Story Of The Twins

Story Of The Twins
Proposal Pernikahan


__ADS_3

Faiz berjalan sedikit tergesa saat turun dari mobil. Dia langsung menuju rumah sakit saat Diana mengirimi nya pesan tadi. Dia tahu itu pasti ulah Ivan. Tapi ya mau bagaimana lagi, resiko jadi asisten. Padahal dirumah, ibunya masih ingin bersama nya setelah dua hari ini ibu Faiz juga merasa jantungan dan sangat bersedih mendengar berita anak nya yang kecelakaan.


Tapi karena Ivan yang meminta, dengan terpaksa dia membiarkan Faiz pergi. Dia sudah cukup senang Faiz dan Ivan ternyata masih hidup dan kembali dengan sehat.


"Kak Faiz" seru seseorang. Faiz langsung menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuh nya, melihat Diana yang datang dari luar sembari menenteng beberapa kotak makanan


"Diana" sapa Faiz dengan senyum ramah nya seperti biasa


Diana sedikit berlari menghampiri Faiz. Dia sangat senang bisa melihat Faiz kembali, dia fikir dia juga tidak akan pernah bertemu lelaki humoris ini lagi


"Kak,.syukurlah kakak baik baik aja. Aku kaget banget denger berita pesawat jatuh kemarin" kata Diana langsung


"Iya, kami masih dikasih kesempatan hidup lebih lama. Aku juga gak nyangka masih bisa bertemu kamu lagi" jawab Faiz membuat Diana langsung tertawa malu


"Kamu bawa apa?" tanya Faiz menatap bawaan ditangan Diana


Diana menoleh sekilas ketangan nya, dan kembali memandang Faiz


"Sarapan untuk tuan Ivan" jawab Diana. Mereka berdua bersama sama berjalan menuju ruangan Amelia


"Amel kenapa?" tanya Faiz


"Tubuhnya drop, jantung nya melemah sewaktu dengar kabar pesawat kalian jatuh" jawab Diana


"Ya ampun. Gak ngebayangin sih kalau memang kami naik pesawat itu kemarin" gumam Faiz begitu iba.


"Jangan dong" sahut Diana langsung. Namun dia langsung terkesiap saat Faiz menatap nya dengan heran dan langsung tersenyum simpul


"Kenapa? Takut kamu gak ketemu aku lagi?" tanya Faiz dengan sedikit memainkan alisnya


"Ish, ya bukan gitu. Cuma kan aku juga udah kenal kalian. Wajar dong kalau aku juga pasti sedih kalau kalian bener bener naik pesawat itu " jawab Diana sedikit memalingkan wajahnya


Faiz tertawa kecil dan memasukkan tangan nya kedalam saku celana


"Aku gak akan pergi. Aku kan udah bilang sama kamu. Kalau aku pulang, aku pasti nemui kamu lagi, banyak yang harus kita selesaikan" ungkap Faiz


Diana langsung memandang nya dengan heran


"Nyelesain apaan?" tanya Diana


"Ada deh, nanti juga tahu." jawab Faiz begitu acuh, namun senyum nya sedikit memendam makna tersembunyi


Diana langsung mendengus dan mengendikan bahu nya saja


"Yang mana kamar nya?" tanya Faiz saat mereka sudah berada lantai ruangan Amel


"Tuh, didepan" tunjuk Diana pada salah satu pintu


Mereka pun berjalan menuju pintu itu beriringan. Faiz membuka pintu tanpa mengetuk nya lagi, karena memang tidak ada orang disana. Andrean langsung pergi keperusahaan setelah mendengar kabar Amel yang baik baik saja. Sedangkan Indah belum kembali dari rumahnya.


Mata Faiz dan Diana dibuat melebar dengan pemandangan yang mereka lihat


"Astaga" gumam mereka berdua.


"Apa mereka lupa kalau ini dirumah sakit" gumam Faiz tidak habis fikir. Saat melihat dua anak manusia itu tidur dalam satu ranjang yang sama. Begitu pulas bahkan sangat tenang, seperti berada dirumah sendiri saja.


Ivan tertidur disamping Amel dengan memeluk perut Amel. Mereka tampak tidur sangat nyenyak. Bahkan tidak menyadari kedatangan Faiz dan Diana.


Diana dan Faiz langsung saling pandang canggung. Mau membangunkan Ivan, tapi Faiz tidak tega. Dia tahu Ivan sudah dua hari ini bahkan tiga hari ini tidak ada istirahat dengan baik. Bahkan waktu tidur nya juga sangat singkat, wajar saja dia tidur begitu nyenyak sekarang.


Dan Amel, mereka tahu keadaan gadis itu juga sedang tidak baik baik saja dan masih memerlukan istirahat yang cukup.


"Gimana dong" bisik Diana


Faiz kembali memandang Ivan dan Amel. Seperti nya biar saja dulu mereka tidur. Semoga saja tidak ada yang datang sebelum mereka bangun


"Biar aja deh. Kita tunggu diluar aja" ujar Faiz


Diana langsung mengangguk, dia meletakkan sarapan untuk Ivan diatas meja disamping tempat tidur Amel.


