(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
64. Seperti Sedia Kala


__ADS_3

Waktu sudah berlalu selama satu bulan setelah Ariel lamaran, Dinda sangat terkesima dengan kemampuan melupanya dalam waktu yang ia rasa cukup singkat ini. Tadinya Dinda berpikir bahwa akan di butuhkan waktu yang cukup lama untuk dirinya mampu melupakan sang mantan yang meninggalkannya begitu saja, namun ternyata... Ahhhh senangnya, menjalani hari seperti dulu saat belum mengenal Ariel.


Menurut Dinda, ada alasan penting di balik kesembuhan yang cepat dari patah hatinya. Yang pertama, Ariel memiliki banyak rekam jejak bahwa ia sering sekali tergoda dengan wanita lain. Hal ini membuat Dinda cukup mudah melupakannya karena hanya dengan mengingat keburukan Ariel hal itu mampu membuat Dinda membenci atau bahkan sama sekali tak ingin mengingat Ariel lagi. Meskipun kalau di sebut namanya, ya tetap ingat juga.


Bedanya adalah rasa. Ketika ada yang menyebut nama Ariel di telinganya, Dinda sudah biasa saja.


Kedua, Dinda beruntung karena di kelilingi oleh orang-orang yang mengerti dan selalu memberi dukungan secara emosional. Hal itu membuat Dinda tak kehilangan kebahagian secara utuh. Meski Ariel juga termasuk salah satu sumber kebahagiannya namun, Dinda sadar bahwa kebahagiaan yang Ariel tawarkan tak layak jika harus di sandingkan dengan rasa sayang Dinda yang terlalu besar.


Ketiga, Dinda melakukan hal apapun selama ia merasa dengan melakukannya bebannya terasa lebih ringan. Contoh, ketika tiba-tiba mendengar lagu galau terus mendadak ingin menangis. Maka menangislah, jangan di tahan. Air mata adalah racun dalam tubuh. Dengan begitu, racun itu keluar seiring juga dengan lepasnya satu-persatu beban yang berkecamuk dalam dada. Dan itu salah satu alasan yang penting jika ingin lekas move on, yaitu jujurlah dengan perasaanmu. Mau nangisn ya nangis saja. Mau menjerit pun silahkan juga. Yang sakit ini hatimu, yang luka ini lukamu. Hanya kau yang tahu obatnya.


Jika sedang tidak baik-baik saja, tak apa. Tuhan tidak menuntut umatnya untuk selalu terlihat tegar. Bukankah tujuan dari ujian perasaan itu adalah untuk mendewasakan? Maka tidak selamanya patah hati adalah kesialan. Justru kau haruslah bersyukur, dengan begitu hatimu jauh lebih kuat. Dan tak mudah bagi siapapun untuk menghancurkannya.


Bagi yang jarang patah hati, oh kalian juga patut bersyukur. Hidup kalian baik-baik saja dan jangan sampai orang yang kalian percayai menyakiti kalian. Kalo kalian di sakiti, minta masukan sama yang ahli patah hati yaa hehehe. Barangkali curhat di kolom komentar juga bolleh. APA SIH😂


Kembali pada Dinda yang saat ini sedang uring-uringan di kamarnya. Ya, uring-uringan. Seperti yang author sebutkan di atas, kalo Dinda kini sudah kembali seperti sedia kala saat ia belum mengenal Ariel. Beginilah adanya, nongkrong sendirian dan seharian di kamar.


Sedari tadi Dinda hanya mengotak-atik ponselnya berharap ada siapa gitu yang mencari dan menghubunginya. Si Ariel ? Argg, Dinda sama sekali sudah tak pernah lagi memikirkannya.


Oh iya, perihal kue. Ya, kue yang pernah Dinda titip sama Aidil buat di kasihin ke Zapata. Ternyata responnya positif, si Zapata suka. Dia cuma ngucapin terima kasih dan itupun Aidil yang sampein ke Dinda. Selebihnya, antara Dinda dan Zapata tidak ada urusan apapun lagi.


"Hufftttt, bosaaaaan. Pengen jalan-jalan" ucap Dinda bersungut-sungut di atas tempat tidurnya.


15 menit kemudian, barulah Dinda menurunkan kakinya dari tempat tidur. Sekarang sudah pukul 2 siang, dan Dinda belum mandi dari tadi pagi.

__ADS_1


Dinda mengambil handuknya kemudian melenggang menuju kamar mandi. Ia berniat akan cari angin meski belom yakin juga tujuannya kemana. Mau ke rumah Ayu tapi Ayunya lagi berkunjung ke rumah mertuanya. Nasib... nasib punya teman dikit bener.


Selesai mandi, Dinda memakai pakaian kasual dan hanya mengikat rambutnya. Di tambah polesan bedak tipis saja, serta penggunaan pelembab bibir supaya terlihat lebih segar dan tidak pucat.


