
Dinda memutuskan pulang dari rumah Ayu pukul 5 sore. Itupun setelah di telepon-telepon oleh Mama dan Papanya.
"Din... mama udah di rumah. Kamu dimana? Pulang pulang, mama bawa oleh-oleh ni"
Kalimat "mama bawa oleh-oleh ni" yang membuat Dinda segera angkat kaki dari rumah Ayu. Padahal mereka sedang seru-serunya membicarakan tentang pernikahan. Meski yang di bicarakan kebanyakan pengalaman Ayu menjadi istri saja. Bukan pernikahan secara luas.
"Yu, gue pamit ya. Udah lama banget nih gue di sini. Malah duluan nyokap balik dari Medan ketimbang gue balik dari sini" ujar Dinda pamitan.
"Iya. Lo hati-hati. Perlu gue anter sampe depan ga?" tanya Ayu basa-basi.
"Halah. Sejak kapan gue jadi tamu spesial. Ga usah pencitraan lah" timpal Dinda seraya menarik tangan Ayu untuk mengikutinya ke depan.
"Tapi tangan gue di tarik" sambut Ayu.
"Nyokap bawa oleh-oleh katanya. Lo mau ga?" tawar Dinda.
"Mau-mau. Kalo ada, pancake durian yaa" sahut Ayu dengan semangat.
"Eh btw, Si Zapata gue kasih juga ga? Secara, gue ngerasa hutang budi nih sama dia" kata Dinda meminta pendapat Ayu.
"Lo ga usah ngerasa hutang budi gitu. Biasa ajalah. Tapi kalo lo mau ngasih sesuatu, ya boleh-boleh aja" sahut Ayu memberi saran.
"Dia suka apa? Maksud gue, makanan apa atau barang apa gitu. Biar gue beliin deh. Tar gue titip laki lu ya buat kasih ke dia" ujar Dinda.
"Gue juga gatau. Nantilah ya gue tanya laki gue dulu" ucap Ayu.
"Oke deh. Kalo gitu gue pulang dulu yaa... Daaah" ucap Dinda yang langsung menuju mobilnya yang berada di sisi samping rumah. Dan berpamitan pada Ayu karena Ayu hanya mengantarnya sampai teras depan saja.
Keesokan harinya pukul 10:00
"Assalamu'alaikum" ucap Dinda tepat depan pintu rumah Ayu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam. Masuk, Din. Bantuin gue ngurus anak sini" sambut Ayu yang melangkah lebih dulu ke dalam rumah menuju ruang keluarga.
"Nih, gue mau anter ini doang. Sesuai pesanan lo. Pancake durian spesial langsung di terbangkan dari Medan ke sini" ujar Dinda yang ga mau berlama-lama karena takut mengganggu aktifitas Ayu pagi ini.
"Jangan pulang dulu lah yaa... Temenin gue ngobrol bentar. Lu kan tau gue udah ga pernah nongkrong di luar lagi" ucap Ayu sambil memelas meminta kemurahan hati Dinda untuk menemaninya di rumah.
"Iya deh. Kasihan juga gue liat lo" sambut Dinda dengan wajah miris karena meledek Ayu.
Dinda dan Ayu pun kompak mengurus Hizam anaknya Ayu dan Aidil yang baru berusia hampir 1 tahun. Mereka bermain di ruang keluarga sampai 1 jam lamanya.
"Mba, pegang Ijam dulu ya. Saya mau ngobrol bentar sama Dinda" ucap Ayu sambil menyerahkan Ijam pada pengasuhnya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusan Ijam. Dinda dan Ayu pun berjalan ke teras depan sambil membawa sepiring kue yang tersedia di rumah Ayu.
"Gue semalam udah nanya sama Mas Aidil. Katanya si Zapata suka kue Brownies" ujar Ayu sambil mengerlingkan matanya pada Dinda.
"Kenapa mata lu? Mau gue colok?" ucap Dinda yang geli dengan kelakuan Ayu tersebut.
"Maksud gue, lo kan bisa tuh bikin kue. Ya udah, lo kasih dia pakek kue bikinan lo sendiri aja. Jangan beli, jadi kurang spesial jatohnya" saran Ayu yang membuat Dinda mikir.
"Emmm, boleh juga sih. Brownies panggang apa kukus?" tanya Dinda lagi.
"Ah elu, hal simple kaya gini di bikin ribet. Ambil amannya aja. Panggang" ujar Ayu yang kesal, karena mengapa semalam ia tak menanyakan sampai ke situ pada suaminya.
