ZHANG SAN

ZHANG SAN
Tak Pernah di Duga


__ADS_3


Mentari yang cerah menyisipkan sinarnya diantara celah awan dan mengikis embun yang berada didaunan serta yang lainnya.


Diantara rimbunnya pepohonan yang masih asri beberapa orang dalam sebuah kelompok yang diisi sekitar tiga puluh orang membuka jalan dengan menebang beberapa pohon untuk memperluas jalan utama, Sebagian lagi membangun jembatan menggunakan batang kayu yang ditebang agar pejalan kaki bisa melihat sekte mereka yang berdiri.


Setengah hari berlalu, mereka pun beristirahat, Para pekerja itu yang memang berasal dari sekte Pedang Kebajikan bersantai dibawah rindang pepohonan yang menghadap ke air, Ada yang memancing ada yang membuat api untuk membakar ikan.


Semua terlihat nyaman dan damai tidak ada kesan yang dipaksakan.


"Hidup seperti ini juga tidak buruk" ucap seseorang yang merebahkan tubuhnya dengan alas rerumputan kedua tangannya terbuka dan telapak tangan berada di bawah kepala sebagai penopang


"Kau benar! Hidup yang damai, dimana tidak ada perang atau pun pembunuhan! jika ada hal seperti itu didunia ini? aku pasti akan memilihnya!" Sahut sang teman yang juga mengambil ancang-ancang untuk rebahan disampingnya dengan telapak tangan yang sama-sama berada dibawah kepala.


"Semoga saja semua itu akan terwujud! Setidaknya aku ingin melihat kehidupan kita dialam dewa ini akan seperti apa? nantinya!"


..............


Pintu gerbang besar berdiri dan tertulis disana nama yang besar dengan tulisan kaligrafi pada papan Nama yang tertulis Selamat datang di Sekte Pedang Kebajikan.


Lebih masuk kedalam, Ada tiga buah arena yang sudah disiapkan untuk acara pertandingan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. dikeliling oleh kursi yang memungkinkan untuk seribu orang duduk disana, yang juga sudah tersusun rapi, Di tambah sebuah gedung untuk para patriak atau perwakilannya.


Semua sudah siap tinggal menunggu hari pelaksaan tiba.

__ADS_1


.............


"Sebarkan berita kepada semua orang yang ada di benua ini, Bahwa kita akan mengadakan acara pembukaan sekte kita seminggu dari sekarang, dan akan diadakan pertandingan buat para pemuda yang berada di tingkat dewa kuning awal hingga puncak"


"Baik Patriak!" Sahut Hong Kong, Liu Bai Ken Zou dan Gu Bian yang langsung melesat ke satu persatu kota mengemban misi yang diberikan kepada mereka.


Zhang San memilih empat orang itu, karna mereka yang lebih mengenal Alam Dewa lebih baik dari yang lainnya.


Setelah kepergian mereka Zhang San berjalan ke sebuah tempat yang tertutup kabut ilusi, dan dia mencari sebuah mekanisme yang dikatakan oleh Zhang Yimin bahwa didalam Klan Bayangan ada lima Goa suci yang kental akan energi dengan formasi pengumpul energi membuat Siapapun yang berada didalam Goa itu akan bisa menyingkat waktu dalam kultivasi yang mana jika di luar Goa orang akan membutuhkan setidak nya tiga puluh hari penyerapa energi tapi jika didalam Goa suci mereka hanya perlu satu hari saja berkultivasi disana.


Itulah sebabnya banyak dari Klan Bayangan yang berada pada tingkatan Dewa Biru tahap puncak, Karna mereka berkultivasi disana secara bergantian dan teratur.


Zhang San menemukan mekanismenya sesuai informasi yang dua terima lalu menekannya dan setelah tirai kabut terbuka segera dia melangkah untuk memasuki tempat itu.


"Aku harus mempelajari cara membuat Formasi seperti ini, agar aku bisa lebih menghemat waktu untuk naik tingkatan" Gumamnya sendiri.


