ZHANG SAN

ZHANG SAN
Menjadikan Xia Meng Murid


__ADS_3


"Siapa lagi yang menerobos, Auranya sangat kuat" Entah siapa yang berkata yang pasti Para tetua Sekte Pedang Kebajikan mulai berkumpul melihat Ke atas langit pada sosok yang terbang dilangit yang baru saja keluar dari Menara Kultivasi.


"Seorang Peri yang cantik, Seperti istri Patriak" Ucap Yang Lainnya lagi menimpali.


"Kau benar, Tapi ini Versi yang lebih matang" Sahut salah satunya


Mereka mengagumi keindahan itu yang kini melesat kearah Kediaman Patriak.


Mereka pun bertanya tanya dalam hati mereka siapa sebenarnya Peri cantik itu, Karna mereka merasa tidak pernah berjumpa atau pun mengetahuinya.


"Apakah dia saudaranya istri Patriak?"


"Mungkin saja"


"Ya, kemungkinan besar begitu"


............


"Ibu! Aura mu sangat kuat, Aku yakin kau sudah mengatasi kemacetan kultivasimu! Benarkan?"


Yu Ling An tersenyum meski dicerca dengan banyak pertanyaan dari putri cantiknya itu. sambil mengapit hidung Putrinya dia lantas berkata "Jika ibu tidak naik tingkat, ibu tidak akan disini sekarang, Mana Suamimu? Aku akan berterima kasih untuknya, Karna sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga"


"Dia sedang melatih murid baru Bu, Ibu istirahat saja dulu, Biar aku buatkan makanan untuk ibu" Sahutnya lalu mengajak ibunya ke kamar setelah itu dia tinggalkan kedapur dan membuat masakan yang spesial.


Cao Ling An berjalan ke dapur dan melihat Yu Ao Zisi sedang memasak sesuatu lalu dia perlahan mendekat "Kau memasak apa saudariku?" Tanyanya dengan penasaran.


"Aku cuma mau meracik Teh saja buat Suami kita, Kalau kamu mau ngapain?" Ao Zisi balik bertanya dan tersenyum.


"Aku mau buatin ibu masakan, Dan juga sekalian buat kita makan malam" Ucapnya lalu mengambil rempah rempah dan pralatan untuk memasak.


"Aku mau antar ini dulu, Nanti aku bantu" Ucap Ao Zisi lalu dia pergi meninggalkan Cao Ling An didapur sendiri.

__ADS_1


Mungkin satu menit berlalu, Terlihat Ao Zisi datang lagi dan mereka pun langsung memasak bersama.


Sedangkan ditempat lain, Lebih tepatnya dihalaman depan kediaman patriak.


Disana sudah ada Feng Yaya, Wen Hao dan juga Guan Zhong serta seorang lagi Xia Meng murid baru.


Zhang San sudah menceritakan Tentang Xia Meng kepada Cao Ling An agar tidak terjadi kesalahpahaman waktu mereka pergi ke aula pertemuan sebelumnya.


"Hormat ku kepadamu Guru" Xia Meng memberi penghormatan dengan menuangkan teh dan minum bersama. lalu dia berpaling setelah selesai dengan gurunya. dia lebih dulu memandang wanita cantik yang berada di antara dua lelaki yang mengapitnya lalu berkata kepada ketiganya "Salam senior, Mohon bimbingannya, Namaku, Xia Meng!"


"Salam kenal Junior, Namaku Guan Zhong!" Guan Zhong lebih dulu mengenalkan diri.


"Aku Wen Hao! Aku yang paling muda disini, tapi kau tetap junior ku!" ucapnya


"Aku Feng Yaya, Aku paling senior dengan Dua guru sekaligus" Ucapnya menyombongkan diri.


Tidak ada yang tersenyum mendengarnya. "Jangan iri dong" Ucapnya lagi setelah melihat wajah saudara seperguruannya itu semua cemberut.


"Ayo Junior Meng, Ikuti aku ke perpustakaan. Perpustakaan ini buka di sekte. tapi dikediaman guru sendiri" Ucapnya lalu tanpa malu menarik tangan Xia Meng.


