(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Bertahan Hidup


__ADS_3

Hai, ketemu lagi...


Jangan bosan-bosan ya baca novel ini. Memang sangat membosankan, tapi aku sepenuh hati ngetiknya. Mohon vote dan likenya yaa...


*****


Terdengar teriakan dari atas pondok. Semua panik dan berlari hendak mengecek. Ternyata hal yang tak disangka-sangka terjadi. Mereka melihat Bibin telah sadar dan kini tengah menangis.


Mereka semua mendekat. "Bin, lo kenapa? Ini gue Zapata. Bin, liat ini gue" Zapata mengguncang tubuh Bibin agar ia membuka kedua tangan yang menutupi seluruh wajahnya.


Bibin membuka kedua tangannya, ia tercekat lalu menangis lagi. "Ta, gue kira gue dimana. Kenapa sepi banget ni tempat. Gue takut, gue gak bisa turun. Kita dimana?" tanya Bibin.


"Kita sembunyi di pondok kakek. Kakek juga yang udah obatin lo. Kami udah hampir putus asa karena lo gak sadar-sadar. Bisa gak jangan bikin panik kaya kemaren?" ucap Zapata.


"Hah... Gue inget sesak nafas waktu itu" ucap Bibin.


"Lo kenapa bisa sesak nafas gitu? Ada riwayat asma?" tanya Rama.


"Gak, gue cuma alergi kopi" jawab Bibin dengan tak enak hati. Karena gara-gara pengharum mobil yang berbau kopi membuatnya tak sadarkan diri. Waktu ke Desa M****u ia memang sanggup menahan, tapi mungkin saat pelarian waktu itu batas kesanggupan paru-parunya sudah diambang batas maksimal sehingga ia menjadi sesak nafas parah.


"Astaga, gue lupa. Iya, nih bocah gak bisa nyium bau kopi" cetus Zapata dengan menepuk keningnya.


"Haih, lu gimana sih" timpal Rama.


"Terus ingat gak dia kemaren bilang: Bibin tuh gak punya alergi apa-apa. Dia tuh paling bisa diajak hidup susah. Ajak hidup di gunung-gunung pun bisa" ulang Nanda dengan kalimat Zapata waktu itu.


"Sedangkan, orang kalo mau ke gunung pasti ingatnya sama kopi. Kan gunung sama dengan senja, anak senja pasti ngopi. Lah ini, si anti kopi" ledek Nanda. Bibin bahkan ikut tertawa.


"Bisa memang, tapi ganti teh ya" elaknya.


Bibin pun minta mandi setelah bercanda ria dan dikasih makan oleh ketiga rekannya. Belum tahu dia, ketiga rekannya saja baru kenal air tadi pagi.


Nanda dan yang lain pun menemani Bibin mandi di bawah pondok. Karena memang kakek sudah menyimpan air dalam sebuah jerigen besar untuk digunakan kala terdesak, seperti buang air tengah malam contohnya.


"Bin, baju lo gak kebawa satu pun nih. Udahlah, pakek kaos gue aja. Kebetulan tadi pagi gue cuci, udah kering" Rama memberikan kaosnya pada Bibin untuk dipakai. Hanya itu yang bisa ia pinjamkan.


"Bin, lo kan tau kita bertiga ini dimata lo kaya raksasa. Gue sih mau-mau aja pinjemin celana buat lo. Tapii....." ucapan Zapata sengaja ia gantung.


"Iya iya, paham. Yang penting kaosnya Rama bisa jadi jubah sekaligus selimut biar gue aman gak di apa-apain sama kalian"


Kakek tak kuasa menahan gelak tawanya kala melihat Bibin yang baru selesai mandi dan tengah berjalan dengan memakai kaos Rama yang ukurannya sangat menutupi aurat. Air mata kakek bahkan ikut keluar karena merasa geli melihat Bibin berjalan dengan gamis tersebut dan ditambah lagi disusul 3 raksasa yakni Rama, Nanda, dan Zapata dibelakangnya.


"Bisa naik gak?" goda Nanda sambil berjongkok membelakangi Bibin.


Bibin pun langsung naik ke punggungnya. Sebenarnya pondok kakek dari tanah ke lantainya hanya sebatas kepala Nanda, sekitar 183cm. Bagi tiga raksasa itu, pondok kakek tidak terlalu tinggi ditambah lagi ada anak tangga yang dipasang berjarak tiap 30cm untuk memudahkan siapapun untuk naik.


Tapi, itu memudahkan hanya untuk manusia normal. Untuk Bibin, anak tangga berjarak 30cm itu bagaikan ujung kepala dan ujung kaki. Sehingga ia tetap harus selalu dibantu kala hendak naik dan turun pondok.


"Hm, baru kenal udah berani ngetawain" sindir Bibin pada kakek dengan raut yang sangat antagonis karena ia memang suka jahil pada orang yang baru dikenalnya. Aslinya ia hanya bercanda, memang cara Bibin mengakrabkan diri rada beda dengan kebanyakan orang.


