
Mohon dukungannya yaa... Jangan lupa beri Vote untuk novel ini๐๐
***
Breaking News
"Geger! Tersebar rekaman video penyiksaan yang dilakukan oleh seorang politikus terkenal berinisial RMJ yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta membuat publik tercengang. Diketahui, RMJ termasuk politikus yang selalu menunjukkan sisi agamisnya di depan layar. Tak jarang masyarakat menjadikannya panutan dalam segala hal. Adapula tanggapan dari Adi Derma Sanjaya, selaku CEO dari stasiun TV swasta terkait video yang tersebar. Berikut liputannya!"
"Ini seratus persen kesalahan teknis. Sebab dari bagian penyiaran sebenarnya saat itu menayangkan sinetron Bintang Jatuh. Lalu tiba-tiba diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga seolah-olah kami yang sengaja menyiarkannya bahkan tanpa sensor. Jujur saja hal ini juga masih kami dalami dengan dibantu oleh beberapa ahli IT yang kami tunjuk, ada juga dari pihak kepolisian karena kami sangat merasa dirugikan dengan masalah yang saat ini terjadi. Itu saja yang bisa saya sampaikan, kalau ada info terbaru akan segera kami kabari. Terimakasih" ucap Adi Derma saat ditemui di kediamannya pada pagi hari ini.
Dirumah Dinda
"Za, suami kita bakal baik-baik aja kan?" ucap Dinda dengan merasakan firasat buruk dalam benaknya. Kejadian semalam sudah ia ceritakan pada Feza saat dirinya menutup panggilannya dengan Nanda.
"Feeling gue sih baik-baik aja. Kita disini harus banyak-banyak berdoa Din, bukan banyakin hilir mudik kaya lo" timpal Feza.
"Za, gue serius. Gue lagi cemas Za. Gimana bisa gue pergi nemenin ibu sama bapak ke persidangannya Yono kalo gue sendiri bahkan gak bisa nampilin muka really really ok" Dinda terus berjalan hilir mudik dihadapan Feza yang tengah bersiap-siap hendak pergi ke klinik.
"Din, tenang ya. Gue jujur gue juga khawatir. Tapi kalo kita tunjukin kecemasan kita ke mereka, justru itu bakal bikin mereka merasa punya beban 2 kali lipat Din. Disatu sisi mereka harus berjuang pulang dengan keadaan selamat dan disaat mereka berjuang mereka juga harus nenangin kita disini. Nanti kalo mereka kita hubungi terus menerus, justru malah bikin mereka dalam bahaya gimana?"
***
Pagi hari itu juga, Kapolri diminta menghadap ke Istana Kepresidenan guna di berikan mandat langsung untuk mencari keberadaan RMJ guna mempertanggung jawabkan perbuatannya. Presiden juga meminta untuk mengusut tuntas semuanya secara terbuka pada publik dengan tujuan membangun kembali rasa percaya masyarakat terhadap kinerja kepolisian di negeri ini.
Badan Intelijen Negara juga ikut turut serta mencari keberadaan RMJ yang diduga sengaja melarikan diri. BIN, pihak kepolisian, dan TNI bersama-sama memeriksa rekaman video yang viral tersebut. Mulai dari melacak lokasi kejadian sampai memanggil mantan asisten pribadi RMJ untuk diminta keterangan.
Di Desa M****u
Romi sedang tertidur pulas bersama wanita yang ia bawa ke desa sebagai wanita pemuas n*afsunya. Tapi gedoran di pintu kamar membuatnya terpaksa membuka mata.
"Sialan! Siapa yang mengizinkanmu mengganggu tidurku?" bentak Romi.
__ADS_1
"Bos, ini sangat penting. Saya harus segera laporkan ini pada anda" ucap orang kepercayaannya itu.
"Cepat katakan!" pungkasnya.
"Penyiksaan anda terhadap Maryati semalam ternyata ada yang sengaja merekamnya. Bahkan juga sudah tersebar luas di media sosial" ungkap pria tersebut.
"Apa? Kau jangan bermain-main denganku. Tempat ini bahkan tidak ada yang mengetahuinya" bentak Romi dengan suara yang lebih keras. Bahkan sampai membangunkan si wanita pengh*ibur tersebut.
"Sa-... Saya berani bersumpah pada bos. Saya tidak berbohong bos. Saya mengatakan yang sebenarnya" ucap pria itu membela diri.
"Kau sudah temukan kamera itu?" tanya Romi dengan nafas menggebu.
"Sudah bos" jawabnya dengan hormat.
"Kalau begitu, apa kau sudah temukan pemiliknya?" tanya Romi dengan mencengkeram kerah baju milik pria tersebut.
