
Hari sudah beranjak petang saat ruko yang akan dijadikan tempat usaha itu selesai direnovasi, bahkan tempat dan rak barang barang semua nya telah selesai dikerjakan dengan baik.
Orang orang suruhan Maxwel begitu cekatan memerintahkan semua warga yang ada disana untuk membantu menyelesaikan tempat itu, karena mereka mendapat upah yang lumayan besar dari sana, dan juga nanti nya mereka sendiri yang akan diuntungkan karena tidak perlu mengambil barang jauh jauh lagi, karena Ivan memang menyediakan stok dalam jumlah besar sebagai pemasok sembako dikampung itu.
Puluhan warga tampak begitu semangat membantu menurunkan barang barang dari dua truck besar yang berisikan sembako dan bahan bahan kebutuhan rumah tangga lain nya, seperti nya orang orang suruhan Maxwel itu bukan hanya hebat dalam mengawal keluarga nya tapi juga hebat dalam berbelanja, karena terlihat semua kebutuhan lengkap tanpa kurang sedikitpun.
Dian dan tiga gadis sibuk kesana kemari untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja dibantu oleh beberapa ibu ibu yang dengan suka rela juga membantu, sekaligus sembari cuci mata karena melihat pengawal pengawal Ivan yang memang gagah gagah dan mempesona meski tampang mereka datar dan terkesan dingin.
Bambang dan Ivan mengatur tempat barang barang itu dengan beberapa warga yang lain nya, mereka bekerja gotong royong penuh semangat meski keringat mengucur deras diwajah mereka, karena barang barang itu sangat banyak bahkan dua pintu ruko itu terisi penuh, dan sebagian lagi diletakan dilantai atas untuk stok kedepan nya. Benar benar seperti agen sembako yang terbesar dikecamatan itu.
Sedangkan Faiz dan dua orang pengawal Ivan mencatat berapa banyak barang barang disana dan juga harga serta seberapa besar keuntungan yang akan mereka ambil nanti nya.
Mereka bekerja hingga hari semakin larut, bahkan jam kini sudah menunjukan pukul 10 malam.
Ivan terlihat duduk dikursi sembari mengipas wajah nya dengan sebuah kertar kardus dengan wajah yang terlihat kelelahan.
"tuan, sebaik nya anda pulang, biar kami yang menyelesaikan ini semua" ucap Roy menghampiri Ivan
"ah, gak papa bang, bentar lagi juga siap kan" jawab Ivan
"tapi anda sudah sangat kelelahan tuan muda" kata Roy lagi, tak enak melihat tuan nya yang sudah kelelahan begitu
"udah gak papa. aku dari tadi cuma ngawasi doang kok. yang lelah itu mereka, liat" kata Ivan menunjuk beberapa warga dan Bambang yang masih kesana kemari membereskan letak barang barang nya
" aku gak papa bang, lanjutin aja kerjaan Abang" sahut Ivan
"baiklah, tapi jangan dipaksakan jika anda ingin istirahat tuan" kata Roy lagi
"iya" jawab Ivan pasrah. bagaimana mungkin dia pulang jika teman teman nya masih bekerja disini. Sebenar nya ini diluar perkiraan nya, dia fikir ini akan selesai hingga memakan waktu dua hari, namun nyata nya dalam satu hari semua nya sudah bisa selesai, memang uang bisa dengan mudah menyelesaikan semua urusan, batin Ivan.
Ivan berjalan menghampiri Faiz yang masih asik dengan catatan catatan nya
"Iz, Lo kenapa gak balik kekota lagi aja coba, besok kan kuliah" kata Ivan saat telah berada disamping Faiz sembari memperhatikan Faiz mencatat harga barang.
