
Lang Ming mendarat dengan sempurna setelah berpijak dengan tubuh Bing Jai dan melompat ke lantai yang di penuhi darah. Lalu dia berjalan meninggalkan kekacauan itu.
Wei Lang melihat dari kejauhan dan begitu kagum dengan sosok muda yang terlihat seumuran dengan nya. Namun soal kekuatan jangan di tanya. Dia merasa sebutan jenius tidak pantas di semat kan untuk nya. Yang pantas di sebut jenius adalah seperti pemuda itu, muda dan sangat kuat. Tiada ampun bagi musuh nya.
Dia merasa seperti semut yang berdiri di hadapan gajah. Setelah Lang Ming mendekati nya. Sungguh perbedaan yang kontras dihadapan kekuatan absolute.
"Hei...." Lang Ming melambai tangan nya di wajah Wei Lang yang terlihat melamun "ada apa dengan mu? Apa kau terpukau dengan ku?" Tanya nya tanpa malu.
"Kau berpikir terlalu berlebihan, aku lelaki normal yang menyukai wanita. Bukan waria..... aku sangat berterima kasih kepada mu, ikut lah ke klan kecil ku" jawab nya sambil mengajak Lang Ming.
Lang Ming tersenyum lalu berkata "Tidak perlu berterima kasih, pertemuan kita adalah takdir yang pasti akan membuahkan hasil yang baik... aku tak bisa ikut dengan mu, tuan muda ku telah menunggu di penginapan" ucap nya lalu melesat dengan pergerakan yang cepat hingga Wei Lang tak sempat untuk menahan nya.
Wei Lang kembali ke klan nya dan melapor kepada ayah nya, "Ayah.... Bing Jai sudah mati. Dan sekarang tahta kota sedang kosong, apakah ayah ingin kembali mengambil tahta itu?"
Wei Busy menggeleng kan kepala nya dua kali "Tahta hanya akan membawa kehancuran, aku tak ingin keturunan ku berakhir hanya karna tahta, ingat lah nak... Jangan terlalu berambisi terhadap tahta harta atau pun wanita, kita perlu semua itu. Tapi ingat jangan berlebihan karna semua itu akan menyesatkan"
"Baik lah ayah.. aku akan undur diri dulu" ucap nya tanpa menentang keputusan ayah nya.
"Siapa yang telah membunuh Bing Jai nak? apa dia tidak tau, di belakang Bing Jai ada orang kuat yang mendukung nya, maka nya tidak ada yang berani menentang kekuasaan Bing Jai"
"Dia hanya seorang pemuda ayah..."
__ADS_1
"Hanya seorang pemuda? Bagaimana mungkin bisa membunuh Bing Jai?"
"Dia bukan hanya membunuh Bing Jai. Tapi Juga Bing Ma adik nya Bing Jai ayah... berawal dari aku yang bertarung dengan Bing Sai di pertarungan hidup dan mati. Dan berakhir dengan ketidak terimaan Bing Ma dan pemuda itu menolong ku, saat Bing Ma ingin membunuhku, kemudian Bing Ma menyuruh kawanan nya untuk menyerang kami dan Bing Ma sendiri malapor kepada Bing Jai dan Bing Jai mendatangi kami berdua. Lalu terjadi lah pembunuhan itu"
"Lalu kenapa kau tidak mengajak nya kesini, aku takut nanti nya dia akan menjadi target oleh Anggota Klan Bing di ibukota, yang pasti tidak akan terima dengan kematian anggota cabang nya. Karna itu sama hal nya mematahkan sayap mereka"
"Aku sudah mengajak nya, namun dia mengatakan tuan muda nya sedang menunggu di penginapan"
"Tuan muda nya..... Hemmm. Perintah kan anggota klan yang lain dan beritahukan ciri- ciri pemuda itu. Suruh mereka menCari di setiap tempat penginapan. Lindungi mereka dari ancaman. Kita berhutang nyawa kepada mereka"
"Baik ayah..." lalu dia pergi mengumpulkan para pemuda seumuran nya dan memerintah kan kepada mereka sesuai perintah ayah nya...
