
Dua orang yg tersisa meneguk ludah nya. Karna melihat kepala teman nya sendiri jatuh tepat di depan mereka.
Ingin lari namun kaki tak mau mengikuti pikiran mereka. Ketakutan merasuki mereka. Dan creeez satu lagi kepala terlepas dari tubuh nya.
Tinggal seorang pemimpin yg sudah mati rasa. Kaki nya melemas dan terduduk.
"Ampuni aku tuan muda" ucap nya memelas.
"Apa kah jika aku tak datang. Kau akan mengampuni istriku?" Tanya Zhang San dengan mata merah melotot.
Dan pedang mengayun kearah kepala pemimpin itu.
Cao Ling An langsung melompat dan memeluk Zhang San. "Ma'afkan aku gege, aku belom cukup kuat, aku hanya menjadi beban untuk mu" dengan air mata berderai dia mengucap kan kalimat itu..
Lalu Zhang San melepaskan pelukan erat Cao Ling An. Dan menyeka air mata nya. Kemudian dia berjongkok tanpa menjawab.
"Naik lah kepunggung ku" ucap nya.
Lalu Cao Ling An dengan segera naik dan kepunggung Zhang San.
"Aku mencintaimu setinggi mungkin, sejauh yang aku bisa lihat, hingga tak terbatas dan lebih jauh. hingga hari-hari terakhir kita, kamu adalah milikku dan aku milikmu." Ucap Cao Ling An sambil merebahkan kepala nya
Beberapa waktu berlalu Zhang San sampai di penginapan. Dan dia memesan kamar lalu membawa Cao Ling An yg tertidur di punggung nya.
Di barat kota karang putih.
"Bagaimana apa kau menemukan nya?"
"Yaa dia menginap di penginapan Bulan purnama master"
"Tetap awasi dia" Wuuush langsung menghilang.
....
Zhang San memasuki lautan kesadaran nya. Lalu dia berkultivasi di dalam nya. Menghabiskan waktu mempertajam teknik nya.
(Harus di ketahui perbenda'an waktu di dunia luar. Dan di dalam lautan kesadaran berbanding satu jam dan satu hari)
Satu hari pun berlal. Yg arti nya sudah hampir satu bulan Zhang San berada Di lautan kesadaran nya.
"Jiwa ku masih terlalu lemah. Kenapa dulu aku tak membeli pil penempa jiwa. Heh Memang penyesalan slalu di belakang, semoga ada kesempatan lagi, semangat" dia menyemangati diri nya sendiri.
Kemudian dia kembali ke raga asli nya dan menemukan Cao Ling An sudah mandi dan duduk di meja rias memoles wajah nya dengan riasan tipis.
__ADS_1
Zhang San perlahan mendekat lalu memeluk dari belakang. "Dari semua hal yg pernah tangan ku pegang, yg terbaik sejauh ini hanya kamu" ucap nya berbisik detelinga.
Cao Ling an mengeliat karna geli, "Mulut mu sangat manis gege. Bisa- bisa aku mati di kepung semut kalau kau beri yg manis terus." Dia berkata sambil tertawa.
Kemudian mereka menikmati momen indah berdua...
.....
"An'er ayo kita turun menikmati indah nya pagi, sudah cukup bermanja nya" ucap Zhang San namun membuat bibir indah Cao Ling An mengerucut.
"Iya.. iya..!" Ucap nya dengan malas sambil menarik pipi Zhang san.
Mereka berdua lalu turun. Dan keluar dari penginapan.
"Kita jalan kaki saja gege, jual saja kuda nya"
"Oke ibu boss" sambil mengedip kan mata Zhang San Menjawab nya. Lalu mereka berjalan ke tempat penjualan kuda.
Setelah menjual kuda Mereka berdua melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah tempat yg indah. Lalu mereka melangkah mendekat ketempat itu.
"Benar - benar indah gege, tempat sejuk dan nyaman
Hamparan bunga bermekaran di sepanjang taman. Lalu mereka duduk di tempat yg memang sudah di sediakan entah oleh siapa.