Setelah itu mereka berdua langsung keluar dan duduk dikursi tunggu didepan ruangan itu.


"Ngalah ngalahin pengantin baru memang" gumam Faiz tak habis fikir


"Mungkin karena udah lama gak ketemu, lagian peristiwa kemarin pasti buat mereka sama sama takut kak" jawab Diana


Faiz langsung mengangguk setuju. Bukan hal yang mudah pastinya mendengar kabar buruk itu. Tapi ya, seharus nya Ivan bisa sedikit menahan diri, bagaimana jika ada orang yang melihat, mereka bahkan belum menikah.

__ADS_1


"Oh iya, kamu udah bisa lari lari tadi, apa lukamu udah sembuh" tanya Faiz pada Diana


"Udah kok, udah kering. Cuma masih sedikit nyeri aja kalau dibawa gerak tiba tiba" jawab Diana


"Udah tahu gitu malah lari lari tadi" gerutu Faiz


Diana langsung tertawa kecil mendengar nya. Dia bahkan tidak sadar, entah kenapa dia begitu senang melihat Faiz pagi ini


"Reflek" jawab nya cepat


"Kayak ketemu pacar aja, reflek langsung ngejer" goda Faiz


Diana langsung melebarkan matanya menatap Faiz


"Ya aku kira hantu, denger kabar udah gak ada tapi ternyata masih berkeliaran aja" jawab Diana dan kini Faiz yang tertawa


"Sembarang dikatain hantu. Mana ada hantu ganteng kayak aku" kata Faiz dengan bangga nya membuat Diana langsung memasang wajah jelek nya


"PD banget emang." dengus Diana


"Emang kamu mau ya kita gak ketemu lagi?" tanya Faiz


Diana terdiam dan memandang Faiz dengan gelengan kecil


"Kenapa?" tanya Faiz dengan senyum simpul nya


"Ya gak kenapa kenapa. Cuma gak pengen aja denger kabar buruk tentang kakak" jawab Diana tertunduk


"Kamu sedih?" tanya Faiz


"Nama nya juga udah saling kenal, ya pasti sedih lah. Gimana sih" gerutu Diana, membuat Faiz kembali tertawa dan menyandar dikursi nya


"Kalau gitu, nanti setelah Ivan nikah, aku yang bakalan nikahin kamu deh" ucap Faiz tiba tiba. Diana langsung terkesiap dan memandang Faiz dengan aneh


Faiz menoleh dan tersenyum melihat wajah Diana yang terkejut


"Kenapa gitu banget Mandang nya?" tanya Faiz


"Becanda nya kelewatan" dengus Diana


Namun Diana langsung mendengus


"Mana ada, wajah kakak sama tuan Ivan itu wajah wajah tukang becandaan. Gak ada serius nya" jawab Diana.


Faiz tertawa dan duduk dengan tegak kembali


"Jadi wajah yang serius itu gimana?" tanya Faiz memandang wajah kesal Diana


"Ya kayak tuan Jonathan. Itu baru wajah serius" jawab Diana


"Kalau itu bukan wajah serius, tapi terlampau serius Sampek kebangetan datar dan dingin, emang kamu gak takut kalau aku kayak gitu?" tanya Faiz


"Ya takut sih" jawab Diana langsung


"Ya maka dari itu, kamu harus nya bersyukur kalau aku punya wajah yang kayak gini. Awet muda" ucap Faiz dengan bangga nya


Diana memandang nya dengan jengah, asisten Ivan ini memang selalu saja percaya diri. Tapi ya begitu, kalau dia tidak ada, Diana pasti kecarian. Menyebalkan memang.


"Amet muda dari mananya" gumam nya kesal


"Sudah lah, nanti kamu beri tahu aku dimana alamat orang tua kamu" ujar Faiz


"Buat apa?" tanya Diana heran


"Ya buat ngelamar kamu lah" jawab Faiz dengan santai nya. Membuat Diana semakin terperangah saja


"Kok enak banget ngelamar anak orang begitu" kata Diana tidak habis fikir


"Jadi gimana, apa harus pakai profosal juga, atau surat lamaran tentang data diri aku?" tanya Faiz. Diana benar benar dibuat terperangah dengan lelaki ini. Benar benar aneh


"Yasudah, nanti aku kirim data diri aku, tapi online ya. Ibu kamu harus baca baik baik. Aku pasti langsung diterima" kata Faiz dengan bangga nya


Diana menggelengkan kepala nya dengan jengah. Faiz kira melamar anak gadis orang sama dengan melamar pekerjaan diperusahaan. Seperti nya otak nya sedang tidak beres, atau memang tidak beres.


