ZHANG SAN

ZHANG SAN
Pertarungan di kota Canglan


__ADS_3

Didalam sebuah penginapan sangat sederhana lima orang masuk dalam satu kamar.


"Bu, sebaiknya kau urungkan niatmu untuk bertemu Kakakmu, Keadaan sedang genting, Bisa saja kita terbunuh jika memaksakan untuk pergi kekota Ming" Zhang San mencoba membujuk mertuanya yang sedikit keras kepala.


"Jika aku bisa naik tingkat ketingkat puncak, aku akan bisa membantumu lebih banyak Bu" Tambahnya lagi setelah tidak mendapat respon dari mertuanya.


Satu helaan nafas terdengar "Baiklah... Demi menantu ibu ini" Ungkapnya setelah itu dia tersenyum.


"Cepat buka portal dimensi Jiwa, Ibu ingin melihat seseorang" tambahnya lagi


Zhang San mengerutkan kening, 'Siapa yang ingin ibu jumpai di dunia jiwa, Bukan kah dia tak pernah berbicara dengan siapapun sewaktu disana' Dalam hatinya Zhang San terus berpikir sembari membuka portal dimensi "Sayang kau juga boleh masuk, Aku ingin menceritakan sesuatu padamu" Ucapnya


Yu Ling An segera masuk ke celah dimensi yang terbuka di ikuti oleh Cao Ling An yang juga menarik tangan Zhang San.


Mereka bertiga menghilang dari kehampaan.


"Kita harus mencari sumberdaya untuk Tuan muda agar bisa berjaya" Liu Bai bersemangat.


"Kalau begitu kita harus berburu sumberdaya di Paviliun Huangfu yang ada dikota ini" Sahut Hong Kong "Ayo berangkat jangan ditunda lagi.." Tambahnya.


Mereka berdua segera beranjak dari ruangan itu.


.............


Kediaman Klan Bayangan, Xia Lang Dia merasakan Getaran dalam cincin dimensinya lalu dia memasukan energi sepiritualnya untuk mengecek ada hal apa.


"Apa? tak mungkin Xia Yang mati" Xia Lang terkejut ketika menemukan Giok jiwa budaknya Xia Yang pecah


Klentaaang...! dia melemparkan gelas yang berisi air, Sebelumnya dia ingin meminum teh tapi belum juga terminum sudah mendapatkan sebuah kejutan, Makanya dia melampiaskan kekesalannya kepada gelas yang tak bersalah.

__ADS_1


Memang manusia kejam kan, Gelas saja dipecahkan tanpa belas kasih.


'Xia Hai, Cepat cari Putri Yu dan orang yang menolongnya, Mereka telah berani membunuh Xia Yang' Meskipun dia tak tau pasti dalang dibalik kematian budaknya itu, Tapi dia tetap menyalahkan Putri Yu, dan meski Xia Yang hanya budak, Tapi budak yang sangat berharga baginya yang selalu menuruti perintahnya tanpa membacot lebih dulu. itulah yang dia suka dari Xia Yang.


Suatu Getaran kekuatan terpancar dari tubuhnya dan meledakkan Qi yang dalam hingga kediaman itu bergetar ingin rubuh jika dia tidak menyadarinya.


'Aku sudah menyebar mata mata disetiap penjuru, Dan ada yang melihat tiga orang melintas ingin ke kota Yuan tapi tidak jadi, Tiga orang itu dua wanita dan satu seorang pemuda, dua orang begitu mirip seperti pinang yang terbelah dua. dan aku dapat meyakini bahwa salah satu dari wanita itu adalah Putri Yu, Dan kemungkinan satunya putrinya ayah. Dan pemuda itu entah siapa belum dapat di komfirmasi identitasnya' Xia Hai menjelaskan penemuan dari mata matanya yang kini mengikuti hingga ke kota Canglan.


'Aku masih menunggu kabar selanjutnya Ayah, Dan sekarang aku menuju kota Canglan karna katanya mereka memasuki kota itu dan disambut oleh dua orang yang berasal dari Kota Ming' Tambahnya.


'Lanjutkan saja, Tangkap hidup hidup mereka bertiga, Aku ingin pemuda itu menjadi budakku menggantikan Xia Yang' Perintahnya lalu memutuskan telepatinya.


..............


