
Zhang San keluar dari kamar nya. Dan mendapati satu penjaga yang ketiduran di depan pintu. Lalu dia membangun kan nya dan bertanya.
"Paman, paman.. Hei" dia melambaikan tangan nya di depan wajah penjaga itu.
Tidak mendapat tanggapan. Lalu dia menggoyang sedikit tubuh penjaga itu hingga terbangun.
Sang penjaga mengerjapkan mata nya. Lalu sadar dia ketiduran saat bertugas. "Maafkan aku tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu?" Sambil masih menguap dia bertanya.
"Hanya ingin bertanya kemana semua orang. Kediaman ini terlihat sepi?"
Sebagian ada yang di urus. Dan sebagian lagi sedang rapat di aula. "Apakah Tuan Muda mau kesana, biar saya antar!"
"Tidak usah. Aku ingin jalan- jalan sebentar" ucap nya lalu meninggalkan penjaga itu. Sambil mengabari tetua Dong Hu bahwa dia ingin jalan- jalan sendiri.
Dia bekeliling kota CangYu lalu memasuki pasar setelah lama berjalan dia menemukan ada yang menjual Gingseng Air. TImun Es abadi. Dan Bunga api Surgawi.
"Berapa harga ketiga bahan ini paman?"
Penjual itu menelisik Zhang San dari atas hingga kebawah dia tak menyakini Zhang San akan mampu membayar. Namun dia tetap menyahuti.
"Gingseng Air seribu tahun seharga seratus ribu keping emas. Dan untuk Timun Es Abadi ini hanya Delapan Puluh ribu keping emas. Lalu dengan Bunga api Surgawi ini lima ratus ribu keping emas. Jika kau punya uang tidak usah menawar" ucap nya lalu sibuk lagi dengan pekerjaan nya.
Melihat kelakuan penjual itu. Zhang San hanya tersenyum kecut lalu mengeluarkan harga harga yang di minta oleh penjual. Dia memilah keping emas lalu memindahkan nya ke sebuah cincin dan memberikan nya. "Di lihat dan di hitung. Apakah pas dengan harga yang paman jual"
Seakan tak percaya bahwa Bahan yang sudah lama tak pernah terjual kini ada yang membeli nya. Penjual itu melihat dengan jelas sebuah cincin di telapak tangan pemuda itu. Dengan tangan bergetar dia mengambil nya. Dan tanpa melihat atau pun menghitung isi nya. Dia langsung menyerahkan tiga bahan herbal itu.
"Kalau ada yang tuan muda cari lagi. Silahkan kembali kesini." Ucap nya sangat ramah. Berbeda dengan di awal yang terlihat cuek.
__ADS_1
Zhang San hanya tersenyum lalu dia pergi. Dan mencari resto untuk mengganjal perut nya.
Di dalam resto terasa hangat tidak seperti di luar yang di selimuti salju. Dia melangkah kan kaki nya hingga melihat sebuah tempat duduk di sudut yang menampilkan panorama alam. Bukit bukit kecil berbaris di lingkari oleh awan yang hanya puncak dan bawah nya saja yang terlihat. Serta pohon pinus yang banyak mengelilingi perbukitan itu daun nya agak memutih.
Beberapa sa'at pelayan datang membawa satu pena dan kertas. Dia berdiri di samping menunggu pemuda itu memesan makanan nya.
"Sediakan makanan terbaik disini. Dan jangan lupa satu teko Teh Surgawi," ucap nya.
Pelayan mencatat lalu berkata. "Mohon untuk sabar menunggu" lalu dia membungkuk sebentar setelah itu dia menyuruh koki untuk menyiapkan nya.
"Hai tampan" Terlihat oleh mata seorang wanita berdiri di dekat nya dengan gaya menggoda. Pakaian nya cukup terbuka dengan baju yang kekurangan bahan. Menampilkan sosok yang cantik.
Zhang San berdiam. Bukan membayangkan wanita itu. Melainkan dia tak ingin bersuara.
