
Namanya hidup, kita harus bisa berdampingan meski banyak berselisih paham. Berusaha terlihat tegar meski hanya diluar saja.
.
.
.
Waktu selalu berputar cepat saat di rasa senang, ia akan terasa lambat saat para manusianya kesusahan, di rundung kesedihan, saat tak berdaya menghadapi kenyataan. Kini, hubungan Dinda dan Ariel sudah berjalan 3 tahun.
Mereka kian hangat, penuh cinta, dan selalu bahagia. Meski permasalahan memang hadir silih berganti, namun tak mampu memisahkan keduanya.
Yang saling ada di saat keduanya merasa butuh. Saling tak ingin berjauhan.
Pernah terpisah beberapa waktu karena Dinda yang pergi KKN atau Ariel yang mengurusi perusahaan yang ia rintis sendiri di luar kota. Namun tak menyurutkan kasih sayang mereka meski terpisah jarak.
Alasannya cuma 1, komunikasi yang di jaga dan manja yang di kurang-kurangi. Menekan ego masing-masing biar tak pusing.
Sebab di saat sedang sama-sama lelah dan berjauhan, siapa yang tak kesal kalau pasangan tiba-tiba seperti mencari-cari kesalahan. Atau bahkan, di saat hubungan sedang baik-baik saja, ada khilaf yang baru ketahuan.
Seperti siang ini, Dinda yang menenteng setumpuk map merah di tangan kirinya sedang berjalan dari parkiran menuju ruang Pembimbing Skripsinya. Setelah menghabiskan kurang lebih 2 bulan di tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN), kini Dinda akan serius menekan dirinya sendiri untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsinya.
Di tengah perjalanannya menuju ruang dosen yang ia tuju, nada pesan di ponselnya berbunyi. Setelah membaca pesan itu, seketika membuat Dinda membuang nafas dan menuju kursi tunggu yang tersedia berjejer di setiap lorong depan ruang dosen.
Bu Retno
"Dinda, siang ini saya ada rapat di ruang senat. Kamu bisa temui saya besok pagi jam 8"
Begitu bunyi pesan yang barusan membuat semangat Dinda pengen cepat-cepat lulus jadi runtuh.
"Kenapa ga bilang dari tadi kek buuuu, udah sampe kampus baru kasih tahu. Padahal tadi pagi bilangnya siang ini bisa, sedih banget" ucap Dinda berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Siang itu memang sedang sepi, karena posisi Dinda sedang berada di depan ruang dosen. Dan bukan tempat terbuka di mana banyak mahasiswa yang berkerumun.
Dinda berjalan lagi keluar. Ia ingin ngadem saja di perpustakaan sekalian mau cari buku atau apapunlah yang bisa ia lakukan di perpus.
Meski beberapa teman Dinda ada yang memanggilnya untuk mengajaknya ke kantin untuk makan bareng atau sekedar nongkrong, tapi Dinda menolaknya, "Rasanya menyendiri lebih baik" gumam Dinda lagi, sebab moodnya sedang tidak enak. Entahlah, apa karena di PHP-in dosen... Atau... Argggh, entahlah.
Sesaat sampai di perpustakaan, Dinda tak langsung mencari atau membaca buku. Ia justru mengabari Ariel bahwa ia sudah sampai kampus dan menceritakan bahwa ia gagal bimbingan karena dosen pembimbing yang harus ia temui hari ini sedang ada kepentingan lain.
Chat itu terkirim, namun tak kunjung di balas. Dinda tak kesal akan hal itu, karena ia tahu bahwa di jam segini Ariel pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Di saat uring-uringan gak jelas, terbesit dalam pikiran Dinda untuk membuka akun media sosial milik Ariel yang sudah 1 tahun ini tak pernah sama sekali ia buka. Karena ya begitu, Dinda bukan type yang suka ngecek-ngecek.
