
Xin Qian merasa tidak percaya. Sebelum nya dia sudah yakin akan mati di ujung pedang musuh. Tapi hal lain yg terjadi.
Air mata mengucur di pipi nya. Seakan tuhan mengabulkan perminta'an nya yg menginginkan kesempatan kedua.
Di sa'at harapan sudah tidak ada, di situ lah cahaya datang menyapa. "Terima kasih tuhan" batin nya dengan tulus.
"Ampuni aku Xin Qian" Xin Kangjian bersujud memohon pengampunan. Karna nasip kini berbanding terbalik.
Xin Kangjian tak pernah mengira suatu hari akan bersujud di hadapan wanita yg di benci nya ini. Namun untuk bertahan hidup dia harus mengabaikan harga diri nya lebih dulu.
"Baru saja kau tertawa dan ingin aku menjadi budak orang lain, apakah kau tak sadar dengan perbuatan mu Kangjian.!!" Xin Qian melampiaskan amarah nya dengan menampar wajah Xin Kangjian.
Plaaaak ...! Plaaaak... tamparan bolak balik itu mematah kan gigi Xin Kangjian. Mulut nya pun berlumur darah.
Batin Xin Kangjian meraung "Jika bukan karna ada orang yg membantumu. Kau pasti mati" dia sangat geram diperlakukan seperti itu. Baru kali ini dia dipermalukan.
"Awas saja jika aku selamat dari sini" batin nya.
Namun itu tak mungkin terjadi, Xin Qian langsung berjalan mencabut pedang nya dari tubuh anak buah Xin Kangjian, lalu berbalik dengan niat membunuh.
Xin Kangjian bergidik ngeri. Dia mundur dan dengan segera berdiri namun itu menjadi langkah terakhir nya. Pedang Xin Qian menusuk punggung hingga menembus dada nya. Xin Qian menghabiskan tenaga nya dengan tusukan itu..
"Aku tidak percaya mati ditangan mu" itu lah kalimat terakhir dari mulut Xin Kangjian.
Sedangkan Zhang San hanya melihat nya melampiaskan amarah nya. Lalu dia melangkah menjauh, Namun langkah nya di hentikan oleh suara lembut.
"Senior, bisakah kau membantu ku lagi" ucap suara lembut itu.
Zhang San berpikir sejenak. "Apa yg kau perlukan?" Tanya nya
"Aku tak sanggup lagi berjalan. Bisakah senior menggendong ku dan mengantarkan aku kembali ke klan" wajah putih itu memerah seperti tomat. Dia sangat malu meminta gendong kepada orang lain. Namun hal ini harus segera di laporkan kepada ayah nya.
Zhang San berjongkok, kemudian Xin Qian naik kepunggung nya. Setelah itu Zhang San membawa nya berjalan.
"Tunjuk kan arah nya,"
__ADS_1
"Kearah sana senior," tunjuk nya. Lalu dia melompat ke atas pohon satu dan pohon lain nya. Terasa kenyal dan lembut menempel di punggung nya Zhang San. Membuat hati nya berdebar tak karuan. "Aku harus kuat" gumam nya.
Namun gumaman nya terdengar oleh Xin Qian. "Apa yg senior katakan" tanya nya di samping telinga yg membuat Zhang San geli.
"Tidak ada, siapa nama mu?" Tanya Zhang San mengalihkan pembicara'an.
"Xin Qian. Namaku Xin Qian senior.." sahut nya
"Nama senior siapa. Dan mau kemana?" Tanya nya mencairkan suasana yg hampir canggung.
"Panggil saja Aku Zhang San. Dan aku ingin ke kota karang putih tepat nya Klan Hong"
"Tapi kita berlainan arah dengan kota itu senior, ma'af aku merepotkan mu"
"Sudah terjadi. Tak perlu di permasalahkan lagi, apakah masih jauh lagi ke tempat mu"
"Setelah melewati bukit itu. Kita akan sampai di kota. Dan di timur dari gerbang adalah klan Xin."
