
Sepanjang perjalanan melewati hutan yang masih asri dan alami karena tak terjamah oleh pengaruh luar, membuat mata seluruh penumpang mobil itu terkantuk. Ditambah lagi kondisi lambung yang sudah terisi, semakin memperkuat keinginan untuk tidur.
Tak berapa lama terlelap, sang sopir membangunkan mereka semua. Karena seperti instruksi Nanda sebelumnya, kalau sudah masuk waktu sholat ashar maka langsung cari masjid atau mushalla terdekat saja.
Kini mereka semua sedang duduk selonjoran di pelataran sebuah masjid kecil karena kelelahan duduk berjam-jam di dalam mobil sembari bergantian wudhu. Feza yang merupakan satu-satunya perempuan pun memilih wudhu lebih dulu. Karena memang di masjid ini tempat wudhunya hanya tersedia di satu tempat, yang artinya laki-laki dan perempuan gabung tempat wudhunya.
"Katanya masjid, kok kecil ya?" tanya Pak Prima yang merasa tempat ibadah satu ini lebih pantas disebut mushalla.
"Karena mulai dari desa ini sampai ke desa yang kita tuju mayoritas nonmuslim pak. Makanya masjidnya hanya sekecil ini. Pas-pasan untuk 40 orang" jawab sang sopir yang memang paling tahu dibanding mereka tentang tempat ini.
"Oh, tapi makin kedepan sana mushalla ada?" tanya pak Prima lagi.
"Gak ada pak, ini satu-satunya fasilitas ibadah buat yang muslim. Kadang juga ini di pakek buat TK atau Paud pak" jawab sang sopir.
"Oh iya, kalo ada yang mau dihubungin hubungin sekarang aja. Karena sampe ke desa kita nanti gak ada sinyal lagi" ucap Mas Rahmat mengingatkan.
Seketika Rama dan Nanda buru-buru cari ponsel masing-masing setelah mendengar kabar "buruk" itu.
Kedua pemuda paruh baya eh salah, kedua pemuda sebaya itu pun menunjukkan ekspresi berbeda kala menatap layar ponsel mereka. Jika Nanda senyum mengembang mendapati pesan penuh perhatian dari sang istri. Sedangkan Rama mendapat ancaman akan ditinggalkan oleh Maudy.
"Aku udah nih. Pak Prima, Mas Rahmat bisa wudhu sekarang" ujar Feza lalu membuka sendalnya dan masuk ke dalam masjid.
"Heh, ayo wudhu" ajak Pak Prima.
"Iya iya pak" jawab Nanda setelah membalas pesan istrinya.
__ADS_1
Mereka bertiga heran melihat Rama yang sibuk mengetik pada ponselnya. Nanda, Pak Prima, dan Mas Rahmat saling pandang. Dengan pandangan yang sama seolah bertanya "Ada apa dengan pemuda satu ini?". Namun mereka tetap melanjutkan tujuannya ke tempat wudhu tanpa memperdulikan Rama yang masih mengotak-atik ponsel. Ia membalas pesan Maudy dengan kecepatan 80km/jam dan berkali-kali menghubungi namun ditolak begitu saja.
Rama kini bagai tubuh tanpa nyawa saat mengulang kembali membaca pesan Maudy satu persatu. Ia ketik lagi kalimat-kalimat bujukan agar Maudy mau menunggu sampai dirinya kembali dan hanya menunda lamaran bukan membatalkannya.
Rama➡Maudy
Dy, tolong jangan dibatalkan. Aku serius meminta kamu untuk jadi istri aku dan jadi satu-satunya wanita di hidup aku. Mencari pengganti kamu bukan hal yang mudah bagi aku, kamu yang 10 tahun selalu ada di samping aku. Pernah menemani aku di masa-masa terbaik sampai terburuk aku. Please, don't leave me😢.