Wanita itu langsung menarik kursi lalu dia menjatuh kan pantat nya yang montok kemudian menyilangkan kaki nya. Terlihat oleh semua mata lelaki yang di sana. Kekenyalan nya sa'at duduk bagai kan busa empuk yang siap utuk di rebahi. Dan kaki lurus nan panjang yang menyilang itu. Beeeeh menggugah rasa..
"Seperti nya dia dari keluarga besar" sahut teman nya di samping
"Aku ingat pernah melihat nya di Klan Wu, mungkin saja salah satu putri Dari patriak Wu Daimin" yang satu nya menyahut juga.
"Kau benar, dia adalah Wu XinXin, putri ketiga yang kata nya tercantik nomor satu di wilayah Klan Wu" orang yang baru datang berbisik sambil meraih kursi lalu duduk mendiskusikan kecantikan Wu XinXin.
"Jika bisa satu malam dengan nya. Aku akan rela tidak ada malam yang lain nya."
"Kau menghayal terlalu tinggi" plaaak teman disamping nya menampar agar dia tersadar. "Lihat lah orang yang duduk bersama nya. Dia pasti dari keluarga besar juga."
Kita tinggal kan mereka yang terus berbincang tak jelas.
__ADS_1
"Masih banyak tempat yang kosong." Ucap Zhang San setelah melihat wanita itu duduk di hadapan nya. "Aku tak perlu teman, aku hanya ingin sendiri" kata nya lagi. Membuat wajah wanita itu terlihat cemberut dan bibir nya mengerucut.
"Apakah kau tega membiarkan gadis secantik aku ini sendirian duduk dan di goda oleh banyak lelaki"
"Itu urusan mu, aku tak peduli dengan hal itu. Pergilah" Zhang san tak mau ambil pusing.
"Ka- kau mengusir ku." Teriak nya..
Braaaaak..!! dia menghentak kan tangan nya di meja. "Penjaga...... dia melecehkan ku" tunjuk nya ke arah Zhang San. Setelah melihat penjaga sudah mendekat.
Para penjaga itu pun langsung mendekat. Namun Zhang San mengangkat tangan nya lalu berbicara "Tolong tanyakan pada nya. Aku melecehkan nya dengan cara bagaimana?" Tatap nya kepada penjaga itu yang ingin menangkap nya.
Semua mata tertuju kepada sudut tempat terjadi nya masalah kecil. Lalu semua pengungjung laki-laki disana mendekat dan ingin menghajar Zhang San.
Penjaga itu terdiam sebentar. Namun tetap berkata. "Kami melaksanakan tugas saja. Ikut dengan kami tuan muda, dan jangan melawan. Jelaskan kepada hakim saja nanti" ucap penjaga itu
Zhang San mengangguk lalu berkata "Baik lah. Tapi jangan perlakukan aku seperti tahanan. Aku bisa berjalan sendiri" ucap nya. Dia menyadari ada sesuatu yang di rencakan oleh gadis ini. Namun dia hanya pura-pura tak menyadari nya. Dan mengikuti permainan dari gadis itu.
Zhang San di tengah di apit oleh penjaga dan di belakang gadis itu tersenyum. Lalu dia mengeluarkan alat transmisi suara dan menggunakan nya. "Aku sudah mendapatkan nya Paman, Siapkan tempat nya" dengan seringai licik dia terus berjalan di depan nya. Dia mengira telah menangkap seekor ikan tak tau nya seeokor naga.
Zhang San tak bertanya. Dia hanya diam melihat dia di bawa keluar dari kota CangYu. Lalu mengarah keperbatasan. Di sepanjang jalan dia mengedarkan persepsi nya dan dia mendapati banyak orang yang bersembunyi dengan panah.
Mereka berhenti di sebuah tanah lapang dan Di sana sudah menunggu banyak orang. "Inikah hakim yang kalian sebutkan penjaga"
Dua penjaga itu mundur perlahan meninggalkan Zhang San seorang diri ditengah lapang yang kini mulai di kepung oleh sekelompok orang..
Rabu 23 Maret, Hari ini adalah hari pernikahan adik satu-satu nya. Minta Doa nya semua.
__ADS_1
Next Ch~ 10:00