
Barat kota. Kediaman Klan Bai.
Hong Haocun datang mengantar kan jasad Bai Long dan empat orang lain nya. Bersama rombongan nya.
"Ada kepentingan mendesak, segera kabari patriak Bai" Ucap nya kepada penjaga gerbang.
"Baik tuan muda" sahut nya dengan cepat dan berlari masuk kedalam. Karna dia sudah mengenal tuan muda Hong Houcun.
Sebelum masuk kedalam kediaman. Patriak Bai Feng Jiyu sudah kekuar dari pintu rumah bersama beberapa orang petinggi Klan.
"Kebetulan patriak bertemu disini" ucap penjaga itu.
"Ada apa memang nya, aku sedang terburu- buru"
"Tuan muda Hong Houcun ingin bertemu dengan anda, dan dia sekarang menunggu di depan gerbang" tutur nya menjelaskan sedetail mungkin.
"Pas sekali. Aku juga ingin menuju ke Klan Hong" ucap nya langsung melesat ke pintu gerbang. Meninggalkan penjaga yg terbengong di tempat. Dan petinggi yg lain mengikuti patriak Bai Feng Jiyu dari belakang.
Sesampai nya di pintu gerbang, Patriak Bai langsung bertanya, " Houcun. Apakah kah bisa menjelaskan sesuatu?"
"Patriak Bai. Saya kesini mengantarkan Jasad Paman Bai Long" ucap nya dengan wajah sedih. Lalu dia melanjutkan cerita setelah acara pemakaman,
Mereka lalu duduk di ruang tamu sambil berbincang serius...
"Seperti itu lah cerita nya patriak, Klan kami di porak porandakan musuh yg mengincar saudara ku Zhang San. Kalau boleh tau dimana dia sekarang?" Tanya Hong Haucun dengan lebih serius.
"Aku meminta pertolongan kepada nya. Untuk mencarikan aku mutiara jiwa. Di jurang kematian. Dan mereka berangkat bertujuh dengan lima orang yg kau tau sendiri mereka sudah meninggal. Dan istri nya yg di bawa orang pergi. Kemungkinan Zhang San masih berada disana. Atau kemungkinan yg lain nya" patriak Bai Feng Jiyu tak sanggup meneruskan cerita.
"Semoga saja dia berhasil, Aku akan kembali dulu patriak Bai" Ucap Hong Houcun.
"Sampaikan salam ku kepada nya. Katakan ma'af aku belom bisa menjenguk nya..."
Lalu Hong Houcun berpamitan...
.....
__ADS_1
Jurang kematian,
Tujuh hari berlalu, Zhang San tak tau apa yg terjadi di klan Hong.
"Apa yg terjadi dengan an'er. Kenapa aku mengkhawatirkan dia terus. Seolah dia dalam bahaya, dia pasti aman di Klan Hong." Batin nya
Hari terus berganti. Zhang san terus memahami isi dari gulungan itu. Setelah dia menemukan kebuntuan dalam pehaman nya. Dia pun mencoba mencari buku yg ada di rak buku.
Setelah lama mencari Dia menemukan sebuah buku,
"Ini. Kenapa buku seperti ini dibiarkan begitu saja lapuk di makan usia, sungguh tak menghargai sebuah buku" Gumam nya.
Di dalam buku yg berjudul "Teknik Meracik Obat" Bab satu. Dikatakan untuk meracik obat harus mengerti nama dan mamfa'at bahan obat. Kedua harus bisa mengontrol api. Dan syarat mutlak harus mempunyai energi api.
"Aku kan mempunyai teknik api matahari. Bararti aku bisa meracik obat, apakah buku ini memang di takdirkan untuk ku"
"Senior, boleh kah aku meminjam buku ini" Tanya nya.
"Itu tidak di perlukan disini, bawa saja" Sahut nya tanpa menoleh. Dia hanya memejam kan mata sambil rebahan.
"Cari lah di belakang" Sahut nya lagi. Lalu satu bibir nya terangkat naik. Setelah itu dia memejam kan mata kembali.
Zhang San tersenyum senang. Dengan langkah bersemangat dia pergi ke belakang rumah itu. Dan menemukan beberapa tungku yg berlumut karna terlalu lama tak terpakai.
