
Semilir angin bertiup di antara pepohonan. Sejuk nya udara menyegarkan rongga dada. Di atas batu duduk pemuda tampan. Mengingat kekasih yang lama hilang 😁😁 "Dewi ku, Dimana sekarang kau berada.?"
Dia mengalihkan pandangan nya kedalam air, setelah melihat riak gelombang yang terjadi sekilas, Buuuuzzz.. dia mencebur kan tubuh nya. Lalu berenang lebih kedalam.
"Tidak ada apa-apa disini apakah hanya perasaan ku saja?" Pikirnya yang kebingungan. Lalu dia kembali keatas. Namun sedetik setelah nya kaki nya ada yang melilit, dan menarik dengan kuat. "Sial, apa ini?" tubuh nya terus ditarik hingga kekedalaman.
Braaaak..!! Tubuh nya terhempas diatas batu besar yang ada di dasar Sungai lalu menghancurkan nya untung saja Fisik nya kuat, jika tidak. Pasti sudah remuk atau hancur.
Zhang San langsung mengeluarkan Pedang bintang lalu menebas tumbuhan yang merambat itu. "Tumbuhan macam apa ini? kenapa sangat sulit di hancurkan" batin nya. Lalu tanpa kuda-kuda dia mengeluarkan teknik nya. "Tebasan Dua Gelombang"
Air yang tenang mulai beriak lalu bergelombang karna pertarungan di dalam air. Lalu terlihat ledakan air yang melambung tinggi Membuat Dong Hu yang lagi menyandar di batang pohon terkejut. Lalu dia mengedarkan pandangan nya keseliling. Dia bingung tak menemukan patriak muda nya. "Mungkin kah dia sedang bertarung dalam air" gumam nya.
Sedangkan di dalam air Zhang San masih bergulat dengan tumbuhan merambat itu. Hingga suatu kesempatan datang. Dia melihat celah yang di tinggalkan oleh sulur itu yang membuka pertahanan nya karna terus menyerang nya. Dia pun menyelam lebih dalam mengalir kan lebih banyak energi di kaki nya agar bisa bermanuver dalam air.
"Pedang Aura" ucap nya dalam hati lalu mengarahkan tangan nya membentuk ribuan pedang air yang tajam. Kemudian mengarahkan nya ke titik terbuka tumbuhan itu.
Sluuup... Sluuuup... Sluuuup...!! Pedang aura menembus inti tumbuhan itu kemudian terdengar suara yang sangat nyaring di dalam air. Grooooaaaaaah.! Aneh memang tumbuhan itu berteriak seakan punya mulut.
Lalu dia mendekati untuk memastikan apa sebenar nya tumbuhan itu. Setelah dekat dia tercengang. Karna tumbuhan itu berubah jadi kecil.
"Itu adalah Gingseng air yang hendak berevolusi. Kau sangat beruntung" Han Oyang membisik di telinga nya. "Coba lebih kedalam siapa tau ada lagi herbal unik lain nya" kata nya lagi lalu menunjuk sesuatu yang bercahaya.
"Ambil, itu adalah rumput bintang. Dan disana ada Kerang Mutiara." Tunjuk nya lagi "Kau sangat- sangat beruntung Tuan, bahan ini bisa untuk membuat Pil Pemurnian Jiwa."
Setelah lama mengitari sungai itu. Zhang San pun kembali keatas karna tidak lagi mendapat sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Paman, seperti apa pil pemurnian jiwa itu?" Tanya nya dalam telepati kepada Han Oyang.
"Untuk mensucikan jiwa dan menghindarkan nya dari iblis hati" sahut nya singkat.
Zhang San langsung mengganti pakaian nya di balik pohon besar. Meski sesama laki- laki dengan Tetua Dong. Namun dia tak ingin timun nya di lihat oleh laki- laki. Apalagi laki-laki tua seperti Tetua Dong Hu.
"Kita akan lanjutkan perjalanan tetua Dong" ucap nya yang sudah dengan pakaian lengkap dan sederhana.
Dong Hu langsung berdiri dan menyimpan perlengkapan tidurnya dan patriak muda nya.
"Kita berjalan kaki saja tetua" kata nya lagi langsung berjalan didepan.
