
Delisha menangis terharu mendengar kisah Maxwel. Dia langsung memeluk erat suami nya itu. Suami yang sangat dirindukan nya selama ini.
"terima kasih sayang, kau sudah bertahan untuku dan menjaga anak kita dengan baik" kata Maxwel sembari membelai sayang kepala istri nya dan mengusap hangat punggung Delisha.
"terima kasih juga Rico, karena kau sudah menjaga keluarga ku selama ini. " kini Maxwel beralih pada Rico yang menatap nya penuh haru
"saya juga berterima kasih pada anda tuan, anda sudah mau menyelamatkan hidup saya untuk yang kesekian kali nya" ucap Rico tulus sembari membungkukkan sedikit tubuh nya, Maxwel hanya mengangguk dan tersenyum
Tidak lama setelah berbincang dokter yang menangani Jovankha pun keluar.
Mereka yang ada disana langsung berdiri menghampiri dokter itu.
"bagaimana keadaan putera saya dokter? " tanya Maxwel pada dokter itu
"putera anda sudah baik baik saja tuan, dia hanya lemas karena kekurangan darah dan sedikit syok. Dia juga sudah bisa dipindahkan keruang perawatan. Tidak ada yang perlu dicemaskan" jelas dokter itu yang membuat mereka semua dapat bernapas dengan lega.
Tak lama setelah dokter itu pergi Ivan pun dibawa keruang perawatan.
Maxwel dan istri nya langsung menuju keruang perawatan Ivan. Sedangkan Rico dan istri nya menunggu didepan ruang operasi Jonathan.
Delisha dan Maxwel menatap sendu putera mereka yang telah lama hilang.
"anakku, dia benar Jovankha kita sayang" ucap Maxwel pada Delisa. Tangan nya mengusap lembut kening Ivan yang masih belum sadar.
"iya mas, dia Jovankha kita. Dia sudah kembali" jawab Delisha dengan mata yang berkaca kaca
"terima kasih Tuhan. Ini sungguh keajaiban yang tidak pernah ku sangka" kata Maxwel bersyukur akhir nya mereka bisa berkumpul kembali
"ya, aku merasa sangat bahagia mas, kita bisa berkumpul lagi sekarang" balas Delisha membuat Maxwel tersenyum dan kembali memeluk istri nya.
Tidak berapa lama Ivan pun sadar. Dia mengerjapkan mata nya perlahan lahan, dan yang pertama kali dilihat nya adalah kedua orang tua nya yang tengah tersenyum pada nya.
Sungguh perasaan hangat langsung menjalar dihati nya. Tidak pernah terbayangkan oleh nya jika dia mempunyai orang tua kandung yang hebat seperti Maxwel dan Delisha.
Meski awal nya kecewa karena Ivan merasa tidak dianggap dan sempat berpisah selama belasan tahun, namun sekarang dia mengerti bahwa orang tua kandung nya pun sangat kehilangan akan diri nya. Masalah yang menimpa keluarga nya membuat Ivan mengerti bagaimana sulit nya kehidupan kedua orang tua nya selama ini.
Kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah didapat kan nya selama ini kini bisa dia rasakan kembali dari Delisha.
Ivan pun tak kuasa menahan air mata nya dengan kenyataan yang dia dapatkan, bertahun tahun dia hidup dalam kehidupan yang sulit, dihina oleh orang orang disekitar nya bahkan oleh ibu angkat nya sendiri, dan kenyataan nya kini dia adalah anak dari seorang yang berpengaruh dinegeri itu.
Maxwel yang melihat Ivan menangis langsung cemas. Dia langsung memencet tombol pemanggil dokter
"kenapa nak, kenapa kau menangis?" tanya Delisha mengusap wajah pucat Ivan
"apa ada yang sakit nak? " tanya Maxwel pula
Ivan menggeleng pelan. Ia pun tersenyum haru menatap kedua orang tua nya
"ini benar bukan mimpi kan, kalian benar orang tua ku? " tanya Ivan pelan dengan air mata sudah menggenang dipipi nya
"iya sayang, ini mama dan papa nak" jawab Delisha membelai wajah Ivan, dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya
"kami orang tua mu nak. Maafkan papa karena keteledoran papa kamu harus terpisah dari kami selama ini" ungkap Maxwel yang juga ikut menangis
"papa sangat merindukan mu nak" kata Maxwel lagi membuat Ivan semakin terisak, meski dia lelaki namun tetap saja, kebahagiaan ini tidak bisa membendung air mata nya.
