(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Dasar Lelaki Buaya


__ADS_3

Hari berlalu, Dinda menikmati akhir pekannya untuk menyendiri di rumah. Nanda sibuk, orang tua keluar kota, Ayu liburan kerumah mertuanya, anak kantor udah pada punya jadwalnya masing-masing kalo akhir pekan begini.


"Non, ga jalan-jalan keluar? Kok tumben mas Nandanya ga jemput hari minggu gini" tanya Bi Hanum karena memang Nanda dan Dinda terbiasa pergi keluar untuk quality time.


"Dia lagi sibuk Bi. Aku juga pengen pergi, tapi bingung mau kemana. Males juga kalo pergi sendirian" Dinda pun menjawab dengan lesu sambil membaringkan kepalanya ke meja makan.


"Bibi mau kepasar, Non gimana? Mau ikut atau mau tetap di rumah?" tanya Bibi sambil menenteng keranjang kosong untuk di bawa berbelanja.


"Ikut Bi, kita gausah pake sopir. Berangkatnya pake mobil Dinda aja ya. Bibi tunggu disini, aku ambil sweater dulu" ucap Dinda lalu bergegas kekamarnya untuk mengambil barang-barang yang penting saja, seperti dompet, kunci mobil, dan sweater rajut yang ia maksud.


Pakaian Dinda sangat sederhana, hanya dengan memakai kulot jeans yang agak cingkrang seperti yang trend akhir-akhir ini dan kaos putih lalu di balut dengan sweater rajut, rambut yang diikat berantakan namun estetik. Ia pun berjalan lebih dulu menuju luar rumah untuk segera memanasi mobilnya. Namun saat sampai depan teras, ia melihat Ariel sedang bermain dengan seorang anak kecil di pinggir jalan, tepatnya depan rumah Dinda.


Dan mungkin karena mendengar suara knop pintu yang di buka, Ariel pun menengok ke arah Dinda berdiri. Mereka bertatapan sebentar lalu Dinda buru-buru masuk kembali ke dalam rumah karena ia merasa betul-betul takut melihat Ariel.


Entah mengapa reaksi dirinya seperti ini, kalo tidak ada masalah kenapa harus menghindar. Tapi disini, Dinda justru tak berani setelah ditatap Ariel begitu. Bahkan Ariel saja tetap santai meskipun jauh dalam hatinya ia berbunga-bunga menatap Dinda walau sekejap.


"Non, kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Bibi yang sudah siap untuk berangkat ke pasar.


Dinda pun berusaha menata kembali degup jantungnya lalu membuka pintu.


"Ayo Bi, nanti kesiangan lagi" ujar Dinda sambil berjalan lurus ke garasinya tanpa lihat kiri kanan. Ia berjalan seperti robot. Namun Bibi menyadari kenapa ulah Dinda seperti itu, karena ia melihat ada Ariel di dekat mereka, paling hanya berjarak kurang lebih 8 meter saja. Mending kalau kehalang pepohonan seperti di hutan-hutan. Lah ini, tanpa ada penghalang, cuma pagar rumah Dinda saja yang menghalangi pandangan mereka, itu juga gak ngaruh sama sekali.


Dinda pun memanasi mobilnya sebentar, lalu mereka berangkat bersama menuju pasar.

__ADS_1


Kenapa gue masih deg-degan ya. Ya Tuhan, kisah kami bahkan sudah ending dari lama, tapi kok rasanya masih baru-baru aja. Terus kenapa tadi gue langsung balik ke dalam, kan jadi kelihatan banget gue ngehindarin dia. Terus juga, kenapa jadi gue yang merasa bersalah gini. Kan dia yang jahat duluan. Dinda terus-terusan mengkoreksi dirinya tentang sikap yang ia tunjukkan tadi pada Ariel. Lain kali, biasa aja. Stay cool, keep calm, and stay charming. Sugestinya pada dirinya sendiri.


-


Akhirnya mereka pun sampai di pasar, Dinda turun lalu mengikuti Bibi berjalan di depannya yang memang lebih paham tentang pasar dibanding Dinda. Sekarang, pasar tradisional tidak lagi kumuh dan kotor seperti dulu. Dinda pun tak merasa jijik dengan sekitarnya.


Bibi membeli beberapa kilo ikan Nila dan ikan Tongkol, karena memang di rumah Dinda favoritnya adalah 2 jenis ikan tersebut. Setelah itu, mereka berpindah ke tempat penjualan ayam potong, Bibi membeli 5 kilo ayam yang hanya bagian sayap dan dadanya saja.


