
Zhang San berhasil menembus Lorong Spasial meski dengan resiko yang ada. Jika saja tulang dan fisik nya tidak cukup kuat. Mungkin akan hancur meski telah di selimuti energi bintang.
Zhang San mengedarkan persepsi nya namun dia tidak menemukan pergerakan dari kelompok murid sekte.
Dia duduk dan mengambil Pil penyembuhan tingkat tinggi lalu mulai menyembuhkan luka akibat dengan paksa menerobos masuk.
Setelah merasa sudah cukup baik. Dia langsung berdiri dan terbang kesembarang arah. Dia tak tau dunia kecil ini seluas apa. Yang pasti nya dia ingin berburu monster dan daging nya di berikan untum konsumsi murid sekte nya.
Dari atas dia melihat ada satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang sedang bertarung dengan tiga Harimau Buas yang setara dengan tingkatan suci tahap awal.
Tiga di antara nya adalah wanita. Dan tujuh orang lain nya adalah laki- laki. Mereka memakai pakaian yang senada. Baju putih yang bertuliskan sekte Bintang Terang di lambang yang ada di dada sebelah kanan mereka.
Zhang San melewati mereka. Dia bukan lah pahlawan yang suka menolong orang. Dia hanya menolong jika dia ingin menolong dia sudah banyak belajar dari hal tolong menolong.
Lima kilo meter perkiraan Zai melihat ada Monster ular sepanjang sepuluh meter sedang melingkar dan terlihat menjaga sesuatu. Bukan hanya panjang. Ular itu juga besar sebesar dua batang pohon kelapa.
Zhang San singgah di dahan pohon sekitar dua meter dari ular itu. Dia menghilangkan tingkat kultivasi nya agar ular itu tak merasakan kehadiran nya.
Setelah memperhatikan tanaman yang di jaga nya. Zai mengingat kembali dalam catatan buku teknik meracik Obat. Bahwa tanaman itu adalah tanaman Herbal darah api. Yang mampu meningkat kan Qi api. Dan terlihat dari warna daun nya yang sudah sangat merah. Dapat di pastikan itu sudah berusia ribuan tahun.
Zhang San tanpa peringatan langsung melompat kearah kepala ular itu dan memukul kan tinju nya dengan keras.
Kepala ulat itu terjatuh namun dia tidak secepat itu mati. Kulit nya sangat lah keras. Dan seperti cambuk yang siap meremuk kan tulang. Ekor ular itu menghantam Zhang San yang masih berada di udara.
Bammm...! Dia menangkap ekor ular itu. Lalu membawa nya melesat naik ke atas. Kepala ular tak tinggal diam ekor nya di tarik paksa. Dia langsung menyemburkan nafas api nya.
__ADS_1
Buuuuuuuz...! Api berwarna merah sedikit lagi mengenai Zhang San. Tapi dia melenting kan tubuh nya pada bagian belakang ular itu sebagai pijakan.
Roaaaaar... Ciiiiiizzz..! Ular itu meraung dan mendesis marah dia terjatuh dengan keras ketanah. Menaikan debu yang beterbangan dia bangkit dan separo dari tubuh nya berdiri tinggi dengan mulut yang terbuka. Terlihat ada sedikit asap yang keluar dari sela taring nya. Dia mengamati sekeliling nya dan melihat tanaman yang dia jaga menghilang.
Seandai nya dia bisa bicara. Mungkin dia akan menyumpahi Zhang San yang mengambil Harta berharga nya.
Ular itu mengibaskan ekor nya dan menghancurkan sebagian pepohonan yang ada di dekat nya. Untuk melihat mangsa nya bersembunyi di mana. Dia tidak ingat saja bahwa mangsa nya bisa terbang.
Setelah memperhatikan tanah yang kini lapang. Tapi juga tidak menemukan. Lalu kepala nya mendongak keatas dan melihat disana, dia mendapati manusia yang tersenyum meremehkan nya. "Sialan manusia ini" mungkin begitu umpatan nya. Tapi tidak ada yang tau.
Zhang San mengeluarkan Pedang nya. Dengan kulit yang keras tak mungkin dia membunuh monster ular dengan pukulan.
Zhang San menghilang dari pandangan Ular itu lalu terdengar di samping telinga nya "Teknik pedang Petir, Amarah Dewa" ucap Zhang Sambil menebas kan pedang nya dari kepala hingga terbelah sampai ke perut.
Ular itu pasti tak mengira akan mati tanpa bisa melukai pembunuh nya.
Lalu Dia terus terbang hingga setengah hari berlalu, dia pun istirahat alakadar nya saja di bawah pohon.
Zhang San duduk lama disana sambil berkultivasi kemudian dia mendengar suara langkah kaki yang banyak sedang mengelilingi nya.
"Kalian mau apa?" Tanya Zhang San yang masih memejam kan mata.
"Serah kan tanaman herbal darah api yang kau ambil tadi. Atau kau akan menerima akibat nya" salah seorang mengancam
Lengkungan tipis tercipta di sudut bibir nya. Ini lah keserakahan yang mengingkan milik orang lain.
__ADS_1
"Apa kalian tidak malu Memakai jubah sekte dari aliran putih tapi kelakuan seperti aliran hitam" ucap Zhang San mengingat kan.
"Jangan banyak bicara, cepat serahkan juga cincin dimensi mu" dia mengulurkan tangan meminta barang dari Zhang San
"Hahaha hahaha....." Zhang San tertawa lalu berdiri, "jika kalian mampu ambil lah" ucap nya lagi
Lima belas orang dalam satu kelompok berjubah sekte Bintang Terang yang di ketuai oleh seseorang yang berada di tingkat kaisar tahap puncak. sedang mengurung seorang pemuda yang tidak lain adalah Zhang San. Dari kejauha banyak yang melihat namun tak ada yang berniat membantu. Karna yang kuat akan di hormati. Yang lemah akan di binasakan. Itu lah pola pikir mereka.
Fen Dihao melihat dari puncak pohon bersama dua orang teman nya.
"Apakah kita akan membantu nya" tanya teman di sebelah kiri nya yang terlihat cantik memakai jubah agak ketat.
"Tunggu dan lihat dulu. Jika dia sudah terdesak kita akan turun membantu" sahut Fen Dihao yang tetap tenang. Sedetik dia berbicara mata nya menyipit melihat adegan lima orang terlempar dan langsung mati di tempat.
"Dia ternyata lebug kuat dari yang kita kira" ucap lelaki yang ada di sebelah kanan.
"Kau benar Fen Jing" ucap Fen Dihao "ayo kita pergi dari sini sebelum binatang buas berdatangan" kata nya lagi mengajak dua orang yang berada di samping kanan dan kiri nya.
Sedang kan di sisi Zhang San. Hanya tersisa tiga orang lagi yang terlihat kuat. Namun itu hanya seperti semut di mata nya.
"Jika kalian tidak mengusi ku. Mungkin kalian akan hidup lebih lama lagi. Karna sudah datang dengan niat merampok. Jangan pergi sebelum mati" ucap nya setelah melihat satu orang berlari menjauhi pertarungan.
Dia membentuk pedang aura lalu melemparkan nya.
Swoooosh...!! Pedang kecil yang hanya terlihat seperti bilah angin itu melesat dengan kecepatan yang sulit di ikuti oleh mata
__ADS_1
Slup....! orang itu jatuh tersungkur di jemput kematian.