ZHANG SAN

ZHANG SAN
Kedatangan Chang Dalue


__ADS_3

Kraaaaaak......


Suara patahan terdengar pilu. Di tambah teriakan yg keluar dari mulut Chang Jerue.


"Semua orang bahkan tidak percaya kenyata'an ini. Chang Jerue yg di kenal slalu menghajar musuh- musuh nya kini kaki nya di patahkan dengan mudah. Tingkat prajurit tahap puncak begitu mudah di kalahkan."


"Apa yg sebenar nya terjadi. Tak habis pikir bagi mereka memahami. Kecuali Zhang San ini sudah berada di tingkat kaisar tahap awal. Tapi dia terlalu muda. Setidak nya orang yg berada di tingkat itu biasa nya sudah berada di atas dua puluh tahun untuk seorang jenius klan besar. Bisa saja di umur tiga puluh tahun baru bisa menapaki tingkat kaisar. Karna perlu sumberdaya yg banyak."


Chang Jerue bahkan lebih tak percaya. Dia yg slalu mematahkan kaki dan tangan orang yg melawan nya. Kini malah kaki nya yg patah..


Setelah mematah kan kaki. Zhang San lalu mencekik leher Chang Jerue hingga terdengar bunyi kreeek. Lalu dia melepaskan tubuh tanpa nyawa itu ketanah.


Semua orang mempunyai rahang yg hampir jatuh. Terkejut. Takut. Ketika melihat Zhang san membunuh Chang Jerue dengan mematahkan leher nya.


Seorang pemuda yg sebelum nya menantang Zhang San pun terdiam kaku sambil memegang leher nya. Lalu dia membatin "Untung dia masih berbelas kasih kepada ku. Jika tidak mungkin nasip ku akan sama dengan Chang Jerue,"


Patriak Xin juga tertegun. "Mungkin kah dia setingkat dengan ku. Atau diatas ku, aku merasa tidak percaya" ucap nya.


Patriak Xin sekarang berada di tingkat kaisar tahap awal dan Chang Wudi berada di tingkat kaisar tahap awal juga. Maka nya mereka berimbang.


Chang Wudi juga membatin "Jika satu lawan satu dengan Tuan muda ketiga aku bisa menang tapi tidak menang dengan mudah. Karna tuan muda ketiga sudah di bekali dengan sumber daya yg baik juga banyak dan di latih langsung oleh patriak Chang Dalue dengan latihan fisik yg berat, aku merasa tidak percaya"


Xin Qian tersenyum indah, "aku terlalu mengkhawatir kan nya berlebihan. Tapi ini bukan akhir. Ini awal kehancuran" batin nya


.....


Di tengah kota. Kediaman klan Chang.


"Patriak...! Patriak...!

__ADS_1


Suara teriakan membangun kan Chang Dalue dari kultivasi nya


Dengan kening mengkerut dia membuka mata nya "Berharap lah apa yg kau sampai kan tak membuat mu kehilangan nyawa karna berani menganggu kultivasi ku" ucap nya dengan raut muka tak bersahaja.


Mendengar kalimat itu. Orang yg menyampaikan pesan mendadak kelu lidah nya. Hanya bisa menelan ludah.


"Ma- ma'af ka- kan aa- ku papa- triak, tu- tuan muda- da ke- tiga" belom selesai sudah di sela oleh Chang Dalue.


"Cepat katakan dengan benar" teriak nya sambil menghentak kan tangan ke lantai.


"Giok jiwa tuan muda ketiga Chang Jerue hancur patriak" ucap nya sangat cepat. Punggung nya basah dengan keringat.


Braaaaak...


Orang itu langsung terlempar dan terhempas ke tembok terkena kibasan tangan Chang Dalue.


Lalu dia melesat keatas menembus atap. Dan menggunakan indra sepiritual nya. Setelah menemukan lokasi Chang Jerue. Dia pun menggemakan suara nya. "Tetua pertama, kedua dan ketiga, ikuti aku" ucap nya langsung terbang lebih dulu.


