
Hari sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Namun Amel masih belum beranjak dari atas tempat tidur. Dia masih terlihat bergelung dalam selimut, namun sudah tampak gelisah.
Matanya terbuka perlahan karena merasakan sinar matahari sudah mulai masuk melalui celah celah ventilasi kamar.
Tangan nya meraba tempat disebelah nya, namun terasa kosong. Amel mengernyit dan memandang dengan sayu tempat tidur Ivan yang sudah tidak lagi berpenghuni.
Amel mulai bangun perlahan, mencari dimana suaminya itu berada. Dan ketika dia baru mulai ingin menurunkan kakinya, Ivan keluar dari ruang ganti. Dapat dia lihat Ivan sudah tampak rapi dengan kemeja bewarna maroon yang membalut tubuh gagahnya.
"Udah bangun sayang" sapa Ivan yang langsung mendekat kearah Amel. Wajah istrinya masih pucat dan terlihat lesu.
Ivan langsung mengusap wajah Amel dan mengecup dahinya penuh sayang.
"Masih pusing" tanya Ivan
Namun bukan nya menjawab, Amel malah langsung memeluk tubuh Ivan dan menyandarkan kepala nya diperut lelaki itu. Ivan tersenyum, dia mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Namun saat ingin menunduk, tiba tiba Amel langsung melepaskan pelukan nya dengan cepat bahkan dia mendorong Ivan dengan kuat hingga lelaki itu langsung mundur kebelakang.
"Kenapa?" tanya Ivan, namun belum selesai dia bertanya Amel sudah berlari ke arah kamar mandi mereka.
Ivan yang panik dan heran langsung ikut mengejar Amel. Dan dia semakin bertambah panik saat melihat Amel memuntahkan isi perut nya di wastafel mereka.
Dengan sigap Ivan langsung meraup rambut panjang Amel yang menghalangi seraya mengusap tengkuk Amel dengan lembut.
Dia benar benar panik melihat Amel yang seperti ini, tapi dia memilih untuk diam dan membiarkan Amel memuntahkan isi perutnya
Suara kesakitan Amel membuat Ivan mengiba. Amel pasti memang sakit, sudah beberapa hari dia memang lesu dan tidak bersemangat. Apalagi malam tadi Amel tidak ada makan sama sekali. Dia pasti masuk angin
huek
huek
Tidak ada lagi yang dia muntahkan, hanya cairan bewarna kuning yang membuat perutnya menjadi sakit. Wajah nya semakin memucat, bahkan keringat dingin sudah membasahi wajah dan tubuhnya.
"Sudah?" tanya Ivan saat Amel terlihat lemas dan tersandar di wastafel itu.
Amel hanya mengangguk lemah dan meraba perutnya yang terasa kram. Matanya memejam namun kembali terbuka saat Ivan membantunya membasuh wajah dan mulutnya
Mengusap wajah pucat Amel dengan lembut dan membenarkan rambutnya yang menutupi wajah
"Kita kekamar" ajak Ivan lagi. Dan Amel hanya mengangguk saja. Ivan merangkul Amel dan membawa nya keluar dari kamar mandi. Namun baru selangkah keluar dari pintu, tiba tiba tubuh Amel langsung merosot dan terkulai dengan lemah. Membuat Ivan begitu terkejut dan panik
"Sayang" panggil Ivan yang juga ikut berlutut dan memangku tubuh Amel yang sudah tidak lagi sadarkan diri. Wajah nya benar benar pucat, dan sungguh Ivan sangat khawatir dan cemas sekarang.
"Sayang, hei.. bangun" panggil Ivan dengan suara yang bergetar. Dia menepuk pelan pipi Amel, namun percuma, istrinya itu sudah pingsan dan tidak lagi mengingat apapun
Ivan langsung mengangkat Amel dan membawa nya ketempat tidur mereka. Demi apapun, dia benar benar khawatir sekarang
"Sayang, kamu kenapa" Ivan masih mencoba membangunkan Amel, namun Amel masih saja tidak bangun
Akhirnya Ivan berlari keluar kamar dan berdiri diujung tangga, menatap kearah ruang makan dimana semua anggota keluarga nya sudah berkumpul disana
__ADS_1
"Mama!!!!" teriak Ivan begitu kuat, bahkan suara nya terdengar begitu menggelegar memenuhi semua sudut rumah
"Mama, Amel maa... tolongin!!!" teriak Ivan lagi
Delisha begitu terkejut melihat Ivan yang berteriak dari atas sana. Meski tidak kelihatan wajah nya, tapi suara nya terdengar cukup jelas.
Bahkan dia langsung beranjak dan sedikit berlari menuju lift yang langsung menuju kelantai dua.
Maxwel dan juga Karina bersama Jonathan juga ikut menyusul. Mereka semua benar benar langsung panik melihat Ivan yang berteriak begitu kencang sepagi itu. Bahkan bukan hanya mereka saja, melainkan semua pelayan dan penjaga dirumah itu juga langsung berkumpul dan menuju kamar Ivan. Mereka takut terjadi sesuatu
Delisha dan yang lain langsung masuk menerobos kekamar Ivan. Dapat mereka lihat Ivan tengah duduk disamping Amel yang kelihatan tertidur, atau... malah pingsan?
