
"Sa-sayang, kok kesini?" tanya Nanda. Ia tak tahu dengan perasaan istrinya yang mendapati pertanyaan aneh dari bibir Nanda.
"Oh, gak boleh? Biar bisa deket-deket sama janda sini?" tanya Dinda yang lalu melempar tatap pada Rama dan Pak Prima.
"Ma, apa kabar?" tanya Dinda dengan ramah. Berbeda sekali raut wajahnya saat bertatapan dengan sang suami.
"Baik, Din. Wah, akhirnya kita nambah anggota baru. Oh iya, ini kenalin Pak Prima. Psikolognya Feza". Dinda pun segera berjabat tangan dengan Pak Prima. Lelaki itu memiliki sorot mata yang teduh. Dinda jadi tidak enak sendiri saat tadi sempat marah pada Nanda dihadapannya.
"Oh iya, ini gue bawa cemilan. Keripik doang sih, soalnya bingung kesini mau bawa makanan apa sedangkan perjalanannya jauh" ucap Dinda tak enak hati.
"Gak papa Din, santai aja. Ini juga udah syukur banget dibawain keripik sebanyak ini. Langsung setoples-toplesnya lagi haha" ucap Feza yang membuat Dinda jadi lebih santai bergabung dengan mereka semua.
Sedangkan kini Nanda bahkan tak berani melihat kearah Dinda. Ia tahu saat ini istrinya sedang marah. Baru aja sampe, badan masih pegel, eh ditambah denger suami dengan lancar memuji-muji wanita lain. Jelas kesal dong Dindanya.
Setelah sibuk beraktifitas di dapur, satu persatu dari mereka pun antri untuk mandi sore. Saat itu giliran Feza mandi, Rama sedang pakai baju di kamar karena ia baru selesai mandi tepat sebelum Feza, dan Pak Prima yang sedang ke warung Bu Heni beli kerupuk.
Dinda dan Nanda pun berkesempatan untuk ngobrol berdua di depan teras. Dinda masih cuek-cuek bebek pada suaminya.
"Sayang" panggil Nanda lembut agar istrinya mau melihat ke arahnya.
"Hm"
"Liat sini" Nanda memegang dagu Dinda dan memutar wajah Dinda untuk menatap padanya.
"Gak mau" tolak Dinda lalu membuang muka lagi.
"Kenapa gak mau?" tanya Nanda masih dengan nada yang dibuat sedemikian lembut sampai-sampai ngalahin kelembutan pantatt bayi.
"Leher aku sakit gara-gara salah bantal" ucap Dinda beralasan.
"Bohong" ucap Nanda dengan tersenyum. Karena walau bagaimana pun istrinya marah, tetap saja Dinda itu lucu menurutnya.
"Gak percaya ya udah"
Selama mereka duduk di teras, ada saja warga sekitar yang lewat. Sampai akhirnya lewatlah seorang perempuan yang Nanda tidak kenali namun semalam ia jumpai di rumah Pak Bimo. Karena wanita itu tersenyum pada mereka berdua, Nanda pun membalas senyumannya.
Setelah wanita itu sudah cukup jauh...
"Teroos teroos, senyum teroos. Sampe gigi kamu kering" timpal Dinda yang melihat bahwa suaminya tersenyum pada wanita tadi. Dinda tak menyalahkan wanita itu, bahkan Dinda pun tadi ikut membalas senyumnya juga, hanya saja ia tidak suka melihat suaminya tersenyum pada wanita lain. Wanita yang tak ia kenal.
__ADS_1
"Katanya salah bantal, leher sakit. Kok liat-liat aku?" sambut Nanda dengan tangan yang mulai berani memain-mainkan pipi istrinya.
"Gak nyangka, suami aku genit" ucap Dinda sambil melipat tangan di dada.
"Hahaha, gak genit sayang. Cuma ramah".
Setelah berbaikan dan Pak Prima juga sudah kembali membawa kerupuk yang ia beli, akhirnya Dinda dan Nanda pun ikut masuk kedalam rumah karena hari juga sudah senja. Dan mereka pun berganti-gantian mandi sore.
-----------Jangan lupa like dan komen ya guys----------
Malam harinya, mereka duduk bergelanggang untuk manyantap makan malam bersama. Selain lauk buatan Feza tadi sore, mereka juga punya lauk tambahan yang dibawakan Dinda. Makan pun terasa makin nikmat dengan lalapan kerupuk yang Pak Prima beli tadi sore.
Setelah acara makan malam usai, Dinda dan Feza langsung kebelakang mencuci piring. Feza yang cuci dan Dinda yang bilas. Kini keduanya sudah semakin akrab. Dosa-dosa dimasa lalu sudah mereka lupakan. Kini saatnya memperbaiki keadaan.