Toh, ia sangat percaya kepada Ariel dan sikap Ariel pun tak perlu ada yang di curigai. Kecuali untuk saat ini, karena tiba-tiba saja ada hasrat untuk buka instagram Ariel, maka ia pun mengikuti saja kata hatinya.
Saat instagram Ariel terbuka, entah kenapa detak jantung Dinda berdebar hebat. Seperti ada trauma di masa lalu saat ia membuka akun sosial media milik Ariel. Padahal kejadian itu sudah lama, tapi Dinda seperti takut sekali kalau sampai kejadian itu kembali terulang. Ia sangat mencintai Ariel, dan ia yakin Ariel pun begitu.
Hingga pada saat jempol Dinda menyentuh layar yang membuka daftar rentetan chat yang tersedia di aplikasi itu, alias DM (Direct Messages). Mata Dinda membulat.
Dinda menutup aplikasi itu, mau nangis tapi ga mungkin. Mau marah tapi orangnya ga ada.
"Aku bakal tunggu kamu pulang. Tapi sampai waktu itu tiba, chat dan telepon kamu ga akan aku tanggepin" begitu niat hati Dinda akhirnya.
Ga jadi ngadem, Dinda pun akhirnya memutuskan untuk pulang, karena saat ini yang ia butuh hanya kamar. Tempat dimana ia bisa melakukan apa saja tanpa perlu khawatir ada orang lain yang melihatnya.
Saat sampai di rumah, Dinda mengucap salam lalu berjalan langsung menuju kamarnya. Bahkan ia tak menggubris rasa lapar di perutnya yang meminta segera di isi.
Sampai di kamar, Dinsa berbaring menatap langit-langit kamarnya. Diam. Ia sedang overthinking, merasa tak baik-baik saja, kemudian ia menangis.
Menumpahkan segala sesak, tak perlu buang tenaga, menangis satu-satunya cara yang membuat ia bisa lega seketika.
Menangis tanpa suara... hingga kemudian ia tertidur dengan air mata yang di biarkan mengering di pipi.
__ADS_1
Setelah 2 jam tertidur, Dinda terbangun karena mendengar dering telepon di tasnya berbunyi. Tertera nama "Arielβ€" di sana. Panggilan itu ia biarkan saja sampai berakhir dengan sendirinya.
Dinda ingin menjaga jarak selama Ariel masih di luar kota. Ia ingin Ariel peka dan pulang sendiri tanpa di minta.
Saat panggilan itu berakhir, Dinda pun akhirnya membuka aplikasi whatapp. Ada 3 pesan dari Ariel.
15:12
"Iya sayang, besok aja kamu temuin lagi dosennya. Kamu yang semangat yaa, jangan menyerah. Aku aja ga pernah lelah semangatin kamuπ"
15:40
"Sayang, ini aku baru selesai makan siang hehe. Kerjaan aku udah selesai di sini. Kayanya nanti malam aku pulang"
16:15
"Spadaaaa, kemana nih? Chat aku kok ga di bales"
ting...
"Akhirnya online juga pacar aku niiihππ, tadi kemana aja sayangku?"
Senyap, Dinda tak mengetik 1 huruf pun. Ia dengan santainya keluar dari aplikasi itu dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan wudhu. Lalu setelahnya ia makan siang yang tertunda.
Di saat malam harinya, Dinda duduk di balkon. Tempat biasa di mana ia bisa melihat langit sambil dengar lagu pakai earphonenya.
Di balkon, Dinda tersenyum. Rasa sakit di hatinya seperti menguap begitu saja. Ia tak segalau dulu. Bahkan dengan mudahnya ia mengabaikan Ariel. Padahal dulu, hal ini di anggap cukup berat untuk Dinda lakukan kepada Ariel. Apa karena dulu cintanya masih sangat besar, dan sekarang...
Dinda pun tak mengerti
πππππ
__ADS_1
Sampai jumpa di tanggal 14 ya gaizzzz...