"Uuuugh.. Senior! Tanganku bisa robek jika kau tarik seperti ini" Xia Meng memegang lengannya yang sakit, Mungkin bagi sebagian kultivator tarikan tangan seperti itu tidak masalah, Tapi bagi orang biasa tanpa energi Qi itu masalah.


"Maaf Adik Junior, Aku lupa kau belum bisa menggunakan energi Qi" Ucapnya Dengan rasa bersalah.


"Tidak apa, Kita jalan biasa saja dulu Senior Yaya" Sahutnya lalu mereka pergi dengan berjalan kaki memasuki kediaman itu menuju perpustakaan.


"Apakah kalian sudah mendengar di sekte ini akan di adakan turnamen?"


"Sudah Guru" Sahut keduanya berbarengan.


"Apakah Guru ingin salah satu dari kami mengikutinya, Atau keduanya dari kami? Guan Zhong segera bertanya


Namun Zhang San menggeleng, "Aku tidak menginginkan keduanya. aku ingin kalian terus saja berlatih dengan giat" Selesai berkata Zhang San berdiri "Ikutlah dengan ku" Ucapnya lagi lalu terbang melesat.

__ADS_1


Guan Zhong dan Wen Hao segera mengikuti meski tak bisa mengimbangi tapi mereka tidak tertinggal terlalu jauh.


Zhang San mendarat dimana terdapat tulisan T****empat terlarang dia menyingkap tabir yang menutupi tempat itu hanya dengan mengibaskannya saja. lalu dia masuk dan masih diikuti oleh dua orang muridnya itu.


Terlihat sebuah rumah yang megah berdiri di dalam hutan yang luas itu lalu Zhang San berjalan menuju gajebo dan mendekati kolam biasanya Han Oyang memancing. Zhang San membuat sebuah gerakan dan menciptakan kolam lagi yang lainnya lalu mengalirkan air itu hingga memenuhi kolam yang baru dibuat.


"Masuklah kalian kedalam Kolam, lalu berkonsentrasilah dalam kultivasi!, Satu hal lagi ambillah ini" Zhang San melayangkan dua botol kecil yang berisi lima dua tetes darah naga dan disambut oleh mereka berdua.


"Konsumsi itu dulu!" Ucapnya lagi


Dua orang itu jelas tidak memahami apa yang akan dilakukan oleh gurunya, Tapi mereka tidak membantah,


Mereka menelan apa yang ada pada botol kecil itu lalu Keduanya melepaskan pakaian atas saja dan menampilkan tubuh yang mulai terbentuk kekekarannya lalu melompat masuk kedalam kolam yang sudah berisi air dan mulai memejamkan mata mereka untuk berkultivasi.


Zhang San langsung mengeluarkan darah naga lagi dan meneteskannya dengan beberapa tetes saja kedalamnya. karna jika banyak mungkin tubuh mereka akan meledak tak mampu menahan kekuatan dari Darah Naga.


Beda halnya dengan dirinya yang memiliki jiwa dewa perang, jiwanya sangat kuat dan kokoh makanya bisa menampung kekuatan itu dan meminum darah naga pun secara bersamaan dengan berendamnya.


"Semoga ini bisa membantu kalian menembus tingkat suci secepatnya"


Wen Hao sekarang berada pada tingkat kiasar tahap menengah sedangkan Guan Zhong sudah berada di tahap Kaisar puncak.


Zhang San meninggalkan mereka berdua dan menyegel kembali tempat itu. lalu dia pergi kembali kekediamannya.


.............


Sedangkan di dunia luar lebih tepatnya Klan Bayangan/Xia.


"Siapa sih yang membocorkan kematian anakku, ini akan menggoyahkan kedudukan kita sebagai penguasa tertinggi" Ucap Xia Lang murka dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali.


"Tenanglah ayah, Tidak penting siapa yang memberitahu, Yang lebih penting sekarang kita harus menangkap orang itu, Apakah ayah sudah mengabari Kakek?"


"Kakek mu masih belum bisa diganggu, dia ingi menerobos tingkatan tapi masih belum menemukan caranya, Jika kita datang menceritakan kematian Xia Lang, Mungkin itu bisa menjadi kesalahan fatal, dia akan murka kepada kita, karna tak bisa menjaga cucu yang selalu dimanjakannya"

__ADS_1


__ADS_2