(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
69. Belum Sembuh


__ADS_3

Hari ini, Dinda pulang pergi kantor di antar jemput oleh Nanda. Karena kata Nanda, hari ini pekerjaannya rada santai karena hanya perlu ngecek Tempat Kejadian Perkara yang saat ini kasusnya sedang ia tangani dan menemui dokter forensik.


Dinda sangat merasa tersanjung dengan perlakuan Nanda yang sesibuk apapun tetap mengabari Dinda dan bahkan mengusahakan untuk bisa antar jemput Dinda. Padahal Dinda sudah berusaha menolak karena tak mau merepotkan Nanda namun tetap saja Nanda ngotot untuk itu.


Dan setelah mengantar Dinda sampai rumah, biasanya Nanda akan balik ke kantor lalu malamnya baru pulang ke rumah. Dinda sangat memahami kesibukan Nanda yang lebih banyak ia habiskan di luar kantor.


Dinda sangat bahagia seharian ini karena semua rasa lelah saat bekerja seperti lenyap seketika ketika melihat wajah Nanda. Namun ada juga hal miris yang ia rasakan, yaitu perihal hubungan mereka.


Bisa di bilang, mereka menjalin hubungan tanpa status. Sebenarnya Dinda sudah kepikiran untuk menikah, tapi ia tidak mau menuntut laki-laki manapun untuk menikahinya.


Karena balik lagi, menikah itu bukan perkara mudah. Banyak yang harus di pikirkan termasuk kesiapan mental. Nah itu tuh, memangnya Dinda udah siap 100 persen?


Dinda mandi sore lalu duduk di teras depan rumahnya sambil nungguin adzan maghrib. Bersama Bi Hanum, mereka bercanda-canda sambil Bi Hanum mengelus-elus kucing Dinda.


Sayup-sayup adzan maghrib mulai terdengar saling bersahut-sahutan, Dinda dan Bi Hanum segera beranjak masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dinda pun menjalankan kewajibannya lalu turun ke bawah untuk membantu Bi Hanum menyiapkan makan malam.


Dinda sebenarnya ingin melatih keahlian dasar untuk menjadi seorang istri, seperti masak contohnya. Ia pun dengan telaten menata semua makanan yang sudah tersaji dalam mangkuk ke atas meja.


Dan hal ini selalu ia terapkan setiap hari meskipun bukan Dinda yang memasak, melainkan Bi Hanum tapi Dinda selalu siap membantu memotong dan mencuci bahan makanan saja. Dinda sangat bahagia, ia juga ingin belajar masak dengan Bi Hanum tapi nanti saja tunggu libur kerja, kalo ga Sabtu ya Minggu.


Dan nanti kalau ia sudah jago masak, ia akan pamerkan itu kepada Nanda dan Sherly. Sebab Dinda tak mau kalah, Nanda saja yang laki-laki dia bisa menyiapkan nasi goreng untuk sarapan buat adiknya. Masa Dinda ga bisa sih?


Setelah itu Dinda pun makan malam bersama kedua orang tuanya. Setelah selesai barulah giliran para pekerja di rumahnya untuk makan.


Dinda pun selesai makan langsung ke kamar. Ia ingin ngecek ponselnya karena biasanya selalu ada pesan yang di kirimkan Nanda untuknya.


Dan ternyata benar.


19:02


Nanda


"Besok aku jemput lagi ya, sekalian mau antar Sherly sekolah"


19:40

__ADS_1


Dinda


"Jangan, aku ga mau repotin kamu tiap hari" balas Dinda.


By the way, mereka memang sekarang sudah "aku kamu" ga pakek abang-abangan lagi. Tau deh tu mau sampe kapan ga jelasnya.


19:50


Nanda


"Ga repot kok, malah seneng😗"


Dinda pun senyum-senyum ga jelas membaca balasan dari Nanda itu. Rasanya dunia milik berdua. Ingin selalu memandang wajahnya tapi sayang kenyataannya masih pisah rumah. Miris.


