
Hari sudah menjelang tengah hari, namun Karina masih belum juga sadarkan diri. Orang tua nya sudah tiba beberapa jam yang lalu. Ibu nya terlihat begitu sedih melihat keadaan Karina yang belum juga sadarkan diri.
Tuan Maxwel juga sudah berada dirumah sakit setelah membereskan kekacauan yang terjadi hari ini. Jonathan tetap tinggal dirumah sakit untuk menunggu Karina, masalah perusahaan, dia serahkan pada Dirga dan Rico.
Ivan sudah kembali keperusahaan, karena dia harus menghadiri meeting dengan kolega bisnis nya siang ini. Dan Amelia tetap tinggal dirumah sakit, karena dia memang tidak ada kesibukan yang lain.
Saat ini Jonathan masih berada didalam ruangan Karina. Wajah tampan nya begitu kusut, dia hanya sendiri diruangan itu, orang tua Karina baru saja keluar untuk mencari udara segar diluar bersama Maxwel dan Delisha.
Sejak tadi pandangan mata Jonathan tidak lepas dari Karina yang masih memejamkan mata nya dengan rapat.
Jonathan benar benar menyesali apa yang telah terjadi hari ini. Lihat saja besok, dia akan memecat semua orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Tidak akan dia biarkan mereka bersantai, sementara Karina nya sampai harus seperti ini.
Rahang Jonathan mengeras, hati nya benar benar pedih melihat Karina seperti ini. Bertahun tahun, namun disaat ini lah dia merasakan kepedihan yang mendalam melihat orang yang paling dia cintai hampir saja meregang nyawa. Sekarang Jonathan jadi memahami, dia seketika mengingat Ivan yang hampir mati demi menyelamatkan Amelia saat gadis itu tenggelam disungai beberapa tahun yang lalu.
Ternyata jika menyangkut orang yang disayang, apapun akan di lakukan. Begitu pula dirinya saat ini, jika boleh memilih, dia ingin sekali menggantikan posisi nya dengan Karina.
Jonathan menarik nafas nya dalam dalam, tangan nya masih menggenggam tangan Karina dengan erat. Wajah nya kusut, sedangkan jas kerja nya sudah entah kemana dia lemparkan. Namun meskipun begitu, pesona nya sama sekali tidak menghilang dari wajah tampan nya.
Jonathan merebahkan kepala diatas ranjang, dia memeluk lengan Karina dan menciumi nya dengan lembut. Namun tiba tiba dia sedikit terkesiap dan langsung tegak kembali saat merasakan sedikit pergerakan dari lengan Karina.
Senyum nya langsung mengembang ketika melihat mata Karina mulai terbuka.
"Sayang, kamu sudah sadar" ucap Jonathan pada Karina yang sudah membuka mata nya meski masih begitu sayu.
"Kak" lirih Karina, suara nya masih tertahan didalam alat bantu pernafasan.
"Iya, aku disini" ucap Jonathan sembari memencet tombol pemanggil dokter
Karina tersenyum tipis dan terlihat memejamkan matanya. Membuat Jonathan kembali panik
"Karin" panggil nya dengan mengguncang pelan bahu Karina
Mata Karina kembali terbuka dan menatap Jonathan yang terlihat bernafas dengan lega
"Jangan pergi, Karin takut" ucap Karina pada Jonathan yang segera menggeleng dan mengecup singkat dahi nya
"Tidak akan, aku disini. Tenang lah" jawab Jonathan, Karina kembali tersenyum tipis dengan helaan nafas yang masih terasa berat.
Tidak lama setelah itu, dokter dan seorang suster langsung masuk kedalam ruangan itu. Jonathan segera bergeser menjauh untuk membiarkan dokter memeriksa keadaan Karina.
Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Dan dapat Jonathan lihat dokter paruh baya itu melepaskan alat bantu pernafasan pada Karina dan mengganti nya dengan selang kecil yang dimasukan kedalam hidung Karina.
"Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Jonathan langsung
"Sudah lebih baik tuan. Nona Karina hanya perlu istirahat beberapa hari lagi disini. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Pernafasan nya juga sudah mulai stabil" jawab dokter itu membuat Jonathan langsung mengangguk dan dapat bernafas dengan lega
"Saya permisi tuan, jika ada sesuatu anda bisa memanggil saya" ucap dokter itu
__ADS_1
"Terimakasih" jawab Jonathan singkat.
Setelah dokter itu keluar Jonathan kembali mendekat pada Karina, dia duduk dikursi menghadap ke Karina. Tangan nya kembali menggenggam lembut tangan Karina yang masih memucat, namun tidak seperti saat pertama kali Jonathan membawa nya kerumah sakit.
"Maafkan aku, karena keteledoran ku kamu jadi seperti ini" kata Jonathan dengan raut wajah bersalah nya
Karina tersenyum dan menggeleng pelan menatap wajah tampan itu
"Ini kecelakaan, tidak papa kak. Karina juga baik baik saja" jawab Karina
"Tapi kamu sampai harus seperti ini. Aku benar benar takut jika terjadi sesuatu padamu. Kamu tidur begitu lama" ucap Jonathan sembari mengecup punggung tangan Karina begitu lama
"Karin gak akan ninggalin kakak sebelum Karin merasakan jadi istri dari seorang Jonathan Alexander" sahut Karina dengan senyum lemah nya
Jonathan langsung tersenyum dan mengusap wajah pucat itu. Hati nya sungguh lemah jika melihat Karina yang biasa nya ceria menjadi tidak berdaya seperti ini.
"Sebentar lagi sayang. Sebentar lagi" jawab Jonathan
Karina langsung mengangguk dan tersenyum. Tangan Jonathan langsung terlepas dari wajah Karin saat kedua orang tua mereka dan juga Amelia masuk kedalam ruangan itu.
Jonathan segera mundur kembali dan beranjak menuju sofa membiarkan ibu dan bapak Karina melihat keadaan anak nya.
Jonathan duduk disofa bersama Maxwel.
"Apa papa sudah memecat orang orang itu?" tanya Jonathan langsung
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan kesana untuk mencari tahu nya sendiri" ucap Jonathan
"Jangan membuat pamor mu jatuh hanya karena insiden ini Jo" ujar Maxwel
"Semua orang harus tahu jika aku tidak akan tinggal diam jika ada yang berbuat kesalahan pa, apalagi jika dilakukan dengan sengaja" sahut Jonathan. Dia benar benar masih tidak terima dengan ini semua.
Jonathan langsung bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekat kearah Karina. Maxwel hanya menarik nafas nya dalam dalam dan menggeleng pelan. Siapapun tidak akan bisa menghalangi Jonathan jika dia sudah marah, apalagi ini menyangkut keselamatan orang yang paling berharga bagi nya. Maxwel hanya berharap Rico bisa secepat nya menemukan sebab dari masalah ini. Jika tidak, maka satu gedung akan dibuat kacau oleh kemarahan putera pertama nya ini.
...
Sementara diperusahaan pusat Agueno group. Ivan yang baru saja selesai mengadakan meeting direstauran tidak jauh dari perusahaan itu, langsung singgah kesana. Dia ingin membantu Dirga untuk mencari penyebab kecelakaan yang menimpa Karina pagi ini.
Ivan berjalan masuk dengan wajah nya yang terkesan ramah, meski wibawa nya tetap dia pancarkan.
Semua karyawan Jonathan tampak membungkukan tubuh nya penuh hormat pada Ivan. Mereka sekarang sudah bisa membedakan tuan muda kembar ini, karena pemimpin mereka tidak akan mau membalas sapaan mereka, sedangkan Ivan, dia selalu tersenyum membalas sapaan orang orang yang menyapa nya.
Ivan berjalan bersama Faiz yang menemani nya. Mereka ingin menuju kelantai atas dimana ruangan Dirga berada.