Panatua pertama dan ketiga lebih dulu bergerak mengikuti. Sedangkan panatua kedua masih belom bergerak.


"Padahal aku muak dengan ke angkuhan nya" Gumam nya lalu dia melesat terbang juga.


Tiga orang tingkat kaisar tahap menengah. Dan satu orang tingkat kaisar tahap puncak. Turun di halaman kecil Klan Xin. Boooom...! Hentak kan kaki mereka menggetar kan seluruh kediaman klan Xin.


Patriak Xin langsung menyuruh Xin Qian untuk mengevakuasi seluruh anggota.. "Cepat lah Qian'er. Ini bukan situasi yg harus kau hadapi. Cepat lah." Ucap nya langsung berdiri dan melangkah ke samping Zhang San.


"Ayah, kak Zhang ku harap kalian selamat" ucap nya sambil berlari lalu memerintahkan yg lain nya untuk membantu mengevakuasi anggota klan.


"Nak Zhang, ini permasalahan kami. Kau tak perlu mengorban kan dirimu. Pergilah" ucap nya sambil menampilkan senyum meski raut wajah penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


Patriak Chang Dalue mengitari wilayah Xin dengan mata nya dan melihat anak ketiga nya tergeletak tanpa nafas. Dia pun melangkah mendekati Anak kesayangan nya. Dia tak mengira akan melihat anak nya mati,


Lalu dia memeluk erat tubuh yg hampur kaku itu untuk yg terahir kali, lalu dia berkata, "Kalian semua akan menemani nya di dalam kubur!" Teriak nya.


"Patah kan tangan dan kaki nya, tapi jangan bunuh dia!" ucap nya sambil menunjuk Zhang San yg masih tenang berdiri di samping Patriak Xin.


"Nak Zhang Cepat lah.! Aku akan menahan mereka sementara kau lari." ucap nya sambil menghadang serangan panatua pertama yg sudah bergerak lebih dulu.


Panatua pertama masih mengangap remeh musuh nya. Dia hanya melepaskan pukukan fisik kearah patriak Xin tanpa menambah energi kedalam kepalan tangan nya. Dia merasa yakin hanya dengan pukulan biasa nya ini. Patriak Xin yg sudah terluka ini pasti mati.!


Namun yg terjadi di luar kendali. Bukan patriak Xin yg menyambut tinju nya. Melainkan Zhang San, dengan kepalan tangan tanpa energi nya.


Beeeeeng....! Udara tipis berfluktasi di sisi mereka. Panatua pertama menarik tangan nya. Dia merasakan tangan nya kebas seperti menghantam besi yg tebal.


"Ternyata dia juga melatih fisik nya dengan baik," batin nya.


"Bukan sa'at nya main- main panatua pertama" ucap panatua ketiga yg melompat kearah Zhang San dengan pedang yg yg terhunus kedepan.


Zhang San memundurkan kaki nya kebelakang. Lalu menarik pedang nya yg sudah berada di tangan kiri nya dengan cara menebaskan ke bilah pedang panatua ketiga.


Treeeeeng...


Suara pedang terdengar nyaring memekak kan telinga. Menghempaskan udara dengan daya kejut yg tak kasat mata.


Panatua ketiga terkejut, Serangan nya dengan mudah di patah kan. Dia mencoba menelisik tingkat kultivasi musuh. Namun yg dia dapati hanya pusaran gelap.


"Panatua pertama, Bantu aku..! Teriak nya memanggil. Karna panatua pertama dari tadi hanya melihat setelah dia bantu.


Sedang kan panatua kedua melawan patriak Xin, pertarungan mereka berat sebelah. Karna energi patriak Xin belom kembali sepenuh nya. Setelah menelan pil pemulih energi. Patriak Xin terus terpontang panting menahan serangan panatua kedua.

__ADS_1


Patriak Xin membatin. "Apa kah dia memang sengaja tak melukai titik vital ku.! Tapi kenapa?"


Sedangkan patriak Chang Dalue hanya mengamati dari kejauhan pertempuran yg di lakukan oleh pantua pertama dan kedua yg mengepung musuh..


__ADS_2