"Bisa gila aku ngomong sama kakak lama lama" gerutu Diana yang langsung memalingkan wajah nya dengan kesal


Faiz tertawa kecil dan kembali menyandar dikursi nya, memandang langit langit kamar dengan nanar

__ADS_1


"Kamu tahu, aku enggak pernah deket dengan perempuan selama ini. Gak ada yang bisa menarik perhatian aku dari dulu. Bahkan setiap Ivan jodohin sama karyawan diperusahaan, aku gak tertarik, bahkan untuk ngomong aja aku males" ungkap Faiz tiba tiba. Diana kembali memandang kearah Faiz


"Tapi sama kamu beda, gak tahu kenapa." kata Faiz lagi, dia menoleh kearah Diana yang tampak terkesiap canggung


"Aku gak tahu caranya deketin cewe atau lebay lebay kayak Ivan gitu, gak ngerti aku. Makanya dari pada ribet mending lamar kamu langsung kan" ujar Faiz


Diana mengerjapkan matanya beberapa kali. Faiz ini terlalu polos atau bagaimana sih?


"Usia kakak berapa sih?"tanya Diana begitu heran


"27" jawab Faiz


"Udah setua itu masak gak tahu cara deketin cewe. Yakali main ngelamar aja, mana pakek proposal lagi" kata Diana dengan heran


Faiz langsung tertawa geli mendengar nya


"Aku gak suka ribet Di. Aku gak suka pacaran lama lama, galau karena gak ketemu, cemburu ngeliat cewe Deket sama orang lain. Aku gak suka kayak gitu, aku maunya kalau udah nemu yang cocok, yaudah, langsung nikah. Cukup kan" jawab Faiz dengan begitu mudah nya


Dia langsung menggeleng pelan dan memijit pelipisnya yang terasa pusing sekarang. Kenapa ada lelaki seperti Faiz didunia ini?


"Iya kalau orang yang kakak pilih itu baik,.kalau enggak gimana. Kan harus pengenalan dulu, harus saling ngerti keadaan masing masing dulu. Kalau cocok dan sama sama cinta baru deh dilamar. Bukan nya seenak itu ngelamar sebelum kenal satu sama lain terlebih dahulu" ungkap Diana


"Ya itu guna nya proposal data diri" sahut nya membuat Diana semakin frustasi


"Awas aja lah sampai salah pilih" gumam Diana


"Enggak lah. Aku udah yakin, maka nya aku mau ngelamar kamu. Ivan juga udah setuju" Jawab Faiz


"Aku?" tunjuk Diana pada dirinya sendiri


Faiz langsung mengangguk yakin


"Jangan gila deh kak" sahut Diana langsung


"Gila gimana, orang serius juga" jawab Faiz


"Gak lucu becanda nya" dengus Diana


"Gak percayaan banget kamu. Nanti selesai nikahan Ivan, aku pasti buktiin sama kamu. Kamu siap siap aja" kata Faiz begitu santai. Dia tidak tahu saja jantung Diana sudah berdetak dengan kencang saat ini. Antara percaya dan tidak, namun perkataan Faiz benar benar membuat otak nya tidak sinkron


Diana hanya menggeleng dan diam tidak ingin menanggapi perkataan Faiz yang dia fikir hanya sekedar gurauan saja.


Tidak terasa sudah lama mereka duduk disana, dan tiba tiba pandangan mata mereka langsung terkesiap melihat Indah datang bersama Andrean dan ada Maxwel juga.


Faiz dan Diana langsung berdiri. Mereka saling pandang panik.


"Gawat" gumam Faiz, dia ingat didalam Ivan masih tidur dengan Amel


"Kak gimana ini" tanya Diana yang juga takut ketiga orang itu marah jika tahu Ivan tidur satu ranjang dengan Amel


"Kamu tahan sebentar, aku bangunin Ivan dulu" Faiz langsung berlari masuk kedalam ruangan Amel meninggalkan Diana yang tampak bingung. Bagaimana caranya menahan mereka, mana dia berani.


Faiz menutup pintu dengan cepat dan berlari mendekat Ivan. Dia mengguncang bahu Ivan sedikit kuat karena panik. Namun Ivan masih tidak bergeming, malah semakin memeluk erat tubuh Amel


"Astaga ni anak" gumam Faiz kesal


"Van bangun" panggil Faiz begitu panik. Jangan sampai mereka melihat Ivan yang begini, apa kata mereka nanti.


"Van" seru Faiz masih mencoba membangunkan Ivan


"Apasih" gumam Ivan yang malah menyembunyikan wajah nya dileher Amelia membuat gadis itu mulai tersadar


"Van bangun, bokap Lo Dateng" Faiz langsung menarik kuat tubuh Ivan hingga lelaki itu langsung terduduk diatas ranjang dengan wajah yang kusut dan acak acakan


"Apa sih Iz" tanya Ivan menatap Faiz begitu kesal


"Orang masih ngantuk juga. Ganggu aja" gerutunya lagi, dia ingin kembali merebahkan tubuhnya, namun Faiz segera menarik nya kembali


"Tuan Maxwel sama kak Andrean disini, bangun" bisik nya ditelinga Ivan


"Memang kenapa" tanya Ivan yang masih belum menyadari.


Amelia sudah membuka matanya dan memandang Ivan dan Faiz bergantian


"Lo mau mereka ngamuk ngeliat Lo tidur disini berdua sama Amel ha" seru Faiz begitu kesal


Ivan langsung memandang Amel dan mengamati tempat nya. Dan setelah menyadarinya, Ivan langsung terkesiap dan segera melompat kebawah bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.

__ADS_1


__ADS_2