19:52


Dinda


"Oke deh, yang penting babang seneng"


Setelah Itu Dinda pun sholat isya dan sampai pukul 10 malam, pesannya masih tak kunjung di balas oleh Nanda. Jangankan di balas, di baca saja belum. Terkadang Dinda khawatir dengan Nanda sebab pekerjaannya selalu berurusan dengan para pelaku kriminal bahkan sampai kejahatan para pejabat negeri pun ia yang tangani. Hal itu membuat Dinda takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nanda.


Begitupun dengan Dinda, karena sudah mengantuk ia pun segera memejamkan mata indahnya untuk tenggelam ke alam bawah sadar.


**Di sebuah sungai luas yang terdapat jembatan panjang di atasnya**



Di atas sebuah motor yang berjalan, ada sepasang kekasih yang begitu mesra karena terlihat dari pelukan erat tangan si perempuan di pinggang si laki-laki. Mereka berdua adalah Dinda dan Ariel.



Mereka terlibat percakapan yang sangat seru. Ternyata mereka sedang menceritakan hal-hal konyol yang pernah mereka berdua lakukan dari sejak awal mereka jadian sampai saat ini.


Sesekali mereka tertawa karena tingkah mereka sendiri. Siapa pun yang melihat mereka, pasti akan merasa iri dengan kebahagiaan mereka.

__ADS_1



Namun, keadaan itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba saja Ariel menghentikan laju motornya tepat di mulut jembatan di depan mereka. Dan ia meminta Dinda untuk turun.



Dinda yang sejatinya merupakan seseorang yang penurut, tanpa banyak tanya dan tak curiga akan hal apapun, ia pun turun dari motor milik Ariel. Dengan wajah Dinda yang masih terlihat bahagia, tiba-tiba lagi Ariel meninggalkannya sendirian di depan mulut jembatan itu.



Seketika, dengan rasa tak percaya, Dinda menangis haru. Ia sadar telah di tinggalkan begitu saja oleh Ariel. Namun, matanya masih setia melihat kepergian Ariel.



Sampailah di tengah-tengah jembatan itu, Ariel berbalik, namun tak kunjung kembali ke arah Dinda. Ariel diam di tempat, begitupun Dinda. Ariel hanya menatap seolah masih berat untuk pergi namun enggan untuk kembali.



Dinda yang sadar bahwa ada sesuatu yang Ariel tuju di seberang sana, ia pun menghapus kasar air matanya dan berbalik meninggalkan Ariel. Langkah itu terasa sangat berat. Baru beberapa langkah, Dinda mendengar teriakan Ariel yang memanggil-manggil namanya. Walau rasanya dalam hati sangat ingin untuk berbalik menatap Ariel, namun nyatanya Dinda tetap melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sana. Ia bersikukuh untuk mengabaikan teriakan Ariel yang menggema di telinganya.



***Pergilah Ariel. Temui jodohmu di seberang sana. Walau aku sangat mencintaimu, tapi aku sadar*** **bahwa takdir tidak memihak pada kita**.



Di tengah perjalanan yang sendirian itu, Dinda menangis meraung-raung atas kejadian pahit yang ia alami. Air mata jatuh berderai entah sudah sebanyak apa.



Dinda menangis tersedu-sedu saat tersadar dari mimpi buruknya dengan keadaan air mata yang sudah membasahi bantal. Entah sejak kapan ia menangis, yang pasti... saat ia terbangun dari mimpi itu, matanya sudah dalam keadaan basah dan Dinda menangis sejadi-jadinya dalam diam.


Dinda berusaha untuk menguasai diri. Ia tak ingin kembali menangisi Ariel. Sudah sejauh ini, apakah hatinya masih menginginkan Ariel untuk kembali?


Padahal Dinda sudah mampu menjalani harinya dengan baik dan tak sekalipun ingat Ariel lagi. Selama ini ia juga sudah sangat yakin bahwa dirinya telah mampu melupakan Ariel sepenuhnya. Namun ternyata, Dinda salah.

__ADS_1


Alam bawah sadarnya masih ingin Ariel. Masih mau Ariel, masih sangat membutuhkan Ariel.


Sadar Dinda, sadarlah.


__ADS_2