(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hidup Bahagia Selamanya


__ADS_3

...-Budayakan tap jempol sebelum lupa, eh sebelum membaca-...


...-...


...-...


Sesampainya Dinda dan Nanda dirumah, tentu saja mereka lega karena disambut oleh keadaan rumah yang rapi, bersih, dan nyaman. "Ya Allah cape banget" ujar Dinda sambil memegang pinggangnya lalu rebahan di tempat tidur.


"Mau aku pijitin?" tanya Nanda yang membuat Dinda curiga dan menyipitkan matanya.


"Jangan su'udzon, suami sendiri kok dicurigai. Mana pernah aku maksa-maksa" ucap Nanda lalu mengeluarkan barang-barang dari dalam tasnya.


"Habisnya kamu kaya gak ada cape-capenya" kata Dinda yang kembali bangkit ikut mengeluarkan barang-barang di dalam tasnya.


"Aku bahkan pernah nyicipin perjalanan lebih jauh lagi, sayang. Yang tadi mah kecil" ujar Nanda dengan sombongnya.


"Emang kemana?" tanya Dinda penasaran.


"Hehe gak usah dibahas ya, nanti kamu marah" elak Nanda.


"Hm kan? Yang kaya gini malah yang mancing emosi. Dia cerita seolah pengen ditanya. Giliran ditanya malah gak jadi cerita" Dinda pun berdiri hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, tiba-tiba tangannya di tahan Nanda.


"Kapan-kapan aja ya ceritanya. Kamu pasti capek, mau aku pijitin gak?"


Dinda pun mengangguki dan melepes jaket jeans serta kaosnya dan celana ivory juga ikut ia tanggalkan. Sehingga kini yang tersisa ditubuhnya hanya bra hitam dan celana pendek yang membuat jakun sang suami naik turun dengan berat menelan ludah.


Dinda pun langsung mengambil posisi dengan menelungkup di tempat tidur. Nanda tak tinggal diam, langsung mencari minyak zaitun yang biasa Dinda pakai untuk memijit dirinya.

__ADS_1


Setelah minyak zaitun ditemukan, Nanda langsung meloncat ke atas tempat tidur lalu mengoleskannya ke punggung Dinda dengan lembut dan rata. Tak lupa, tangan jahilnya melepas pengait sang istri yang menurutnya sedikit menggangu. "Sayang, aku masih kepo sama yang tadi. Mending kamu mijitinnya sambil cerita" ucap Dinda.


"Oke, tapi janji jangan marah ya?" ujar Nanda yang mengkhawatirkan dirinya akan di amuk sang istri. Oleh karena itu, ia mengamankan diri sebelum bercerita dengan meminta Dinda untuk berjanji tidak akan marah.


"Iya, janji" sambut Dinda cepat.


"Jadi, dulu waktu aku baru dinas di kantor aku yang lama itu. Aku belom tahu banyak tentang tempat nongkrong di deket situ. Akhirnya, aku nongkrongnya deket terminal bus tiap hari. Terminal bus yang didepannya kita pernah beli pisang kipas itu lho, inget kan?" tanya Nanda.


"Hm" sahut Dinda masih menunggu kelanjutan cerita.


"Terus aku duduk-duduk disitu, ketemu cewek. Anak kuliahan gitu. Udah sering ketemu, pokonya udah sering senyumlah soalnya rumahnya deket situ. Awalnya gak berani negur, jaman masih cupu sampe akhirnya dia yang negur duluan. Eh naksir lah aku. Lama tuh yank deketnya, sampe dia minta tolong anterin ke Banyuwangi. Demi apapun, waktu itu juga masih bego. Aku anterin yank, aku sampe nyewa mobil juga. Saat itu aku belom punya mobil soalnya.


Habis apel pagi, izin dulu terus langsung cabut kerumah dia. Berangkat jam 11 waktu itu. Ini hati berasa bangga banget bisa berjasa sama keluarga calon mertua, seolah-olah udah jadi menantu idaman banget. Sejauh-jauh apapun tetap ngotot mau nganterin. Lama tuh yank di jalan, tapi aku bahagia. Gak ada capeknya sama sekali.


Eh giliran sampe di Banyuwangi, tempat keluarganya. Aku sama sekali gak ditawarin istirahat yank, jangankan istirahat ditawarin masuk aja nggak. Bener-bener dia cuma bilang makasih. Disitu aku kecewa banget yank. Yang tadinya pergi senyam-senyum bahagia, seketika langsung kecewa banget terus gak pikir panjang aku lanjut pulang. Mana peduli lagi sama badan. Aku kesal banget yank. Terus tahu nggak 1 minggu kemudian?"


