
Setelah seharian bekerja, Dinda pun pulang kerumah dengan menaiki taksi. Hari ini ia sengaja tak membawa kendaraan pribadinya karena sedang malas saja. Alasan lumrah para wanita, bukan?
Saat sampai di rumah, ternyata sang mama sedang siram-siram tanamannya. Lalu Dinda pun yang baru turun dari taksi segera menghampiri sang mama.
"Assalamu'alaikum, Ma" ucap Dinda seraya mencium pipi Mamanya.
"Wa'alaikumsalam, gimana kerjanya ? Capek?" tanya sang Mama yang memang sangat-sangat perhatian.
"Ngga kok, Ma. Oh iya Ma, si Ariel katanya resepsi hari senin. Kita di undang?" tanya Dinda yang penasaran sejak masih di kantor tadi.
"Ga tau Din. Tapi mama ga ada nerima undangan sampe sekarang" sahut sang Mama yang terhenti dari kegiatan siram-menyiramnya.
"Belom di bagiin kali ma" ucap Dinda berpikir rasional. Karena bagi Dinda agak kelewatan juga kalo sampe ga ngundang, kan kita tetanggaan. Dan Ariel pun sama orang tua Dinda jatuhnya ga punya masalah. Lain halnya dengan Dinda, ga di undang ya gak papa. Karena bisa jadi si calon istrinya ga suka Dinda atau gimana gitu.
Kan ada juga tuh orang yang ga mau ngundang mantan ke acara resepsinya.
Dinda pun mungkin kalo di undang tetap memilih untuk tidak datang, karena memang rasa benci tak bisa di pungkiri. Dan ia tak mau sok dewasa dan sok tegar untuk datang ke nikahan mantan. Takut nangis dan malah mempermalukan diri sendiri.
"Ya sudah, kamu masuk sana. Langsung mandi biar maghribnya ga telat" titah sang mama yang melihat anak gadisnya itu malah santai duduk di teras rumah sambil memperhatikan mamanya.
"Iya Ma, Dinda masuk dulu". Akhirnya Dinda pun beranjak dari sana menuju kamarnya. Sampai di kamar ia pun mengecek ponselnya yang tak kunjung mendapat pesan 1 pun dari Nanda.
Namun, beberapa detik kemudian ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Dan ternyata itu Nanda.
Hufttttt, di tungguin dari tadi baru nongol sekarang.
"Hm" ucap Dinda singkat ngikutin gaya Nanda saat mengangkat panggilan telepon darinya.
__ADS_1
"Ha hem ha hem. Ga kangen aku ya?". Ck pertanyaan macam apa ini, bisa-bisanya Nanda yang terkenal kaku dan ketus itu bertanya demikian.
Ya kangenlah masa ngga, ucap Dinda dalam hati.
"Kamu kali yang kangen aku" ujar Dinda yang sengaja pengen mancing Nanda untuk berkata yang manis-manis padanya.
"Iya" jawab Nanda yang membuat Dinda meringis karena jawaban Nanda cuma "iya".
"Ayo ketemu" sambungnya lagi.
"Sekarang?" tanya Dinda memastikan. Sebab ia sendiri sudah hampir maghrib tapi belom mandi. Demi angkat telepon dari Nanda.
"Aku ga bisa. Aku masih ada kerjaan sampe malam. Gimana kalo senin aja. Aku cuti soalnya 2 hari" ujar Nanda yang ngajakin ketemunya sekarang tapi ketemunya kapan-kapan.
Haisss, cuti sih cuti masa senin selasa. Ga bisa malming-malming dong, gerutu Dinda dalam hati karena ia sudah berharap lebih ketika mendengar kata cuti. Maunya ngabisin waktu lebih banyak sebagai penebus dosa 1 minggu menjauhi Nanda eh tahunya Senin Selasa, ya mana bisa. Dinda kan sibuk kerja ga bisa jalan-jalan.
"Din, kok diam?". Suara Nanda seketika membuyarkan pikiran Dinda.
