
Senyum mengembang sempurna diwajah tampan dua pemuda yang terlihat begitu gagah dan mempesona. Raut wajah mereka menandakan kerinduan yang mendalam dengan suasana tanah air tercinta.
Ivan dan Jonathan bersama Faiz dan Dirga menatap haru orang orang yang menjemput mereka. Rasa bangga dengan pencapaian mereka selama tiga tahun ini benar benar terasa mengikat.
Jonathan berjalan dengan wajah datar nan dingin nya menatap kedua orang tua nya yang telah menunggu kedatangan mereka. Sedangkan Ivan, raut wajah nya benar benar bahagia, karena tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk nya harus meninggalkan kampung halaman tercinta.
Bahkan mata Faiz terlihat berkaca kaca saat ini, kerinduan yang mendalam terpancar jelas diwajah tampan empat pemuda itu.
"aaahh akhir nya bisa bernafas diatanah air lagi" gumam Faiz
"ya, perjuangan kita selesai, dan waktu nya kembali ke kehidupan nyata" sahut Dirga
Keempat orang tua mereka langsung datang dan menyambut mereka dengan kehangatan dan kerinduan, karena memang setahun ini mereka sama sekali tidak ada bertemu .
Ivan dan Jonathan saling memeluk orang tua mereka bergantian, hanya Faiz yang terdiam sendu, karena memang ibu nya tidak ikut menjemput nya saat ini.
"welcome to you're home boys, kalian terlihat semakin tampan, padahal baru satu tahun kita tidak bertemu" ucap Maxwel sembari menepuk dan merangkul sesaat pundak kekar Ivan dan Jonathan
"ya, kerja Mr Jack benar benar membuat kami seperti petinju sekarang" jawab Ivan membuat semua orang yang ada disana tertawa. Karena memang tubuh mereka terlihat lebih kekar, tegap dan gagah karena dilatih terus menerus oleh Mr Jack yang merupakan intruktur gym sekaligus beladiri mereka diAmerika
"kalian lebih terlihat dewasa, dan mama sangat merindukan kalian sayang" ungkap Delisha penuh haru, dia kembali memeluk Ivan dan Jonathan dengan erat
"kami juga sangat merindukan mama" jawab Ivan dan Jonathan bersamaan
"dan seperti nya sekarang posisi anda sudah tergeser tuan" ucap Rico yang mendekat pada mereka diikuti oleh Dirga dan Faiz
"haha, seperti nya kau benar. Dan memang seharus nya aku pensiun bukan" jawab Maxwel dan Rico langsung mengangguk setuju
Maxwel melirik kearah Faiz yang langsung terdiam
"hei, bagaimana kabar mu nak. Kau sudah siap dengan tugas mu setelah ini bukan?" tanya Maxwel sembari menepuk pelan pundak Faiz yang sedikit terkesiap
"kabar saya baik tuan, sangat baik. Dan saya siap dengan tugas apapun yang tuan berikan" jawab Faiz yang membungkukkan sedikit tubuh nya didepan Maxwel
"bagus, aku harap kau bisa dipercaya untuk mendampingi anak ku setelah ini bahkan sampai nanti" ucap Maxwel lagi, dan Faiz kembali mengangguk yakin
"tentu tuan, saya berjanji" jawab Faiz terdengar begitu yakin dan itu membuat Maxwel tersenyum bangga mendengar nya
"bagaimana dengan mu Dirga, kau tentu sudah paham dengan tugas mu bukan" kali ini Maxwel beralih pada Dirga yang berada disebelah Faiz
"tentu tuan, saya akan mendampingi dan mengabdi pada tuan muda Jonathan dengan sepenuh hati" jawab nya lugas membuat Ivan langsung mendengus senyum
"wah, bakat mu ternyata memang menurun pada anak mu Rico" ucap Maxwel pada Rico yang langsung tertawa kecil