"Be-... Belum bos"
"Sayang, ada apa ini? Kenapa pagi-pagi begini kamu sudah marah-marah?" ucap wanita itu dengan manja memeluk Romi dari balik punggungnya.
"Lepaskan aku! Dan pergilah sejauh mungkin jika kau tidak ingin terkena masalah" bentak Romi.
Wanita itu pun melepas pelukannya dan berlari ketakutan lalu terburu-buru memasang kembali pakaiannya dan pergi dari sana. Selama ia mengenal Romi, ancaman Romi tidak pernah main-main. Demi keselamatannya, ia harus segera pergi dari sana.
Para anak buah Romi segera mencari siapa pemilik kamera tersebut melalui sidik jari yang menempel di kamera. Tapi mereka tak kunjung menemukan hasil. Karena pelaku seperti sudah memperhitungkan hal ini.
Rama, Nanda, Bibin, dan Zapata masih nyantai diruang tengah sembari bercerita tentang kejadian menegangkan semalam. Sampai Bibin menceritakan bahwa dirinya sudah menyebarkan video penyiksaan yang dilakukan oleh RMJ.
"Bin, itu berarti sudah bisa dipastikan video tersebut sudah banyak yang nonton?" tanya Nanda.
"Iya, gue sudah pastikan dengan telpon istri lo semalam kalo retasan gue berhasil" ucap Bibin bangga.
__ADS_1
"Bin, itu berarti kita dalam masalah" pekik Zapata.
"Romi pasti sedang mencari kita sekarang. Gak mungkin dia gak tau" sambut Nanda.
"Astaga, gue gak duga sampe kesitu" Bibin memukul kepalanya. Menyesal mengapa dia baru sadar sekarang.
"Kenapa masih duduk? Ayo beberes! Kalian mau kita mati konyol disini?" ucap Rama dengan kepanikan yang tak bisa lagi ia bendung. Matanya juga berembun. Belum pernah sekalipun dalam hidupnya menghadapi situasi sesulit ini.
"Gue bawa yang penting-penting aja" ujar Bibin.
Ya, dengan tubuh seukuran dia mana mungkin sanggup membawa semua bawaannya. Kecuali tas yang berisi drone dan kamera. Koper dan seluruh pakaiannya, mungkin akan ia tinggalkan dirumah itu.
Dengan secepat kilat, mereka menuju mobil masing-masing. Tidak ada waktu lagi untuk mengemasi seluruh pakaian, bukan hanya Bibin yang meninggalkan banyak barang di rumah itu, tapi juga ketiga rekannya.
Mobil melaju cepat membelah hutan yang masih mendominasi desa tersebut. Dengan jantung yang tidak karuan, Nanda berusaha tenang walau saat ini pikirannya terpecah belah. Karena tiba-tiba saja ia teringat dengan sang anak yang akan segera lahir, juga istri, adik, dan seluruh keluarga yang begitu sangat ia sayangi.
Air mata mulai mengalir pelan membasuh seluruh gurat kepanikan di wajah Nanda. Tak berbeda dengan Bibin. Ia terus menatap kebelakang, memastikan perjalanan masih aman. Namun jantungnya juga tidak baik-baik saja. Bibin merasa saat ini nafasnya sesak. Bibin tak kuasa menekan dadanya.
"Nan, gue sesak nafas. Gue takut gak bisa liat kalian lagi. Nan, tolong sampein ke Zapata kalo gue sayang banget sama dia. Dan kalo kita gak aman lagi, lo jangan khawatirin gue. Gue gak papa, tinggalin aja gue. Kalian selamatkan diri kalian masing-masing. Jangan pikirin gue" Bibin menekan dadanya yang terasa semakin sempit. Nafasnya mulai cepat.
Nanda menangis sejadi-jadinya. Isak tangisnya terdengar. Disatu sisi matanya terus ia usahakan fokus menatap jalan dan selalu dekat dengan mobil yang dikendarai Zapata yang ada di depannya. Tapi telinganya yang menangkap ungkapan sedih dari Bibin membuatnya semakin tidak bisa membiarkan Bibin tersiksa sendiri.
"Bin, lo baik-baik aja kan? Bin, lo gak kenapa-napa kan? Bin!" Nanda memanggil Bibin dengan keras di dalam mobil. Ia ingin kesadaran Bibin tetap ada. Tapi Nanda tidak bisa menepuk-nepuk Bibin karena kondisi saat ini mereka harus ngebut agar cepat keluar dari desa itu.
"Biiiinnnnn........" teriak Nanda agar Bibin mendengar panggilannya.
****
Guys, mo tanya dong...
Yang lanjut baca novel ini sampe bab ini seberapa banyak sih? Aku ngerasa novel ini kaya gak ada yang baca๐
__ADS_1