Story Of The Twins

Story Of The Twins
Rumah Sakit


__ADS_3

Seminggu telah berlalu,  sedikit banyak nya Ivan sudah melupakan kejadian yang dianggap nya aneh itu.


Sekarang Ivan tengah sibuk merawat pak Tarman yang sedang sakit.


Sudah beberapa hari kondisi tubuh pak Tarman nampak menurun.


Ivan membantu Sari mengurus kebun nya dan sesekali mengurus pak Tarman dirumah.


Seperti pagi ini setelah dari peternakan pak Tarno Ivan langsung pergi kekebun cabai milik bapak nya.  Ia ditugaskan Sari untuk menyirami semua lahan cabai yang ada.


Dengan tekun ia mengurus kebun itu,  mulai dari mencangkul,  menyiram hingga membabat rumput.


Tampak kebun yang dikelola pak tarman tumbuh subur dan sehat.  Banyak beberapa tanaman yang ditanam nya.  Mulai dari cabai,  bawang,  umbi umbian , jagung juga sayuran sayuran lain nya.


Kini Ivan hanya meneruskan nya saja dengan merawat dan juga memanen.


Ketika senja mulai menyapa Ivan baru pulang kerumah.  Terlihat dirumah nya terparkir sepeda motor milik pak mantri kampung.


Ivan langsung masuk kerumah setelah mengucapkan salam.


"assalamualaikum" kata Ivan


"walaikumsalam"kata orang yang ada didalam rumah itu


Terlihat pak mantri sedang memeriksa pak Tarman.


"sebaik nya bapak segera dibawa keklinik bu,  saya rasa penyakitnya bukan sakit biasa" ujar mantri tersebut.


"oh enggeh pak,  besok pagi kami bawa bapak keklinik. " jawab Sari patuh


Ivan dan Toni nampak diam memperhatikan mantri memeriksa pak Tarman.


Setelah memeriksa keadaan pak Tarman,  mantri tersebut pun pamit pulang.


Tinggalah Ivan,  Toni,  dan Sari bersama pak Tarman. 


"bapak gak papa bu e,  gak usah dibawa keklinik.  Wong cuma sakit perut biasa" kata pak Tarman menatap Sari


"sakit perut biasa cemana to pak,  wes berapa hari gak sembuh sembuh" jawab Sari sewot


"iya pak,  besok kita periksa aja ya" timpal Ivan


"wes jangan ngeyel,  kalau bapak sakit kita semua payah pak" kata Sari lagi.


Pak Tarman pun hanya mengangguk pasrah.


..


Keesokan pagi nya Ivan,  Toni dan Sari membawa pak Tarman ke klinik yang tak jauh dari kampung tersebut.  Mereka pergi diantar oleh kang Tejo menggunakan mobil nya.


Sesampainya diklinik pak Tarman pun mulai diperiksa oleh dokter yang bertugas disana.


Setelah beberapa saat,  keluarlah dokter itu dari ruangan pak Tarman.


"gimana keadaan suami saya pak dokter?, dia sakit apa" tanya Sari khawatir


"seperti nya bapak terkena usus buntu bu,  harus segera dilakukan penanganan yang serius" jawab dokter itu.

__ADS_1


"walah,  la kok bisa kena usus buntu? " tanya Sari yang masih tak mengerti


"bisa bu,  itu disebabkan oleh pola hidup bapak yang kurang sehat serta makanan yang kurang dijaga,  maklum usia bapak sudah mulai sepuh jadi penyakit mudah saja datang.  Apalagi ibu terlambat membawa bapak untuk periksa" jelas dokter itu


Ivan dan Toni hanya diam menyimak.


"terus apa yang harus kami lakukan dokter? " tanya Ivan ketika melihat Sari sudah terdiam.


"bapak harus segera menjalani operasi untuk mengangkat penyakit nya,  jika tidak itu akan semakin memperparah keadaan bapak" jelas dokter


"walah,  operasi pak dokter? " kata Sari terkejut


"iya bu,  hanya itu jalan satu satu nya," kata dokter itu lagi.


"tapi operasi nya tidak bisa dilakukan disini,  paling tidak dirumah sakit dikota,  karena disini tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi besar bu" jelas dokter itu


"yowes pak dokter,  saya nurut aja gimana baik nya" kata Sari pasrah.


"baiklah kalau begitu ibu urus dulu persyaratan nya ya,  biar saya bisa langsung melakukan rujukan kerumah sakit yang akan dituju" ucap dokter itu pada Sari.


"enggeh pak dokter" kata Sari mengangguk.


Setelah itu dokter itu meninggalkan Sari dan anak anak nya.  Mereka pun masuk keruangan pak Tarman.


Terlihat pak Tarman tengah terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit.


"besok bapak dibawa kekota pak,  biar bisa dioperasi" kata Sari pelan


"gak usah la bu,  bapak gak mau,  minum obat aja juga pasti sembuh" jawab pak Tarman


"gak usah ngeyel pak,  cuma itu jalan untuk bisa sembuh" kata Sari lagi


Pak tarman dan Sari memang sudah mempunyai simpanan hasil dari panen kebun nya dalam setahun terakhir ini.  Uang nya mereka simpan untuk biaya sekolah Toni dan Ivan kelak.