"tentu tuan, apa lagi yang bisa kami lakukan selain mengabdikan diri kami pada keluarga Alexander" jawab Rico
"aku benar benar bersyukur mempunyai kalian" gumam Maxwel
__ADS_1
"seharus nya kami yang berkata begitu tuan, jika tanpa tuan dan keluarga, kami tidak akan menjadi seperti ini" sahut Rico
"sudah sudah, sebaik nya kita pulang dan bahas ini dirumah. Anak anak harus beristirahat" kata Delisha memecah pembicaraan mereka
"ah iya, ayo kita pulang" ajak Maxwel
Mereka semua pun berjalan beriringan menuju pintu keluar dimana Roy dan Jhon sudah menunggu mereka dengan mobil nya
"maaf tuan ,.nyonya. Apa saya boleh langsung pulang ke kampung?" tanya Faiz ragu
Delisha langsung tersenyum mendengar nya
"kamu tidak ingin menginap dulu nak?" tanya Delisha
"terimakasih nyonya. Tapi maaf. Saya benar benar merindukan ibu saya" jawab Faiz dan Delisha langsung mengangguk setuju
"pulang lah, kau akan diantar oleh salah satu bodyguard ku. Tapi ingat, Minggu depan kau sudah harus mulai dengan pekerjaan mu" ungkap Maxwel pada Faiz yang langsung mengangguk
"tentu tuan, saya akan datang seminggu lagi" jawab nya
Setelah itu dia pun pamit pada semua orang yang ada disana. Sedangkan mereka juga kembali kerumah mewah mereka masing masing.
Diperjalanan , Jonathan dan Ivan sama sama terdiam dengan pandangan mata mengarah keluar jendela mobil, saat ini yang ada difikiran mereka hanya satu. Yaitu kabar mengenai gadis mereka, bagaimana keadaan nya, apakah masih sama setelah tiga tahun tidak saling bertemu dan memberi kabar.
Dan tanpa mereka sadari detak jantung mereka, sama sama berdetak dengan kencang saat ini. Rasa nya benar benar rindu dan segera ingin menemui mereka.
Dan tidak lama kemudian, mereka tiba dirumah mewah mereka. Rumah yang sudah tiga tahun ini tak pernah mereka lihat dan rasakan kehangatan nya.
"ibu kalau menangis kelihatan semakin tua" kata Ivan menggoda setelah sebelum nya memeluk wanita yang sudah kelihatan garis umur nya itu
"saya kan memang sudah tua tuan" jawab nya sembari tertawa kecil dan mengusap kembali air mata nya
"ibu sehat sehat saja?" tanya Jonathan pula
"tentu tuan, ibu selalu sehat. Ah, kalian semakin tampan dan terlihat begitu dewasa" ungkap bibi May membuat Ivan tertawa dan Jonathan hanya tersenyum tipis
"ya, tua tua buah rambutan, semakin tua semakin menawan " balas Ivan membuat semua orang yang mendengar nya mendengus tawa
"tiga tahun kamu disana, masih ingat juga pada buah rambutan" ucap Maxwel membuat Ivan terkekeh
"tentu saja, buah itu sumber kehidupan Ivan dulu nya" jawab Ivan mengenang masa masa dikampung nya dulu bersama Faiz, yang jika kelaparan mereka pasti mengambil buah rambutan milik pak Tarno ditepi sungai
"bahkan dia rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk lima butir rambutan disana" timpal Jonathan pula
Mereka bersenda gurau saling melepas rindu diruang keluarga siang itu.
Dan malam ini, mereka kembali berkumpul diruang keluarga setelah baru saja menyantap makan malam mereka bersama
__ADS_1
Ivan dan Jonathan duduk berdampingan, sedangkan didepan mereka, Maxwel dan Delisha duduk sembari meminum kopi mereka.