Faiz hanya melirik Ivan sekilas setelah itu dia mendengus sinis
"nah, Lo sendiri ngapa gak balik?" tanya Faiz membuat Ivan menggaruk tengkuk nya sejenak
"kan kerjaan disini belum selesai" jawab Ivan
"alasan aja lu, tanpa lu juga ini bakalan selesai sama bang Roy dan yang lain nya" jawab Faiz membuat Ivan langsung tersenyum canggung
"ya Lo jangan ngikutin gue dong, masak gue bolos, Lo juga ikutan bolos" kata Ivan lagi tapi mata nya menatap kearah Bambang yang masih semangat menata barang barang ditempat nya, bahkan dia kini tengah memanjat tangga untuk meletakan barang dirak paling atas, terlihat sekali semangat nya untuk bekerja dengan yakin, dan itu membuat Ivan juga semakin semangat untuk menolong teman nya
"kan udah gue bilang, gak ada Lo disana itu gak enak, berasa orang asing gue" jawab Faiz dan kali ini Ivan menoleh kearah Faiz
__ADS_1
"ck, jangan gitu lah, yauda, besok kita balik kekota" kata Ivan pasrah
"hmm, Lo harus siap Nerima kenyataan, jangan kaburan lagi, kayak anak perawan yang patah hati Lo" ejek Faiz membuat Ivan mendengus gerah
"sialan lo" jawab nya kesal.
Dan saat waktu sudah hampir tengah malam semua pekerjaan sudah beres, bang Roy juga sudah membagikan upah pada para warga yang membantu disana, mereka begitu senang karena mendapat upah yang lumayan banyak, bahkan bisa dibilang itu seperti upah mereka bekerja sebulan.
Didalam tinggal Jhon, bang Roy dan anggota nya yang memeriksa semua nya dan juga tempat itu apa sudah layak atau belum, besok pagi mereka baru akan memasang beberapa perlengkapan elektronik seperti lemari pendingin, televisi, perlengkapan kasir dan juga cctv dibeberapa sudut ruangan.
Kini Ivan, Faiz, Dian dan Bambang sedang duduk dilesehan dengan tikar yang mereka bentang sebagai alas duduk didepan ruko itu sembari menikmati kopi panas dan gorengan yang entah dari mana didapatkan oleh Dian.
"gila, gak nyangka gue bisa selesai dalam waktu sehari, keren emang pengawal Lo Van" ucap Dian melirik bang Roy dan yang lain nya didalam ruangan itu
"iya, gue juga ngira paling cepet ini beres sekitar dua harian karena ngeliat banyak bener barang barang itu" timpal Bambang pula
"ya, ini juga berkat bantuan warga kampung juga kan, untung mereka mau bantu" jawab Ivan sembari menyesap kopi nya yang masih terasa panas namun bisa menghangatkan malam yang dingin itu
"yang penting sekarang uang, kalo ada uang masalah serumit apapun cepet selesai" kata Faiz kemudian membuat Bambang langsung mengangguk cepat
"iya bener" jawab Bambang
"gue gak nyangka Lo Van, Lo itu anak orang kaya yang lebih lebih orang kaya, kaget gue ngeliat orang orang keren itu pada tunduk semua sama lo, gila, seberapa kaya nya sih keluarga kalian" tanya Dian membuat Bambang mendengus kesal
"hahaha, biasa aja kok. itu mereka aja yang berlebihan" jawab Ivan terkekeh
"kaget lah, tapi mau gimana lagi" jawab Ivan
"gue bahkan mau pingsan liat rumah Ivan dikota, berasa kayak istana bro" ungkap Faiz membuat Ivan mendengus
"beneran Iz?" tanya Dian langsung
"iya, kamar nya aja seluas rumah gue disini, bisa Lo bayangin kan. Itu pengawal belum seberapa, kalau Lo main kerumah nya Lo bakal ngeliat yang lebih banyak lagi" ungkap Faiz lagi membuat Dian dan Bambang semakin takjub dan penasaran
"Lo mah berlebihan Iz" kata Ivan tak enak
"berlebihan apa nya, orang emang bener kok. waktu gue pertama kali Dateng kesana gue malah sempet mikir kalo bokap Lo itu lebih hebat dari presiden, kemana mana dikawal sama orang orang yang modelan nya begitu" jelas Faiz lagi
"wah gue jadi penasaran Van, selama ini gue cuma liat ditivi rumah orang kaya" jawab Dian
"tapi gue sih percaya, liat saat ini aja Ivan dijaga sama mereka kayak jaga emas berlian, gak boleh capek dan lecet sedikit" balas Bambang sembari terkekeh pelan mengingat bagaimana posesif nya Roy dan Jhon yang melarang Ivan melakukan pekerjaan apapun tadi.
