
Sepasang mata memandang dengan tatapan tajam disebuah kamar yang cukup tinggi namun tidak berada jauh dari arena hingga memungkinkan dia untuk melihat pertandingan untuk mencari menantu itu.
Sudah banyak yang mengejarnya, Semenjak dia berada di Alam Dewa, Tidak terhitung jumlahnya dari Klan besar bahkan dari Sekte besar yang mengajukan lamaran pernikahan untuk tuan muda mereka dan juga menawarkan harta dan semua yang di inginkan asal dapat mempersunting dirinya.
Namun, Dia yang memiliki cinta masa lalu yang masih melekat dihatinya, Membuatnya harus mengabaikan orang lain yang mengejarnya.
Ada kalanya dia tidak ingin berwajah cantik, Agar orang tidak mengganggunya. Dia merasa risih dengan perlakuan itu.
Namun terkadang dia juga ingin tampil cantik, Tapi itu hanya dihadapan pasangannya.
"Apa kah itu kau, Kau yang selalu aku Rindu, Kau yang selalu membuatku termenung dengan air mata dalam lamunanku, Kau yang selalu hadir di mimpiku, Kau yang selalu aku tunggu, Kau yang selalu membuatku ingin kita bertemu" Lirih dalam perkataannya.
Dua orang pelayan wanita dibelakangnya. terkejut ketika mendengar lirihan kalbu itu. dan mereka saling memandang satu sama lainnya.
"Apa kah dia orang yang selalu Nona ceritakan?" Salah satunya memberanikan diri untuk bertanya.
Nona muda itu menoleh kebelakang, Lalu mengangguk dengan air mata yang mengalir diwajahnya.
"Ya! dia yang berjanji untuk menemuiku lagi. Di satu sisi aku ingin sekali bertemu denganya, memeluknya dan bersamanya. Dan sisi yang lainnya aku tak ingin bertemu karna perasaan bersalah dimasa lalu yang masih membayangi" Ucap dengan bibir bergetar sambil memeluk dan menyandarkan pipinya ke perut pelayan itu.
"Nona Muda, Jika Nona yakin itu dia, Nona harus menemuinya, Untuk masalah yang telah lalu bisa dibicarakan kembali dan mengambil sisi baiknya" Pelayan itu menasehati sembari mengusap pucuk kepala Zhou Ruyue.
"Kau benar, Tapi" Zhou Ruyue berpikir terlalu lama.
"Tidak usah memikirkan hasilnya, Yang terpenting kau bertemu dengannya dulu" Ucap pelayan itu yang langsung menggerakkan hatinya. "Ayo bergegas sebelum Kakek Nona menghajarnya" Tambah pelayan itu dengan sedikit candaan.
Zhou Ruyue langsung berdiri dan berlari keluar dari kamarnya menuju panggung.
__ADS_1
...........
Sedangkan di Panggung Arena Zhang San segera menyahut "Terima kasih, Karna Patriak sudah mau mengalah dengan junior ini" Sahutnya dengan sebuah senyuman yang tersungging.
"Mm" Patriak Zhou Shuyan mengangguk lalu menyapukan pandangannya ke segala arah dan menggunakan energi Qi untung melantangkan suaranya. "aku umumkan, Pemuda inilah pemenangnya" Ucapnya pelan tapi mampu didengar oleh semua orang.
Para peserta yang belum bertanding merasa kecewa. lalu salah satu orang yang sebelumnya meremehkan Zhang San, berteriak. "Aku tidak terima keputusan ini, Kami belum naik bertanding, Kenapa sudah diputuskan pemenangnya, Apakah ini memang sudah direncanakan, Bagaimana mungkin seorang tingkat Dewa Biru tahap Menengah mengalahkan Tingkat Dewa Merah tahap menengah. Apa kalian semua percaya akan kemungkinan itu? aku sangat tidak percaya. ini bukan hanya sekerdar perbedaan tingkat, Namun juga perbedaan ranah!"
Asumsinya membenarkan apa yang dipikirkan oleh semua peserta, mereka sangat kecewa dengan kemenangan pemuda itu. biar bagaimanapun memang tidak masuk akal, Sejenius-jeniusnya kultivator hanya mampu melawan orang yang berada di atas tingkatannya, Paling banyak dua. Namun itu tetap berada pada tingkatan yang sama hanya tahapan saja yang berbeda.
Tapi kasus Zhang San yang di cekal kemenangannya memang merugikan mereka, Sebab Zhang San terlihat hanya berada di tingkat Dewa Biru tahap menengah. Perbedaan ranah ini yang mereka tidak terima.
