Story Of The Twins

Story Of The Twins
Masih Harus Menunggu


__ADS_3

Seminggu berlalu..


Kehidupan yang dilalui Jonathan dan Ivan benar benar terasa berbeda. Pekerjaan dan tanggung jawab yang baru membuat mereka benar benar sangat sibuk saat ini.


Maxwel memberikan mereka masing masing sebuah proyek yang harus mereka selesaikan dalam waktu satu tahun ini. Dan tentu saja hal itu membuat mereka harus bisa membuktikan jika mereka mampu untuk menjadi penerus kejayaan orang tua mereka.


Seperti malam ini, Ivan bersama Faiz sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka. Wajah mereka terlihat begitu lelah. Namun mereka sangat menikmati pekerjaan baru mereka ini.


"gila ya, dulu gue kira jadi bos itu enak, tinggal santai santai meriksa pekerjaan karyawan. Nyata nya sekarang jauh dari ekspektasi gue" ungkap Ivan menatap nanar jalanan yang mereka lalui


Faiz yang masih fokus pada kemudi nya menoleh sekilas pada Ivan


"ya, sepemikiran sih. Apapun pekerjaan nya harus selalu disyukuri. Tidak ada pekerjaan yang santai jika ingin sukses, bukan kah ini keinginan mu dulu nya, bekerja disebuah perusahaan besar, dan nyata nya malah jadi bos nya" balas Faiz membuat Ivan langsung terkekeh pelan


"iya, rasa nya bener bener seperti mimpi. Mengatur perusahaan cabang aja rasa nya kepala gue udah mau pecah, bagaimana bang Jo yang diperusahaan pusat ya" gumam Ivan memikirkan Jonathan, yang nyata nya dia harus mengurus perusahaan pusat dimana semua akses perusahaan berpusat disana


"sesuai lah sama kemampuan nya, dia kan orang nya perfeksionis banget" sahut Faiz


"iya sih, oh iya, hari Senin meeting pertama kita kan?" tanya Ivan menoleh pada Faiz yang mengangguk


"iya, jam 9 tepat. Kita harus cepat pergi, dan harus bisa memenangkan tender pertama kita" jawab Faiz


"Lo semangat banget kayak nya" kata Ivan tertawa pelan membuat Faiz mendengus kesal


"harus dong. Gue pengen ngumpulin uang banyak, supaya bisa bawa ibu tinggal disini. Kasihan dia sendiri disana" ungkap Faiz, Ivan langsung tertegun mendengar nya


"kenapa gak bilang, gue kan bisa siapin tempat nya" kata Ivan namun Faiz langsung menggeleng


"tidak, terima kasih wahai tuan muda. Tapi untuk kali ini gue pengen beli rumah hasil jerih payah gue sendiri. Satu tahun, gue rasa sudah cukup untuk beli rumah disini" ungkap Faiz


"satu tahun lama Lo Iz" kata Ivan


"gak juga, gue sabar kok, sesabar Lo yang nunggu waktu satu tahun untuk ngelamar Amelia" balas Faiz dengan tawa nya membuat Ivan langsung mendengus senyum


"ya, satu tahun lagi. Ah gak sabar gue" gumam Ivan


"Setidak nya menikah lah dengan uang sendiri, bukan dari bokap juga. Gak gentle kalau masih ngabisin duit bokap buat nikah" ejek Faiz membuat Ivan langsung menendang kaki Faiz dengan kesal. Namun Faiz hanya tertawa menanggapi nya


"sialan Lo. Gaji gue udah cukup banyak ya untuk satu tahun kedepan, duit yang dikasih bokap selama ini juga cuma berkurang dikit, jadi jangan meremehkan gue dong." kesal Ivan membuat Faiz semakin terbahak bahak


"hahaha, oke oke, seperti nya tuan muda mulai emosi" goda Faiz lagi


Mereka menghabiskan waktu yang hampir dua jam lebih diperjalanan dengan bercanda dan bercerita panjang lebar. Meski lelah, namun Ivan dan Faiz tetap menikmati hari hari mereka demi impian dan tujuan yang semakin menuju masa depan.