"Heh, kakek tu yang udah bantuin lo, gila. Lo gak inget tadi badan lo penuh ijo-ijo daun?" tegur Zapata.


"Oh iya, kakek maaf ya. Aku cuma bercanda kok" jawab Bibin langsung meminta maaf pada kakek.


"Iya neng, sama kamu mah kakek gak berani marah" balas kakek dengan bercanda.


Bibin menarik kaos Rama setinggi lututnya, lalu berjalan kesana kemari dengan kesal. Persis seperti anak gadis yang habis diputusin pacar. Yang membuat teman-temannya dan juga kakek terkikik geli dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Bukan hanya kelakuan Bibin yang lucu, tapi juga penampakan samar-samar yang mereka lihat dari balik tirai, ups dari balik dasternya. Ada sesuatu yang gundal-gandul mengintip tipis-tipis memancing mata agar terhipnotis hanya padanya.


"Hahahahaha. Apaan tu?" goda Zapata.


Bibin berhenti, lalu ia menjadi malu sendiri karena baru sadar bahwa ia tak memakai pakaian dalam sejak tadi. Tapi sesaat kemudian, ia ikut tertawa ngakak bersama yang lain.


Demi apapun, kaos Rama yang ia pakai, lehernya terlalu besar sehingga bahu Bibin terekspos ria. Belum lagi dengan panjang daster (kaos Rama) yang menyapu lantai, membuat ia seperti seorang pengantin wanita yang keluar dengan gaun panjang nan elegan. Sayangnya, Bibin tidak se-elegan itu.


"Ah, ni baju gak ada yang lebih kecil apa?" rutuk Bibin setelah menertawai diri sendiri.


"Ada, singlet gue. Mau?" tawar Nanda.


"Di lo singlet, di pakek dia jadi gaun". Lagi-lagi semua orang tertawa.


Ditengah-tengah bercandaan mereka, tiba-tiba tiang pondok lagi-lagi ada yang menabraknya. Ah, seperti semalam. Si kerbau pendek lagi mencari makan.


"Apaan tuh?" kaget Bibin.


"Lo mau tau?" tanya Zapata.


Bibin pun minta digendong untuk melihat dari jendela sesuatu yang ada di bawah. Zapata menggendongnya, sekaligus menyalakan senter agar Bibin bisa melihat sesuatu yang ada dibawah sana.


"Waah, babi hutan?" ia terkesima melihat babi hutan. Alangkah kebahagiaan seumur hidup ini rasanya tidak ada apa-apanya di banding rasa bahagia bisa melihat langsung wujud si babi hutan. Karena yang pernah ia lihat hanya babi pink. Babi dengan ukuran tubuh lebih kecil dan terkesan imut atau lucu.


Sedangkan yang saat ini ia lihat, terkesan arogan karena berjalan sambil nyeruduk sembarangan. Dan mereka bergerombol. Sangat banyak. Terhitung ada lebih dari 10 babi hutan yang sedang menggasak timbunan sampah sisa makan malam mereka tadi.


"Kata Nanda, itu bukan babi hutan. Tapi kerbau pendek" ujar Zapata.


"Iya sih, mirip" sambutnya.


"Gila, berisik banget ya. Gak bisa tidur gue" ucap Rama.


"Apa?" tanya Zapata yang hanya melihat bibir Rama berujar tapi tak mendengar kalimat yang keluar.


Karena tak bisa tidur, akhirnya mereka memanfaatkan kondisi tersebut dengan bermain tebak kata. Yang mana jika salah satu dari mereka bisa mendengar apa yang diucapkan si pengucap, makan dia pemenangnya.


Sampai jam 1 malam, kakek tiba-tiba terjaga dan ia masih melihat keempat pemuda tersebut tengah duduk melingkar. Tapi karena kakek sudah mengantuk dan sudah terbiasa juga dengan keberisikan suara hujan, ia tetap mampu tertidur nyenyak kembali di balik selimut tebalnya.


**


Pagi harinya, mereka semua pergi ke sungai. Sungai yang berbeda dengan sungai yang waktu itu kakek sebrangi saat hendak mencari obat herbal untuk Bibin.


Sungai yang mereka tuju ini, adalah sungai yang paling dekat dengan pondok kakek. Sungainya terbilang cukup panjang, lebarnya berkisar 2 sampai 3 meter, dan kedalaman airnya tak sampai 2 meter. Airnya jernih, selama tidak ada yang nyebur. Karena jika sudah ada yang nyebur kedalam sungai dan menginjak dasar sungai, seketika airnya akan keruh karena dasar sungai ini adalah tanah berpasir.


"Jangan mandi terus Bin, pakaian lu belum kering" tegur Nanda.