"udah gak papa lah pak,  aku kan masih setaun lagi tamat SMA" kata Toni


"yang penting bapak sembuh dulu" timpal Ivan pula.


"tapi pendidikan kalian gimana le,  ngumpulin duit nya bukan cuma sebentar" lirih pak Tarman


"nanti aku ikut Ivan kerja deh,  biar bisa ngumpulin uang" kata Toni yang langsung mendapat tatapan heran dari Ivan, Sari dan pak Tarman.


"koe serius Ton? " tanya Sari yang heran melihat anak kesayangan nya yang biasa nya hanya bisa meminta uang.


"iyalah bu,  kenapa kok pada ngeliatin aku kayak gitu,  " ketus Toni


"walah anak bapak wes besar rupa nya,  wes bisa mikir" kelakar pak Tarman


"jadi selama ini aku gak bisa mikir gitu" ucap Toni mengerucutkan bibir nya


"gitulah baru nama nya anak jantan" timpal Ivan merangkul pundak Toni.


Toni pun hanya melengos kesal.


"yowes yowes,  sono Van koe urus tentang rumah sakit bapak,  aku ra ngerti ngurus nya! " suruh Sari pada Ivan


"iya bu" jawab Ivan cepat dan ia pun langsung keruang dokter untuk berbicara mengenai lanjutan operasi bapak nya.

__ADS_1


Setelah mengurus segala keperluan untuk operasi pak Tarman.  Ivan dan Toni memutuskan untuk pulang kerumah.  Sedangkan Sari tetap tinggal diklinik untuk menjaga pak Tarman.


Didalam perjalanan Ivan hanya diam dan sesekali melirik toni yang juga terdiam.  Entah apa yang ada dipikiran anak itu.


"bang,  kalau bapak kenapa kenapa gimana bang? " tanya Toni tiba tiba.  Toni memang anak yang manja dan pembangkang namun terlihat dialah yang paling mengkhawatirkan pak Tarman.


"bapak bakalan baik baik aja.  Lo gak usah risau.  Kita berdoa aja" kata Ivan mencoba menenangkan.


"gue belum bisa jadi anak yang baik kayak lo bang,  jadi gue takut aja" lirih Toni.


"gue juga bukan anak yang baik Ton,  tapi untuk sekarang kita cuma bisa kasih semangat untuk bapak.  Jangan nambahi pikiran nya" ucap Ivan sambil menepuk nepuk pundak Toni.


Sedangkan Toni hanya mengangguk.


"kenapa ini anak,  kok tumben mau ngomong sama gue! " ucap Ivan dalam hati.


...


Keesokan hari nya Ivan dan Sari sudah bersiap untuk berangkat kekota membawa pak Tarman.  Mereka berangkat memakai mobil kang Tejo.  Sementara Toni tinggal dirumah untuk mengurusi kebun bapak nya yang tak bisa ditinggal.


Setelah beberapa jam melakukan perjalanan akhirnya mereka tiba disalah satu rumah sakit dikota itu.


Pak Tarman langsung dibawa masuk kedalam ruang perawatan.  Tampak Ivan yang sibuk kesana kemari mengurus segala keperluan dan administrasi rumah sakit.


Operasi baru bisa dilakukan esok hari. Karena dokter nya belum bisa hadir.  Jadi Ivan dan Sari masih harus menunggu.


Waktu masih menunjukan pukul 3 sore.


"van,  iki uang untuk biaya operasi bapak besok.  Koe jaga baik baik,  jangan sampek ilang.  Cuma itu uang kita" kata Sari sambil menyerahkan plastik kresek hitam yang berisi uang untuk keperluan rumah sakit.


"iya bu e, " jawab Ivan mengangguk sembari menyimpan uang didalam tas kecil nya


..


Sementara ditempat lain


Jonathan yang baru pulang dari kuliah masih berada didalam mobil.  Tiba tiba ponsel nya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Erika.


"ya" jawab Jonathan menerima panggilan


"Jo lo udah sampek rumah belum? " tanya Erika dari seberang sana dengan suara yang agak panik


"belum,  masih dijalan.  Kenapa Rik? " tanya Jonathan heran


"Alex kecelakaan Jo,  tadi mobil nya nabrak pembatas jalan di dekat lampu merah? " kata Erika panik


"apa,  bagaimana bisa,  lalu keadaan nya bagaimana? " tanya Jonathan yang kini juga merasa cemas


"belum tau gue,  kata Samuel dia dibawa kerumah sakit xxx,  gue udah jalan nih,  Samuel sama Dirga juga udah disana" jelas Erika


"yasudah,  aku kesana sekarang" jawab Jonathan cepat dan langsung mematikan panggilan ponsel nya.


"Roy,  kita kerumah sakit xxx sekarang.  Alex kecelakaan dan dibawa kesana" ujar Jonathan pada Roy.


"baik tuan" kata Roy cepat.


Jonathan dan para pengawal nya pun langsung menuju rumah sakit yang disebut kan Erika.  Yang mana rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama dimana bapak Ivan dirawat.

__ADS_1


Sungguh takdir akan mempertemukan mereka kembali.


__ADS_2