
Setelah kepulangan Dinda, Nanda ikut meninggalkan area parkir. Namun ia tak langsung menuju kamar Lita, melainkan menuju taman untuk menenangkan pikirannya sekaligus memikirkan apa yang harus ia perbuat untuk mendapatkan maaf Dinda.
Nanda kini sudah duduk di bangku taman. Dengan diterangi cahaya rembulan membuatnya teringat kembali ke saat dimana ia bersama Dinda dan yang lainnya membakar ayam dan jagung di rumahnya. Di malam itu juga Nanda menyatakan perasaannya pada Dinda. Dan belum sampai mereka jadian 1 bulan, Nanda sudah mengecewakan Dinda untuk pertama kalinya.
Nanda pun mengurungkan niatnya untuk menemani Lita lebih lama di rumah sakit ini. Ia akan menemani Lita malam ini saja. Selanjutnya biarkan teman yang lain yang menjaganya. Dan bagaimanapun reaksi Lita nanti, Nanda akan memberi pengertian pada Lita. Berbohong terkait pekerjaan, misalnya.
Setelah mendapat solusi atas masalah yang sedang dihadapinya, Nanda pun mampir ke Mushalla terlebih dahulu untuk menjalankan sholat dan setelah itu barulah ia kembali ke kamar Lita. Saat sampai di kamar Lita, ternyata Lita sudah tidur, Nanda pun menaikkan selimut Lita yang sudah turun ke kaki lalu mematikan lampu utama di kamar itu dan yang menyala hanya lampu remang-remang saja.
Nanda pun berjalan ke sofa. Ia melihat jam di ponselnya, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Bagi Nanda ini masih terlalu cepat untuk tidur bagi orang yang terbiasa begadang seperti dirinya. Akhirnya Nanda hanya mengotak-atikkan ponselnya sambil berselancar di dunia maya.
"Nan" panggil Lita.
Nanda yang sedang fokus pada layar ponselnya tak mendengar panggilan Lita. Bukan sengaja, memang benar-benar tidak dengar saking asiknya.
"Nandaa" panggil Lita lagi. Namun masih tak mendapat sahutan. Akhirnya ia melemparkan bantalnya dan tepat mengenai tangan Nanda.
"Susu pantat" latah Nanda yang kaget karena tiba-tiba ada yang melempar bantal padanya.
"Heh, liat apa lo di HP? Mulai aneh-aneh lu ya" umpat Lita karena menduga Nanda menonton video plus-plus.
__ADS_1
"Sembarangan aja! Gue ga lihat apa-apa. Cuman liat Dinar Candu pakek bik*ini" jawab Nanda sambil menyodorkan ponselnya kepada Lita.
"Ogah gue lihatnya" Lita berpura-pura ingin membuang ponsel Nanda ke lantai. Namun buru-buru Nanda merebutnya dari tangan Lita.
"Nan, pengen pipis" lirih Lita meminta bantuan Nanda.
"Bentar, gue panggil suster". Nanda pun memencet tombol yang biasa ia gunakan untuk memanggil suster.
Baru beberapa jam di rumah sakit Nanda sudah hampir paham dengan semua perintilan-perintilan yang ada di ruangan itu. Bahkan ia sering memainkan infus Lita dengan mempercepat tetesan cairan infus sampai Lita protes karena dingin, katanya. Lalu Nanda akan mengembalikan ke tetesan yang seperti semula, yakni netesnya pelan tapi pasti.
Beberapa saat barulah suster yang Nanda panggil itu nongol. Setelah selesai membantu Lita, susterpun kembali ke meja kerjanya yang berada di ujung lorong dekat Lift.
Mereka berdua asik berkaraoke ria di dalam kamar. Sampai akhirnya mereka tumbang sendiri karena rahang yang pegal. Lita pun menarik selimut lalu kembali memasuki alam mimpi yang sempat terjeda.
