
Akhir nya Ivan dan keluarga nya pun berpamitan pada keluarga pak Tarman. Orang yang sudah sangat berjasa dalam hidup Ivan.
Ivan memeluk satu persatu keluarga yang sudah membesarkan nya itu dengan air mata yang mulai menggenang.
"pak, Ivan pamit. terima kasih sudah mau merawat dan membesarkan Ivan pak, bapak tetap bapak yang terbaik buat Ivan. Ivan mintak maaf kalau selama ini Ivan banyak salah sama bapak" kata Ivan pada pak Tarman yang tengah memeluk nya
"iya le, wes ojo nangis. kamu tetep anak bapak. Sering sering main kesini yo le" balas pak Tarman yang tak kuasa juga menahan tangis nya. Ivan hanya mengangguk dan menghapus setitik air mata nya dan kini beralih pada Bu Sari
"ibu mintak maaf kalau selama ini ibu kasar sama koe le, tapi ibu juga sedih harus berpisah karo koe" Ungkap Sari dalam pelukan Ivan sambil menangis menyesali perbuatan nya, bagaimana pun meski Ivan bukan anak kandung nya, namun tetap saja sembilan belas tahun bersama dan kini harus berpisah membuat hati kecil Sari juga tersentuh
"gak papa bu, ibu gak salah, aku yang sering ngelawan. Aku yang minta maaf" jawab Ivan tulus.
Kini Ivan mendekat pada Toni
"aku pergi dulu Ton, jaga bapak sama ibu baik baik. Jadi anak yang baik ya" kata ivan memeluk Toni
"iya bang, maafin aku selama ini ya. Gak ada lagi lah kawan berantem aku kalo abang pergi" kata Toni menahan haru
"nanti aku pasti sering main kesini. Sekolah yang bener biar bisa lanjut kuliah ditempat ku. Aku tunggu disana" ujar Ivan dan di angguki oleh Toni
"ibu, bapak, terima kasih sudah mau merawat Ivan selama ini. Jasa kalian tidak akan pernah kami lupakan, meskipun Ivan tinggal bersama kami, tapi dia tetap anak kalian juga. Sekali lagi terimakasih Bu" ucap Delisha sembari memeluk Sari yang terkesiap kaget namun juga membalas pelukan ibu kandung Ivan itu
"enggeh Bu," jawab Sari terbata
Setelah berpamitan pada pak Tarman, Maxwel pun mengajak istri dan anak anak nya kembali. Dia meninggali uang cash yang cukup banyak, beberapa surat surat tanah yang sudah lama ia siapkan untuk pak Tarman, ia juga membiayai sekolah Toni hingga lulus kuliah seperti Ivan.
Awal nya pak Tarman menolak namun dipaksa oleh Delisha dan juga Ivan akhir nya mereka pun menerima nya.
Maxwel juga memberikan beberapa bingkisan untuk warga kampung dan tetangga tetangga Ivan disana, membuat semua orang disana begitu bahagia sekaligus terbaru karena mereka tidak akan berjumpa lagi dengan siganteng yang selalu ramah pada mereka.
Sebelum masuk kemobil Ivan melihat kearah teman teman nya yang tengah memandang nya. Ivan meminta izin pada maxwel untuk berpamitan pada teman teman nya.
"hai bro, gue mau pamit nih" ucap Ivan sambil cengengesan
"pergi aja lo sono, mentang mentang udah jadi orang kaya lupa sama kita. Dah pergi sono lo" kata Dian sambil menghapus air mata yang mulai menetes
"hehe, jangan gitu dong. Gue tetep temen kalian kok. Gue pasti bakal sering sering kemari" kata Ivan yang mulai mewek juga
__ADS_1
"yauda gak papa Van, gue seneng lo udah nemui orang tua kandung lo, yang penting lo sering sering nengokin kita disini ya" ucap Bambang sambil memeluk Ivan
"iya bang pasti" jawab Ivan
Tak lama Jonathan pun menghampiri mereka
"hai jo, sehat kan? " tanya Faiz
"sehat, terima kasih ya kalian sudah mau menjadi teman saya selama beberapa hari saya disini" ucap Jonathan pada ketiga orang itu.
