
Jonathan masuk kedalam sebuah ruangan dengan sedikit tergesa gesa. Bukan karena apa, dia hanya malas berurusan dengan pertanyaan pertanyaan kedua orang tua nya.
Karina dan Amelia yang sedang duduk sembari berbincang kecil terperanjat kaget melihat Jonathan masuk tanpa mengetuk pintu lagi.
"ada apa kak?" tanya Karin heran
"kamu bisa mengantar Amelia pulang kan sayang, aku tidak bisa mengantar kalian" jawab nya
"Amel pulang sendiri aja gak papa kak, Amel udah baikan kok" jawab Amel takut takut
Jonathan menatap Karin yang terlihat bingung
"kak Ivan gimana keadaan nya?" tanya Amel dengan wajah khawatir. Sedari tadi dia menunggu kedatangan Jonathan untuk mengabari nya tentang Ivan, bahkan dia dilarang untuk menjenguk Ivan karena ada orang tua mereka disana.
"sudah lebih baik. Orang tua kami tidak tahu masalah ini, sebaiknya kamu jangan dulu menampakan diri didepan mereka. Saya hanya tidak ingin mereka berfikiran yang tidak tidak tentang hubungan kalian" kata Jonathan , Amelia mengangguk pelan dan tertunduk.
Ya dia tahu, sekuat apapun perasaan nya dia memang harus sadar diri.
"nanti biar aku yang ngabari kakak tentang keadaan kak Ivan. Jangan khawatir" kata Karina mencoba menenangkan hati Amelia
"terimakasih" jawab Amelia mencoba tersenyum
"aku sudah memesankan taksi online, dan kini sudah menunggu diluar" kata Jonathan lagi, sungguh dia tidak ingin menunggu waktu lama agar orang tua nya tidak banyak bertanya
"iya kak" jawab Amelia.
Dia bangun dari tempat tidur nya dan meraih tas kecil nya diatas meja, sedangkan Karin membawakan tas ransel nya
"biar aku aja Rin. aku bisa pulang sendiri kok" kata Amelia namun Karina malah menolak
"biar aku anter. Kakak masih lemas" jawab Karin
"gak papa kan sayang, aku nganter kak Amel dulu kerumah nya" kata Karina pada Jonathan
Sebenar nya berat, tapi Jonathan memilih untuk mengalah, karena bagaimana pun tidak mungkin membiarkan Amelia pulang sendiri apalagi Andrean tidak tahu tentang hal ini
"baiklah, tapi kamu harus berhati hati. kabari jika sudah dirumah" kata Jonathan pula
"apa aku perlu kembali kesini lagi?" tanya Karina namun Jonathan menggeleng
"tidak perlu sayang, hari sudah sore. kamu istirahat saja dirumah" jawab Jonathan sembari mengusap lembut pucuk kepala nya. Karina pun langsung mengangguk dan tersenyum
Jonathan mengantar mereka hingga kelobi rumah sakit, beruntung nya tidak banyak pengawal yang dibawa oleh Maxwel, apalagi Rico dan Roy sudah pergi lebih dulu dari rumah sakit itu.
...
__ADS_1
Diruang perawatan Ivan ...
