Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kembali Kekota


__ADS_3

Siang ini Ivan, Faiz dan Dian sudah sangat rapi dengan setelan baju batik berlengan panjang. Mereka tampak begitu rapi dan semakin tampan. Apalagi Ivan, apapun yang dipakai nya selalu saja bisa menarik perhatian orang orang dikampung nya.


Mereka akan pergi kepesta pernikahan Bambang dikampung sebelah. Mereka pergi dengan mobil Ivan.


"gila ya, enak banget rasa nya naik mobil mewah" ungkap Dian sembari memperhatikan setiap lekuk mobil sport milik Ivan


"mobil Sultan mah gini" tambah Faiz membuat Dian dan Ivan langsung terkekeh


"sama aja kok sama mobil lain nya" jawab Ivan


"sama dari Hongkong, ini mah beda Van, naik mobil kang Tejo keras , gak enak banget" ungkap Dian membuat Faiz langsung melengos kesal


"ya beda lah, aneh banget Lo. Mobil Chevrolet disamain sama mobil sport, wah lu ngejatuhin harga diri Ivan, yan" seru Faiz kesal membuat Dian tertawa dan menggaruk pelipis nya sementara Ivan sudah tertawa lucu dengan tangan yang masih fokus pada kemudi nya


"ya mana gue tahu Iz, gue gak pernah naik mobil mewah, gue cuma pernah naik mobil bawa barang doang" ungkap Dian


"beli lah. Duit Lo kan udah banyak" kata Faiz lagi


"nanti lah, gue masih bangun rumah buat emak bapak gue dulu." jawab Dian


"nanti pasti terbeli" sahut Ivan membuat Dian langsung mengangguk


"itu tempat nya ya" tanya Ivan menunjuk sebuah tempat pesta diujung jalan


"iya Van" jawab Dian


Ivan langsung memutar setir nya dan menuju tempat pesta yang sudah sangat ramai itu.


Sepanjang jalan semua orang memperhatikan mobil mewah yang masuk kearea pesta, tepat nya disebuah lapangan yang memang tempat parkir mobil. Mereka begitu heran, karena biasa nya tidak ada mobil semewah itu dikampung mereka. Apalagi mereka tahu jika mempelai terbilang orang yang sederhana, kenapa bisa kedatangan tamu dengan mobil mewah, fikir mereka.


Mata mereka kembali terbelalak saat melihat Ivan turun dari mobil nya bersama Faiz dan Dian.


"gila ya, bisa bisa Lo ngalihin perhatian mereka Van" ucap Dian pada Ivan yang mengernyit bingung


"maksud nya" tanya Ivan


"ya, mereka lebih fokus mandangi Lo, dari pada pengantin" jawab Dian terkekeh membuat Ivan langsung mendengus


"iya, takut nya bini bang Bambang oleng lagi" tambah Faiz membuat mereka langsung terbahak sembari berjalan masuk kedalam tenda.


Dan memang semua orang memandang kagum Ivan yang benar benar tampan menawan, apalagi dengan senyum nya yang tak pernah pudar.


"gila ya, ganteng banget"


"iya, siapa tuh"


"temen nya bang Bambang apa ya"


Gumaman para gadis gadis dan ibu ibu yang menatap mereka tidak berkedip

__ADS_1


Ivan dan yang lain nya langsung menuju kepelaminan, dimana Bambang dan Istri nya bersanding disana. Mereka tampak seperti raja dan ratu yang sangat berbeda hari ini. Bambang terlihat gagah, dan istri nya juga cukup cantik.


'ah, kapan gue kayak begini' batin Ivan dalam hati


"hai, kalian Dateng juga. gua kira gak Dateng" ucap Bambang pada ketiga pemuda tampan itu


"Dateng dong, selamat ya bang, bahagia selalu" kata Ivan sembari merangkul Bambang sekilas dan bergantian dengan Dian dan Faiz


"terimakasih. Mudah mudahan kalian cepet nyusul" kata Bambang membuat mereka tertawa bersama


"lama lagi bang, calon nya juga belum ada" kata Faiz


"tahu nih, gue masih punya banyak cita cita" sambung Dian pula


"Lo aja deh Van, masih sama gadis itu kan?" kini Bambang beralih pada Ivan


"doain aja deh" kata Ivan membuat Bambang tertawa dan memukul pelan pundak nya


"ya, semoga kalian berjodoh. Dia cocok banget buat Lo" jawab Bambang dan Ivan hanya mengangguk tersenyum


"ah iya, kenalin istri gue. Dinda" kata Bambang memperkenalkan istri nya yang tersenyum malu melihat Ivan


"hai, selamat ya" ucap Ivan sembari menjabat tangan istri Bambang yang mengangguk dan tersenyum


"terimakasih" balas Dinda


"mantep bang, cantik. Pinter Lo milih istri" kata Ivan membuat Bambang dan istri nya tertawa


"ini Ivan Din, yang ngasih tiket bulan madu diBali sama kita" ucap Bambang pada istri nya


"wah, jadi ini orang nya. Terimakasih banyak ya Van, kamu baik banget." ucap istri Bambang


"sama sama kak, nama nya juga temen" jawab Ivan


"semoga kamu bahagia dan sehat selalu" kata istri Bambang lagi dan langsung diamini oleh mereka semua.