Faiz dan Dian langsung terbahak mendengar nya, sedangkan Ivan menghela nafas lelah
"Lo gak tau kan, dirumah nya Ivan udah kayak raja dia, semua ada yang ngurus, dari makan, pakaian semua nya, untung aja mandi gak di mandiin tu dia" kata Faiz yang langsung kena timpuk Ivan
__ADS_1
"sialan lo" kesal Ivan namun teman teman nya malah terbahak melihat kekesalan nya
Ketika semua pekerjaan dirasa telah rampung, keemmpat pemuda itu pun pulang kerumah nya masing masing, Roy dan Jhon pulang kerumah pak Tarman, sedangkan pengawal yang lain memilih tinggal diruko itu malam ini.
....
Keesokan hari nya
Hari sudah lewat tengah hari, saat ini Ivan dan teman teman nya telah berada diruko mereka. Ya sebenar nya mereka telah berada diruko itu dari pagi tadi untuk mengawasi orang orang yang memasang berbagai alat elektronik yang diperlukan, juga membantu Bambang dan Dian menyiapkan ruang dilantai atas untuk tempat mereka beristirahat.
Dan akhir nya siang ini semua telah selesai dikerjakan, dan besok toko sudah mulai bisa dibuka.
Tadi juga Jhon sudah mengajari Bambang bagaimana cara mengelola pemasukan dan pendapatan mereka, juga cara menggunakan mesin kasir nya. Semua teknik marketing diajarkan oleh Jhon pada Bambang, yang untung nya Bambang dapat mengerti dengan mudah.
Ivan dan Faiz sudah bersiap untuk pulang kekota, karena mereka harus kuliah esok hari.
Setelah berpamitan pada pak Tarman, Sari dan juga Ibu Faiz kini mereka pamit pada Bambang dan juga Dian.
"rasa nya baru juga ngumpul bentar" ungkap Dian sedih
"kami janji bakalan sering main kesini" jawab Ivan
"ya harus itu, gue juga bakal ngasih laporan terus sama lo Van. Semoga kami gak ngecewain Lo nanti nya" ucap Bambang pada Ivan
"iya bang, kalian pasti bisa kok. jangan lupa cari karyawan untuk bantu bantu" jawab Ivan
"iya, pasti" jawab Bambang
"yauda, kami pergi dulu" kata Ivan lagi
"yups, hati hati" kata Bambang dan Dian
Ivan dan Faiz pun hanya mengangguk dan melambaikan tangan nya pada mereka
Ivan pun mulai melajukan motor gede nya dan Faiz duduk dibelakang, dia melambaikan lagi tangan nya pada Bambang dan Dian yang melepas kepergian mereka.
Roy, Jhon dan yang lain nya mengawal Ivan dibelakang nya membuat Bambang dan Dian geleng geleng kepala
"gila ya bang, gak nyangka gue Ivan ternyata bener bener anak orang kaya" ucap Dian
"ya, dia memang pantes dapetin semua nya" jawab Bambang.
Mereka pun kembali masuk kedalam ruko yang akan mereka kelola nanti nya, memastikan semua nya aman dan mempelajari lagi teknik marketing yang telah diajarkan Jhon tadi
Sementara Ivan melajukan motor nya dengan tenang membelah jalanan lintas dengan mata yang memandang lurus kedepan. Sebenar nya Roy sudah menawarkan agar dia naik mobil saja dan motor nya dibawa pengawal yang lain, namun Ivan tidak ingin, dia hanya ingin menikmati perjalanan nya sendiri, karena setelah ini dia pasti akan menghadapi hari hari yang begitu berat.
__ADS_1
Meskipun dia memang telah merelakan semua nya, namun untuk saat saat awal pasti akan terasa sulit batin nya.