
Setelah sepasang suami istri itu sudah rapi dengan pakaian masing-masing, mereka pun turun untuk bercengkrama dengan seluruh keluarga besar Dinda yang masih berada di sana. Dinda dan Nanda beriringan turun tangga.
Keduanya di soraki rame-rame entah siapa yang menyuruh mereka untuk melakukan itu. Walau Nanda sudah terbiasa di jahili seluruh om dan tante Dinda, ia tetap merasa malu. Sehingga keduanya turun tangga sambil nunduk.
"Tanteee, malu tahu" protes Dinda saat sampai di kerumunan keluarga besarnya.
"Penganten baru udah basah aja" celoteh yang lain.
"Ga ngapa-ngapain kok Tante" ucap Dinda jujur.
"Iya, ga papa. Tante juga dulu ngelesnya gitu".
"Hahaha" tawa semua orang yang ada disana.
"Nanda, kamu gak laper. Makan dulu sana" kali ini papa yang berbicara. Ia kasihan melihat menantunya yang malu sampai wajahnya memerah akibat di godain oleh iparnya itu.
"Iya pa, nanti aja bareng Dinda" jawab Nanda.
"Ciyeee, apa-apa maunya berdua" goda mereka lagi.
"Memang gitu, Nan kalo masih baru-baru"
"Tante udah, kasihan Nanda" ucap Dinda memelas.
"Hahaha, ya udah. Sana gih, temenin suami kamu makan. Isi ulang energi" candanya lagi.
Nanda dan Dinda pun berjalan menuju ruang makan. Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah terbebas dari kumpulan para pasangan senior itu.
"Kan, udah dibilangin. Mending tadi ngapa-ngapain" ucap Nanda ngedumel saat Dinda sibuk menyiapkan makanan untuknya.
"Kapan kamu bilang?" tanya Dinda.
"Kamu sih, ngapain pakek acara keramas segala. Aku aja ngga, nih pomade yang tadi aja masih nempel"
__ADS_1
"Udah ih, gitu aja ngomel" gerutu Dinda sambil menyerahkan piring yang sudah terisi nasi dan lauk-pauknya pada Nanda.
"Lagian, kamu kenapa keramas? Takut banget rambutnya jadi jelek. Habis nikah aku jamin kamu keramas tiap hari biar makin bagus rambut kamu" Nanda masih saja melanjutkan omelannya. Sepertinya ia sangat menyesal tidak melakukan unboxing pada Dinda.
"Ngomel mulu, makan dulu nih" ucap Dinda masih seperti mereka saat pacaran. Tidak ada yang berubah di antara keduanya.
Mereka pun makan dengan lahap. Dinda yang sebelumnya sempat tak berselera makan karena demam panggung kini setelah akad selesai ia kembali mendapatkan lagi selera makannya.
Setelah makan keduanya pun duduk di taman belakang. Menikmati quality time setelah di pingit 1 minggu membuat keduanya bisa meluapkan rasa rindu sambil menikmati sore hari sebelum senja.
"Sayang, selamat menempuh hidup baru ya. Semoga bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan mampu membimbing istri cantik kamu ini dengan penuh kesabaran dan kasih sayang" ucap Dinda dengan menautkan jemari mereka dan meletakkan kepalanya di dada bidang milik Nanda.
"Amiiin. Kamu juga ya. Selamat menempuh hidup baru, kalo kata orang-orang, wellcome to the jungle. Selamat menempuh ibadah terpanjang. Semoga kamu bisa menjadi pasangan sehidup sematiku, jadi istri yang baik dan setia". Cup, Nanda mengakhiri ucapannya dengan mencium puncak kepala Dinda lalu keningnya.
Dinda tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya. Ia pun melingkarkan erat pelukannya di pinggang Nanda. Betapa kini ia sangat bahagia bisa bertemu Nanda dan menjadi istrinya.
"Sayang, kamu punya aturan-aturan apa gitu yang harus aku lakuin. Kan sekarang aku udah resmi jadi istri kamu" tanya Dinda karena Ayu saja di minta suaminya untuk tidak bekerja dan cukup fokus mengurus rumah tangga.
