
"Tak elok jika Patriak berguru denganku, Meskipun disatu sisi, Aku lebih tinggi tingkatannya, Namun, tetap kau seorang sepuh yang patut dihormati" Sahut Zhang San dengan senyuman. "Apakah tetua memiliki cara tercepat untuk sampai ke benua selatan tanpa harus melewati lautan ganas?" Tanyanya.
"Kami ada sebuah Portal yang menghubungkan tempat ini dengan Benua selatan, Namun itu sudah lama tidak terpakai, entah masih bisa atau tidak, Semenjak leluhur dari sekte ini menghilang, itu tidak pernah lagi digunakan, Tidak ada yang bisa mengaktifkannya. aku tidak tau pasti dimana kalian akan muncul, Tapi aku jamin kalian akan berada dibenua selatan. tinggal keberuntungan kalian yang berpihak" Sahut Bing Sheng.
"Leluhur kami adalah orang dari benua selatan, Tapi tidak ada yang tau gelar apa yang dimilikinya disana, Dari cerita yang pernah ku dengar dari patriak-patriak sebelumnya, Leluhur sekte ini adalah seorang pertapa yang mengasingkan dirinya. lalu ketika dia mendengar kabar bahwa keluarganya diserang oleh sekelompok orang, dia membuat saluran Spasial dari Benua Barat ini ke Benua Selatani, setelah itu dia tidak pernah kembali. Dan jika kalian berhasil, kemungkinan kalian akan muncul ditempat dimana terakhir kali leluhur kami pergi" sambungnya.
"Bagaimana tetua, Apakah kita perlu mencobanya?" Tanya Zhang San kepada Zhang Yimin
"Jika ada yang lebih cepat kenapa tidak" Sahutnya cepat.
"Kami akan mencobanya patriak" Ucap Zhang San bersemangat.
"Istirahat saja dulu barang satu malam disini, Jangan tergesa-gesa itu tidak baik" Ucap Bing Sheng lagi lalu dia mengantarkan mereka berdua ke kamar masing-masing setelah cukup lama berbincang dan hari sudah mulai petang.
Tidak ada lagi aktivitas diluar, Sekte itu sunyi senyap, seperti pulau tak berpenghuni.
Zhang San yang berada dikamarnya segera memasuki dunia jiwa dan muncul dikamarnya, dimana dua wanita cantik saling mendandani, Karna mereka tidak ada kaca jadi mereka memakai cara seperti.
Bibir merah berwarna, senyum manis menggoda. Siapa yang tahan untuk menatapnya, Jika tidak menerkam dan menyesapnya.
Zhang San memeluk Cao Ling An dari belakang, Sambil menggoda tangan jahilnya berjalan disekitar area terlarang. melonggarkan ikat pinggang dan masuk lebih kedalam.
Ah..!!
Yue Ao Zisi yang awalnya memejamkan mata seketika membuka kedua matanya karna mendengar suara yang menggoda dan melihat adegan dihadapannya.
"Ih sayang! aku kan masih dandan" Ucapnya sedikit kesal.
Sedangkan Cao Ling An yang dibuat panas tidak lagi menghiraukan Ao Zisi yang memperhatikannya.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya melanjutkan cerita....
..............
Pada siang ke esokan harinya, Zhang San sudah berbenah diri, berpakaian rapi lalu keluar dari kamar yang dia tempati, Di depan pintu Zhang Yimin sudah menunggu.
"Kita berangkat sekarang saja" Ucapnya
"Mm" Zhang San mengangguk untuk menghormati keputusan yang tua. "Pimpin jalannya Tetua!" Ucapnya lagi
Sampai halaman rumah, Ada beberapa orang yang menunggu mereka. Tentu saja orang itu adalah Patriak Bing Sheng, Bing Ren, Bing Sai dan empat orang lainnya yang pernah berkultivasi di Goa Suci.
"Salam patriak Sekte Pedang Kebajikan!" Seru Bing Sai dan empat lainnya sambil membungkuk.
"Salam juga" Zhang San melambaikan tangannya ketika mereka tidak lagi membungkuk lalu berkata lagi. "Bagaimana peningkatan kalian?"
"Semenjak keluar dari Goa Suci milik Patriak, Kami merasa bakat kami telah ditingkatkan, Kami seakan mudah untuk mengingat beberapa hal yang sulit untuk kami ingat" Bing Sai mewakili empat lainnya untuk bicara.
