(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Tersesat


__ADS_3

Walau novel ini akhirnya ngalor ngidul entah kemana, tapi jujurly aku salut banget sama kalian yang betah mantenginnya.... Makasih yaa, mohon dukungannya dengan gak cuma baca hehe, tapi Otor minta vote dan hadiahnya juga dah 😂🙆


*****


Sudah jauh mobil keduanya berjalan menghindari kejaran 3 pesawat tempur, tentu saja membuat bensin mobil mereka yang diisi full kemarin kini sudah berkurang. Zapata keluar dari mobilnya karena bensin dimobil yang ia kendarai benar-benar sudah kering. Bensin memang begitu, akan lebih cepat habis jika dipakai rem-gas rem-gas terus menerus. Akan terasa lebih hemat jika berkendara dengan santai jadi tidak terlalu ngerem dan ngegas berlebihan. Tapi karena kondisi yang tidak kondusiflah yang menjadi alasan mereka kabur-kaburan seperti saat ini.


Zapata masuk ke mobil yang dikendarai Nanda dan duduk disampingnya. "Bibin gimana? Ada perkembangan?" tanyanya dengan melihat kebelakang.


"Justru keadaannya makin parah. Lo juga, kenapa malah masuk hutan?" tanya Rama.


"Liat atas" ujarnya.


Nanda dan Rama melihat ke arah langit. "Kenapa sama pohon-pohon ini?" tanya Nanda.


"Ah" pukul Zapata pada keningnya. "Nah itu, gue sengaja bawa kita ketempat hutan lebat begini biar gak dikejar-kejar sama pesawat tempur. Kalian gak nyadar emangnya? Kita tuh dari tadi udah di pantau. Gue juga gak tau kapan tepatnya mereka mantau kita dari atas sana, tau-tau udah muter-muter aja diatas. Sengaja banget cari perhatian gue" papar Zapata sambil mengusap lengan bibin yang lemas tak bertenaga.


"Terus ini, kita mau jalan sejauh mana lagi? Sedangkan jalan ini gak tau kemana arahnya" sahut Nanda yang sejak Zapata naik ia langsung melajukan kembali mobilnya.


"Pokonya jalan aja dulu, sampai habis bensin baru kita mikir" kata Zapata.


"Ya tapi lo pikirin juga nasib Bibin" sambut Rama.


"Bibin ada riwayat asma? Atau alergi makanan apa gitu?" tanya Nanda.


"Gak ada, dia orang yang bisa banget diajak hidup susah. Karena makan apa aja masuk, tinggal di gunung-gunung pun oke. Gue lama kenal dia dan keluarganya, makanya gue tau" ungkap Zapata.


"Terus tadi lo diagnosa dia keracunan kan, Ma?" tanya Nanda memastikan lagi pada Rama.


"Iya" sahut Rama cepat.


"Keracunan apa? Makanan sama minuman yang kita konsumsi aja sama semua" ujar Zapata.


Benar juga yang dikatakan Zapata. Jika kami bertiga baik-baik saja, lalu kenapa Bibin bisa keracunan sendiri??? Batin Nanda.

__ADS_1


Tak sampai 20 menit berkendara, mobil yang dikendarai Nanda akhirnya nyusul kehabisan bensin juga. Mereka pun tanpa babibu langsung turun dan berjalan meninggalkan mobil. Zapata menggendong Bibin, Nanda membawa 1 ransel dipunggungnya yang isinya barang-barang pribadi milik mereka bertiga, sedangkan Rama membawa tas yang berisi obat-obatan, kotak P3K, dan alat kesehatan lainnya.


Mereka berjalan masuk kehutan. Dengan berbekal kompas di tangan, mereka sepakat memilih untuk terus berjalan menuju arah barat. Karena didalam hutan tidak ada jalan setapak yang membuat jalan masuk dan keluar akan sama. Rama memberi tanda dengan mengikat kain kasa pada ranting pohon disepanjang mereka berjalan. Takut kalau suatu saat kompas mereka rusak atau hilang dan akhirnya tak bisa keluar dari hutan.


"Jangan Ma, nanti ketahuan persembunyian kita kalo lo kasih tanda" larang Nanda.


Akhirnya dilepas lagi oleh Rama dan menyimpannya di tas agar tidak nyampah sembarangan.


Zapata kelelahan, mereka pun bergantian menggendong Bibin dan bertukar beban bawaan. Sampai pada saat cahaya matahari tak bisa lagi menembus padatnya pepohonan, mereka menemukan sebuah gubuk yang dibuat memiliki tangga persis seperti rumah panggung.


Rama, Nanda, dan Zapata saling berpandangan. Lalu Nanda mengangguk, dan memilih berjalan lebih dulu untuk mencoba mengetuk pintu gubuk. Memastikan adakah pemiliknya.