Setelah itu dia keluar lagi, "Jika tidak dalam waktu dekat akan diadakan pembukaan sekte dan acara penerimaan murid. Aku pasti akan berkultivasi disini, Tapi ini juga bisa dijadikan hadiah untuk juara satu, dua dan tiga" Gumamnya lagi sambil terus berjalan menuju kediamannya.


"Sayang! ayo makan! Semua sudah disiapkan" Ucap Yue Ao Zisi bergelayut manja setelah melihat suaminya memasuki rumah.


Terlihat Cao Ling An istri pertamanya juga sudah menunggu dan dia menarikkan kursi untuk suaminya duduk disebelahnya. Zhang San pun duduk disana di antara dua wanita yang memanjakan dirinya.


"Paman! Sudah lama disini?" Tatapnya kepada Tian Zhu yang duduk berhadapan dengan Yu Ling An ibu mertuanya

__ADS_1


Tapi yang ditanya malah asik saling memandang satu sama lain, 'Sepertinya Paman Tian Zhu menyukai ibu mertua' Dia pun menyelipkan senyuman diwajahnya. "Sayang! sepertinya mereka sedang jatuh cinta" Bisik Zhang San di telinga istrinya.


Cao Ling An pun segera menoleh ke arah dua orang itu, yang sedari tadi diam dalam pikiran masing-masing "Sepertinya memang begitu" Balasnya berbisik lalu berkata lagi "Kasian juga ibu, semenjak aku lahir belum menikah lagi, Jadi mungkin ini waktu yang tepat untuk memulai, Paman Tian Zhu juga orangnya baik dan ramah" Dia tersenyum memikirkan ide itu.


Segera dia bangkit dari duduknya lalu mendekat kearah ibunya dan meraih tangan itu lalu meraih tangan Tian Zhu kemudian menyatukannya, Lalu dia pun berkata "Jangan dipendam, Katakan saja bila suka, Aku tidak masalah" Ucap Cao Ling An


Sebagai putri dia memahami perasaan ibunya, mungkin masih ada jejak rasa dengan ayahnya yang sudah meninggal, tapi jika terus seperti itu, akan sampai kapan?


Dua orang yang disatukan tangannya pun melotot kearah Cao Ling An tapi tidak ada dari mereka yang menarik tangan. Seolah tautan dari tangan Cao Ling An itu telah diberi lem perekat.


Lalu wajah Yu Ling An pun jadi memerah dan terdengar suara dari Zhang san "Kami bertiga mendukung kalian untuk bersatu" Ucapnya setelah dia memeluk kedua istrinya.


"Aih sudah begini apa yang harus disembunyikan" Ucap Tian Zhu, "Aku memang bukan anak muda lagi, dan ini juga bukan untuk yang pertama kali, Tapi jika kau menerima hal ini, Maka kita bisa menikah dan menjadi suami istri" Ucapnya lagi lalu mempererat pegangannya pada tangan Yu Ling An.


"Mm" Yu Ling An mengangguk setelah cukup lama berpikir dan membuat ketegangan di hati orang yang menantikannya. bukan hanya Tian Zhu yang merasakan debaran jantung ketika menunggu jawaban tapi tiga orang itu juga mendapat hal yang sama yang ingin didengar


Setelah anggukan itu terlihat oleh mereka segera raungan kebahagian terdengar.


"Selamat ya Ibu" Ucap Cao Ling An dengan bulir air mata bahagia memeluk sang ibu tercinta


"Selama ya Ibu" Yue Ao Zisi juga memeluk dari sisi sebelahnya.


Mereka bertiga berpelukan dan Yu ling An juga meneteskan air matanya dan mencium dua pucuk kepala ananknya itu, Yu Ling An menganggap Yue Ao Zisi sebagai anak karna dia juga adalah istri dari menantunya

__ADS_1


Sedangkan Zhang San memeluk Tian Zhu dan berkata "Selamat Paman, Kini kau menjadi ayah mertuaku, Hal ini tak pernah diduga" Ucapnya


__ADS_2