__ADS_1
Mereka berdua pun memeluk Ivan, saling menumpahkan rasa rindu dan bahagia masing masing. Menangis bersama karena rasa bahagia yang tidak bisa diutarakan.
Ivan sungguh bersyukur karena akhir nya prasangka negatif nya tentang orang tua kandung nya selama ini tidak benar.
Hingga suara ketukan pintu terdengar yang langsung menghentikan kegiatan mereka.
Terlihat seorang dokter dan juga Rico masuk sambil tersenyum bahagia melihat pemandangan hangat didepan nya.
"tuan, tuan muda Jonathan sudah sadar" kata Rico memberitahu keadaan Jonathan
"baiklah kami akan kesana, kau tunggu disini jaga Jovankha ku" titah Maxwel pada Rico. Rico pun hanya mengangguk patuh.
Setelah dokter selesai memeriksa Ivan, Maxwel dan juga Delisha pergi keruangan dimana Jonathan berada.
Ketika membuka pintu terlihat disana ada Nina dan juga Dirga yang berdiri disisi ranjang Jonathan. Jonathan masih terlihat sangat pucat dan juga lemas.
Melihat orang tua Jonathan masuk, Nina beserta Dirga pun memutuskan untuk keluar dan menemui Ivan.
"kamu sudah sadar nak, apa masih sakit sekali sayang? " tanya Delisha lembut sambil membelai kepala Jonathan
"tidak apa apa ma, sudah baikan" jawab Jonathan lemah
"istirahat lah dulu nak, jangan banyak bergerak " kata Maxwel pula.
Mereka pun berbincang bincang sebentar hingga terlihat Jonathan sudah tertidur kembali karena keadaan nya masih begitu lemah.
Maxwel memutuskan untuk memindahkan Jonathan berada satu kamar dengan Ivan agar memudahkan nya untuk menemani anak anak nya sekaligus tanpa harus kesana kemari.
Setelah melalui beberapa proses akhir nya Jonathan dan Jovankha pun berada dikamar yang sama.
Ivan melirik saudara nya yang tengah tertidur itu, menatap nya penuh haru.
'ternyata kita saudara, aku sangat bersyukur masih mempunyai keluarga yang hebat seperti kalian dan mau menerima ku dengan baik' batin Ivan dalam hati
Maxwel yang menyadari itu hanya tersenyum bahagia, sembilan belas tahun mereka hidup dalam kehidupan yang begitu sulit, terpisah dengan anak nya dan bermasalah dengan paman nya adalah bukan suatu hal yang mudah.
Namun sekarang semua telah selesai, keluarga nya sudah berkumpul kembali dan kebahagiaan akan mereka dapatkan setelah ini
..
Dua hari kemudian Ivan sudah diperbolehkan pulang. Namun Jonathan masih belum diperbolehkan pulang karena luka diperut nya belum mengering.
Ivan bersama kedua orang tua nya kini tengah berada diruangan Jonathan berbincang bincang sembari mendengarkan cerita Ivan yang selalu bisa menghidupkan suasana.
"jadi mereka memberi kamu nama Ivan Pranata nak?" tanya Maxwel pada Ivan yang duduk disamping nya, mereka duduk disofa sedangkan Delisha duduk disamping ranjang Jonathan yang juga mendengarkan pembicaraan mereka sembari memakan buah.
"iya pa, bapak yang beri nama itu" jawab Ivan canggung, dia masih terlihat kaku berdekatan dengan Maxwel.
