
Dinda yang sedang asyik-asyiknya duduk di balkon tiba-tiba mendengar suara klakson dari arah depan pagarnya. Ternyata itu Ariel, memang tadi sore ia sempat bilang ke Dinda melalui chat bahwa ia akan pulang malam ini.
Dinda pun biasa saja, dan malah membuang muka ke arah yang berlawanan. Tidak ada rasa senang di sana, justru hanya amarah dan rasa benci saat melihat wajah Ariel yang tanpa dosa itu.
"Sayang... Aku pulang nih, kok kamu kaya ga suka gitu aku pulang" pekik Ariel dari luar pagar tepat dekat balkon.
"Kenapa pulang?" tanya Dinda asal.
"Kan aku udah bilang waktu itu, aku cuma sebentar. Ninggalin kamu lama-lama keluar kota aku ga tega. Kamu pasti kangen aku? Iya, kan" ucap Ariel yang Pe-De setengah mati.
"Huh" dengus Dinda. "Lain kali, kalo deketin cewe lewat sosmed, chatnya tuh jangan lupa di hapus pak". Blam, pintu balkon di tutup kencang.
Dinda membiarkan Ariel di luar sendirian begitu saja. Ariel yang masih tidak mengerti maksud dari ucapan Dinda hanya diam kemudian kembali ke mobilnya dan langsung menuju garasi di rumahnya.
Pov Ariel
"Dinda kenapa sih? Aku pulang bukannya seneng malah marah-marah. Terus tadi, apa coba maksudnya? Deketin cewe?" gumamku sepanjang perjalanan menuju kamar.
Aku pun tak begitu memikirkan persoalan Dinda, malam ini aku begitu lelah dan ingin istirahat saja. Oleh-oleh yang sudah aku belikan untuk Dinda pun kubiarkan saja tergeletak di meja depan tv kamarku.
Aku membersihkan tubuhku dan melaksanakan kewajibanku sebelum tidur yaitu sholat Isya. Selepas sholat, aku bermain ponsel sambil rebahan.
Berusaha membuat mata ini lelah biar cepat ngantuk. Aku keluar masuk whatsapp hanya demi memantau Dinda.
Apakah ia sedang online? Offline? Atau sudah di blokirnya kah whatsappku. Ternyata Dinda masih online, aku cukup senang karena ternyata aku tidak di blokirnya seperti waktu dulu tiap aku membuat kesalahan pasti aku langsung di blokir.
Meski begitu, tetap saja aku tak berdaya untuk menghubunginya. Kupikir, lebih baik memberinya waktu agar kami berdua tak saling bertegangan urat malam ini.
Aku lelah, Dinda sedang buruk moodnya. Kalau kuganggu dia, pasti bisa bentrok kita malam ini.
Setelah keluar dari whatsapp, aku beralih membuka aplikasi facebook, di sana jumlah pengikutku lebih banyak, sebab memang sebelum ada instagram aku adalah pengguna aktif di facebook.
Banyak kenangan yang tersimpan di sana, foto saat aku SMA bersama teman-teman bahkan bersama gebetan. Syukurnya Dinda tidak mengetahui hal ini.
Bukan aku yang sengaja menyembunyikannya, hanya saja merahasiakannya jauh lebih baik ketimbang jadi masalah dalam hubunganku dan Dinda. Jujur saja, aku mencintai Dinda dan sangat menyayanginya.
__ADS_1
Aku memang bukan pacar yang baik untuknya, namun aku selalu berusaha di setiap harinya untuk selalu ada buat Dinda, selalu menerima segala macam kekurangan Dinda. Aku bahkan selalu berusaha mengalah untuknya, meski sikap mengalah ini selalu berwujud keterpaksaan.
Semoga berawal dari keterpaksaan ini bisa menjadi kebiasaan. Karena aku ingin Dinda bahagia bersamaku.
Dinda pernah bertanya sesuatu padaku, "Sayang, kamu kok ga pernah cemburu sama aku? Apa kamu ga sayang?". Waktu itu aku menjawabnya hanya dengan tersenyum, sebab memang kenyataannya begitu.
Aku tidak pernah cemburu terhadap Dinda, bukan karena aku tidak sayang. Lebih tepatnya, karena Dinda terlalu pandai dalam menjaga perasaanku. Dan aku tidak begitu. "Maaf ya sayang" gumamku saat terbayang wajah Dinda yang polos berada tepat dalam dekapanku.