Dian dan Bambang langsung terdiam dan berfikir
"oh tunggu tunggu, gue jadi tau sekarang, berarti selama seminggu lebih kemarin kembaran Ivan ini yang ada sama kita kan" kata Bambang pada Dian dan faiz
"iya ya kan bang, pantesan aja beda jauh sifat nya, gue kira kesambet ni anak waktu itu" timpal Dian pula
"hehe maaf maaf, bukan maksud kami bohongi kalian, tapi waktu itu kami lagi menjalankan misi, yakan bang" kata Ivan meminta persetujuan Jonathan
Jonathan pun hanya membalas dengan senyum tipis beserta anggukan kepala
"misi misi, sialan lo. Yauda pokok nya baek baek lo disana, jangan lupa sama kita kita disni, " ucap Bambang memeluk Ivan lagi
"iz, nanti kalau mau kekota telpon gue aja ya. Gue tunggu disana, salam sama ibu lo" kata Ivan pada Faiz yang menganggukan kepala nya
Ivan dan Jonathan pun kembali kemobil, namun langkah mereka terhenti ketika suara seorang gadis memanggil.
"kak"
Deg
Jantung ketiga nya langsung berdetak saling bersahutan. Tapi entah untuk siapa.
"loh kok, " kata Karina heran
Dia pun menatap satu persatu wajah orang yang sangat mirip itu.
"kak Ivan" tunjuk Karina pada Ivan.
__ADS_1
"lo kok tau Rin, kakak kira kamu gak tanda. Hehe" jawab Ivan sembari terkekeh pelan
Namun Karina hanya diam dan menatap Jonathan yang tersenyum pada nya
Ivan yang melihat itu pun langsung bersuara.
"dia kembaran kakak rin, nama nya Jonathan" kata Ivan memperkenalkan Jonathan
"jadi beberapa hari terakhir lalu yang disini itu kak Jonathan kan bukan kak Ivan" tanya Karina menatap Jonathan dan Ivan bergantian
"iya, maaf sudah membohongi mu" jawab Jonathan langsunb
"gak papa kak, aku gak nyangka ternyata kak Ivan punya saudara dan sangat mirip. Aku aja sampek terkecoh" kata Karina tertawa kecil
Ivan dan Jonathan menatap Karina dengan perasaan yang sama.
Hingga yang ditatap merasa gugup.
"ehhmm" deheman Faiz pun mencairkan suara
"kalian udah diliatin tu sama orang tua kalian, " kata Faiz lagi
"oh iya, hehe, yauda kami permisi dulu ya Rin, sampai bertemu lagi" kata Ivan melambaikan tangan nya
"sampai jumpa" kata Jonathan singkat
Karina hanya bisa tersenyum manis pada kedua nya. Ia masih sangat terkejut dan belum bisa menetralkan detak jantung nya yang entah ditujukan pada siapa.
"semoga kita bisa bertemu lagi karina, pujaanku, sekarang bapak mu gak akan bisa menghinaku lagi" kata Ivan dalam hati
"manis, semoga ada takdir untuk kita" ucap Jonathan dalam hati
"wah gila, sementang muka sama selera pun sama" gumam Faiz memperhatikan gelagat Ivan dan Jonathan
Jonathan dan Ivan pun melambaikan tangan pada semua orang yang ada disana sebelum akhirnya mobil mereka meninggalkan kampung dan orang orang yang telah mengisi hari hari Ivan selama sembilan belas tahun itu.
Dari jauh seorang pemuda menatap mobil Ivan dan Jonathan yang telah berlalu, sedari tadi dia hanya berani memandang mereka dari kejauhan. Dia adalah Aldo, Abang Karina.
__ADS_1
'ternyata dia anak orang kaya yang selama ini gue remehin'. batin Aldo dalam hati