
Seorang lelaki paruh baya terlihat naik ke tengah arena memakai baju berwarna hijau cerah. Dan dia berbicara "Aku adalah Bing Ma, aku yang akan menjadi wasit nya. Tidak ada peraturan karna ini adalah pertarungan hidup dan mati" ucap nya menjeda sebentar lalu mengedarkan mata nya kearah penonton. "Diharap kan tidak ada yang mengganggu pertarungan ini. Bila aku ada menadapati kecurangan dari luar arena. Siapa pun itu akan mendapat hukuman dari wali kota" lalu mengalihkan pandangan nya ke dua orang yang sudah berada di arena tarung. "Berikan cincin dimensi kalian berdua."
Mereka berdua sama- sama melempar cincin dimensi milik mereka. Dan bersiap dengan senjata masing- masing sudah ditangan.
"Siapa yang menang akan mendapatkan kedua cincin ini" ucap nya rendah namun dapat di dengar oleh semua orang.
"Jika kalian sudah siap, silahkan mulai" kata nya lagi lalu membentuk dinding transparan agar serangan tidak menyasar keluar. Kemudian dia terbang dan melayang diudara menyaksikan dari atas.
Zhang San melompat keatas atap rumah warga sekitar arena. Lalu dia duduk santai disana.
Wei Lang menghentak kan tombak nya ketanah terlihat retakan yang menjalar seperti sarang laba- laba.
Tak kalah dengan aksi Wei Lang. Bing Sai mengalirkan energi Qi api ke pedang nya lalu melempar dengan kontrol sempurna. Membuat nyala api bependar di pedang nya yang berputar seperti sebuah gasing di udara.
Seutas tali yang terbentuk dari energi Qi mengontrol pedang itu lalu dia lesatkan ke arah Wei Lang yang masih memegang tombak pusaka warisan orang tua nya.
"Kita akhiri perselisihan kita, matilah" teriak Bing Sai dengan percaya diri karna dia adalah jenius nomor tiga di sekte Pedang Matahari.
Namun Wei Lang juga tidak mudah untuk di kalahkan. Dia termasuk jenius di sekte Tombak Nirwana. Dengan keahlian nya menggunakan tombak, dia memutar nya kanan dan kiri untuk menangkis pedang Bing Sai. Namun tiba- tiba saja pedang itu terbelah dan menjadi lima.
"Teknik Tingkat Kedua, Reflika Pedang api" teriak Bing Sai yang langung membuka lima jari nya, pada tiap jari dia dapat mengontrol satu pedang nya, dia menguasai dengan baik teknik itu.
Tak mungkin Wei Lang diam saja setelah melihat pedang itu melayang di setiap sisi tubuh nya.
"Teknik Tingkat Kedua, Tombak Penghukum Langit" ucap nya rendah
__ADS_1
Sesaat kemudian gemuruh angin berkumpul di ujung mata tombak nya dan dia memutar badan menyerang pedang yang melayang di sisi nya.
Terjadi benturan disana dan ledakan keras terdengar di telinga semua orang.
"Ayooo pasang lagi taruhan nya" ucap sang bandar sambil menyaksikan. "Aku yakin pihak biru akan menang" kata nya lagi mengungkapkan penilaian nya kepada orang yang berada di dekat nya.
Membuat semua orang menambah lagi taruhan untuk pihak biru. Namun dia tertawa dalam hati. "Kalian sangat bodoh" dia tersenyum menyeringai karna keberuntungan nya akan segera tiba.
Treeeeng... bunyi pedang terjatuh dan ternyata itu pedang yang di kontrol Bing Sai yang terpelanting ke lantai.
Bing Sai mundur dua langkah lalu mengeluarkan seteguk darah karna terputus nya koneksi dengan pedang nya. Saat dia ingin menelan Pil Penyembuh tingkat menengah tiba- tiba saja punggung nya terasa dingin.
Bing Sai pun melihat kebawah kearah dada nya dan mendapati ujung mata tombak berada disana. Tanpa dapat mengeluarkan kata lagi. Tubuh Bing Sai jatuh terkulai kelantai.
Semua orang yang mendukung Bing Sai meraung kecewa karna uang mereka. Mereka habis kan di pertaruhan. Lalu mereka memandang kesamping ke arah tempat pertaruhan. Namun mereka tidak mendapati seorang pun di sana. "Ah sial sekali" ucap mereka bergegas pergi dari tempat itu.
Tersisa beberapa orang yang memandang ke arah Wei Lang yang masih berdiri di atas arena.
"Mana cincin dimensi ku dan cincin dimensi yang ku menangkan" ucap nya menengadah keatas melihat Bing Ma yang masih melayang di udara.
Wajah Bing Ma merah menahan amarah, karna dia tak melihat pergerakan Wei Lang karna terhalang oleh debu di arena terkena efek dari ledakan.
Bing Ma tidak menyahut melainkan mengirim serangkum kekuatan angin tajam kearah Wei Lang yang tidak menyangka akan mendapat serangan. Baaaaaam...!
"Tidak baik orang tua malah menindas yang muda" ucap Lang Ming yang langsung datang ke arena dengan melompat di hadapan Wei Lang setelah mendapat telepati dari Zhang San.
__ADS_1
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan ku" tatap nya tajam setelah debu yang terangkat menghilang.
"Aku.... aku tidak lah penting. Yang terpenting kenapa kau menyerang nya. Padahal dia pemenang duel" Jelas saja Lang Ming jengkel dengan orang tua itu.
"Aku adalah Paman nya, dan apakah kau tau siapa yang telah dia bunuh?" Tunjuk Bing Ma kearah jasad Bing Sai.
"Aku tidak peduli tentang itu. Ini adalah arena hidup dan mati. Jika dia mati itu karna dia lemah" sahut Lang Ming sambil menedang jasad Bing Sai kearah Bing Ma yang menyambut nya.
"Ka- kau" kalimat nya tertahan di tenggorokan. Tapi dia memberi kode untuk yang naik ke arena. Dua puluh orang tingkat kaisar naik ke arena mengeliling Lang Ming dan Wei Lang.
"Tak perlu kau membantu ku, biarkan aku menghadapi mereka.... Pergilah" ucap Wei Lang yang tak ingin orang lain berkorban untuk nya
Lang Ming tersenyum mendengar nya, dia kagum dengan sifat anak muda itu. "Siapa nama mu ?" Tanya Lang Ming tanpa memikirkan orang yang mengelilingi mereka berdua.
"Aku Wei Lang, Pergilah.... aku akan membuka kan jalan untuk mu" lalu menyerang orang di samping nya dengan Tombak di tangan bagai dewa perang tak terkalahkan. Tapi musuh berada di tingkatan yang sama dengan nya. Bahkan ada dua puluh orang. Tak mungkin dia menang. Dia hanya mengantar nyawa sebagai pembuka jalan.
Tapi Lang Ming tak kan membiarkan orang baik mati begitu saja, dia bergerak cepat tiba- tiba berada di samping Wei Lang dan menangkap pedang yang mengarah ke pinggang Wei Lang.
Kraaaak...!! dia meremas pedang itu bagai meremas kayu kecil yang rapuh.
Lalu menedang orang yang memegang pedang hingga terpelanting ratusan meter.
Wei Lang sungguh tak menyangka. Ternyata orang yang menolong nya adalah orang kuat. "Pantas aku tak bisa melihat tingkatan nya" gumam nya
Sembilan belas orang yang tersisa segera mundur. Karna orang yang bisa meremukan pedang seperti itu bukan lah orang sembarangan yang bisa mereka lawan dengan mudah...
__ADS_1