah aku siapkan" jawab Dirga dengan enteng nya membuat Diana langsung tertawa dan mengangguk lucu


"Sepertinya hubungan kalian memang sudah serius, tidak ingin kalah dengan kami" goda Diana membuat Dirga sedikit terkesiap memandang Diana


"Saya pamit dulu tuan, jangan lupa besok malam" pamit Diana yang langsung meninggalkan Dirga yang masih memandangi kepergian nya. Sepertinya dia telah salah berbicara. Jangankan untuk menikah, bagaimana perasaan nya saja dia belum tahu, astaga.


...


Sementara diluar ruangan Dirga, Diana menelpon seseorang.

__ADS_1


"Beres semua nona.....


__ADS_2