Dua orang terus berjalan tanpa sadar mereka sudah di ikuti saat keluar dari penginapan hingga sekarang.


"Mereka menuju Paviliun Huangfu, Mungkin mereka ingin membeli sumberdaya"


Satu jam berlalu bergitu saja, Matahari mulai condong kebarat menandakan malam akan segera tiba.


Dua orang keluar dari Paviliun Huangfu dengan wajah yang berseri dan terus saja berjalan menuju penginapan yang sebelumnya mereka tinggali.


'Apakah kau merasakannya Kong? ada niat membunuh yang terpancar disekitar kita' Liu Bai langsung menggunakan telepati untuk berbicara dengan Hong Kong meski mereka bersebelahan 'Jangan menoleh kemanapun, Nanti mereka akan curiga kepada kita bahwa kita sudah merasakan keberadaan mereka' tambahnya lagi ketika melihat Hong Kong menggerakkan kepalanya


'Kabari tuan segera, Pasti mereka dari Klan Bayangan, Aku yakin itu Bai, meskipun niat membunuh ini lemah, tapi kita tak mungkin menang jika berurusan dengan mereka' Pintanya dan Liu Bai langsung mengangguk sambil terus berjalan


'Tuan....." Liu Bai mencoba memanggil, dia tak yakin suaranya dapat menembus pembatas dunia jiwa, Tapi dia tetap mencoba.


Swooooossh.... Sebuah serangan kejutan datang melintas di kepala Hong Kong, Jika sebelumnya dia tak menyadari mungkin kepalanya akan terpisah dari badan.

__ADS_1


Kota Canglan memang di larang untuk terbang, Tapi tidak untuk pertarungan. Tapi pertarungan yang di ijinkan hanyalah pertarungan hidup dan mati di atas arena.


Tapi karna Klan Bayangan adalah pemilik otoritas tertinggi di Kota ini, hanya dengan menunjukan token Klan Bayangan maka mereka akan terlepas dari hukuman.


Meski banyak yang tidak suka dengan apa yang sering mereka lakukan, Tapi tidak ada yang berani mencegah perbuatan mereka yang kadang sombong dan angkuh.


Karna Klan Bayangan tidak memandang bulu, Jika mereka tersingguh satu klan akan musnah..


Tiga orang terlihat berdiri diatas atap dengan senyum yang entah mengapa tidak terlihat baik.


"Kenapa kalian menghadang jalan kami, Kami merasa tidak pernah bermasalah dengan kalian?" Liu Bai segera bertanya setelah melihat mereka berdiri bebas dengan pedang yang sudah terlepas dari sarungnya.


'Kita harus segera menjauh Kong' Ajak Liu Bai.


"Meskipun tingkatan mereka sama dengan kita yang hanya berada di tahap awal Dewa Langit, tapi mereka bertiga sedangkan kita hanya berdua saja, Jelas ini tidak baik" Bisik Hong Kong


"Serang mereka berdua, Lumpuhkan saja" Dengan kepercayaan diri yang mutlak karna menang satu orang mereka bertiga langsung melompat turun dengan pedang ditangan masing masing terhunus.


Hong Kong meraih pedangnya yang langsung muncul di udara dan dia menangkis pedang yang datang kepadanya. meski Hong Kong hanya memiliki satu tangannya saja lagi karna pertarungan yang lalu, Tapi dia tetap tak ingin menyerah dengan takdir.


Begitu pula dengan Liu Bai dia menangkis dua pedang dua orang sembari menyerang balik.


Dentang... dentang...! Kiri dan Kanan pedang datang dia melompat dan berputar di udara lalu melempar tekniknya.


"Teknik Sembilan Kematian" Ucapnya dengan menukik dia terus menebaskan pedangnya


..............


Zhang San membuka celah dimensi untuk keluar dari dunia Jiwa setelah menceritakan kebenaran kisah perjalanannya selama ini kepada Cao Ling An dan tentang Yue Ao Zisi yang juga sekarang sudah ada dikediaman Zhang San dan tentang dia yang menjadi patriak sekte pedang kebajikan.

__ADS_1


Dia meninggalkan Cao Ling An yang ingin menenangkan diri setelah tau kebenaran itu. dengan hati gundah dia melangkah keluar.


'Dimana Bai dan Kong?' tidak menemui siapapun dia langsung keluar dari kamar penginapan


__ADS_2