Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kelahiran Cucu Pertama Keluarga Alexander


__ADS_3

Pagi ini Amel bangun lebih dulu, entah kenapa malam ini dia tidak bisa tidur, pinggang dan perutnya terasa sakit padahal Ivan sudah mengusap dan memijit nya dengan pelan. Tidak seperti biasa, meski sudah jam empat tapi tetap saja dia tidak bisa tidur.


Alhasil dia tidak tertidur sama sekali setelah mengobrol sebentar dengan Ivan dini hari tadi.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Amel berniat untuk turun kebawah. Dia benar benar haus, jus mangga yang biasa dia konsumsi sudah habis, air putih juga tidak ada lagi. Mungkin Ivan lupa untuk mengambilnya.


Amel melihat ketempat tidur, dimana Ivan masih tertidur dengan nyenyak, padahal hari sudah jam setengah tujuh. Mungkin suami nya itu begitu kelelahan karena jarang tidur akhir akhir ini untuk menemaninya.


Amel tersenyum dan meninggalkan Ivan sendiri. Dia akan membiarkan Ivan tidur saja, kasihan jika dibangunkan. Lagi pula Ivan juga tidak bekerja hari ini.


Amel turun menggunakan lift, dan setelah itu dia langsung menuju keruang makan, dimana seluruh keluarga sudah berkumpul untuk sarapan.


"Loh sayang, kok udah bangun. Ivan mana?" tanya Delisha yang begitu terkejut melihat kedatangan Amel. Tidak biasanya dia keluar kamar pagi hari seperti ini.


"Kak Ivan masih tidur ma. Amel haus" jawab Amel seraya tersenyum dan mendekat kearah mereka.


"Harusnya kamu bangunin Ivan Mel" ujar Maxwel. Delisha langsung membantu Amel duduk, karena sepertinya dia terlihat kepayahan membawa perutnya. Wajah Amel juga begitu pucat.


"Kasihan pa, baru aja tidur. Amel juga pengen keluar kok" jawab Amel. Dia langsung meraih air putih dan menenggak nya hingga setengah.


"Kak Amel muka nya kok pucat banget?" tanya Karina yang sedari tadi memandangi Amel.


"Masak sih, kamu juga kok" ucap Amel pula.


"Lebih pucat wajah kamu sayang. Kenapa, ada yang sakit?" tanya Delisha


Amel terdiam sejenak, dan menggeleng pelan


"Enggak tahu ma. Cuma perut Amel gak enak dari tadi malam" jawab Amel.


Maxwel langsung menoleh pada Amel dan Delisha.


"Udah ada tanda tanda?" tanya Delisha seraya mengusap perut Amel dengan lembut.


"Tanda tanda apa?" tanya Amel dengan bingung.


Namun sebelum Delisha menjawab tiba tiba Amel langsung meringis dan memegang perut nya.


"Kenapa nak?" tanya Delisha mulai cemas.


"Sakit ma" jawab Amel.


"Sakit banget atau gimana?" tanya Delisha lagi. Namun Amel semakin merintih dan menunduk dengan wajah yang semakin pucat, membuat semua orang menjadi panik.


"Aaa mama sakit" kata Amel yang sudah ingin menangis. Dia begitu tidak kuat dengan rasa sakit yang tiba tiba ini.


Mata Delisha melebar saat melihat air keruh yang keluar dari sela paha Amel, karena sekarang Amel hanya memakai daster pendek saja.


"Mama" panggil Amel yang terus merintih


"Jo, panggil Ivan. Kita kerumah sakit sekarang" ujar Delisha.


Dan dengan cepat Jonathan langsung berlari meninggalkan meja makan itu. Sedangkan Maxwel juga langsung beranjak untuk meminta Roy menyiapkan mobil.


"Kita keluar ya sayang" ajak Delisha seraya membantu Amel untuk berdiri, namun Amel malah menggeleng


"Gak bisa ma, sakit banget" kata Amel yang sudah menangis membuat Delisha dan Karina menjadi panik.


"Bu May!!!" Karina langsung beranjak dari duduk nya memanggil bibi Mai.


"Bu, cepetan siapin keperluan lahiran kak Amel" teriak Karina begitu kuat. Dia juga sudah panik sekarang.


Dan tidak lama Ivan datang keruang makan itu, kebetulan dia sedang kebingungan mencari Amel tadi, dan dia begitu panik saat bertemu Jonathan yang mengatakan jika Amel sudah ingin melahirkan.

