
"Bisa kah kau menceritakan lagi tentang kekuatan Klan Bayangan?" Zhang San bertanya sambil melepas jubah hitam yang menutupi tubuhnya.
"Yang aku tau, Klan bayangan memiliki satu Dewa Surga tahap menengah, Yaitu leluhur dari Klan Bayangan yang sedang dalam pengasingan karna tak ingin lagi mengurusi urusan Klan. Sedangkan yang terkuat nomor dua yaitu Patriak Xia Lang dengan tingkat Dewa Surga tahap awal, setelah itu ada dua tetua lainnya yang memiliki tingkatan yang sama. selebihnya ada ratusan yang berada dipuncak dewa langit dan ada ribuan yang berada ditahap awal dan menengah Dewa Langit hanya itu yang aku tau, apakah tuan ada dendam dengan Klan Bayangan?" Xia Meng langsung bertanya karna melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Zhang San 'Sepertinya dia ada dendam yang mendalam kepada Klan Bayangan, terlihat dari sorot matanya'
"Bukan aku, Tapi klan dari Istriku yang pernah bersinggungan dengan Klan Bayangan hingga berakhir dengan pemusnahan" Zhang San menghela nafas untuk menenangkan hatinya "Aku akan keluar dulu, Jaga diri baik baik" Ucapnya lalu berdiri
"Aku minta maaf atas kesalahan Klan ku tuan" Ucap Xia Meng lalu bersujud dihadapan Zhang San.
"Aku tidak menyalahkan Mu Meng! Kau juga seorang korban dari Klan itu sendiri, Tapi aku tak mungkin melepaskan mereka, Bangkitlah" Ucap Zhang San lagi lalu pergi dari gubuk itu dengan langkah sedikit berat.
Dia merasakan ada dua aura yang datang dan itu cukup kuat.
Zhang San lalu melambaikan tangannya untuk membuat prisai energi agar Gubuk Xia Meng tidak hancur jika ada pertarungan lalu dia bersembunyi dibalik pohon.
Terlihat siluit dua orang melayang diudara. salah satunya menunjuk ke arah Gubuk Xia Meng.
"Dia tinggal disana tetua, itu gubuknya, aku yakin orang yang menolongnya juga ada disana" Ucap pengawal Xia Liyang yang melarikan diri.
Sebelumnya.....
Xia Lou berlari dengan tergesa gesa ketika memasuki kediaman megah.
Dan dia berteriak "Patriak, Tuan Muda kedua"
Pintu segera terbuka dan muncul sosok yang masih terlihat gagah dialah Xia Lang patriak Klan Bayangan.
__ADS_1
"Ada apa dengan anakku? Apakah dia tersandung masalah" dia masih terlihat tenang karna sangat percaya tak mungkin ada yang berani mengusik Klan nya jika tidak ingin dihancurkan hingga ke akarnya.
"Dia melawan orang yang kuat, aku bergegas ke sini untuk memberitahu tentang itu patriak"
"Bawa salah satu tetua yang ada untuk membunuh orang itu!" Perintahnya lalu dia masuk lagi kedalam kediamannya untuk melanjutkan apa yang tertunda
Segera pengawal itu mencari seorang tetua, dan kebetulan yang dia cari datang hendak berkunjung ke kediaman patriak juga, Dia pun menceritakan hal yang terjadi kepada tetua itu yang pada akhirnya mereka segera berangkat ketempat dimana pertarungan itu terjadi.
Sesampainya disana mereka tidak lagi mendapati pertarungan tapi sisa kekauan masih ada lalu tetua Xia Guhui bertanya ke salah seorang yang ada disana "Kemana Muridku Xia Liyang?"
"Di-dia dibu-bunuh oleh sosok berbaju hitam itu" Sahut orang yang ditanyai.
Tangan Xia Guhui langsung terulur ketenggorakan, "Kau jangan bercanda, Tak mungkin Muridku dikalahkan begitu mudah"
"Semua orang disini jadi saksinya tetua" Sahutnya Tapi Xia Guhui semakin menekan jarinya dan menekuk leher itu ke kiri hingga batang leher itu patah dan dia melemparnya kesembarang arah.