Beberapa waktu berlalu mereka pun melihat pintu gerbang kota yg besar berdiri kokoh dengan tembok yg tinggi mengapit nya.
Lalu dengan tertatih Xin Qian berjalan di depan Zhang San. Lalu menunjukkan Lencana Klan Xin dan mengatakan kepada penjaga bahwa orang yg di belakang nya ada lah tamu Klan Xin.
Penjaga pun hanya mengangguk dan membuka kan gerbang.
"Aku hanya sampai disini saja mengantar mu Nona Qian"
Xin Qian berhenti melangkah lalu dia berkata. "Senior, bukan kah lebih baik jika sampai kerumah. Dan aku akan memberikan mu hadiah" dia menggoda Zhang San Dengan mengedipkan mata.
"Hadiah tidak lah penting bagi ku. Aku sedang terburu buru" Sahut Zhang San.
"Tapi senior, dari sini ke klan lumayan jauh. Jika aku berjalan sendiri. Akan lama baru sampai. Bisa kah senior berbaik hati lagi untuk ku"
"Baik lah."
"Akhir nya dia luluh juga. Aku harus bisa mendapatkan bantuan nya lagi. Untuk membantuku menghancurkan Chang Jerue." Batin nya.
__ADS_1
Setelah beberapa sa'at berlalu. Akhir nya mereka sampai di pintu gerbang Klan Xin.
"Panggilkan tabib, suruh dia datang ke kamar ku" ucap Xin Qian kepada penjaga.
Penjaga langsung berlari kedalam, mencari tabib yg bertugas di dalam Klan.
Mereka berdua pun sampai di depan kamar Xin Qian.
Terlihat seorang lelaki paruh baya mendatangi mereka dengan langkah lebar.
"Apa yg terjadi kepada mu nak" Tanya lelaki itu yg ternyata ada lah patriak Klan Xin. "Dan siapa dia?" Sambung nya lagi.
"Seperti yg ayah lihat aku tidak baik- baik saja. Dan jika bukan karna senior ini. Aku pasti sudah mati ayah" ucap nya sedih.
"Apa kau tau siapa yg melakukan ini pada mu?"
"Xin Kangjian ayah. Dan aku sudah membunuh nya berkat senior ini. Kenalkan dia ayah, nama nya Zhang San" lalu patriak Xin mengalihkan pandangan nya ke arah Zhang San lalu berkata sambil memegang kedua bahu nya.
"Anak muda. Aku sangat berterima kasih kepada mu. Jika ada yg kau ingin kan katakan lah. Jika aku bisa memberikan nya. Pasti akan ku berikan, termasuk anak ku ini" ucap nya sambil tersenyum melirik ke arah anak nya yg terlihat malu- malu.
"Ayaaaah," dengan nada manja dia menyela lalu masuk lebih dulu kedalam kamar.
Xin Qian lekas menutup pintu kamar nya dan merebahkan tubuh nya di kasur lalu menutup nya dengan selimut.
Lalu patriak Xin mengajak Zhang San ke tempat yg lebih nyaman untuk berbicara. Setelah tabib datang dan masuk ke kamar Xin Qian.
"Silahkan duduk Nak Zhang" Patriak Xin mengarahkan tangan nya ke tempat duduk.
Beberapa sa'at pelayan mengantarkan minuman dan cemilah. Lalu mereka berbincang serius di dalam sana.
"Ma'af kalau perminta'an ku ini manggangu perjalanan mu. Aku mohon berpura- pura lah menjadi tunangan Xin Qian. Agar tuan muda Chang itu tidak mengganggu lagi, jika dia mengetahui Xin Qian sudah bertunangan"
.....
"Untung saja luka nona tidak terlalu dalam dan parah. Jadi istirahat yg cukup nona akan segera sembuh. Aku akan menuliskan resep nya. Nanti biar ku suruh pelayan mengantar nya kesini." Ucap tabib perempuan yg mengobati nya.
__ADS_1
Lalu tabib itu meninggalkan Xin Qian sendiri di kamar nya...