Sedangkan dua orang yang berada dalam penginapan tidak tau tentang hal yang terjadi dikejauhan sana.
Zhang San kini berada di dalam dunia jiwa. Dia melihat perkembangan murid di sekte nya dari atas. Lalu dia turun dan memberitahukan kepada seluruh ketua untuk berkumpul di aula pertemuan.
Selang beberapa menit. Barisan bangku kiri dan kanan terisi semua.
"Baik lah. Sebelum nya aku sangat sibuk bahkan aku belom tau struktur Sekte pedang kebajikan. Di antara kalian siapa kah yang akan menjelaskan" ucap Zhang San dari kursi kebesaran nya.
Terlihat seseorang di sebelah kiri berdiri dan berkata "saya Yang Xiao. Mengetuai utusan kiri. Yang mana bergerak dalam bidang hukum dan misi. Dan semua ketua yang hadir di sebelah saya adalah berbagai ketua dari divisi Logam, divisi Tanah, serta divisi air Patriak"
__ADS_1
Zhang San mengangguk kan kepala nya mengerti lalu mengalihkan pandangan nya ke sebelah kanan
"Saya Fan Yao, saya mengetuai utusan kanan. Yang bergerak di bidang militer dan persenjataan dan orang yang berada di barisan saya adalah ketua di bidang divisi mereka masing- masing seperti divisi Api, divisi Kayu dan Divisi Obat.
Dan setiap divisi memiliki ribuan anggota. Tapi karna kita telah mengalami masa perang jadi hanya tinggal beberapa anggota yang ada, sekian laporan saya patriak"
"Baik lah. Bekerja lah lebih baik lagi. Zhang San lalu mengambil senjata tingkat menengah dalam cincin di mensi nya. (Peninggalan dari sosok transparan yang ada di ch Berkah Surga)
Zhang San mengeluarkan delapan cincin dimensi lalu memberikan kepada mereka berdua, "Bagikan lah cincin itu kepada ketua divisi kalian" ucap nya. Lalu memanggil Ketua di visi obat Xu Da.
Xu Da mendekat lalu berkata "Siap menerima perintah patriak"
"Ambillah.... Didalam nya banyak tanaman herbal yang bisa di jadikan berbagai Pil untuk kelangsungan semua murid sekte kita ini" Zhang San mengontr cincin dimensi itu dan melayang ke arah Xu Da dengan pelan. Xu Da langsung mengambil nya dan menyimpan nya di cincin dimensi nya. Lalu berkata. "Terima kasih patriak muda"
Semua orang tersenyum lalu serempak berkata "Terima Kasih Patriak Muda......"
Zhang San melambai tangan. Tanda tak perlu mengucapkan kalimat itu. Lalu dia berkata kembali "bubar lah tapi untuk Yang Xiao dan Fan Yao tetap tinggal di sini. ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian.
Semua orang yang tidak berkepentingan kini pergi tinggal lah tiga orang yang sedang berbincang santai. Zhang San langsung mengeluarkan satu teko Teh Surgawi yang harum nya langsung menyeruak kedalam hidum. Dan terasa menyegarkan.
"Teh apa kah ini patriak?" Fan Yao lebih dulu bertanya.
__ADS_1
Zhang San menuangkan teh dalam tiga cangkir kecil lalu mereka menyesap nya bersama.
"Ini adalah Teh Surgawi yang di berikan oleh kaisar Yu Tai Ba sebagai oleh- oleh. Entah dia mendapatkan nya dari mana. Tapi aku merasa tidak ada di benua ini yang harum wangi teh seharum ini" ucap Zhang San menjelaskan dia mendapat kan teh itu. Lalu tiga orang itu berbincang santai kembali sambil membahas untuk kemajuan sekte..