Sungguh kasihan, Jujur salah tak jujur pun salah itulah yang dapat digambarkan kepada korban yang malang.
Kembali ke waktu sekarang
Dengan tatapan tajam, tetua itu menatap gubuk yang ditinggali oleh Xia Meng, Mereka berdua mendarat ditanah.
"Keluar kau Xia Meng, aku tau kau masih didalam, dan katakan dimana orang yang sudah membunuh Tuan Muda kedua Ku?" Teriak Xia Lou.
Para warga sekitar kembali memunculkan kepalanya di dekat pintu lalu mereka berlarian karna Tak ingin mereka bertahan disana hanya untuk menjadi korban serangan nyasar. meskipun mereka berniat membantu tapi mereka harus memikirkan keluarga tidak sama dengan melawan orang dari Asosiasi Pil sebelumnya.
__ADS_1
Mereka hanya berharap tidak ada kehancuran yang berlebihan meskipun itu hal yang sulit untuk dihindari.
Xia Meng langsung berdiri mendengar sebuah teriakan dari luar dan dia pun harus keluar meski berat kakinya untuk melangkah.
"Dia sudah pergi, Aku tidak tau kemana dia" Sahutnya ketika dia sudah berada diluar.
"Jangan Bohong kamu, Aku yakin kamu menyembunyikannya digubuk reotmu itu" Tunjuk Xia Lou dengan melotot lalu dia bergerak ingin menghajar Xia Meng. "Rasakan pukulanku" Teriaknya melesat dengan ayunan tinju yang cepat. Jelas tak mungkin untuk Xia Meng yang tidak memiliki kultivasi untuk menahan atau menghindarinya.
Seeeet.. Satu tangan terjatuh. Lagi lagi Zhang San menggunakan keterampilan Pedang Tanpa Wujud untuk memutuskan tangan Xia Lou.
"Aaaaaaaakh... Tanganku" Teriak Xia Lou yang melihat sepenggal tangannya terpotong dan menyemburkan darah yang banyak hingga mengenai Wajah Xia Meng.
Xia Meng mundur karna dia sedikit trauma dengan darah, Apalagi darah itu kini bersimbah diwajahnya dia segera berlari kedalam gubuk nya dan mengambil air untuk membasuh wajahnya lalu keluar lagi dan melihat Xia Lou terbang karna tendangan Zhang San.
Ya Zhang San muncul setelah Xia Meng masuk kedalam Gubuk.
"Ooh jadi kau yang sudah membunuh Muridku" Tatap Xia Guhui dengan tajam lalu dia mengirim suara kepada Xia Lang 'Patriak aku menemukan orang yang membunuh putra keduamu, dia sepertinya sangat kuat, Aku ingin bantuan, dia sepertinya tidak berada ditingkat dewa langit tapi dewa Surga'
'Tunggulah, aku akan mengirim tetua Xia Bei kesana', Usahakan mengulur waktu''
Xia lang segera memanggil Xia Bei untuk membantu Xia Guhui menangkap orang yang sudah membunuh anaknya. dia yakin dengan kemampuan dua orang yang berada ditingkat surga tahap awal akan mampu melawan orang itu.
"Menyerahlah anak muda, Kamu tak akan bisa menang melawan kami, Sayang anak muda berbakat sepertimu mati sia sia. padahal sudah susah payang menaikan tingkatan hingga saat ini, aku sebenarnya iri melihatmu karna di usiamu yang sekarang kau mungkin setara dengan ku dalam segi kekuatan"
Benar saja Xia Guhui mengulur waktu dengan banyak bicara. Tentu Zhang San menyadari akan hal itu tapi dia tidak peduli.
__ADS_1
"Majulah jika ingin balas dendam, Apakah mulutmu tidak berbusa dengan banyak bicara?" Cibir Zhang San dia ingin memprovokasi lebih dulu "Apa kau tau sebelum ajal menjemput muridmu, Dia mengatakan bahwa gurunya sangat bodoh jika tidak bisa membalaskan dendamnya"
"Keparat kau, Aku akan mencincangmu dengan Kapak Naga hitamku"