Namun saat hendak masuk kedalam lift, Ivan langsung menghentikan langkah nya. Dia menoleh kearah Faiz yang menatap nya dengan heran.
"Ada apa tuan?" tanya Faiz
__ADS_1
"Kita berkeliling dulu, beritahu Dirga" ucap Ivan yang memutar langkah nya menuju tempat lain. Faiz yang bingung hanya mengangguk saja, dan langsung mengeluarkan ponsel nya sembari mengikuti langkah kaki Ivan.
Jam istirahat makan siang sudah selesai sejak tadi, dan saat ini seluruh karyawan Jonathan sudah kembali bekerja diruangan mereka masing masing. Hanya beberapa ob dan og yang berseliweran dengan tugas mereka masing masing.
Ivan berjalan memutari setiap ruangan ruangan digedung yang terbilang megah itu. Entah apa yang ingin dilakukan nya. Dia hanya ingin berkeliling dan mengamati gedung ini. Meski gedung perusahaan cabang milik nya sudah besar dan mewah, namun perusahaan pusat ternyata lebih besar lagi. Mungkin untuk mengitari seluruh seluk beluk nya akan memakan waktu satu hari penuh.
"Sebenar nya apa yang kita cari tuan?" tanya Faiz heran. Dia masih mengikuti langkah kaki Ivan yang malah membawa nya kelorong ruangan yang terasa lengang dan sepi. Biasa nya tempat tempat seperti ini dipakai oleh karyawan karyawan kelas bawah atau sekelas sales dan ob untuk sekedar berbincang dan bergosip.
"Kamu ingat tidak saat kita masih dikampung dulu" ucap Ivan tiba tiba
Faiz yang mendengar nya langsung mengernyit heran
"Kenapa memang nya?" tanya Faiz masih belum mengerti
"Dikampung dulu, setiap hal sekecil apapun pasti semua orang bisa tahu, dan itu dihasilkan dari mulut kemulut." ungkap Ivan
"Maksud nya, tuan ingin menyelidiki sesuatu disini?" tanya Faiz dan Ivan langsung tersenyum dan mengangguk
"Bagaimana mungkin, ini diperusahaan, cctv bertebaran dimana mana. Siapa yang berani membicarakan sesuatu yang bisa membahayakan karir mereka" ucap Faiz tak mengerti namun Ivan langsung mendengus senyum
"Dilantai atas memang tidak, tapi disini siapa yang tahu. Orang orang yang sering kemari adalah orang yang bertugas untuk memeriksa seluruh fungsi sistem diperusahaan, baik itu elektronik maupun hal hal sepele lain nya" sahut Ivan
"Saya masih tidak mengerti tuan" jawab Faiz
"Kamu tahu mengapa saya sering berkeliling gedung dengan alasan mencari angin?" tanya Ivan lagi
Faiz langsung menatap Ivan dengan lekat
"Karena anda ingin mencari tahu tentang hal hal yang tersembunyi diperusahaan" tebak Faiz dan Ivan langsung tersenyum
"Astaga, sudah jadi sultan, tapi cara itu masih saja berlaku" gumam Faiz tak habis fikir, namun Ivan yang mendengar hanya tertawa kecil
"Kamu lupa kita berasal darimana" ucap Ivan dan kali ini gantian Faiz yang tertawa
"Ya ya ya, kalau begitu ayo kita lakukan kebiasaan warga Indonesia" ajak Faiz
"Kebiasaan warga Indonesia?" tanya Ivan
"Hmm, menjadi cctv berjalan" jawab Faiz. Ivan langsung menutup mulut nya karena sungguh dia tidak bisa menahan tawa nya mendengar kata kata itu.
...
*maaf ya guys, sedikit lama update nya. Soal nya aku masih fokus kenovel baru aku.
Yang mau singgah disana boleh oleng dulu, judul nya ALENA Is my sunshine.
Tapi aku akan terus nyiapin novel ini sampai selesai, meski update nya terlambat.
__ADS_1
Terimakasih untuk yang masih setia ya