"Ini wilayah pribadi tuan kami. Orang luar di larang masuk" ucap salah satu yg kemungkinan pemimpin nya.
"Ma'afkan aku, aku tak sengaja memasuki nya" ucap Zhang San merendah.
"Baik lah. Silahkan kalian pergi" ucap pemimpin itu sambil mengarahkan tangan nya keluar.
Zhang San bersama Cao Ling An berjalan keluar. "Ma'afkan aku gege," ucap nya sedih
"Tak apa. Memang kita yg salah tak melihat ada tulisan. Padahal sangat jelas tertulis tempat pribadi milik Klan Bai" mereka berdua pun tertawa riang kembali.
"Sebaik nya kita keluar kota saja gege. Lebih baik kita melanjutkan tujuan kita ke jurang kematian"
"Apakah kamu yakin akan ikut bersama ku kesana?"
"Kemana pun gege pergi. Aku akan slalu ikut" ucap nya sambil tersenyum manis.
"Tapi....!"
"Ssssst..! Cao Ling An menghentikan kalimat yg akan keluar dengan tangan yg di taruh nya di bibir Zhang San. "Aku mengerti gege menghawatirkan aku. Namun aku akan tetap menjadi beban mu jika aku tak berani mengambil resiko" tutup nya.
__ADS_1
"Baik lah, kalau itu keputusan mu. Setidak nya ada istri yg menemani dalam hutan"
Kemudian mereka berjalan ke arah pintu gerbang dengan niat meninggalkan kota karang putih.
Namun dia di hentikan oleh seseorang. "Tunggu tuan muda." Ucap orang itu
"Ma'af apakah kami melakukan kesalahan?" Ucap Cao Ling An.
"Tidak nyonya. Master ku ingin bertemu kalian"
"Kalau boleh tau, ada apa gerangan?"
"Soal itu lebih baik tuan dan nyonya ikut saya saja" mari ucap nya.
Zhang San dan Cao Ling An saling berpandangan, terlihat keraguan di wajah mereka berdua.
Lali orang itu berkata kembali. "Tidak perlu risau. Kalian tidak akan terancam di kota ini. Apa lagi di kota ini masih ada klan Hong yg bisa kalian minta pertolongan jika ada masalah"
"Baik lah" Zhang San mengambil keputusan. Lalu mengikuti nya ke arah jalan yg pernah mereka lalui.
"Ini kan kediaman Klan Bai tadi" ucap Cao Ling An.
Mereka masuk tanpa hambatan. Karna ada seseorang yg penjaga kenal memimpin jalan nya.
Sesampai nya di aula tamu. Zhang San di minta duduk dan menunggu di sana. Kemudian orang itu pergi melapor kepada master nya.
....
Beberapa menit terlewat. Pelayan datang dan menata makanan di meja. "Tuan muda. Silahkan di makan"
"Terima kasih" sahut Zhang San.. lalu pelayan itu mundur dan meninggalkan ruangan itu.
Suara tapak kaki terdengar dari arah belakang. "Ma'af membuat kalian menunggu." Ucap seorang lelaki paruh baya.
"Kalian pasti bertanya- tanya mengapa kalian di bawa kesini, aku hanya ingin minta tolong kepada kalian berdua."
"Minta tolong apa patriak" sahut Zhang San.
"Perkenalkan dulu. Namaku Bai Feng Jiyu." Sambil mengulurkan tangan nya.
"Aku sudah tau nama kalian berdua, Dan juga informasi tentang mu yg membunuh patriak Gao Yuan." Ucap nya sambil memandang ke arah Zhang San.
"Biarkan aku bercerita sedikit, agar kau tau garis besar nya"
__ADS_1
"Aku mempunyai seorang anak yg bisa di bilang jenius muda di klan Bai ini. Dari kecil dia sudah menjadi kandidat terbaik untuk mewarisi gelar Patriak.. "