"Apa?" tanya Dinda.


"Ish, kamu banyak banget berkorban buat dia. Giliran ke aku ga ada. Mudah banget malah kamu dapetin aku" gerutu Dinda yang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan si wanita yang tadi Nanda ceritakan.


"Tadi katanya janji gak akan marah" sahut Nanda.


"Aku gak marah, tapi aku kan cuma protes. Kok kamu gitu sih?" tampik Dinda dengan tuduhan marah dari suaminya.


"Yank, itu kan cuma masa lalu. Yang terpenting kamu masa depan aku. Lagian sama dia aku gak pacaran" bujuk Nanda.


"Tuh, gak pacaran aja sampe segitunya berkorban. Sama aku? Aku tuh ngalah terus sama kamu. Kamu sama Lita aja masih sering peluk-peluk padahal aku udah bilang jangan peluk-peluk dia"

__ADS_1


Nanda pun mengusap wajahnya kasar yang langsung banjir minyak zaitun. Ia lupa bahwa telapak tangannya sudah di banjiri minyak zaitun.


"Yank, kan sekarang udah berubah. Mana pernah lagi aku peluk-peluk cewek setelah nikah sama kamu" ucap Nanda mantap.


"Feza?". Satu kata itu saja sudah membuat Nanda mati kutu. Ia lupa bahwa kejadian dirinya memeluk Feza saat sudah resmi menjadi suami Dinda. Tapi kan kejadian itu sudah pernah dibahas dan Dinda sudah memaafkannya. Lalu, mengapa kini diungkit lagi?


"Iya-iya, maaf sayang. Kamu mau aku lakuin apa biar kamu gak marah lagi?". Nanda mencoba bernegosiasi dengan istrinya yang sedang marah atau sedang cemburu. Ah entahlah, kadang keduanya terlihat sama saja gak ada bedanya.


"Ga perlu, aku mau mandi aja". Dinda pun berbalik hendak beranjak dari tempat tidur. Namun, karena pengait bra-nya yang sudah dilepas. Membuat dua gundukan itu jadi menggantung bebas di hadapan Nanda tanpa penghalang.


"Sayang" ucapnya yang kini tatapannya seperti sedang menahan sesuatu.


Dinda urung beranjak dari tempat tidur, ia sudah tahu nasibnya akan berujung di bawah kungkungan sang suami. "Haish" dengan senyum menyeringai Dinda pun mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Dan tampaknya malam ini Dinda lah yang memegang kendali. Keduanya pun hanyut menikmati adegan demi adegan yang mereka ciptakan sendiri. Setelah mencapai pelepasan itu, "I love you, aku suka cara mainnya. Cup" bisik Nanda ditelinga Dinda disusul kecupan hangat di kening Dinda.


Dinda hanya diam, pipinya merah merona mendapat pujian sang suami. Awalnya ia tak berani melakukan hal "berani" semacam ini namun karena ingin menunjukkan pada suaminya bahwa ini lho wanita yang harusnya lo perjuangin. Bukan orang lain.


Dan tolong hapus dia dari ingatanmu, karena aku tidak suka, ucap Dinda dalam hatinya. Ia masih terlalu gengsi untuk mengucapkannya secara langsung karena itu hanya masa lalu, namun tak bisa dipungkiri ia cemburu. Iri juga, iri karena wanita itu mendapat sesuatu yang bahkan tak pernah Dinda rasakan. Diperjuangkan dengan sangat, Ariel saja dulu hanya pandai membuatnya terluka.


"Yank, jadi males mandi" ucap Dinda pelan dari balik selimut.


"Heh, gak boleh gitu. Ayo ayo, udah hampir tengah malam. Kalo mandi sebelum subuh lebih dingin lagi". Nanda membuka selimut istrinya lalu mengangkat tubuh pasrah itu ke kamar mandi.


...-...


...-...

__ADS_1


...-...


Gais, Novel ini aku tamatin aja ya. Aku udah ga PeDe lagi mau ngelanjutinnya. Makasih banget buat yang udah meluangkan waktunya untuk baca, like, dan ngevote novel ini. So happy bisa berinteraksi sama kalian lewat tulisan ini, tapi maaf keterbatasan aku yang tak mampu menulis dengan rapi. Kalian jangan khawatir, aku akan tetap terus belajar:)


__ADS_2