"tapi kamu tidak keberatan bukan jika memakai nama lahir kamu lagi untuk sekarang" tanya Maxwel pula dengan senyum hangat nya
"Jovankha?" tanya Ivan pula
"ya, Jovankha Alexander Agueeno" jawab Maxwel sembari menepuk pelan pundak Ivan
Ivan tampak terdiam dan memikirkan sesuatu
__ADS_1
"seperti nya gak papa, karena bisa dipanggil Ivan juga kan" ucap Ivan membuat Maxwel mengernyit bingung
"maksud mu" tanya Maxwel
"eh itu, Jovankha, kan ada Van nya juga, jadi di panggil Ivan juga masih cocok " jelas Ivan dengan senyum lebar nya membuat Maxwel terkekeh pelan dan Delisha tersenyum lucu
"ah iya, jadi kamu mau dipanggil Ivan saja begitu?" tanya Maxwel pula
"iya pa, hehe" jawab Ivan sembari menggaruk tengkuk canggung
"yasudah tidak apa, nama itu juga bagus" jawab Maxwel
"iya, setelah Jonathan sembuh kita akan menemui orang tua angkat mu untuk berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada mereka" kata Delisha pula
"ya itu harus" jawab Maxwel
"apa aku akan tinggal bersama kalian?" tanya Ivan ragu membuat semua orang menatap nya heran
"tentu saja nak, ini yang papa dan mama harapkan dari dulu" jawab Maxwel
"kamu anak kami, dan kamu harus tinggal bersama kami sayang, mama tidak ingin berpisah lagi dengan mu" kata Delisha pula
Ivan langsung melirik Jonathan yang juga menatap nya dengan senyum tipis
"aku sangat bahagia karena kita adalah saudara" ucap Jonathan membuat Ivan langsung tersenyum haru
Maxwel langsung merangkul pundak Ivan dan mengusap nya lembut
"kami semua sangat menyayangi mu nak, jangan pernah merasa ragu maupun takut, sembilan belas tahun kami selalu dalam perasaan bersalah dan memendam rindu untuk mu" kata Maxwel
Delisha mendekat dan memeluk Ivan dengan lembut dan hangat sembari mencium kening nya lama membuat mata Ivan kembali berkaca kaca
"kamu kesayangan kami nak, sudah cukup kita berpisah dan mama tidak ingin berpisah lagi dengan mu, cukup sudah rasa sakit karena tidak bisa membesarkan mu dengan tangan mama, jangan lagi kamu meragukan kasih sayang kami" ungkap Delisha
"maaf pa, ma, Ivan hanya merasa takut, karena Ivan tak pernah menyangka jika Ivan mempunyai orang tua dan saudara yang hebat seperti kalian" jawab Ivan membuat kedua orang tua nya dan Jonathan tersenyum haru namun dengan rasa bersalah yang besar
"kamu segala nya bagi kami nak, kamu dan Jonathan adalah kebanggan kami. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga mu dengan baik" kata Maxwel
Mereka pun saling berpelukan dan menenangkan hati Ivan bahwa mereka begitu menyayangi nya. Hingga tidak ada lagi keraguan dihati Ivan.
Ruang perawatan Jonathan siang itu penuh haru karena mereka saling berbagi cerita . Bahkan Delisha sampai menangis sedih ketika Jonathan bercerita betapa berat nya kehidupan Ivan dikampung nya .
...
Beberapa hari berlalu kini Ivan dan Dirga yang sedang menemani Jonathan dirumah sakit.
"gue gak sabar deh liat kalian masuk kuliah bareng, pasti anak anak bakalan kaget liat Jonathan ada dua" kata Dirga melihat Ivan dan juga Jonathan bergantian.
"haha, iya gue juga gak sabar. Pasti mereka bakal sport jantung liat kita bang, apalagi ternyata selama ini gue yang gantiin si makhluk es ini" balas Ivan tertawa lucu membayangkan wajah teman teman nya yang terkejut nanti
"iya van, seneng banget lah mereka , idola mereka jadi ada dua sekarang. Haha, gak ngebayangin deh gue" timpal Dirga
Sedangkan Jonathan ya seperti biasa hanya tersenyum.
Ivan dan juga Dirga memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada teman teman nya yang lain tentang keadaan Jonathan. Mereka akan memberikan kejutan pada teman teman mereka nanti nya.
__ADS_1