__ADS_1


"Sayang" panggil Ivan yang langsung berlari mendapati Amel


"Ma Amel kenapa?" tanya Ivan


"Cepetan bawa kemobil, udah mau lahiran" ujar Delisha dengan cepat.


Dengan cepat Ivan langsung mengangkat tubuh Amel dan membawa nya kedepan. Amel terus merintih kesakitan, membuat Ivan benar benar cemas dan panik.


Delisha segera menyusul nya bersama bibi Mai yang juga baru dari atas mengambil perlengkapan lahiran untuk Amel yang memang sudah disediakan.


Ivan langsung memasukkan Amel kedalam mobil ditemani oleh Delisha disamping nya. Sedangkan Maxwel duduk didepan bersama Roy. Dia juga ingin menemani Ivan untuk menantikan kelahiran anak pertamanya.


"Sakit...." rintih Amel begitu pelan. Namun badan nya yang terasa bergetar dalam dekapan Ivan.


"Sebentar ya sayang, kamu kuat" ucap Ivan seraya menggenggam erat tangan Amel yang mendingin, bahkan wajah Amel begitu pucat sekarang.


"Gak kuat, sakit...." kata Amel lagi, bahkan matanya sudah begitu terasa berat untuk terbuka.


"Amel, ingat nak, anak kamu bentar lagi lahir. Kamu harus kuat" kata Desliha pula. Dia juga sudah benar benar cemas. Amel terlihat begitu lemah.


"Bang cepetan. Ngebut dikit!!!" seru Ivan yang sudah tidak bisa melihat Amel yang seperti ini.


"Sayang, tahan ya, sebentar lagi" pinta Ivan seraya mengusap perut Amel dengan lembut.


Amel hanya menggeleng dan terus merintih. Keringat sudah membanjiri wajahnya.


"Ma, gimana ini" Ivan sudah benar benar panik.


"Sabar nak, kasih semangat buat Amel" ujar Delisha


Ivan mengusap wajah Amel dan menciumi nya. Dia benar benar tidak tega melihat Amel yang seperti ini.


"Aaaaa sakit, aku gak kuat. Sakit ...." teriak Amel, namun tidak terlalu kuat karena dia sudah benar benar lemah.


Apalagi saat Amel yang tiba tiba sudah terkulai dan tidak lagi sadarkan diri, membuat mereka benar benar menjadi sangat panik.


"Ya Allah Amel, bangun nak" Delisha terus mencoba membangunkan Amel, tapi sungguh, Amel sudah tidak cukup mampu untuk membuka matanya. Bahkan air yang keluar dari bagian inti nya kini sudah bewarna merah.


"Mama, Amel ma Amel. Bangun Mel, bangun sayang" Ivan sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, dia sudah seperti orang gila sekarang.


"Lebih cepat Roy" seru Maxwel yang tidak kalah panik. Apalagi melihat Ivan yang menangis dan Amel yang sudah tidak sadarkan diri. Astaga, ini benar benar membuat jantung nya berdenyut ngilu. Semoga menantu dan cucunya baik baik saja.


Roy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia tidak lagi memperdulikan makian orang orang yang dia lewati. Nasib cucu pertama keluarga Alexander lebih penting sekarang.


Dan tidak lama kemudian, mobil yang Roy kendarai sudah tiba didepan rumah sakit. Didepan sudah menunggu orang orang yang akan membawa Amel untuk segera ditangani. Maxwel sudah menghubungi dokter Sandra tadi sehingga mereka bisa langsung menangani Amel yang kini sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang membasahi pangkal pahanya.


Wajah Ivan benar benar kusut. Dia terus mengikuti para perawat itu membawa Amel keruang operasi. Tidak ada waktu untuk bertanya apapun.


Namun saat tiba diruang operasi, mereka berhenti karena perawat melarang mereka untuk masuk.


"Tidak, biarkan saya menemani istri saya" kata Ivan terlihat marah, membuat para perawat itu menjadi gemetar.


"Cepatlah, apa yang kalian lihat" seru Maxwel pula


Dan akhirnya, Ivan diizinkan masuk setelah dokter Sandra yang turun tangan.


Tanpa berbasa basi lagi, dokter Sandra dan dokter lain nya, mulai menangani Amel. Keadaan Amel cukup lemah, apalagi dia sudah pendarahan dan juga tidak lagi sadarkan diri. Sehingga prosedur lahiran siaga harus segera ditangani, jika tidak maka nyawa ibu dan bayinya akan terancam.


Ivan sudah mengenakan pakaian steril, dia terus berada didekat Amel dan memperhatikan dokter Sandra dan rekan nya yang mulai bekerja.