Jika Ivan untuk masa depan bersama Amelia nya, maka Faiz mengumpulkan uang untuk membahagiakan ibu nya.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Ivan dan Faiz tiba dirumah mewah Alexander.


Seperti biasa, setelah mengantar Ivan, Faiz langsung pulang kerumah nya, rumah yang ditinggalinya bersama Toni dulu. Dan sekarang pun mereka masih tinggal bersama meski sudah sama sama bekerja dan berpenghasilan.


Ivan masuk kedalam rumah nya dan langsung disambut oleh bibi May.


"baru pulang tuan" sapa bibi May sembari menyambut tas Ivan


"iya Bu" jawab Ivan dengan senyum nya


"mau mandi atau makan dulu, nyonya dan tuan sudah ada dimeja makan" kata Bibi mau


"makan aja deh, aku laper banget, tolong sekalian ya Bu, gak papa kan" ucap Ivan sembari menyerahkan jas nya kepada bibi May


"ya gak papa tuan, kan sudah tugas ibu. Yasudah makan dulu, ibu mau taroh ini dulu diatas" jawab bibi May


"iya, terimakasih Bu" ucap Ivan


"sama sama tuan" jawab bibi May dengan senyum lebar nya. Dia benar benar senang dengan Ivan, karena Ivan yang ramah dan sangat sopan, berbeda dengan Jonathan yang dingin dan datar itu.


Ivan pergi keruang makan sembari menarik lengan kemeja nya sampai kesiku. Meski wajah nya lelah dan kusut, namun penampilan nya tetap saja tampan dan menawan.


Dimeja makan juga sudah ada Jonathan, saudara nya itu sudah terlihat segar karena baru selesai mandi.


"Van, kamu sudah pulang, ayo makan" ajak Delisha yang tengah menyiapkan makanan Maxwel


"iya ma, laper banget" sahut Ivan yang langsung duduk disamping Jonathan yang hanya melirik nya sekilas

__ADS_1


"bagaimana pekerjaan mu hari ini?" tanya Maxwel


"lancar pa, belum ada kendala. Cuma ada beberapa data yang seperti nya kurang akurat aja. Nanti mau Ivan periksa lagi" jawab Ivan


Maxwel langsung mengangguk sembari menyantap makanan nya


"kamu tidak makan tadi Van?" tanya Delisha melihat Ivan yang makan dengan lahap nya , seperti nya dia benar benar kelaparan saat ini.


"siang tadi cuma makan Snack doang ma" jawab Ivan setelah berhasil menelan makanan nya


"meski sibuk kamu harus makan dengan benar nak, jangan sampai tidak makan, kamu bisa sakit Lo" kata Delisha dengan begitu lembut


"iya, gak sempet tadi, bener bener banyak banget yang harus dikerjain, sampai lupa makan" jawab Ivan


"baru seminggu kamu sudah keteteran" ucap Maxwel membuat Ivan tertawa kecil


"Ivan kan baru belajar pa, tapi Ivan bakalan usaha untuk memajukan perusahaan kita kok. Tenang aja" jawab Ivan


"ya, papa harap begitu. Kalian harus bisa bekerja dengan baik, tapi juga jangan lupakan kesehatan kalian sendiri" kata Maxwel pada kedua anak nya


"bang Jo sih enak, setiap hari ada alarm nya, jadi gak bakalan telat" goda Ivan pada Jonathan yang hanya mendengus


"kamu iri" tanya nya datar


"tidak juga, tapi iri sedikit lah" jawab Ivan membuat Delisha tertawa dan Maxwel hanya menggeleng kan kepala nya


"hari Senin meeting pertama kalian kan?" tanya Maxwel pada Jonathan dan Ivan yang saling pandang