"kamu kenapa sih ceroboh banget, lihat kamu jadi masuk rumah sakit begini" gerutu Delisha sembari mengolesi salep dibetis kaki Ivan yang kini sedang duduk diatas tempat tidur nya
"maaf ma, Ivan gak punya pilihan lain waktu itu, Ivan keburu cemas" jawab Ivan tersenyum canggung
"emang siapa teman kamu itu" tanya Maxwel pula yang duduk dikursi disamping ranjang Ivan
"emmm itu" baru saja Ivan mau menjawab namun suara pintu langsung membuat mereka menoleh serentak
Jonathan masuk dengan wajah bingung menatap kedua orang tua nya dan menoleh pada Ivan yang terlihat sedang gugup
"ada apa?" tanya Jonathan yang kini berjalan kearah sofa dan duduk disana
"kamu dari mana?" tanya Maxwel
"dari luar beli minum" jawab nya singkat sembari menunjuk sebotol air mineral ditangan nya
"bukan nya disini juga ada?" kata Maxwel pula sembari menunjuk beberapa botol diatas meja
Ivan langsung mengulum senyum nya melihat Jonathan yang tidak pandai berkilah
"sekalian cari angin pa" jawab Jonathan, Maxwel memilih diam dan mengendikan bahu nya
"lalu siapa teman yang kamu tolong itu, dan bagaimana keadaan nya?" tanya Maxwel lagi pada Ivan. Ivan langsung melirik Jonathan yang dengan cepat menggelengkan kepala nya dengan pelan dengan wajah mengancam
"kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami kan?" tanya Delisha curiga , membuat Ivan dan Jonathan kembali menggeleng ragu
"tidak" jawab mereka begitu kompak
"jika pun ada yang mereka sembunyikan, kita akan segera tahu sayang" ucap Maxwel dengan wajah datar namun terkesan mengancam membuat Ivan langsung menelan Saliva nya, sedangkan Jonathan tertunduk dan menghela nafas panjang
"Amelia" kata Ivan langsung tanpa berani menatap orang tua nya dan Jonathan kembali menghela nafas
"kalian pergi bersama nya?" tanya Maxwel dingin, dan tiba tiba saja aura disana berubah menjadi begitu suram
"iya pa" jawab Ivan lemah
"kamu tidak mendengarkan perkataan papa beberapa waktu lalu?" tanya Maxwel begitu serius, Delisha hanya diam dan menggeleng lemah
"maaf, tapi dia hanya teman Ivan pa, dia gadis yang baik" jawab Ivan memberanikan diri menatap wajah datar Maxwel, kalau sudah begini sangat mirip dengan wajah marah Jonathan, bahkan damage nya lebih parah
"sudah sering papa ingatkan, jangan terlalu dekat dengan nya, dia bisa menjadi duri didalam daging. Kalian boleh berteman, tapi tidak untuk dekat Jovankha" kata Maxwel tegas membuat Ivan menunduk dan Jonathan terdiam ditempat nya. Berbicara pun tidak mungkin, hanya akan menambah masalah fikir nya
"sudah cukup kehebohan yang kau ciptakan beberapa waktu lalu dengan nya ditelevisi, dan jangan lagi menambah masalah. kau ingat dia anak siapa,?" tanya Maxwel lagi
__ADS_1
"masih banyak perempuan diluar sana yang lebih dari dia, tapi kenapa harus dengan dia" ucap Maxwel menatap tajam Ivan. Sudah sering dia beri peringatan pada Ivan tentang kedekatan nya dengan Amelia, tapi Ivan masih tidak mendengar nya. Bukan dia tidak suka pada gadis itu, bukan dia menyalahkan gadis itu karena perlakuan orang tua nya dahulu, tapi kenapa harus gadis itu, dia hanya tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga mereka, apalagi jika sampai Ivan dekat dengan nya.
"tapi dia berbeda pa, dia gadis yang baik." ungkap Ivan
"apa perkataan papa tidak lagi berharga bagimu?" tanya Maxwel serius
"pa, mereka hanya berteman" bela Jonathan yang tidak tahan melihat Ivan tertekan
"diam Jonathan" tegas Maxwel membuat Jonathan langsung terdiam ditempat nya apalagi Delisha yang menggelengkan kepala nya perlahan pada Jonathan agar dia jangan ikut campur untuk ini
"jawab papa Jovankha, apa perkataan papa tidak lagi bisa kau dengarkan?" tanya Maxwel lagi , kini dia sudah berdiri dihadapan Ivan yang menundukkan wajah nya, takut dan begitu mengerihkan menatap wajah Maxwel, baru kali ini pria itu marah dan terlihat kecewa pada nya
"maaf pa, maaf , bukan maksud Ivan begitu. Selama Ivan mengenal nya dia adalah gadis yang baik, tidak ada sesuatu yang aneh yang diperlihatkan nya" jawab Ivan
Maxwel menghela nafas nya sejenak
"papa tidak melarang mu berteman dengan nya, tapi harus tahu batasan, papa hanya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka Jovankha, karena mereka kita berpisah begitu lama, karena mereka keluarga kita sempat hancur, apa kau tidak mengerti ha" bentak Maxwel membuat semua orang didalam ruangan itu tersentak kaget
Delisha langsung berdiri dan mengusap lembut dada Maxwel yang terlihat memejamkan mata nya berusaha menenangkan emosi nya. Setiap mengingat kejadian itu, sungguh dia benar benar merasa hancur.