Sehabis mencuci piring, Dinda dan Feza ikutan duduk bersama yang lain. Mereka bermain uno di ruang tengah untuk menghabiskan waktu.
"Assalamu'alaikum" terdengar suara perempuan dari luar.
Rama yang duduk paling dekat ke pintu pun segera berdiri untuk membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam. Eh Dek Ratih, masuk-masuk" Rama mempersilahkan Ratih untuk masuk. Semua yang ada di ruang tengah tersenyum menyambut Ratih kecuali pasangan suami istri yang baru saja berbaikan.
Nanda memutar wajahnya kesembarang arah, ia tak mau istrinya ngamuk lagi perihal senyum dengan perempuan lain. Sedangkan Dinda hanya tersenyum tipis, dalam otaknya menduga-duga. Apa janda yang dipuji-puji suaminya itu wanita yang tadi sore, atau yang ini?
"Wah, makasih banget Dek Ratih. Jadi gak enak" ucap Rama, namun senyumnya mengembang saat menerima singkong itu.
"Kalo gitu saya pulang dulu ya Mas"
"Mau saya anterin?" tawar Rama.
"Gak usah Mas. Saya sebenarnya sama Windu kok, tapi Windunya nyangkut di rumah temennya" Ratih pun langsung pergi tanpa mendengar ucapan Rama lagi.
Rama pun kembali duduk bersama yang lain setelah meletakkan singkong ke dapur. Pintu sengaja ia biarkan terbuka, karena terpaan angin malam yang dingin membuat udara disekitar mereka tak terlalu pengap.
"Itu tadi siapa Ma?" tanya Dinda saat mereka kembali bermain uno.
"Oh itu Ratih, janda kembang disini". Mendengar ucapan Rama, Dinda langsung menatap tajam pada suaminya.
Nanda berpura-pura santai dan tak menyadari sedang ditatap sengit oleh Dinda. Bahkan sambil tetap bercanda dengan yang lain.
__ADS_1
Setelah permainan mereka selesai, mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Dinda tentu saja akan tidur bersama Feza. Dia dan Nanda tak bisa tidur sekamar kecuali jika ada 1 kamar kosong disini.
-----------mon maaf, yang belom like silahkan absen jemphol di bawah. Kalo gak mau harus mau---------
Pagi harinya, mereka sarapan dengan singkong pemberian Ratih yang di rebus oleh Pak Prima.
Lalu dibuatkan kopi oleh Dinda.
"Din, semalam gimana tidurnya nyenyak gak?" tanya Rama.
"Nyenyak, kenapa?" sambut Dinda.
"Dikamar gue ada yang tidurnya gak nyenyak" ungkap Rama. Sengaja mau mengompori Nanda.
Selama ini Nanda terus yang kebagian meledeki dirinya dan Ratih. Dan kini tibalah saatnya Rama melakukan pembalasan.
"Oh, kenapa gitu?" tanya Dinda ikut-ikutan dramatisasi bersama Rama.
"Gak tau, kira-kira kenapa ya?" tanya Rama balik.
Pak Prima dan Feza hanya fokus mendengarkan sambil makan.
"Biasanya orang gak bisa tidur nyenyak karena habis berbuat kesalahan. Emang siapa orangnya?" tanya Dinda. Ia pikir Rama berani nunjuk Nanda.
"Nih, Pak Prima. Tidurnya grasak-grusuk" ungkap Rama melempar pada Pak Prima. Sedangkan yang ditunjuk nampak tak peduli saat namanya dibawa-bawa.
"Wah, gak berani gue" ucap Dinda pelan sambil memperagakan orang menggorok leher beberapa kali.
Setiap kali Dinda berbicara dengan Rama, Feza, atau Pak Prima, dirinya akan selalu bertutur kata lembut. Lebih tepatnya dibuat-buat lembut. Sedangkan dengan suaminya, irit bin jutek.
Sampai Nanda menyanyikan lirik lagu dangdut milik penyanyi Meggy Z karena tak kuasa di acuhkan oleh istrinya sendiri.
Sungguh teganya teganya teganya๐ถ
โโโโโโโHello guys, 6 hari lagi merdeka nih. Udah pasang bendera belom? Jangan kebalik ya, putih di atas merah dibawah. Mentang-mentang gak pernah upacara lagi akibat pandemi eheโโโโโโโโ
Likenya udah belom?
Lah jangan like doang, komen juga.
__ADS_1
Anu, vote? Udah? Janganlah pelit-pelit kali sama aku. Aku aja udah anggap kalian keluargaku sendiri.
Minta duit, hehe kan keluarga