"Yah" Bibin pun mendesah pelan dan hanya duduk-duduk ditepi sungai sambil memperhatikan rekannya mandi. Tentu saja ia berjongkok seperti perempuan, merapatkan kaki agar si gundal-gandul tidak kelihatan.


"Mau mancing ikan, Bin? Pancingan kakek ada disitu" ucap kakek menawarinya kegiatan yang lebih berarti.


Bibin pun berjalan ke arah yang kakek tunjuk. Ada sebuah rotan yang melengkung masuk ke sungai. Bibin mengambil dan mengeceknya. Ternyata tidak ada apa-apa.


Bibin pun akhirnya berjalan lagi menuju ke dekat pemandian teman-temannya juga kakek. Ia akan mencari-cari cacing tanah selagi masih banyak waktu.


Setelah dapat 3 ekor cacing, Bibin pun memasangkannya ke pengait umpan dan melemparkan tali pancing masuk ke sungai.


Baru saja melempar tali pancing, Bibin langsung mendapat peringatan dari kakek.

__ADS_1


"Bin, mancing jangan dekat-dekat sini. Kesana dikit, ikan suka tempat yang tenang. Disini dia keganggu kami mandi".


"Tuh, sana tuh" tunjuk Zapata dengan mulutnya.


Tangan kiri pegang daster biar tak kotor kena tanah, tangan kanan bawa ember untuk wadah ikannya nanti serta pancingan yang panjangnya na'udzubillah. Tapi Bibin tidak keberatan mengikuti saran Zapata.


Ia berjalan menuju tempat yang ditunjuk Zapata, dan segera melepar umpannya. Lalu duduklah Bibin di dekat semak belukar sambil menunggu ikan memakan umpannya.


Tak berapa lama, ketiga temannya dan juga kakek sudah selesai mandi. Mereka pun mengenakan pakaian ditepi sungai lalu Nanda dan Zapata menyusul Bibin untuk diajak pulang.


"Bin, balik ayo" ajak Nanda saat melihat Bibin tengah memasukkan sesuatu kedalam ember.


"Bentar lagi, banyak nih tangkapan gue" ucapnya dengan sombong.


Nanda dan Zapata menghampirinya. Mereka pun terkejut dengan tangkapan Bibin yang terbilang cukup banyak. Di dalam ember itu, antara lain ada 1 ikan gabus, terus juga ada 5 udang sungai, dan satu lagi....


"Bin, yang panjang itu?" tanya Zapata.


"Itu belut. Gue suka, dulu masih kecil juga sering dibikinin nyokap. Tapi sekarang udah jarang, belut juga jarang ada yang jual"


Sedangkan Nanda masih planga-plongo. Merasa ada yang aneh tapi apa ya, ia pun bingung.


"Ya udahlah, ayo balik. Udah cukuplah segitu" titah Nanda.


Mereka pun menghampiri kakek dan Rama yang menunggu ketiganya ditepi sungai tempat mereka mandi tadi. Dan mereka masing-masing membawa ember yang berisi air, kecuali Bibin yang bawa ember berisi tangkapannya.


"Berapa dapat?" tanya kakek.


"Wuih banyak kek. Nantilah kita unboxing" jawab Bibin tersenyum senang.


"Unboxing itu apa?" tanya kakek.


"Bongkar kek" jawab Bibin.


Kakek pun manggut-manggut. Sampai pondok, Bibin dan yang lain tak sabaran untuk segera memasak hasil tangkapan Bibin.


Kakek yang selaku chef pribadi mereka mengeluarkan satu persatu dari dalam ember yang tertutup kain. Kain itu sebagai penutup agar udang yang super aktif itu tidak keluar. Dan juga karena embernya kecil, hanya setinggi 1 jengkal orang dewasa.


"Saaaa...tu" ujar mereka serentak seperti lagi ikut kuis ditv saat kakek mengeluarkan ikan gabus yang hanya sepanjang telapak tangan.


"Duuu...a" Saat kakek mengeluarkan 3 udang sungai yang sebesar telunjuk.


"Tiiii....ga" Kakek masih mengeluarkan udang sungai dengan ukuran yang sama persis dengan yang sebelumnya.


"Em...pat" Kakek mengeluarkan sesuatu yang licin ukurannya sepanjang tangan.


"Yang ini di goreng krispi aja kek. Belut krispi, enak. Biar aku bantu masak deh nanti" ujar Bibin dengan begitu berselera.


"Tapi ini ular bukan belut" ujar kakek"


"Hm kan" tembak Nanda cepat. "Pantesan tadi gue pas cek ngerasa ada yang aneh. Cuman gue juga gak ngerti apa yang aneh. Ternyata ini..."


"Makan tuh ular" Gelak tawa akhirnya memecah lagi gara-gara Bibin.


*****


Tbc ya guys, dan makasih buat like dan votenya💋

__ADS_1


__ADS_2