Mereka melewati bukit serta lembah dan kemudian melihat seeokor Macan Buas yang tinggi nya kira- kira dua kali lebih tinggi dari mereka. Dan macan itu pun mempunyai tingkatan yang kini terlihat berada di tingkat kaisar tahap awal.
Wuuuush... Bugh...!
Tubuh besar itu terpental terkena tinju kejutan. Namun macan buas itu segera bangun dan mengeluarkan suara kekesalan nya. Groooooooah..!!
Dia berlari dengan empat kaki nya. Melompat kebatang pohon lalu mengarahkan kaki depan nya ke arah Dong Hu. Akan tetapi Dong Hu langsung mengeluarkan pedang tipis nya. "Pedang Kilat" gumam nya langsung menebas dua kaki depan macan buas itu. Lalu mendeang tepat di dada nya. Tubuh besar itu terseok hingga menciptakan siring dangka di lintasan nya..
Dong Hu langsung menusuk ke arah jantung Macan Buas itu. Zhang San nendekat dan memasuk kan nya kedalam dunia jiwa. Dan mengabari tetua kepala penyedia makanan "Tetua Gu Ming, bagikan Daging binatang buas ini. Dan kulit nya jadikan selimut untuk ku" setelah memutus telepati nya dengan tetua Gu Ming, dia melangkah lagi, dan Dong Hu terus mengikuti di samping.
Tanpa terasa langkah kaki terus membawa mereka masuk lebih kedalam,
"Hutan ini terlihat sepi patriak, seolah tidak ada kehidupan sama sekali. Dan disana sudah tidak lagi masuk cahaya matahari" Dong Hu menunjuk kearah lokasi.
__ADS_1
"Kau benar Paman Dong, tapi bisa saja kita mendapat harta yang bagus" Ucap nya sambil tersenyum.
Buuuuuzzz... Api matahari berpendar di telapak tangan nya menerangi hutan gelap itu.
Mereka terus saja melangkah tanpa memikirkan bahaya yang mengancam. "Tahan Paman" Zhang San menghentikan langkahnya saat dia merasa ada beberapa Aura yang mengintai.
Dong Hu telah mengedarkan persepsi nya namun tak menemukan kejanggalan lalu bertanya "Ada apa patriak?"
"Kita sedang di intai" Sahut nya yang langsung membuat Dong Hu siaga dengan pedang nya. "Jangan membuat gaduh lebih dulu" kata nya lagi. Lalu berjalan kembali.
Beberapa Aura itu bergerak, Mereka terus memantau mangsa sambil berloncatan dari satu dahan ke dahan yang lain nya.
Satu aura melesat dengan cakar nya ke arah belakang Dong Hu, Sreeeeeeeng.. cakar itu beradu dengan pedang Bintang. Zhang San mendorong Dong Hu kesamping saat merasakan Aura itu mendekat dengan sangat cepat.
Lalu dia menendang sosok aura itu. Namun tidak merasakan tendangan nya mengenai sesuatu. Lalu dia mengumpulkan energi nya di kepalan tangan nya membentuk Teknik melempar bintang. Kemudian dia lemparkan kesembarang tempat.
BOOOOOOM...! Hutan gelap itu langsung terang dan menggundulkan lahan yang terkena ledakan nya. Terlihat lah sosok aura yang bersembunyi, ada belasan sosok berbentuk setengah manusia. Setengah srigala dan mereka semua berada di tingkat suci tahap Menengah.
Zhang San tersenyum tapi tidak dengan Dong Hu yang wajah nya pucat. Karna tak yakin akan menang melawan moster evolusi ini.
"Jika kau takut, kau bisa kembali ke dunia jiwa" ucap Zhang San menawarkan.
Dong Hu menggelengkan kepalanya. Meski benar dia tak yakin, bukan berarti dia takut, "Aku akan selalu menjadi pelindung mu patriak" ucap nya dengan keteguhan hati.
Zhang San tersentuh dengan ucapan Dong Hu. Mereka tidak mengenal lama. Namun Dong Hu terus menyakin kan pengabdian nya, "Terima Kasih Paman Dong" Ungkap nya tulus..
__ADS_1