"Minggu depan kalian harus sudah mulai masuk keperusahaan, papa rasa seminggu ini sudah cukup untuk kalian beristirahat bukan?" tanya Maxwel, membuat Jonathan dan Ivan saling pandang sekilas dan mengangguk singkat
"ya" jawab Jonathan
"papa akan melihat kemampuan kalian selama sebulan kedepan dalam memegang kendali perusahaan, setelah itu papa akan menentukan siapa yang memegang perusahaan pusat kita, jadi tunjukan kemampuan kalian dengan sungguh sungguh" ungkap Maxwel, Delisha hanya diam dan menyimak perintah Maxwel tersebut
"seperti nya sudah jelas pa, biar Abang saja yang memegang kendali perusahaan pusat, Ivan cukup diperusahaan cabang saja" sahut Ivan membuat Jonathan langsung menatap nya tidak suka
"hei, mana bisa begitu" kata Jonathan
"ya, meski kalian saudara, tapi papa tidak ingin membeda bedakan nak, maka dari itu kinerja kalian sebulan ini yang akan menentukan nya" ucap Maxwel pula
Namun Ivan langsung menggeleng dan tersenyum
"pa, dari dulu hingga sekarang, sudah terbukti siapa yang lebih unggul, Ivan bukan nya ingin menentang papa atau menyerahkan tanggung jawab pada Abang, tapi selama ini, Ivan juga banyak belajar dari Abang, jadi Ivan yakin Abang lebih pantas mendapatkan posisi itu. Perusahaan cabang juga tidak kalah hebat, dan Ivan juga belum yakin bisa menjalankan nya dengan baik atau tidak" jawab Ivan
"kamu juga sudah hebat Van, tidak ada yang berbeda" kata Jonathan
"tapi sungguh, aku memang tidak sanggup jika harus menjalankan perusahaan pusat bang" balas Ivan
"kamu serius nak?, bukan karena mengalah kan" kata Delisha pula
Ivan langsung mendengus senyum mendengar nya
"justru saat ini Ivan ingin Abang yang mengalah ma, biarkan Ivan mengurus perusahaan cabang agar tidak terlalu pusing, ya meski tanggung jawab nya juga besar, tapi diperusahaan pusat pasti lebih rumit lagi kan" jawab Ivan sembari menatap Maxwel yang langsung mengangguk
"kau licik" gumam Jonathan membuat Ivan mengangkat angkat sebelah alis nya
"sudah lah, masih ada waktu sebulan lagi untuk menentukan nya. Minggu depan papa akan menempatkan Jonathan diperusahaan pusat, dan Ivan diperusahaan cabang kita dikota sebelah, papa harap kalian bisa dipercaya dan tidak mengecewakan papa. Nasib Aguenno group ada ditangan kalian" kata Maxwel dengan tegas
"baik pa" jawab mereka serentak
Mereka kembali membahas rencana mereka kedepan nya hingga hari larut. Dan diakhir cerita Ivan memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu pada Maxwel
"pa" panggil Ivan pada Maxwel yang baru saja selesai meminum kopi nya
"hmm" gumam Maxwel, karena dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Ivan
"apa perjanjian itu masih berlaku?" tanya Ivan ragu, sementara Jonathan masih terdiam, sebenarnya dia ingin bertanya hal yang sama sejak tadi, tapi dia tidak cukup berani saat ini
"tentu saja. Papa bukan seseorang yang suka melanggar janji" jawab Maxwel
"jadi apa boleh kami menemui mereka" tanya Ivan lagi dan Jonathan juga menunggu dengan wajah datar nya namun jantung nya juga tak kalah bergemuruh saat ini
"kalian lupa apa janji kita dahulu. Kalian boleh menemui mereka saat kalian sudah berhasil membuat papa bangga. Dan itu belum terjadi sampai kalian benar benar berada diposisi kalian" ungkap Maxwel menatap Ivan dan Jonathan bergantian. Kedua pemuda itu langsung mengangguk lemah
__ADS_1
"sabarlah nak, sebulan lagi bukan waktu yang lama. Setelah itu penantian kalian berakhir dan kalian bisa menjalani hubungan yang lebih serius lagi dengan mereka" ucap Delisha lembut menenangkan hati kedua anak nya
"ya itupun jika mereka masih menunggu kalian" sahut Maxwel yang langsung bisa menghancurkan angan Ivan dan Jonathan yang baru saja melayang karena perkataan Delisha