Rama➡Maudy
Dy, aku lagi di masjid mampir sholat. Dy, kita ini lagi berjauhan. Tolong jangan buat aku cemas Dy. Aku menghormati keluarga besar kamu, pasti mereka juga bertanya-tanya kenapa kita tunda acara lamaran kita ini. Tapi aku mohon, kamu bisa jadi juru bicara yang baik buat aku ya🙏. Kasih mereka penjelasan yang mudah diterima. Aku bersyukur banget bakal punya istri kaya kamu dy, kamu tuh all in one. Jadi partner yang serba bisa. Sekali lagi aku mohon, jangan tinggalin aku🙏. Tetap teruskan hubungan ini. Alasan aku mau kamu bertahan bukan karena kita sudah terlanjur lama tapi karena rasanya yang masih sama. Kamu, Maudy aku yang gak pernah berubah dari 10 tahun yang lalu. I love you❣
Meski ada kecemasan dalam hatinya namun, Rama tetap berusaha membujuk dan menyelipkan pujian untuk Maudy. Karena hanya itu yang ia mampu untuk membujuk sang kekasih yang jauh dimata namun dekat di do'a.
Rama pun mengejar ketertinggalannya karena sudah ditinggal sholat oleh Pak Prima dan yang lain. Ia segera berwudhu dan menyusul ke dalam masjid untuk sholat.
Nanda, Pak Prima, Mas Rahmat, dan Feza kini sudah kembali duduk di teras masjid. Mereka setia menunggu Rama yang tampak lama sekali sujudnya.
Di masjid itu memang hanya ada mereka berlima. Sejak baru datang sampai selesai sholat tidak ada satu orangpun yang mampir atau sekedar lewat di samping masjid ini. Benar-benar sepi. Dan juga, jarak satu rumah kerumah lain cukup jauh. Tak terbayang oleh Nanda. Bisa-bisanya orang tua Feza mengirim anaknya sendiri ke tempat yang seperti ini. Mendidik sih mendidik, tapi mengingat betapa bahayanya melepas anak perempuan jauh dari pantauan tentulah sangat tidak sebanding.
"Ayo berangkat" ucap Rama saat baru keluar dari masjid.
"Kok lesu Ma?" tanya Feza.
"Bukan urusan lo" jawab Rama dengan ketus.
__ADS_1
Jelas saja hal ini membuat semua orang jadi canggung, suasana menjadi dingin. Terlebih Feza, korban utama yang di bentaknya.
Feza pun langsung menyarungkan sendalnya dan masuk ke dalam mobil. Terlihat sekali wajahnya kini sedang bad mood. Ditambah caranya menutup pintu. Braaak. Membuat semua yang masih berdiri mematung di teras masjid terperanjat.
Setelah Feza, disusul Rama yang masuk mobil. Lalu Nanda, Pak Prima, Mas Rahmat bersamaan masuk ke mobil.
Namun kini terjadi perubahan formasi. Yang mana sejak pagi tadi sampai masjid, Nanda lah yang duduk di depan bersama sopir. Kini, posisi Nanda di ambil alih oleh Rama. Entah apa yang merasuki lelaki itu, ia seperti anti sekali terhadap Feza.
"Woi, lo apa-apaan sih bentak Feza kaya tadi" bisik Nanda yang duduk tepat di belakang Rama.
"Gue gak sengaja" sahut Rama yang terasa kentara sekali bahwa ia sedang banyak pikiran.
"Gak sengaja lu bilang? Feza sekarang bete sama lo" ucap Nanda lagi.
"Nanti gue minta maaf" jawab Rama. Nanda pun kembali menyandarkan punggungnya setelah lega mendengar ucapan Rama yang akan meminta maaf pada Feza.
"30 menit lagi kita sampe di rumah pak kades" ucap Mas Rahmat memberi informasi dan sekaligus ingin mencairkan suasana.
"Oh gitu ya mas? Gimana pendapat Pak Prima?" tanya Nanda berhasil membuat bingung Pak Prima. Karena baginya, pertanyaan macam apa itu?
Namun, Nanda terus berkedip-kedip padanya sehingga mau tidak mau ia harus mengutarakan apapun pendapatnya.
"Ya, saya sangat setuju. Semoga perjalanan ini bisa membawa kita bertemu Tuhan".
"Astaghfirullah" seisi mobil serentak tidak mengaminkan ucapan Pak Prima.
__ADS_1
"Mati dong pak kalo ketemu Tuhan" ucap Nanda sembari menepuk keningnya.