Sedangkan Nanda yang kini tengah berbaring di sofa, masih sibuk mengatur-atur posisi sampai ia menemukan posisi yang di rasa paling nyaman, barulah ia akan memejamkan matanya.
Nanda terlelap, mengistirahatkan mata dan tubuh yang seperti tak kenal lelah. Berbeda dengan Lita, ia sebenarnya belum tidur. Ia hanya sedang menutupi sesuatu dari Nanda.
Sesuatu apa itu?
__ADS_1
Ya, setelah Nanda pergi ke kantin bersama Dinda. Sejujurnya Lita merasakan cemburu. Terlebih lagi kepergian Dinda dan Nanda sangat lama menurutnya. Ia membayangkan Nanda dan Dinda yang tengah asik pergi bersama dan telah membohonginya dengan mengatakan pergi ke kantin. Dan sepanjang kepergian Nanda, Lita merasa kesepian sehingga ia terlelap. Kemudian terbangun saat Nanda telah kembali.
Dan tadi, Lita sengaja memutar lagu yang di rasa bisa mewakili perasaannya tanpa harus ia sendiri yang mengatakan pada Nanda tentang apa yang ia rasa. Namun, Nanda tidak pernah peka akan perasaannya itu. Selalu saja Nanda menganggap pengakuan rasa suka Lita itu sebatas bercandaan yang tak perlu untuk di tanggapi. Sampai Lita merasa bahwa Nanda memang tak pernah menaruh rasa sedikitpun pada dirinya.
Lita memandangi Nanda yang tidur di sofa dengan posisi menghadap ke arahnya. Lita bertekad dalam hatinya:
Mulai malam ini, akan gue kubur semua perasaan gue yang tak pernah bisa lo balas. Gue akan jadi sahabat yang baik dan ga akan pernah mengharapkan lo lagi. Cukuplah gue cinta sama lo sampai sejauh ini. Dan mulai besok ga akan pernah lagi kuping lo dengar gue bilang suka. Hampir 7 tahun gue kenal lo, baru kali ini gue kecewa tapi ga bisa curhat sama lo. Karena gue curhat pun pasti ga akan lo tanggepin. Nyesek kan guenya. Pahit banget kisah cinta gue. Emang gue kurang apa sih, Nan? Segitunya banget lo nyiksa hati gue.
Lita pun menangisi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sama sekali tak ada niat sedikitpun untuk berusaha merebut Nanda dari Dinda. Karena Lita bukan wanita tak punya hati, ia hanya wanita yang suka bertindak sesuka hatinya dan tak memperdulikan apapun yang ada di sekitarnya. Ia selama ini tak bersikap ramah pada Dinda karena menurutnya untuk apa ramah sama orang asing dan belum tentu juga orang itu mau berteman dengannya. Cuek saja!
Entah jam berapa Lita tertidur, yang jelas Nanda dan Lita terbangun saat seorang Office Girl (perempuan petugas kebersihan) mengetuk pintu kamarnya untuk membersihkan lantai dan mengambil tong sampah di ruang rawat Lita.
Setelah petugas kebersihan itu pergi, Nanda pun menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu karena waktu sholat Subuh hampir habis. Lita memandangi segala aktifitas Nanda yang berlangsung di hadapannya. Mulai dari Nanda masuk kamar mandi sampai Nanda melaksanakan Sholat.
Gimana bisa aku nyingkirin kamu dari dalam hati aku kalo nyatanya kamu layak untuk di jadikan suami idaman. Dinda beruntung dapetin kamu. Dan Dinda beruntung jadi satu-satunya wanita yang lolos masuk ke kehidupan kamu, Lita ngebatin dalam hati.
"Assalamu'alaikum warahmatullah" Nanda mengakhiri sholat subuhnya lalu berdoa singkat dan melipat kembali sajadahnya. Ia menghampiri Lita lalu berkata "Buruan sembuh, biar gue sholat ada makmumnya".
Lita menggerutu dalam hati "ngomong tuh di ayak, suka banget liat gue menderita"
__ADS_1