Tok... tok... tok


Nanda memberi jeda sejenak sebelum kembali mengetuk. Sedangkan Rama dan Zapata masih menunggu di bawah tangga. Dan kemudian terdengar dari dalam gubuk ada langkah kaki seseorang di ubin kayu yang nyaring terdengar.


Krieeeet


"Permisi kek, maaf jika mengganggu. Kami dari kota dan tersesat dihutan ini. Teman saya yang saya gendong ini (melihat pada Bibin yang ada di dalam gendongannya) dia sedang keracunan. Kami mohon izin untuk beristirahat di sekitaran pondok kakek, karena kami tidak tahu tempat yang aman untuk beristirahat sampai akhirnya kami menemukan pondok milik kakek disini" ucap Nanda dengan penuh hormat. Ia bahkan tak menyebut gubuk, melainkan menggantinya dengan kata pondok. Agar kakek tak tersinggung.


"Kenapa harus beristirahat di sekitar pondok. Masuklah ke pondok reotku ini jika kalian mau" ujar kakek tersebut dengan ramah.


"Terimakasih kek" ucap Nanda dengan sangat menghargai kebaikan hati si kakek.


"Kalian, ayo naik. Ngapain masih disitu" ujar Nanda pada Rama dan Zapata.


Keduanya pun akhirnya ikut menyusul Nanda masuk kedalam pondok. Mereka pun akhirnya memperkenalkan diri masing-masing pada kakek.


"Temanmu itu (tunjuknya pada Bibin) kenapa sampai tak sadarkan diri begitu?" tanya kakek.


"Dia keracunan kek, kami juga tidak tahu keracunan apa. Karena selama kami menginap di Desa M****u makanan dan minuman yang kami konsumsi sama semua. Tapi hanya dia yang keracunan" ungkap Rama.


"Besok akan aku carikan dia obat dihutan. Rumah sakit sangat jauh dari sini. Dan bagaimana ceritanya kalian bisa masuk kehutan ini?" tanya kakek lagi.

__ADS_1


Mereka pun menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja tidak menceritakan semuanya, hanya bercerita bahwa mereka dikejar oleh orang yang berniat jahat saja.


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa percaya bahwa bukan kalianlah orang jahatnya" ujar kakek.


"Kami bisa memberi KTP kami pada kakek. Tunggu sebentar" Zapata pun mengambil ransel Nanda yang tergeletak di samping Bibin. Lalu mengeluarkan dompetnya untuk membuktikan ucapannya.


"Tidak, tidak usah. Aku percaya kalian orang baik. Kamu polisi (tunjuknya pada Nanda), kamu seorang dokter (tunjuknya pada Rama), dan kamu ..." Ketiganya tercengang karena kakek bisa tahu profesi mereka sebenarnya.


"Saya pengangguran" sahut Zapata meneruskan ucapan kakek yang tidak dilanjutkan saat tiba gilirannya.


"Justru kamu yang paling banyak duitnya" puji kakek pada Zapata.


Mendengar pujian yang enak begitu, Zapata langsung senyum-senyum. Membenarkan ucapan kakek tanpa perlu repot-repot memamerkan harta kekayaannya.


"Saya juga punya banyak kek, cuman belum diwarisin aja" timpal Rama membuat Nanda dan Zapata tertawa.


"Saya juga kek, cuman milik mertua" sambung Nanda tak mau kalah.


Krok krok


Tiba-tiba terdengar bunyi perut yang kelaparan minta diisi makan. "Kalian lapar? Tunggu sebentar, kakek masakkan nasi dulu. Karena nasi yang kakek masak tadi siang, tidak cukup untuk kita berempat" Kakek pun berjalan menuju kebelakang. Nanda dan Zapata menyusul untuk membantu kakek. Sedangkan Rama tetap ditempat semula untuk menjaga Bibin.


Didapur pondok kakek, semua masih serba tradisional. Kakek memasak nasi dengan tungku api yang setiap berapa menit sekali harus ditiup pakai bambu agar apinya stabil.


Sambil memasak, kakek juga sempat berkata, "Temanmu Bibin, besok pasti akan sadar. Kalian jangan khawatir".


Mendengar hal itu, tentu ada sedikit kelegaan dalam hati Zapata dan Nanda. Biar bagaimanapun, walau susah percaya sekalipun, tapi dukungan moril seperti yang kakek barusan lakukan sangat terasa dampaknya di dalam hati. Ada secercah harapan bahwa Bibin pasti terselamatkan. Padahal kakek bukan dokter dan bukan Tuhan. Tapi setidaknya, ada lagi semangat untuk meyakinkan diri bahwa Bibin pasti bisa diselamatkan.


****


Guise, kalian jangan tinggalin aku sendiri yaa... masa aku nulis gak ada yang baca... minimal kasih like ya biar aku tahu ada berapa banyak yang baca...


BTW, nanti akan ada kisah cinta Zapata juga kok... Penasaran kan Zapata si pria paling banyak duitnya akan jatuh cinta sama siapa???? Yang sabarrr, tunggu aja👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2