"Apa ya? Yang pasti, saat aku pulang kamu harus sudah ada di rumah. Kemana-mana harus izin aku. Itu aja dulu, yang lainnya kita lihat di lapangan kira-kira ada tambahan apa nggak"
"Semua orang bisa dalam teori, tapi dalam prakteknya kadang suka salah. Jadi, aturan yang aku buat cukup 2 itu aja dulu. Selebihnya, nanti aja aku tambah, kalo-kalo di sepanjang pernikahan kita ada yang harus di perbaiki"
"Suami aku emang yang terbaik" puji Dinda karena ia mendapatkan suami yang sabarnya luar biasa, dan dewasa juga.
"Nanti malam kita pulang kerumah ya, aku udah izin kok sama papa" ajak Nanda yang tengah kecanduan menciumi wangi shampo di kepala Dinda.
"Siap sayang" ucap Dinda tegas.
Malam harinya, mereka sholat maghrib berjamaah di ruang tengah yang sudah rapi karena dekorasi dan meja akad sudah di bereskan oleh pihak Wedding Organiser (WO). Nanda diminta oleh para om dan tante untuk menjadi imam tapi ia malu. Sebab, menjadi imam apalagi mengimami banyak orang tentu bukan sesuatu yang mudah. Kalau makmumnya hanya Dinda seorang, ia berani maju.
Akhirnya papa yang menjadi imam, mereka pun sholat dengan khusu'. Setelah sholat semuanya saling berjabat tangan.
Lalu para perempuan menuju ruang makan untuk meyiapkan makanan yang akan disantap buat makan malam. Sisa kue akad Dinda pun juga masih banyak dan di sediakan di ruang tengah untuk cemilan sambil ngobrol santai.
__ADS_1
"Gimana Nan rasanya gabung sama keluarga besar Om?" tanya salah satu adik dari Papa Dinda.
"Seru om, rame banget" jawab Nanda yang ikut duduk bergelanggang bersama semua kaum laki-laki itu.
"Jarang-jarang begini Nan, kebetulan aja Dinda nikah makanya semua pada menyempatkan waktu buat ngumpul dan nginap disini. Ga ada yang nikah, ga bakalan kumpul-kumpul. Lebaran pun ga serame ini" ucapnya lagi.
"Kamu mulai masuk kerja kapan Nan?" tanya om yang lain.
"Selasa udah masuk, Om" jawab Nanda dengan ramah.
"Wah, ga sempat bulan madu ya" canda yang lain.
"Dinda aku tanyain mau bulan madu kemana, di jawab ga usahlah pa, Nanda juga baru pindah kantor, ga enak kalo ga masuk-masuk" ujar papanya bercerita pada semua orang disana.
"Enak banget Nan punya istri kaya Dinda tuh, dari kecil aja sukanya cuma makan nasi sama telor sama kecap. Ga muluk-muluk orangnya" timpal oomnya lagi.
"Amiiin om, tapi memang Dinda orangnya sederhana banget" ucap Nanda.
Setelah berbincang sebentar, mereka semua pun di panggil menuju ruang makan. Semua makan dengan lesehan karena meja makan tidak memiliki cukup kursi untuk semua orang.
Nanda bahagia bisa masuk dalam keluarga Dinda yang sangat besar ini. Beda dengan keluarganya, sudah jumlahnya sedikit, jarang ngumpul lagi. Karena om dan tantenya saja sudah balik ke kampungnya sehabis akad tadi. Kini Nanda bisa merasakan kembali bagaimana rasanya memiliki keluarga. Yang rame seperti sekarang ini.
Sherly yang keasikan karena juga di terima dengan hangat oleh keluarga Dinda sama sekali tak pernah mengganggu abang atau kakak iparnya. Ia sibuk dengan urusannya sendiri bersama sepupu-sepupu Dinda yang sebaya dengannya.
Tapi kebahagiaan itu akan segera berakhir karena Sherly akan ikut pulang bersama Nanda dan Dinda sehabis makan malam.
"Bang, tapi masih seru" rengek Sherly yang tak mau ikut pulang bersama abang dan kakak iparnya.
"Ya udah, kamu tinggal disini aja Sher. Isi kamar kak Dinda" ucap Mama Dinda karena ia juga sudah menganggap Sherly sebagai anak bungsunya.
"Boleh ya Bang" ucapnya meminta izin pada Nanda.
"Iya boleh" jawab Nanda.
__ADS_1
Sherly pun langsung tersenyum senang dan melirik pada Zara dan sepupunya yang lain. Mungkin kumpulan remaja itu sudah memiliki banyak rencana yang akan mereka lakukan bersama.