"Ada apa nak?" tanya Delisha yang segera berlari mendekati Ivan disusul oleh yang lain. Bibi May dan Roy yang ikut melihat hanya berdiri diambang pintu
"Ma... Amel tiba tiba pingsan" ucap Ivan begitu cemas.
Delisha mendekat, dia mengusap wajah Amel yang memang sangat pucat
"Kak Amel" lirih Karina yang juga merasa khawatir melihat Amel yang pingsan, dia mendekat kearah kaki Amel dan berdiri memandang nya dengan sedih
"Roy, hubungi Martin" seru Maxwel pada Roy
"Jangan Martin. Sandra saja Roy" seru Delisha pula. Roy jadi bingung dibuat nya. Martin maupun Sandra adalah seorang dokter, namun berbeda profesi
"Cepat Roy" seru Jonathan pula saat melihat Roy malah mematung bingung
"I..iya tuan, tapi yang mana. Martin atau Sandra?" tanya Roy seraya mengeluarkan ponsel nya
"Sandra"
jawab Delisha dan Maxwel bersamaan
Dan sungguh demi apapun Roy benar benar bingung sekarang
Jonathan memandang bingung kedua orang tua nya. Kenapa disaat saat seperti ini mereka malah berbeda pendapat?
"Mama...papa.. istri Ivan ini gimana. Kenapa malah nambahin bingung sih" omel Ivan begitu frustasi
"Wajah Amel pucat sayang, dia pasti kelelahan atau salah makan. Martin lebih cocok" sahut Maxwel pada Delisha
"Amel ada muntah gak Van?" Delisha malah bertanya pada Ivan. Namun melihat Ivan yang mengangguk membuat Delisha kembali menoleh pada Roy
"Hubungi Sandra Roy" ujar Delisha
Maxwel ingin membantah, namun melihat tatapan tajam istrinya dia menjadi terdiam langsung. Martin adalah dokter pribadi keluarga mereka, sedangkan Sandra adalah dokter obygn teman Delisha.
Apa istrinya ini berfikir jika menantu mereka telah hamil? tapi baru sebulan lebih, kenapa bisa secepat itu. Mereka saja lima tahun baru bisa memiliki anak.
Dan akhirnya Roy langsung menghubungi dokter Sandra.
__ADS_1
Jonathan dan Maxwel duduk disofa kamar Ivan. Mereka belum ada yang berangkat keperusahaan karena menunggu kabar tentang keadaan Amelia. Karina duduk disisi ranjang Amel dan masih menatap wajah pucat ipar nya itu.
Delisha mengusapkan banyak minyak kayu putih ketubuh Amel sedangkan Ivan masih terdiam dengan wajah yang tidak bisa tenang
"Kenapa Amel gak bangun bangun ma. Apa kita bawa aja kerumah sakit. Dokter Sandra lama banget" gerutu Ivan yang sedari tadi masih menggenggam tangan Amel yang dingin dan pucat
"Sabar sayang, bentar lagi dokter Sandra datang kok. Kamu usapin ini kekaki nya" ujar Delisha menyerahkan minyak kayu putih pada Ivan
Ivan langsung meraih nya dan mengusapkan nya kekaki Amel.
Dan tidak lama kemudian, dokter Sandra tiba disana, karena memang dia sudah berada dijalan menuju kerumah sakit , sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba dirumah keluarga Alenxander.
"Selamat pagi semua" sapa dokter Sandra yang masih cantik itu meski umur nya sudah paruh baya
"Cepetan periksa menantu ku. Dia udah hampir setengah jam pingsan" ungkap Delisha
Ivan segera bergeser dan membiarkan dokter Sandra memeriksa Amelia
"Apa dia ada muntah" tanya dokter Sandra yang masih fokus pada Amel
"Ada dok" jawab Ivan langsung
"Udah berapa kali?" tanya nya lagi
"Baru pagi ini" jawab Ivan
"Tapi udah beberapa hari dia ngeluh sakit kepala juga dok" sahut Karina pula
Dokter Sandra tampak tersenyum, setelah mengusap sedikit perut Amel, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah alat berkabel yang tidak tahu untuk apa. Lama alat itu diletakkan diperut Amel, membuat detak jantung Ivan bergemuruh hebat. Dia benar benar takut jika terjadi sesuatu pada Amelia
Tapi... kenapa dokter Sandra malah tersenyum?
"Dokter.. istri saya kenapa?" tanya Ivan saat dokter Sandra menyimpan kembali alatnya dan kini mengeluarkan sebuah suntikan
"Istri anda tidak apa apa tuan muda" jawab dokter Sandra
"Kalau tidak apa apa kenapa bisa pingsan. Dokter gimana sih" Ivan terlihat kesal sekarang. Apalagi melihat dokter Sandra yang tampak tenang saja disaat dia benar benar gelisah seperti ini
"Ini hal yang wajar yang dialami oleh setiap orang hamil" jawab dokter Sandra
deg
Semua orang yang ada disana tampak terdiam dan kembali memasang telinga mereka..Bahkan Maxwel langsung mendekat kearah dokter Sandra
"Hamil San? menantu ku hamil?" tanya Delisha sekali lagi.
"Istri saya hamil dokter?" tanya Ivan pula
Wajah mereka semua begitu terperangah tidak percaya
__ADS_1
"Ya, sudah tiga Minggu" jawab dokter Sandra.