Setelah itu barulah mereka ke tempat pedagang bumbu masakan. Mulai dari kunyit, jahe, lengkuas, lalu sayur-sayuran, semua di beli. Dinda sangat senang bisa ikut menemani Bibi ke pasar, hari minggunya yang dikira akan membosankan karena dirumah saja ternyata tidak seperti yang ia pikir. Menemani Bibi kepasar sepertinya akan jadi kegiatan rutinnya setiap minggu, karena seru sekali. Bertemu dengan banyak orang, lalu menemukan banyak jajanan pasar yang enak-enak. Membuat berat badan Dinda bisa saja naik sekilo untuk hari ini saja.


Sebelum pulang, Dinda menyempatkan waktu untuk mampir di kedai soto depan pasar, karena pelanggannya yang ramai membuat Dinda penasaran ingin mencobanya. Dinda membeli 10 bungkus soto untuk di makan bersama dengan pekerja yang lain dirumahnya. Ia membeli tanpa nasi, karena dirumah juga ada. Setelah itu, barulah mereka benar-benar pulang.


Harapan Dinda, sepulangnya dari pasar ia tak akan lagi bertemu Ariel. Namun harapan itu sirna karena dari jauh ia bisa melihat dengan jelas bahwa Ariel kini sedang berbincang dengan satpam dirumahnya.


Karena ia akan tetap berpapasan dengan Ariel yang berdiri tepat di samping mobil Dinda sejajar dengan jendela samping kanan Dinda. Dinda pun membuka kaca sambil menunggu sang satpam membukakan gerbang untuknya.


"Hai Din" sapa Ariel.


"Iya" sahut Dinda sekenanya.


Lalu Dindapun masuk gerbang tanpa permisi terlebih dahulu pada Ariel. Ia membantu Bibi membawa keranjang belanja tanpa melihat lagi ke arah Ariel yang kini seperti menunggu Dinda akan menatap ke arahnya.


"Non, den Ariel tuh ngapain ya di depan?" tanya Bibi saat mereka sama-sama sedang menata belanjaannya ke dalam kulkas.

__ADS_1


"Ga tau Bi, biarin aja. Yang penting jangan sampe masuk rumah" ucap Dinda setengah kesal dengan keberadaan Ariel yang mendekati rumahnya.


Tak lama setelah itu, Nanda menghubungi Dinda. Dinda pun seolah mendapat energi positif dadakan walau baru melihat nama Nanda di layar ponselnya.


"Sayang" pekik Dinda kesenangan karena Nanda yang sudah 3 hari ini jarang mengabarinya karena ada kerjaan.


"Iya sayang, kamu kok histeris banget gitu. Kangen aku ya?" tebak Nanda yang baru saja sampai rumah.


"Banget, aku kangen kamu hu...hu...hu" ujar Dinda berpura-pura menangis.


"Aku baru aja sampe rumah sayang, kalo mau nyamperin kamu sekarang, aku masih cape banget. Nanti malam aja ya kita jalan" ujar Nanda biar Dinda tidak bersedih lagi.


"Iya sayang, aku kira kamu udah lupa sama aku" rengek Dinda mendadak manja sekali hari ini.


"Mana bisa lupa, kan namamu tercantum di plat mobilku". Yap, benar itu. Sejak tragedi berantem dirumah sakit, biar Dinda yakin bahwa hati Nanda hanya untuk Dinda, Nanda pun mengganti plat mobilnya yang ada embel-embel Dindanya. Akhirnya plat itu menjadi B 03 NDA kalo di baca normal jadi Bunda, alias Bunda Dinda. Mereka sepakat, kalo suatu saat menikah lalu punya anak, Dinda kepengin di panggil Bunda oleh anak mereka. Sedangkan Nanda akan di panggil ayah.


"Iya iya, aku percaya. Kamu istirahat aja dulu. Jangan lupa jemput aku nanti malam. Byee si gantengku". Panggilan pun berakhir, Dinda meluapkan rasa bahagianya dengan memakan soto sampai 2 mangkuk. Ia berbulan-bulan selalu berdoa cepat kurus, namun kenyataan justru sebaliknya.


●●●


Yeay, bentar lagi lebaran. Berat badan siapa yang ga turun-turun meski puasa terus?


--

__ADS_1


Jangan lupa komen ya gais, like, vote, dan masukkan ke daftar favorit kalian...


__ADS_2