"Ikuti aku Patriak Long!" Mereka pun berjalan ke arah sebuah bukit kemudian memasuki sebuah goa yang terkunci.
Terlihat Patriak Bing Sheng menekan suatu tombol mekanisme pintu Goa yang dibuat untuk menyembunyikan Saluran Spasial itu.
Segera Pintu terbelah menjadi dua dan mereka pun melangkahkan kaki bersama masuk kedalam Goa tersebut.
Dari jauh sudah terlihat dua pilar yang berdiri menopang sebuah pusaran, "Itu adalah Saluran Spasialnya" Tunjuk Bing Sheng "Coba kalian periksa apakah masih berpungsi!" Tengok Bing Sheng kearah Zhang San.
Zhang Yimin melangkah "Biar aku yang memeriksanya" Tanpa berhenti dia terus melangkah. kemudia melompat karna tempat salura Spasial itu cukup tinggi. Dia mengirimkan energinya kedalam dan terlihat ada riak dan menghilang. "Ini masih berpungsi dengan baik" ucapnya lalu menyapu pandangan kebelakang, "Ayo kita berangkat" Ucapnya lalu melompat lebih dulu ke Saluran Spasial itu
Zhang San menatap tujuh orang yang mengantarnya. "Semoga kita bisa bertemu lagi nanti" Ucapnya tersenyum lalu melompat lebih jauh untuk mencapai saluran spasial itu mengikuti jejak Zhang Yimin yang lebih dulu menghilang.
"Semoga kalian selamat sampai tujuan" Ucap semua orang yang ada disana sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
..............
Di sebuah daratan yang tandus Zhang Yimin muncul dari langit dan mendapati adanya pertarungan, Namun dia tidak ikut campur urusan orang lain, Sebelum dia tau apa yang menyebabkan pertarungan itu. dia tetap melayang diudara dibatas ketinggian yang tak bisa dirasakan orang lain kehadirannya.
Zhang San muncul disampingnya, dan melihat adanya pertarungan antar kelompok "Siapa yang bertarung tetua?" Tanya Zhang San
"Aku juga belum tau, Apakah kau ingin menolong salah satunya?" Tanya Zhang Yimin tanpa menoleh.
"Aku rasa kita perlu mengamati lebih dulu, dan memperhatikan pihak mana yang salah, Kadang di sela pertarungan ada yang berbicara dengan sombong, kemungkinan itu biang keroknya" Sahut Zhang San
"Kau cukup bijak" Ucap Zhang Yimin kembali, dan dia tersenyum, tidak salah dia membawa pemuda itu untuk mengembangkan bakatnya di benua selatan ini.
"Apakah pendaratan kita benar-benar dibenua selatan Tetua?"
"Kalau tidak di benua selatan, Maka kita di benua utara, tapi itu tidak menjadi masalah, karna yang terpenting kita sudah melewati lautan ganas" Sahut Zhang Yimin.
Pembicaraan mereka terhenti karna teralihkan fokus pada orang yang kini bertarung saling bicara.
"Xiang Zhu, Kau jangan Naif, Kita bisa memilikinya kenapa harus saling bertarung?"
"Kita tak perlu bicara omong kosong, Aku tak mungkin menyerahkan putri untuk kau hancurkan, Biarkan aku mati dengan menjaganya, jika kau memang mampu untuk membunuhku penghianat!"
Sedangkan didalam sebuah kereta yang sedikit jauh dari pertarungan, Sepasang mata mengintip dibalik tirai memperhatikan dengan perasaan gelisah.
'Ini salahku, jika bukan karna aku yang memaksa ingin bertemu dengan ibu di ibu kota kekaisaran Xu, Mungkin tak akan terjadi, Ayah maafkan anakmu yang durhaka telah melanggar perintahmu' Lirihnya dengan buliran air mata.
Treeeeng! Dua pedang beradu dan saling menekan satu sama lain, "Lihatlah sekelilingmu Xiang Zhu, Kau tak kan bisa mempertahankannya lagi, Aku sebenarnya tidak ingin membunuhmu, karna kita sahabat sedari dulu, Tapi sayang jalan kita berbeda sekarang" Ucap pemuda itu lagi
Mampir Ya, Sambil nunggu Zhang San Up
__ADS_1