Setelah memberi selamat dan melakukan beberapa sesi foto. Ivan, Faiz dan Dian turun untuk menikmati jamuan yang ada di pesta itu.


Mereka bercanda dengan sesekali menyapa beberapa orang yang menyapa mereka. Ivan tidak perduli dengan tatapan kagum perempuan perempuan disana, karena dia sudah terbiasa dengan tatapan itu.


Saat ini dirinya hanya membayangkan satu wajah yang sudah sangat dirindui nya.


Amelia nya, ya, Ivan begitu tidak sabar untuk menunggu malam besok. Dimana dia akan datang dan menemui pemilik hati nya itu.


..


Hari sudah sore, Ivan dan Faiz kini sudah berada dijalan menuju kota mereka. Setelah sebelum nya berpamitan dengan bapak dan ibu nya, juga ibu Faiz dan beberapa warga desa disana.


Faiz yang membawa mobil milik Ivan, karena kelihatan nya tuan muda itu kelelahan. Dan Faiz mulai menjalankan tugas nya mulai hari ini. Menjadi asisten Ivan sekaligus tangan kanan nya, yang harus selalu siaga melayani dan membantu Ivan dalam hal apapun.

__ADS_1


"gila ya ,banyak banget bawaan kita. Udah kayak dari kebun aja" ungkap Faiz membuat Ivan terkekeh.


Karena memang, mereka dibekali oleh pak Tarman dan beberapa warga hasil panen mereka, seperti buah buahan dan sayur sayuran.


Sedangkan ibu Sari dan ibu nya Faiz membekali mereka berbagai macam makanan tradisional khas desa mereka.


"ya, mama bakalan ngira kalau gue habis berkebun ini" kata Ivan terkekeh begitu juga Faiz


"ya, dan tuan Maxwel juga bakalan bilang kalau kita mau jualan kue dikota" tambah Faiz membuat Ivan semakin terbahak.


Hampir tiga jam Faiz mengendarai mobil sport milik Ivan dengan sangat lihai. Karena dia juga sudah belajar menyetir dan mempunyai SIM sendiri saat berada diAmerika dulu. Maxwel sudah menyiapkan semua nya.


"gue gak sabar banget buat besok" gumam Ivan tiba tiba membuat Faiz melirik nya sekilas


"mau ngapain, masuk kantor?" tanya Faiz namun Ivan malah menggeleng


"jadi?" tanya nya lagi


"ketemu Amelia" jawab Ivan membuat Faiz mengernyit


"tapi kan tuan Maxwel belum boleh. Jangan nyari perkara deh Van, Lo mau kita dipecat sebelum bekerja" ucap Faiz membuat Ivan langsung tertawa


"papa tahu kalau kami menguntit mereka beberapa hari ini. Jadi karena itu kayak nya dia ngalah dan biarin kami menemui mereka, tapi untuk kehubungan yang lebih serius, dia minta gue sama bang Jo harus nunjukin dulu kalo kita udah pantes jadi penerus di perusahaan nya" ungkap Ivan membuat Faiz langsung mengangguk mengerti.


"oooh, ya bagus dong. Berarti perjuangan Lo masih ada lagi kan untuk bisa sama dia" sahut Faiz


"ya, perjuangan kita. Karena gue juga butuh bantuan Lo dalam hal ini" balas Ivan


"jangan khawatir. Dari dulu sampai nanti gue tetep sahabat Lo, dan sekarang merangkap asisten setia. Jadi gue pasti melaksanakan segala titah tuan muda Jovankha" kata Faiz terdengar serius namun Ivan malah terbahak mendengar nya


"sialan, geli gue denger panggilan itu" sahut Ivan dan kini Faiz yang tertawa


"gue juga sih, tapi gimana lagi. Si Dirga aja enak enak aja tu manggil si Jo dengan sebutan tuan" jawab Faiz


"udah ah, kita biasa aja manggil nya. kalau dikantor baru deh pakai bahasa formal, berasa kayak apa deh gue" ucap Ivan


"mana bisa begitu, bisa dipecat gue kalau didepan tuan Maxwel manggil Lo begini" kata Faiz membuat Ivan kembali tertawa


"haha, palingan juga Lo balik ngamen lagi" ejek Ivan


"mana ada pengamen setampan dan segagah gue" sahut Faiz bangga


"dih, PD bener lu" sungut Ivan


"lah, perjuangan dapetin badan begini. Tersiksa banget gue cuma makan telur sama ayam rebus tiap hari, mana latihan nya lebih keras lagi" ungkap Faiz dengan wajah kesal namun ada kepuasan dalam pancar mata nya


"perjuangan tidak akan mengkhianati hasil" sahut Ivan


"bener. Beda tipis lah pesona kita" kata Faiz terbahak membuat Ivan langsung memukul pundak nya

__ADS_1


"beda tipis dari sedotan" seru nya


__ADS_2