(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
10. Bukan Untukku


__ADS_3

Setelah sarapan, Dinda menyendiri di taman belakang rumahnya. Ia ingin menenangkan pikirannya yang saat ini sedang kalut. Ia hanya berharap tetap bisa berteman baik dengan Ariel meski ada rasa yang ia pendam. Ingin rasanya untuk ungkapkan saja agar tak jadi beban pikiran, namun hati Dinda masih gengsi. Karena itu bukan dirinya yang berani mengungkapkan perasaan. Dinda yang galau pun memutuskan untuk serahkan saja pada Tuhan. Jika Ariel yang ditakdirkan untuknya, pasti akan kembali dengan caranya sendiri. Namun jika tidak, maka biarlah Dinda menguatkan hatinya agar tak kecewa.


Dinda sebenarnya heran, ia saja kenal Ariel baru sebentar, tapi mengapa bisa-bisanya ia begitu mudah jatuh cinta. Dinda memang mengakui jika Ariel sangatlah spesial. Ia ramah, punya senyum yang tulus dan hangat, memperlakukan Dinda dengan manis meski kadang bicara seenaknya, punya tubuh yang sempurna, pake baju apa aja kesannya keren, bahunya lebar, wangi, tinggi, tampan, anak tunggal pula.


Pewaris tahta satu-satunya, bisik Iblis di samping Dinda.


"Arggg, sok cool aja deh. Dia negur, ya tegur balik. Dia buang muka, ya udah gak masalah" begitu keputusan Dinda akhirnya.


Siang hari


Dinda yang sedang di perjalanan menuju kampusnya tidak sadar jika handphone dalam tasnya bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Ia asyik nyetir dengan fokus ke jalan dan saat melewati kantor Ariel ia melirik sebentar lalu kembali fokus kedepan.


Setelah sampai dikampusnya, Dinda segera turun dan menuju kelasnya. Saat sudah sampai dikelas, Dinda duduk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik bercerita tentang pacar mereka masing-masing. Karena Dinda tidak punya pacar dan belum pernah menjalin hubungan yang namanya pacaran, jadi Dinda tidak banyak bicara dan hanya jadi pendengar.


Sekian lama jadi pendengar yang baik, Dinda pun bosan dan mencari-cari handphonenya di dalam tas. Setelah ketemu, Dinda langsung heran, karena ada panggilan tak terjawab dari Ariel. Dinda pun senang, sebab itu artinya Ariel masih peduli dan tetap mau berteman dengannya. Dinda pun mencoba menghubungi Ariel balik, tapi baru saja panggilannya tersambung dosennya datang. Alhasil Dinda gagal menghubungi Ariel saat itu.


Di kantor Ariel


Ariel yang sedang memantau kinerja karyawannya, seperti uring-uringan saat itu. Pikirannya kalut, wajahnya tampak tak secerah biasanya. Apalagi saat panggilan teleponnya tadi tak di jawab oleh Dinda, makin kusutlah penampilannya saat ini. Ia pikir Dinda illfeel padanya karena terlalu cepat nembak dan pasti Dinda berpikir ia adalah laki-laki yang ke-pede-an. Padahal ia pun malam itu belum berniat untuk nembak Dinda, ia masih ingin pikir-pikir dulu tapi justru yang ia lakukan malah membuatnya berakhir seperti ini.


Setelah panggilan teleponnya tadi tak dijawab oleh Dinda, Ariel sebenarnya masih ingin mencoba. Namun, takut tak dijawab lagi, ia pun mengurungkan niatnya.


Setelah 30 menit berlalu, Ariel yang sudah selesai dengan pekerjaan memantau kinerja karyawannya hari ini, sedang duduk diruang kerjanya dengan gelisah menatap layar handphonenya. Dengan dasi yang ia kendurkan, rambut yang tadinya rapi sudah berantakan. Ariel sudah berubah, kalau dulu cewek-cewek banyak mengejarnya, sekarang justru ia mengejar satu cewek saja tidak bisa. Dinda membuatnya tak lagi tertarik dengan perempuan sosialita yang dandanannya menor, di kelilingi barang branded, kemana-mana di antar sopir. Saat ini Ariel sudah dibuat bertekuk lutut pada gadis manja anak tetangganya yang kemana-mana sendiri, tidak gila barang branded padahal keluarganya cukup kaya, lalu gaya hidupnya sederhana, bahkan ia suka makan pinggir jalan.