"Ya udah, besok kan senin? Gue ke sini pagi-pagi antar kue buat nitip ke suami lo ya?" ujar Dinda.
"Sip. Nanti buat gue juga ada kan?" canda Ayu yang senang sekali membuat Dinda repot.
"Ada. Tenang aja, sama Dinda semua pasti terjamin" sahut Dinda dengan membanggakan dirinya sendiri.
"Udah ya, gue mau pulang. Oleh-oleh nyokap gue masih banyak, mau gue habisin hari ini. Dulu masih ada Ariel enak, ada temen ngabisinnya" ucap Dinda yang tak sadar sudah bawa-bawa nama Ariel.
"Cieee... Nama Ariel masih di sebut-sebut" goda Ayu yang langsung menuai cubitan kecil dari Dinda.
"Gue lupa kalo hari ini gue resmi jadi jomblo" ujar Dinda.
"Kemaren-kemaren belom resmi?" tanya Ayu memancing Dinda untuk ngobrol lebih lama.
"Yang ngenes?" timpal Ayu.
"Betul sekali. Berasa jadi janda saya" ucap Dinda dengan mengacungkan 2 jempolnya pada Ayu.
"Hahaha, sembarangan aja kalo ngomong" tegur Ayu dengan menoel bibir Dinda.
"Udah ah, gue pulang ya... Mau bikin kue nih" pamit Dinda yang sudah berdiri sambil lihat-lihat ke kaca jendela untuk melihat penampilannya.
"Hati-hati di jalan ya" ujar Ayu lalu mereka cipika-cipiki.
Selama di perjalanan pulang, Dinda di temani lantunan lagu-lagu dari radio. Dari ke semua lagu yang ia dengar itu, kesemuanya adalah lagu galau yang membuat hati Dinda jadi merasa terluka lagi.
Lagu pertama
Tuhan tolong mampukan aku...
Tuk lupakan dirinya...
__ADS_1
Semua cerita tentangnya
Yang membuatku
Teringat akan cinta yang dulu
Lagu ke-2 (Last Child-Lagu Terakhir Untukmu)
Tuhan tolong tunjukkan bila memang aku yang salah
Di saat kau putuskan takdir kami untuk terpisah
Agar tiada kuulangi lagi kesalahanku
Walau tiada kumengerti
Alasan yang membuat kau pergi
Lagu ke-3 (Armada-Harusnya Aku)
Harusnya aku yang di sana
Dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau pilih
Dan bukan dia
Dinda membelokkan mobilnya di Komplek perumahan itu menuju ke arah jalan rumahnya, ia tak menyangka akan papasan dengan mobil Ariel yang malah mengklakson Dinda.
Runtuh sudah pertahanan Dinda. Sedari tadi ia menahan untuk "jangan menangis jangan menangis" tapi karena klakson yang sekali bunyi itu, berhasil membuat Dinda mewek sejadi-jadinya.
Ia merasa belum sanggup untuk mengalami hal seperti kejadian barusan. Di tambah lagu-lagu di mobilnya sangat mendukung dengan suasana hatinya saat ini.
Dinda sempat melirik ke mobil Ariel. Di dalamnya ada seorang perempuan.
"Itu pasti calon istri Ariel. Huaaaa... ambil aja bekas gue. Itu kursinya bekas pantat gue. Lo mau makan di rumah Ariel juga semua-semua gelas piringnya udah gue sentuh semua. Dasar cewek sialan" amuk Dinda dalam mobilnya
"Yang beruntung" sambungnya.
"Iya, lo beruntung dapet dia. Dia laki-laki yang bisa manjain gue, bisa bikin gue ketawa, bisa ngelakuin apa aja demi bikin gue bahagia. Sekarang tugas dia udah selesai. Mungkin bagi dia, gue ga butuh dia, kalau boleh jujur justru gue sangat-sangat butuh dia. Gue sayang banget sama dia. Memang gue ga bisa lakuin apapun buat dia. Gue hanya cewek manja yang ngerepotin dia aja. Tolong jaga dia. Semoga bersama lo, dia lebih bahagia. Biar gue aja yang terpuruk. Gue yakin, suatu saat juga gue pasti bakal nyusul kebahagian kalian yang sekarang. Meski gue juga ga tau kapan Tuhan akan temuin gue sama sosok itu"
●●●
__ADS_1
Tinggalin jejak ya gaisss, karena othor suka bacain komen kalian.
Vote sekalian biar nih novel ga nyampah aja di Noveltoon