Dinda hari ini memang tidak sholat, karena ia sedang datang bulan. Sehingga ia malas ngapa-ngapain bahkan mandi saja ia sebetulnya malas. Ia rutin ke toilet 4 jam sekali hanya untuk mengganti pembalutnya saja.


Dinda menuruni tangga lalu berpapasan dengan Bi Hanum yang baru saja selesai menjemur pakaian kantor Dinda yang memang baru Dinda serahkan sekitar jam 12 tadi.


"Non, mau kemana? Bibi lihat seger banget" sapa Bibi yang berada tepat di depan tangga.


"Hehe, baru selesai mandi, Bi. Oh ya Bi, aku izin mau keluar ya, mmmmm... mau cari-cari angin aja sih, bosan ga ngapa-ngapain. Bibi mau ikut?" ujar Dinda yang kini sudah turun sampai di hadapan Bi Hanum.


"Bibi sudah tua Non, cari angin bukan selera Bibi lagi. Seusia Bibi ini sekarang sibuk cari amal Non" kata Bibi dengan raut wajah seriusnya.


"Ya udah, kalo gitu ada yang mau Bibi titip ga? Biar nanti aku beliin" tutur Dinda menawarkan diri seperti biasanya.


"Ya udah, kalo gitu aku pergi ya Bi" Dinda pun menyalami sang ART kesayangannya lalu berjalan menjauh.


"Non..., Bibi cuma titip pesen nanti pulangnya jangan magrib-magrib" ujar Bi Hanum ikut nyamperin Dinda ke pintu utama.


"Ngga Bi, aku pulang subuh soalnya hehehe" canda Dinda yang membuat Bi Hanum geleng-geleng kepala sambil ngeliatin Dinda yang sudah duduk nyaman dalam mobilnya.


Dinda beranjak meninggalkan halaman rumahnya lalu melaju menuju gerbang komplek perumahannya. Selama perjalanan ia tiba-tiba ingin sekali minum es cendol, tapi bingung mau cari di mana. Karena tukang es cendol yang suka nangkring depan minimarket dekat komplek itu sepertinya sedang keliling dalam komplek.

__ADS_1


"Huuuh, masa udah sampe sini balik lagi ke dalam" ujar Dinda yang malas untuk putar balik menuju kembali ke dalam komplek untuk mencari si abang-abang es cendol yang tak tahu lagi keliling di blok mana.


Akhirnya Dinda memutuskan untuk ke taman saja. Karena di sana pasti ada banyak penjual jenis minuman menyegarkan lainnya.


Tak jauh dari komplek perumahan Dinda, kini Dinda sudah sampai di taman tempat di mana dulu ia sering kunjungi saat galau. Kini sudah tidak galau lagi, cuma lagi bosan dengan kehidupan yang begitu-begitu saja.


Dinda pun duduk di kursi bawah tenda penjual es tebu. Mau tidak mau harus beli, karena Dinda sudah menikmati fasilitas miliknya.


Matahari sangat terik, sepertinya pulang dari sini harus mandi lagi. Padahal maunya Dinda mandi cukup sehari sekali saja.


Setelah Dinda menikmati es tebu yang sudah tersedia di hadapannya, Dinda merasa dahaganya seperti air terjun yang dingin dan menyegarkan.


Seketika terik matahari seperti tak berefek apa-pada tubuhnya. Betapa segarnya minum yang dingin-dingin di panas terik seperti ini.


"Woi"


Seketika membuat es batu yang hendak Dinda kunyah melompat ke udara dan mendarat di mejanya. Dinda pun menghela nafas karena ia sudah naik pitam dan memutar kepalanya hendak mencari tahu tangan siapa yang sampai detik ini nyaman bertengger di pundaknya dan membuat ia kaget.


●●●


Hello epribadehh, kangen aku gaa??? Betewe otor hari ini lagi kesurupan jadi mau up terus hehe. Soalnya di beberapa novel yang pernah otor baca, banyak pembaca yang kabur gara-gara upnya kelamaan. Dan karena otor sayang kalian, ga mau bikin kalian penasaran, jadi otor mau berbaik hati up beberapa kali di hari ini. Bisa sampe 2 atau lebih sih, ga tau ah... pokonya gitu deh


Kalian tebak sendiri ajalah ya... Karena otor perempuan dan maunya kalian yang peka. Pokonya..... (Sengaja pakek titik, namanya juga perempuan, kalian lanjutin sendiri aja, aku tuh maunya kamu peka, jangan sedikit sedikit maunya aku yang jelasin. Bisa ga siiiih. Bete nih. Apa tunda aja up nya? Mulai ngancam, senjata perempuan banget nih hehhehe au ah, ga mau.... ngga ga mau.... aku ga mau tau....

__ADS_1


Masih kalian baca juga sampe sini ? Wow, berarti Indonesia ga darurat membaca ya, buktinya hal nyeleneh kaya gini masih lanjut juga di baca. Sana sana kerja, baca ginian ga bikin kaya, ini cuma kegabutan otor aja.


End


__ADS_2