Zhang Yimin yang duduk santai sambil menyesap minuman yang dia beli. begitu santai tidak mengambil pusing lalu dia bergumam "Kalian tidak tau saja sedang mengejek Naga yang diam"
Ada orang yang mendengarnya, Orang itu adalah yang memberi informasi kepadanya sebelumnya. dia mendekat karna sebelumnya dia meremehkan pemuda itu, Namun nyatanya dia lah yang tidak tau. ibaratnya dia hanyalah katak dalam sumur.
"Oh kau yang meremehkan Ponakanku tadi ya" Ucap Zhang Yimin langsung menebak.
'Dari mana dia tau aku meremehkan ponakannya' wajahnya sedikit berubah namun itu hanya sebentar saja.
"Haha aku hanya menebak saja, aku yakin semua orang memandang remeh dia karna memiliki tingkat dewa Biru Tahap menengah saja, Namun semua orang yang ada disini hanya melihat tampilannya saja, Tidak melihat kemampuannya. Sebagai Pamannya, Aku saja tidak bisa mengalahkannya dengan mudah!" Ucap Zhang Yimin lantang agar semua orang mendengarnya sembari membocorkan auranya
Semua orang yang ada disana mengarahkan pandangannya pada satu sosok yang berbicara lantang, dan mereka pun menelisik tingkatan tetua yang berbicara itu, Mereka mendapati Tingkatan yang luar biasa. Yaitu, Tingkatan Dewa Merah tahap Puncak.
Kerumunan orang itu langsung berspekulasi dalam pikiran mereka. antisipasi yang keras muncul dalam hati mereka. sebagian orang yang berpikir itu langsung menjauh dan tak ingin lagi mengejek.
Bukan takut dengan yang ada di panggung, Namun takut dengan sosok itu yang aura nya saja membuat mereka mundur.
__ADS_1
Zhang Yimin tidak menghiraukan mereka, dia melompat ke Arena lalu berkata "Salam Patriak Zhou, Aku adalah Zhang Yimin dan ini adalah Ponakanku Zhang San" Ucapnya lalu memandang ke arah Zhang San kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah Patriak Zhou dan berkata lagi "Jika tidak mau menjadi menantu! Barang berharga apakah yang akan kau berikan untuk ponakanku ini? Patriak!"
Zhou Shuyan terdiam sejenak dan memejamkan mata lalu berkata "Salam juga tetua, Aku tidak menyangka, Tempat kecil seperti kota ini akan kedatangan orang besar dari Klan Zhang"
Segera hati semua orang bergemuruh, mereka tercengang dan merasa takut, Karna Klan Zhang yang ada di ibu kota kekaisaran adalah salah satu dari Empat Klan Besar yang tidak boleh disinggung.
Meskipun sebagian dari mereka yang hanya menonton atau pun peserta yang ikut, berasal dari Klan besar. Namun, jika harus membandingkan dengan Klan Zhang. itu sangat tidak layak.
Seseorang langsung menyelinap pergi ketika kerumunan orang sedang berdiskusi dengan hati dan pikiran mereka sendiri, Hingga tak ada yang melihat kepergiannya. orang itu adalah yang menentang kemenangan Zhang San.
'untung aku bisa pergi! Jika tidak, Mungkin aku bisa jadi acar" Hatinya gelisah dan bergegas pulang
Zhou Ruyue yang mendengar nama yang disebutkan itu pun segera melompat ke atas arena dengan penutup wajah yang terpasang sebagai cadar untuk menutupi kecantikannya.
Namun, Itu tidak benar-benar menutupi kecantikan, Semua lelaki masih dapat menilai bahwa wanita itu cantik meskipun dia memakai cadar.
Zhou Shuyan terkejut melihat Cucunya itu naik ke atas panggung arena. Sedangkan dia belum memanggilnya
"Ada apa Yue'er?" Tanya Zhou Shuyan dengan eksperi bingung diwajahnya. Namun pertanyaannya tidak dijawab. Malah Zhou Ruyue terlihat mendekati Zhang San yang masih tidak sadar siapa wanita yang mendekat ke arahnya.
"Kak Zhang?" Suaranya terdengar merdu.
Zhang San diam dengan sejuta pertanyaan, Dia baru sampai, tapi ada yang kenal dengan dirinya. Namun dia seperti mengenal suara itu. Tapi dia tak yakin apakah itu benar, Meski marga mereka sama, kemungkinan itu sangat tipis terjadi.
Melihat Zhang San teridiam. Zhou Ruyue membuka cadarnya. Seketika semua orang yang hadir berkata dengan kalimat yang sama "Sangat cantik"
"Apakah dia bidadari dari Syurga?"
__ADS_1