"Abang juga?" tanya Ivan dan Jonathan hanya mengangguk


"ini tender pertama kalian, kalian harus bisa menarik investor untuk memudahkan pekerjaan kalian nanti nya. Semakin banyak investor yang bergabung, maka semakin cepat kalian menyelesaikan proyek kalian" kata Maxwel . Ivan dan Jonathan kembali menganggukan kepala mereka


"tapi lihat juga siapa yang harus kalian ajak bekerja sama. Jangan sampai kalian yang akan rugi nanti nya. Selidiki terlebih dahulu klien kalian, baru kalian bisa memutuskan semua nya" tambah nya lagi


"siap pa" jawab Ivan dan Jonathan serentak


"semua nya ada ditangan kalian. Meski papa dan Rico masih memantau, tapi semua nya papa serahkan pada kalian. Dan meski Proyek Jonathan lebih besar karena harus membangun hotel dibeberapa daerah, namun proses pembangunan jembatan yang menjadi proyek mu juga sangat penting, karena itu menghabiskan dana yang lumayan besar" kata Maxwel pada Ivan


" bagus, bibit Alexander harus unggul luar dalam" kata Maxwel membuat mereka tertawa bersama.


Seperti biasa, makan malam mereka diselingi dengan sedikit perbincangan, karena hanya dimeja makan lah mereka dapat berkumpul setelah lelah seharian bekerja.


Setelah makan malam, Ivan dan Jonathan masuk kembali kedalam kamar mereka untuk beristirahat. Meski malam ini malam weekend, namun tidak ada satupun dari mereka yang keluar untuk sekedar jalan jalan atau bertemu gadis gadis mereka.


Mereka lebih memilih beristirahat, karena jadwal bertemu mereka adalah besok hari.


Jonathan kembali memeriksa pekerjaan nya, dia tidak ingin ada kesalahan sedikitpun didalam usaha nya. Dia ingin semua nya berjalan dengan lancar. Dan satu tahun , waktu yang sebentar untuk nya bisa menyelesaikan proyek besar itu.


Sementara Ivan, dia langsung membersihkan diri nya, setelah itu langsung berbaring diatas kasur mewah nya sembari menelpon Amelia sejenak, kebiasaan nya sebelum tidur.


Tubuh Ivan sangat lelah, sehingga tanpa berfikir apapun lagi, dia langsung terlelap dalam mimpi indah nya.


...


Sementara ditempat lain...


Amelia dan Karina tengah berada disebuah resto tempat biasa mereka bertemu.


Amelia baru saja mematikan panggilan telpon nya, sedangkan Karina masih asik menikmati ice cream yang dipesan nya.


"cepet banget telponan nya" tanya Karina


"dia lelah, mau tidur kata nya" jawab Amelia


"enak tuh ditelpon, nah aku enggak" kata Karina dengan bibir nya yang mengerucut kesal.


Amelia langsung tertawa melihat wajah kesal Karina


"kamu seperti gak tahu mereka aja. Wajah mereka aja yang sama, sifat nya beda jauh" ungkap Amelia


"bener banget, terkadang aku mikir kenapa aku bisa jatuh cinta sama makhluk es begitu ya" gumam Karina membuat Amelia kembali tertawa


"entah lah, hanya kamu dan Tuhan yang tahu. Aku aja sampai sekarang masih takut ngeliat kak Jo" jawab Amelia dan kini gantian Karina yang tertawa mendengar nya

__ADS_1


"takut kenapa sih, aneh deh kak" ucap Karina


"gak tahu ya, mungkin karena pembawaan nya yang dingin dan datar itu ya" jawab Amelia


"emmh, kalau aku sih malah itu yang buat aku makin terpesona ngeliat dia. Cool dan berwibawa banget, aku suka cowo yang tanpa ekspresi begitu" ungkap Karina membuat Amelia meringis geli dan tertawa lucu


"hahaha, selera kita beda" jawab Amelia


"beda sifat doang kak. Nyata nya wajah mereka sama. Kalau orang yang gak tahu, bakalan susah ngebedain nya" kata Karina