Jantung Ivan berdenyut begitu ngilu melihat bagaimana jarum dan alat alat yang menusuk tubuh Amel.


Dan yang lebih parah adalah saat dia melihat berbagai macam alat alat medis untuk membedah perut istrinya.

__ADS_1


Sungguh, demi apapun air mata Ivan tidak bisa berhenti sejak tadi.


"Dokter, detak jantung nona Amel melemah"


deg


deg


deg


Jantung Ivan langsung mencelos mendengar itu, apalagi disaat melihat wajah dokter Sandra dan yang lain juga ikut memucat.


Ivan langsung meraih tangan Amel, dan mendekatkan wajahnya kewajah Amel. Membisikkan sesuatu disana dengan lembut dan penuh perasaan seraya menahan Isak tangis yang sungguh tidak bisa berhenti.


"Sayang, kamu udah janji bakalan kuat kan"


"Ayo bertahan untuk aku, demi anak kita"


"Kamu pasti bisa. Kamu udah sering berjuang selama ini. Aku mohon, jangan menyerah dulu. Masih banyak harapan kita yang belum terwujud"


"Ayo sayang, kamu bisa. Kamu kuat. Amel ku kuat kan... Amel ku pasti bisa"


Ivan benar benar tidak bisa untuk tidak menangis, bahkan berulang kali dia mengusap air mata diwajah nya. Membuat semua dokter dan perawat yang ada didalam sana ikut terharu melihat tuan muda ini.


"Aku cinta kamu yank, tolong kuat untuk aku ya" bisik Ivan lagi


Dan benar saja, detak jantung yang sempat melemah itu kini mulai stabil lagi. Membuat dokter Sandra dan yang lain nya langsung bisa bernafas lega. Mereka langsung melakukan operasi pembedahan untuk mengangkat bayi dalam perut Amel.


Ivan langsung memalingkan wajahnya saat melihat perut Amel disayat sedikit demi sedikit oleh dokter Sandra.


Ya Tuhan, kenapa Amel harus tersiksa seperti ini.


Ivan terus menciumi kepala Amel dan terus membisikkan kata kata cinta untuk istrinya itu. Sungguh, dia tidak akan lagi membiarkan Amel menderita. Sudah cukup satu, tidak akan lagi Ivan membiarkan Amel mengandung walau apapun alasan nya. Dia benar benar tidak tega melihat perjuangan Amel yang seperti ini. Hingga tanpa sadar, ternyata Amel mulai sadar dan membuka matanya.


"Jangan nangis" bisik Amel begitu lemah dan pelan. Bahkan matanya masih terpejam


Ivan terkesiap, memandangi Amel dengan lekat.


"Kamu bangun yank, kamu bangun kan" ucap Ivan. Beberapa perawat dan dokter bahkan menoleh kearah nya. Dan seorang dokter langsung memeriksa keadaan Amel.


"Syukurlah, nona Amel sudah sadar" ungkap nya dengan pelan, karena takut mengganggu dokter Sandra yang masih serius dengan perut Amel.


"Kamu pasti kuat sayang, sebentar lagi anak kita keluar" bisik Ivan


Dan dapat Ivan lihat jika bibir Amel tersenyum tipis. Ivan mengecup lembut dahi Amel yang berkeringat. Namun hanya sebentar saat tiba tiba dia mendengar suara tangisan bayi.


Lagi lagi Ivan harus menangis terharu saat melihat bayi mungil yang begitu merah dikeluarkan dari perut Amel.


Bayi nya, buah cinta nya dengan Amel.


Mata Amel mulai terbuka saat mendengar suara bayi.


Dokter Sandra mengangkat bayi merah itu mendekat kearah Amel dan Ivan.


"Nona, semangatlah, lihat putri kalian begitu cantik" ucap dokter Sandra. Bahkan dia langsung meletakkan bayi mungil itu diatas dada Amel yang dibuka oleh seorang perawat.


Ivan membantu memegangi anak nya dengan tangan yang gemetar.


"Anak kita yank" bisik Ivan yang benar benar tidak bisa berhenti menangis. Bahkan membuat dokter Sandra dan yang lain ikut terharu.


"Anak kita" ucap Amel yang juga ikut menangis.


Sungguh, ini adalah hari yang paling menegangkan dan paling membahagiakan untuk Ivan dan Amelia. Hari dimana mereka menyaksikan kelahiran putri mungil mereka. Cucu pertama di keluarga Alexander.

__ADS_1


__ADS_2