
Disisi lain Xin Qian tak mengetahui rencana ayah nya..
Dia asyik dengan pikiran nya sendiri. Namun satu hal yg pasti. Bayangan gagah Zhang san sa'at menyelamat kan nya terus terputar dalam memory nya. Dan sa'at dia berada di punggung nya. Sangat mengasyik kan, Debaran jantung itu tak pernah terjadi meski dia dekat dengan lelaki lain. Dia ingin merasakan nya lagi, lagi dan lagi.
.....
Patriak Xin dengan sengaja menyebarkan rumor bahwa putri nya Xin Qian telah bertunangan dengan seorang pemuda. meskipun Zhang San sudah menolak tapi patriak xin menjelaskan hanya meminjam nama saja. Jadi Zhang San membiarkan nya.
Berita itu menyebar dengan cepat, Lalu Terjadi lah kegemparan di kota BULAN MERAH.
Apa lagi di kediaman Klan Chang. Lebih tepat nya di ruangan Chang Jerue. Dia menghempaskan setiap barang yg ada di meja melampiaskan kekesalan nya.
"Rupa nya Xin Kangjian gagal melakukan misi nya, tak seharus nya aku menyuruh nya" gumam nya lalu dia duduk sambil memegang kepala nya. Kemudian berteriak kepada pelayan nya yg slalu menunggu di depan pintu.
"Pelayan. Panggil kan aku Chang Wudi, suruh dia secepat nya kesini" teriak nya dengan marah.
"Kenapa aku harus terjebak di tempat ini, dengan tuan yg arogan" gerutu pelayan itu. Namun dia tetap bergegas mencari Chang Wudi. Jika tidak selesai lah iya.
Chang Wudi bergegas setelah mendengar apa yg di sampaikan pelayan itu..
"Ada apa tuan muda memanggil ku" ucap nya setelah sampai di depan pintu.
Pintu terbuka menampilkan sosok yg tampan dan gagah namun dengan perangai yg sombong lalu dia berkata.
"Ikuti aku. Dan jangan banyak bertanya" Ucap nya langsung berjalan di depan.
.....
Sedang kan disisi Xin Qian dia berdebat dengan ayah nya
"Ayah. Kenapa kau tak membicarakan nya dulu dengan ku. Aku malu ayah, apa yg di pikirkan Senior Zhang nanti nya."
__ADS_1
"Tenang lah. Ini demi kebaikan mu. Apa kau ingin tuan muda Chang mengganggumu terus, jika seperti ini kemungkinan dia akan menyerah"
"Kau salah ayah. Aku tau pemikiran nya. Dia tak mungkin melepaskan aku begitu saja. Apa lagi dengan senior Zhang, dia pasti akan menantang nya. mungkin sebentar lagi dia akan sampai disini" Ucap nya sambil memijit kepala nya.
Zhang San berjalan sendiri di kediaman Klan Xin. Para murid dan anggota klan yg melihat nya lewat menyapa dengan Hormat. Karna tau dia adalah calon tunangan putri patriak.
Dia berkeliling melihat lihat wilayah itu. Hingga sampai ke tempat latihan angota elit Klan Xin.
Dia menyapa mereka lalu melangkah kan kaki nya. Namun salah satu dari mereka berteriak.
"Tuan muda. Bisa kah kita latih tanding" ucap nya. Dia merasa hebat karna sudah di tingkat prajurit. Padahal bakat nya biasa- biasa saja. Tapi dikota ini untuk umur enam belas tahun yg sudah mencapat tingkat prajurit di anggap jenius.
"Ma'af aku sedang tidak ingin" ucap nya sambil menangkupkan tangan dengan hormat. Namun penolakan itu di anggap nya meremehkan.
Lalu dia berkata "Apakah tuan muda takut" ucap nya. Karna dia tak bisa melihat tingkat kultivasi Zhang San. Jadi dia berlagak kuat.
Mendengar itu. Zhang San tersenyum. Lalu melompat ke arah arena latih tanding.
"Cepat lah naik, aku tak ingin berlama- lama disini." Ucap nya.