Ariel yang sedang termenung memikirkan Dinda, tiba-tiba sadar karena dering handphonenya sendiri. Melihat nama Dinda terpampang di depan matanya membuat senyum di bibirnya hampir saja terukir, sebab belum sempat ia mengangkat telepon tersebut, panggilannya sudah dimatikan oleh Dinda.


"Lho, kok mati? Apa cuma salah pencet ya?" ucap Ariel yang menduga-duga.


Hanya perkara Dinda yang meneleponnya sekejap itu, membuat Ariel tak mau makan bahkan sepertinya perutnya yang kosong sejak pagi itu tak bisa lagi merasakan lapar, meski terdengar "krok krok" dari perutnya, ia tetap tak memperdulikannya.


Ia kemudian berpikir, apa jangan-jangan disana Dinda bahkan tak memikirkannya, jangan-jangan saat ini Dinda sedang tertawa bersama teman-temannya, berkumpul, makan enak, pesta-pesta.

__ADS_1


Setelah mengira Dinda tak galau karenanya, akhirnya Ariel pun menggerakkan kakinya menuju kantin untuk mengisi energi yang sudah terkuras habis karena Dinda. Ya, memikirkannya.


Saat hari sudah sore, jam kerja pun akan segera habis. Ariel yang berada diruang kerjanya berusaha mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Dinda. Pokoknya, sebelum langit menjadi gelap, ia ingin hubungannya dengan Dinda kembali seperti sedia kala, yang hangat, yang ceria, penuh candaan, tidak canggung, dan banyak lagi yang ia inginkan. Salah satunya jadian. Ops!


Ariel pun menelepon Dinda...


tuuut...tuuut...tuuut


"Halo" sapa Dinda tanpa gugup sedikitpun.


"Ha...halo, lagi dimana?" tanya Ariel yang berusaha sesantai mungkin.


"Dikampus, baru aja mau pulang. Kenapa?" tanya Dinda yang heran karena tak biasanya Ariel menelponnya sore-sore begini. Ariel kan masih dikantor juga, pikirnya.


"Mau ajak kamu makan" ucap Ariel tiba-tiba.


"Kapan?"


"Aku masih kenyang"


"kalo nanti malam?" tawar Ariel yang masih berusaha agar Dinda bisa ia bawa jalan.


"Ga bisa, aku banyak tugas" tolak Dinda yang sengaja, karena dari cara bicara Ariel ia sudah tahu pasti ada sesuatu yang mau Ariel perbuat.


"Kalo gitu aku bantuin aja tugasnya" ucap Ariel tanpa pikir panjang.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Dinda sambil senyum-senyum dan tentu tak terlihat oleh Ariel.


"Emh, emang tugasnya apa?" tanya Ariel kemudian


"Bikin ringkasan tentang sistem hukum di Indonesia, wajib tulis tangan"

__ADS_1


"Oke, gampang. Biar kamu liat tulisan aku sebagus apa" ucap Ariel dengan PD-nya.


Asyikk, dah baikan ni. Ucap Ariel senang dalam hati.


"Huh, emang situ doang yang tulisannya bagus?" ejek Dinda yang tak mau kalah.


"Ember" jawab Ariel sekenanya.


"Cuih, gua tunggu lo di rumah gua ntar malam jam 7 lewat 2 menit" ucap Dinda asal.


"Busyet, harus banget tu lewat 2 menit?" tanya Ariel yang geleng-geleng kepala dengan kelakuan Dinda yang menurutnya selalu ada-ada aja.


"Anak hukum emang harus gitu, serba detail" ucap Dinda menyombongkan diri.


"Iya deh, ampun yang mulia" jawab Ariel yang sok mengalah


"Mau pulang nih, aku matiin ya" sela Dinda mengakhiri obrolan ngalor-ngidulnya.


"Iya, hati-hati dijalan ya. Aku juga mau pulang. Eh barengan aja" ucap Ariel memberi ide.


"Terserah deh, kamu tungguin aja aku depan kantor kamu ya"


"Yeye, baikan"seru Ariel yang sengaja mengatakannya lalu ia mematikan panggilan teleponnya sehingga Dinda masih bisa mendengarnya.


Sedangkan di dalam mobil, Dinda ketawa-ketawa ga jelas karena mendengar "yeye" Ariel. Ternyata Ariel pun merasa tak nyaman jika mereka dalam mode sama-sama sungkan.


...-...


...-...


...-...

__ADS_1


Mohon kesediaannya untuk like dan komen ya, kan Otor juga perlu support dari kalian, duh gimana sih. Kan, jadi nyolot nih aku😏✌


__ADS_2