" bener banget" jawab Amelia


"tapi kak Ivan keren Lo, aku bener bener gak nyangka dia ngasih kejutan didepan media begitu, bahkan sampai sekarang berita kalian masih jadi trending topic Lo" kata Karina lagi


"ya, dan karena itu butik aku semakin ramai" sahut Amelia dengan tawa nya


"sweet banget" gumam Karina


"tapi kak Jo juga bisa romantis gak sih?" tanya Amelia penasaran


"romantis, kayak nya enggak deh, kakak kan tahu dia orang nya kaku dan gak banyak omong, tapi dia cukup peka, dan aku udah ngerasa bahagia dengan sifat nya yang itu" jawab Karina , Amelia langsung mengangguk setuju


"bener banget, meskipun dia dingin dan datar, tapi dia peka dan ngerti apa yang kamu mau dan kamu butuhkan, beda sama kak Ivan, yang meskipun dia romantis, dia kurang peka sama keadaan" ungkap Amelia


"yah, itulah kurang lebih nya mereka kak. Hati kita yang memilih, jadi kita harus bersyukur aja. yang penting mereka bener bener serius sama kita" balas Karina


"bener Rin, aku bersyukur banget, akhir nya perasaan aku bisa terbalaskan. Bertahun tahun aku nunggu dia" gumam Amelia


"usaha gak akan mengkhianati hasil kak. Kak Ivan pasti tahu, gak akan ada perempuan lain yang lebih baik dari kakak diluar sana" jawab Karina


"ya, semoga begitu. Dan sekarang penantian kita tinggal menunggu satu tahun lagi kan ya" kata Amelia dan Karina langsung mengangguk dan tertawa kecil


"ya, masih harus menanti" jawab Karina


"gak apa apa. Sepaling tidak penantian kita ini , kita masih bisa bertemu mereka" kata Amelia


"dan kamu lebih enak lagi, setiap hari ketemu, aku harus nunggu dia libur dulu baru bisa ketemu" sambung Amelia lagi dan Karina kembali tertawa mendengar nya


"hahaha , Rezky aku kak. Tapi dikantor ya cuma bisa mandang doang, mana ada ketemu juga. Palingan cuma sapa seperti karyawan lainnya." jawab Karina


"berarti gak ada yang tahu hubungan kalian?" tanya Amelia


"enggak lah. Mau jadi bahan gibahan satu perusahaan aku, lagian nanti kak Jo gak bisa konsen sama pekerjaan nya" jawab Karina


"iya sih, tapi udah cukup lah buat melepas rindu" goda Amelia


"cukup lah. Tapi aku gak sebebas kemarin lagi. hihi" kekeh Karina


"haha, jangan macem macem, kamu gak inget perjuangan kita bisa sampai dititik ini" ingat Amelia


"inget dong, penuh air mata dan keringat" jawab Karina sembari mengibaskan rambut nya


"haha bener banget. Eh, cantik tuh kalung, dapet dari mana?" tanya Amelia mulai kepo


"ini, hadiah dari kak Jo" jawab Karina sembari menyentuh leher nya


"waw, keren banget Rin, itu pasti limited edition " ucap Amelia


"mungkin, gelang Kakak juga cantik" goda Karina membuat Amelia langsung tertawa dan menyentuh gelang ditangan nya


"iya, hadiah dari kak Ivan" jawab nya


"lihat dong" kata Karina yang langsung menarik tangan Amel


"uuuh manis banget, sesuai banget sama karakter kakak ini" ucap nya dengan mata berbinar


"oleh oleh sih kata nya" ungkap Amelia


"iya, aku kira mereka pulang bakalan ngasih cincin lamaran, tahu nya masih harus menunggu" kata Karina dan Amelia langsung mengangguk


"iya, susah banget ya mau jadi istri sultan aja" sahut Amelia


mereka kembali tertawa menghabiskan malam Minggu berdua, saling berbagi cerita dan pengalaman masing masing seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2