Kemudian dia membersihkan nya dengan nyala api matahari, setelah bersih. Dia pun membawa nya kedalam rumah lagi. Kemudian dia mengeluarkan beberapa herbal yg ada di cincin dimensi nya.
Wuuuuuush.... beberapa herbal keluar. Lalu dia memasuk kan nya kedalam tungku yg sudah dia panaskan dengan api matahari.
Sambil membaca panduan yg tertera di buku Meracik Obat. Dia terus berkonsentrasi dalam meracik obat.
"Aku harus berhasil" gumam nya. Namun sebelum obat di padat kan tungku itu meledak.
Duaaaaar...! "Ah sial, kenapa meledak" Ucap nya menggerutu.
Orang itu tertawa, sampai memegang perut nya. "Apa kau kira kau orang paling berbakat yg sekali coba langsung jadi, kau terlalu banyak berhayal" ucap nya terus menertawakan muka hitam Zhang San yg terkena ledakan tungku.
__ADS_1
Zhang san tak memperdulikan orang itu. Dia kembali kebelakang mengambil tungku. Lalu membersihkan nya kembali.
Hingga beberapa kali mencoba ledakan masih saja terjadi. Dan Setiap ada ledakan suara tawa terus saja mengusik telinga.
"Apa yg salah. Apa aku kurang fokus mengntrol api nya" kemudian dia membaca ulang dengan perlahan bab panduan Meracik Obat.
"Membuat pil harus dengan hati- hati dan ketekunan, proses nya akan menguras banyak energi" ucap Senior yg tak mau menyebut kan nama itu.
"Sebelum kau meracik obat. Pastikan dulu energi mu cukup. Lalu masukkan satu persatu obat kedalam tungku. Dan pisahkan esensi murni yg terdapat dalam herbal. Kau harus bisa menstabilkan api yg ada di telapak tangan mu. Jangan berlebih jangan pula kekurangan, karna itu akan berefek pada ledakan atau kualitas pil yg buruk,
Kau harus bisa memisahkan kotoran dari bahan herbal. Karna itu akan menjadi racun yg mengendap di tubuh jika di konsumsi. Yg tertulis di buku hanya sebuah teory. Jadi jangan terlalu Fokus kedalam buku" tutup nya lalu dia memejam kan mata kembali.
Lalu Zhang san mengambil tungku terahir yg ada di belakang rumah. Seperti biasa dia membersihkan nya.
"Semoga ini berhasil"
Lalu dia menelan pil pemulih energi lebih dulu. Setelah beberapa sa'at dia pun menyalakan api di tangan nya. Lalu mengarahkan nya ke bawah tungku.
Lalu tangan kiri nya mengambil herbal dan melemparkan kedalam tungku. Kemudian dia mengingat apa yg di katakan oleh senior itu.
Dia pun mencoba memisahkan kotoran dan esensi murni yg terkandung dalam bahan herbal. Setelah yakin sudah terpisah. Dia menguatkan jiwa nya. Dan berucap Padatkan. Peluh bercucuran di wajah nya. Menandakan proses ini lah yg paling sulit di lakukan.
Setelah proses berjalan hingga lima belas menit dia kemudian memadamkan api matahari nya. Lalu berjalan dengan gontai karna kehabisan energi jiwa.
"Hahahaah aku berhasil," Zhang san tertawa kegirangan
"Hanya bisa membuat pil pemulih energi level rendah saja sudah bangga. Ckckckck" Senior itu menggelengkan kepala nya lalu dia memejam kan mata nya kembali.
Hari- hari Zhang san lalu dengan belajar mendalami gulungan yg di berikan senior itu dan mendalami Teknik Meracik Obat. Sekarang dia sudah bisa membuat pil pemulih energi tingkat tinggi.
"Pergilah ke arah timur untuk mencari apa yg kau ingin kan sewaktu kesini".
"Baik senior" lalu dia keluar dari rumah itu, seketika pemandangan berganti.
"Bukan kah sewaktu aku datang. Tempat ini begitu indah. Tapi kenapa aku masih dberada di hamparan tengkorak" guma nya..
__ADS_1