"mas tenang, jangan begitu" ucap Delisha lembut
Jonathan langsung beranjak dan berdiri disebelah lain ranjang Ivan yang terduduk dengan tegang diatas sana.
Dia menepuk pundak Ivan perlahan berusaha menenangkan adik nya itu, hati nya terasa tidak terima dengan sikap keras Maxwel, karena bagaimana pun dia mengerti apa yang dirasakan oleh Ivan sekarang.
"Ivan ngerti pa, Ivan ngerti apa yang papa khawatirkan. Ivan juga tahu kalau karena orang tua nya kita berpisah lama, tapi apa adil jika kita menyalahkan dia atas kejahatan orang tua nya, Dia bahkan yang bantu kami mengungkap kejahatan ayah nya sendiri pa" ungkap Ivan lirih membuat Maxwel menatap nya dengan tatapan yang sedikit lebih tenang
"kalau kedekatan kami buat papa kecewa, Ivan gak bakalan lagi berhubungan dengan dia. Ivan akan ngejauhi gadis itu, biarlah Ivan kehilangan teman yang baik dari pada Ivan harus kehilangan kepercayaan papa" ungkap Ivan lagi begitu lirih, bahkan dia merasa perkataan nya ini begitu menghimpit jantung nya, sungguh perkataan dan hati nya berbanding terbalik, ada ketidakrelaan dihati nya saat mengatakan hal itu.
Bagaimana mungkin dia rela, ketika hati nya sudah mulai goyah akan usaha dan semua perlakuan Amelia pada nya, namun sekarang malah dipatahkan oleh keinginan orang tua nya.
Maxwel terdiam mencerna perkataan Ivan, dan Delisha bahkan sudah berkaca kaca mata nya. Jonathan hanya menghela nafas panjang, dia merasa ini bukan hal yang baik untuk Ivan dan Amelia nanti nya
"papa hanya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka" lirih Maxwel dengan nada pelan penuh penyesalan telah membentak Ivan tadi
Ivan berusaha tersenyum dan menggeleng
"Ini yang terakhir" kata Ivan, namun sedikit ragu
"maafkan papa, papa bukan bermaksud untuk mengekang keinginan mu, tapi untuk yang satu ini papa benar benar melarang nya, hanya dengan dia dan tidak untuk yang lain" kata Maxwel membuat Ivan mengangguk dan tersenyum hambar
'yang lain? apa bisa, sedangkan untuk yang satu ini aja gue butuh waktu bertahun tahun untuk meyakinkan hati gue'. batin nya dalam hati
Maxwel menepuk pundak Ivan sekejap dan langsung keluar ruangan itu yang langsung diikuti oleh Delisha, dia tahu suami nya itu sedang berusaha untuk tidak terbawa emosi.
__ADS_1
Selama ini sebenar nya dia telah meminta Delisha agar mengatakan pada Ivan tentang ketidak sukaan nya pada hubungan mereka, meskipun hanya sebatas teman, tapi Delisha masih selalu meyakinkan bahwa tidak apa apa dan jangan terlalu membatasi gerak Ivan, namun lama kelamaan Ivan dan Amelia semakin dekat bahkan terlalu dekat hingga Maxwel tidak dapat lagi bertahan dalam diam.