Aku sangat pengecut, tidak bisa menunjukkan seberapa cintanya aku pada Dinda. Aku sangat cuek, wajar saja jika Dinda selalu meragukanku.
Tapi, wanita satu-satunya dalam hidupku yang pernah aku hadiahi ya cuma Dinda, yang lainnya hanya angin lalu. Aku tak serius dengan mereka.
Setelah puas melihat beranda facebookku, akupun membuka instagram, di sana postingan terbaru teman-teman basketku bermunculan. Aku hanya menekan ikon love lalu menggulir layar terus sampai bawah.
Tiba-tiba ada Direct Message yang baru masuk, ku lihat, ternyata itu dari Diana atau Ana. Dia teman SMA-ku.
Dulu aku memang pernah naksir dia, tapi dia menolakku. Dan kini aku sudah biasa-biasa saja padanya.
Diana**Pratistha**
"Ini Ariel SMA 42 Garuda Putih bukan ?"
Arielll
DianaPratistha
"Wah, makin ganteng aja lu. Meet up yuk kapan-kapan"
Arielll
"Siap👍"
Begitulah pesan singkatku bersama Ana. Aku tak ingin membalas terlalu berlebihan, karena tentu akan jadi bumerang kalau Dinda tahu.
Chat itu tak kuhapus, sebab memang aku tak terbiasa menghapus-hapus DM. "Oh my God, pantesan Dinda marah, ternyata ini" pekikku saat kulihat bawah pesan Ana ada pesan dari seorang cewe yang dulu pernah aku isengin.
__ADS_1
Ya, cuma iseng doang ngegodainnya. Tapi ternyata tuh cewek nanggepinnya serius. Dan malah makin seneng aku untuk deketinnya. Toh cakep juga.
Tapi tak berlangsung lama, karena tuh cewek juga punya pacar. Aku pun ga akan pernah ngelepasin Dinda begitu saja lalu berkencan dengan gadis lain.
Dinda tetap nomor 1, yang membuat aku begini ya karena bosan. Butuh suasana baru dan kepengin punya waktu untuk diri sendiri.
Sebab selama bersama Dinda, aku memang bahagia. Tapi aku selalu menuruti yang Dinda mau tanpa Dinda pernah nanya apa mauku.
Dalam hubunganku dan Dinda selama ini, aku merasa hanya aku saja yang berjuang. Sedangkan Dinda seperti ratu yang bisa memerintah dan berbuat semaunya.
Namun untuk lepas dari Dinda, aku tak mau. Terlepas dari bagaimana ia memperlakukanku, ia adalah wanita yang baik, selalu menghargai pendapatku tentang hal sekecil apapun, dia bisa membuatku tertawa, dia bisa dengan mudah di terima dalam keluargaku, dia bisa membuat aku tak canggung dengan kedua orang tuanya, dan yang terakhir, dia sempurna di mataku.
Malam ini, aku harus istirahat. Sebab besok aku harus segera menyelesaikan masalahku dan Dinda.
Aku tak bisa jika membiarkan masalah berlarut-larut, aku takut Dinda benar-benar terbiasa tanpa aku. Sedangkan aku? Mungkin akan susah melupakannya.
Pov Ariel end
Keesokan paginya
Tiiin...
"Eh Riel, kamu jemput Dinda?" tanya mama Dinda.
"Iya tante, aku tungguin kok belum keluar juga" jawab Ariel yang memang sudah jadi kebiasaannya untuk jemput Dinda dan pergi bareng kemana-mana.
"Dindanya udah pergi Riel, emang dia ga ngomong ke kamu?" tanya mama Dinda lagi.
"Ngga tante" jawabku lesu.
Dinda pagi-pagi udah buat aku salah tingkah depan mamanya, gumamku dalam hati.
"Kalian berantem lagi?"
"-_-"
__ADS_1
"Hmmm, ya sudah sana. Kamu berangkat ke kantor gih, nanti telat lho. Nanti biar tante nasehatin Dindanya yah. Kamu hati-hati di jalan yaa" ucap Mama Dinda yang begitu perhatian terhadap Ariel.
"Makasih tante, aku pamit dulu ya" kata Ariel saat selesai mencium punggung tangan mama Dinda.