"Ngga, ga papa. Ya udah, kalo gitu ketemunya Senin kan?" tanya Dinda berusaha menerima kalau mereka akan jumpa lagi di 5 hari yang akan datang.
"Ngga tahu. Kalo malam minggu aku bisa keluar, ya malam minggu aja. Kenapa harus nunggu Senin" ujar Nanda yang membuat Dinda senyum-senyum karena keinginan malming sama Nanda bisa terpenuhi.
"Iya deh" jawab Dinda santai padahal betul-betul senang.
"Kamu udah mandi?" tanya Nanda akhirnya.
"Belum" jawab Dinda.
__ADS_1
"Ck, mandi sana. Anak gadis macam apa jam segini belom mandi. Eh tapi, kamu udah pulang kerja kan?" tanya Nanda khawatir.
"Udah kok udah pulang, ini juga tadinya mau langsung mandi tapi karena ada yang telpon jadi ketunda deh" ungkap Dinda yang sebetulnya bahagia sekali di khawatirin sama Nanda. Karena udah lumayan lama juga kan ga di khawatirin Nanda, dan itu bikin Dinda kangen.
"Oh gitu. Ya udah mandi sana. Jangan di tunda-tunda lagi" titah Nanda yang sebenarnya masih pengin ngobrol.
"Iya, kamu juga mandi sana" titah Dinda balik merintah.
"Ngga, aku mandinya nanti aja pas pulang. Di sini ga aman, aku takut ada yang ngintip" ujar Nanda yang membuat Dinda kepo.
"Hilih, siapa juga yang selera ngintipin kamu hahaha. Emang kamu lagi dimana, sih?" tanya Dinda yang ga tahan di buat bertanya-bertanya atas ucapan Nanda.
"Aku lagi di tempat prostitusi yang di duga jual anak di bawah umur juga. Katanya sih makanya ni tempat bisa ga kesentuh sama kepolisian karena ada pejabat yang ikut "main"" ucap Nanda yang kebagian nemenin Lita ke sana. Tapi ga mau ikut masuk, karena takut di godain dan tergoda.
Mendengar hal itu, Dinda langsung panas dingin karena tempat seperti itu pasti banyak cewek-cewek penggodanya. Wah ga bisa di biarin nih. Harus di introgasi, pikirnya.
"Wah, seru dong. Banyak cewe cantiknya, bisa sekalian cuci mata tuh" pancing Dinda yang sengaja ingin tahu kira-kira bagaimana Nanda bersikap ketika di sana. Menurut Dinda, Nanda bisa saja berbohong padanya karena Dinda tak melihat langsung dia disana. Tapi Dinda akan tetap menghargai Nanda karena sudah berusaha untuk menjaga perasaannya. Namun, Dinda akan tetap pergi kalau-kalau Nanda ternyata bukan laki-laki yang baik. Tapi apa iya? Sejauh ini kan Nanda terbukti adalah laki-laki yang baik.
"Enak aja. Selera aku bukan cewe kaya mereka lah. Udah ada kamu, yang baik ngapain masih lirik yang lain. Ga berkelas lagi" ungkap Nanda dengan jujur tapi Nanda ga tahu apakan gadis yang sedang berbicara dengannya ini akan percaya atau tidak.
"Ini aja aku cuma nunggu di mobil. Malas turun. Biar Lita dan yang lain aja. Aku ga mau berurusan sama Tante girang pemilik tempat ini" sambungnya lagi.
"Iya iya aku percaya. Tapi sholatnya jangan lupa ya, 10 menit lagi nih. Aku mandi dulu, ga papa aku tinggal, kan? Nanti telpon lagi kalo kamu butuh temen ngobrol" ujar Dinda yang membuat Nanda senang mendengarnya karena Dinda bisa percaya padanya bahwa ia memang bukan laki-laki yang suka macam-macam.
"Iya, jangankan sholat. Kamu juga selalu aku ingat. Assalamu'alaikum" ujar Nanda sebelum menutup panggilan telponnya.
"Wa'alaikumsalam" balas Dinda kemudian ia langsung buru-buru mandi.
__ADS_1