"Aku akan jadi wasit nya" ucap seseorang yg terlihat seperti guru disana.
"Karna ini latih tanding biasa. Jadi jangan sampai kalian cacat atau pun mati, apakah kalian mengerti?" tanya wasit dengan tegas
Zhang San hanya mengangguk. Tapi tidak bagi pemuda itu. "Aku akan mengontrol kekuatan ku guru" ucap nya dengan penuh percaya diri.
Guru yg menjadi wasit hanya menggelengkan kepalanya. "Dia tak kan mengerti ada orang yg tak boleh di provokasi. Semoga ini menjadi pelajaran buat nya" guru itu membatin.
Guru itu mengangkat tangan nya lalu berteriak, "Mulai..!"
Pemuda itu mulai memperagakan gerakan yg dia pelajari selama ini. Dengan satu tangan mengepal di samping pinggang dan satu tangan nya lagi di belakang. Lalu melompat ke arah Zhang San dengan kepalan tangan yg sudah menghadap kedepan. Dan satu tangan terbuka dia simpan.
__ADS_1
Namun Yg membuat pemuda itu heran. Zhang San masih tak bergeming dari tempat nya berdiri. "Jika kau ingin mati, akan ku kabulkan" kepalan tangan menderu memecah angin. Wussssh...!
Zhang San bergerak kesamping. Lalu menangkap pergelang tangan pemuda itu. lalu memukul siku dengan telapak tangan kiri nya. Lalu menendang kearah perut. Bugh....
Ugh... pemuda itu memegang siku dan perut nya yg sakit "Ada orang yg tak boleh kau provokasi" ucap Zhang San lalu turun dari arena latih tanding tersebut.
"Ma'af senior " ucap nya menangkupkan tinju ke arah guru yg menjadi wasit.
Guru itu tersenyum lalu mengangguk kan kepala nya.
Di balik tiang penyangga rumah. Patriak Xin melihat aksi terpuji Zhang San lalu bergumam. "Sungguh pemuda yg baik. Andai pertunangan itu bukan pura- pura. Pasti dia bisa menjadi pemimpin menggantikan aku suatu sa'at nanti..."
Xin Qian mencari Zhang San ketempat latihan setelah bertanya kepada beberapa orang yg melihat nya.
"Kenapa kau berjalan sendiri. Aku bisa membawa mu berkeliling" ucap Xin Qian yg sudah berada di samping Zhang San.
"Aku hanya tak ingin merepotkan mu" Sahut nya singkat dan terus melangkah ke arah taman. Xin Qian terus mengikuti nya dari belakang.
"Dingin sekali dia, seharus nya wanita kan yg lebih dingin" batin nya menggerutu tak terima Zhang San lebih dingin dari dia.
"Aku akan berangkat besok" ucap nya kepada Xin Qian.
Xin Qian terkejut. "Kenapa sangat cepat kak Zhang" ucap nya mengubah panggilan nya dari senior menjadi kak. agar terasa lebih dekat.
"Aku menghawatikan istri ku" ucap nya
Duaaaar...! Seperti meledak hati nya. Ketika kata istri terucap dari orang yg mulai mengisi hati nya.
Kenyata'an itu tak mudah di terima oleh Xin Qian. Air mata begitu saja jatuh ketanah.
"Ma'af...!" Ucapan itu sayu terdengan dari mulut Xin Qian.
__ADS_1
"Tak sepantas nya memang aku menahan mu. Aku menyadari seorang seperti mu. Tak mungkin tidak ada yg memiliki. Tapi tak bisa kah aku mengisi sisi hati yg lain nya" Xin Qian mengungkap kan perasa'an nya. Yg seharus nya bahagia. Tetapi duka yg ada.
Aku bukan lah orang yg mudah jatuh cinta, aku sudah lama menutup rapat hati, namun entah apa yg membuat ku berubah dan justru ingin mendapat kan mu, tapi apalah daya, aku hanya bisa menyimpan perasa'an ini. Karna perasa'an mu tak sama dengan ku"