(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Dinda VS Feza


__ADS_3

"Syaratnya, aku boleh cek ponsel kamu. Aku boleh keluar masuk akun sosmed kamu tanpa terkecuali" ucap Dinda.


"Emang aku pernah ngelarang kamu buka handphone aku?" tanya Nanda.


"Gak pernah sih"


"Ya udah, nih Hp aku. Kamu boleh buka apapun. Tapi aku gimana? Ga boleh buka Hp kamu?"


Akhirnya keduanya resmi bertukar ponsel mulai malam ini. Di pikiran Nanda, Dinda akan mengotak-atik sosial medianya malam ini juga. Namun ternyata salah, Dinda justru memainkan game online yang ia rasa istrinya mulai kecanduan terhadap game itu.


"Kamu bisa main ini juga?" tanya Nanda sambil membaringkan kepalanya 1 bantal dengan istrinya.


"Ya bisalah, aku udah learning by doing" jawab Dinda.


"Sejak kapan? Kok aku gak tau".


"Ada deh"


Nanda pun tetap diposisi semula sambil memperhatikan istrinya bermain game. Lalu Nanda pun membuka layar ponsel Dinda. Ingin melihat aplikasi permainan apa yang ada di ponsel istrinya itu. Namun sebelum itu, ia lebih dulu menemukan logo aplikasi instagram. Karena ia dan Dinda tak pernah keberatan untuk saling membuka ponsel dan sosmed pasangan, Nanda pun otomatis langsung membukanya. Terlebih ada pesan masuk disana yang belum Dinda baca, takutnya itu adalah pesan penting. Jadi, Nanda berniat untuk membuka DM itu.


Ternyata DM itu dari akun yang tak jelas siapa namanya, Nanda makin penasaran. Dan akhirnya terbukalah pesan itu. Yang ternyata dari Ariel.


Ariel ternyata seringkali mengirimi Dinda pesan walau pesan itu tak dibalas oleh Dinda. Namun, Ariel tampaknya masih gencar menghubungi Dinda.


"Ini tetangga kamu itu 'kan?" tanya Nanda dengan raut wajah tak suka.


"Iya, tapi gak pernah aku balas kok Yank" jawab Dinda sekilas karena Dinda masih fokus dengan permainannya.


"Nih orang udah punya istri tapi masih aja ngurusin cewek lain" kesal Nanda.


"Ya kamu juga kalo masih ngurusin cewek lain artinya kamu sama aja kaya dia" sambut Dinda.

__ADS_1


"Ih, nggaklah. Aku ga pernah genit ya, Yank" tampik Nanda.


"Makanya, kamu harus pandai-pandai jaga jarak sama lawan jenis. Apalagi kamu tuh harta udah punya, tahta juga udah jelas sekarang jabatan kamu apa. Tinggal wanita aja nih" cecar Dinda yang memperingatkan suaminya.


"Iya sayang, aku tahu. Kontak Feza udah aku blokir kok" jawab Nanda patuh.


-


Pagi harinya Dinda kembai melaksanakan aktifitas seperti biasanya. Setelah sholat subuh ia akan menyiapkan masakan untuk sarapan dirinya dan Nanda.


-


Siang harinya, Dinda dan Ayu janjian di sebuah restoran yang berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di dekat kantornya.


Ayu dan Dinda kini tengah duduk bersama dan menceritakan bagaimana hubungan Dinda dan suaminya. Ayu senang karena Dinda sahabat yang terbuka dan mudah menerima saran, bahkan Dinda juga mau mengikuti saran-sarannya. Begitupun sebaliknya, Ayu juga kini sering bercerita pengalaman tentang lika-liku dalam biduk rumah tangganya bersama Aidil.


Setelah acara makan siang mereka usai, Ayu lebih dulu pamit pulang karena tak bisa lama-lama meninggalkan buah hatinya di rumah. Dinda pun kini hanya duduk sendiri. Saat Dinda juga tengah siap-siap mau beranjak meninggalkan meja, tiba-tiba ia melihat di sudut kiri bagian restoran itu ada Feza dan teman-temannya.


"...... Gila Za, gue miris dengernya. Lo yang good looking dan good rekening begini ternyata di sia-siain. Apa dia gak tahu kalo selama ini lo punya rasa ke dia?" Dinda mendengar samar-samar pembicaraan Feza dan temannya.


"Gue gak bisa bayangin. Dia harusnya sadar kalo gue naruh harapan lebih ke dia. Tapi dia gak berusaha sekalipun buat nunggu gue" curhat Feza kepada dua orang temannya itu.


"Tapi kan Za dia udah punya istri" sahut temannya satu lagi.


"Sekalipun dia udah punya istri. Gue tetap mau berjuang. Karena jodoh itu gak selamanya. Buktinya banyak juga pasangan yang cerai 'kan?" Feza ngotot untuk tetap memperjuangkan cintanya pada Nanda.


Dinda yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum sinis. Ia tak menduga bahwa Feza hanya terlihat baik di luar.


Dinda berdiri dari kursinya, ia berjalan mantap menuju meja tempat Feza dan teman-temannya. Sampai di hadapan Feza, Dinda tersenyum.


"Kamu Feza 'kan?" Feza hanya diam menatap dari atas sampai bawah. Ia meneliti keseluruhan fisik dan penampilan Dinda. Sepertinya Feza sedang berpikir bahwa dirinya yakin tak mengenal wanita cantik yang tengah menyapanya.

__ADS_1


Dinda mengulurkan tangannya mengajak berjabatan. "Saya Dinda, istrinya Nanda".


"Lo?" tanya Feza tercekat. Ia tak membalas uluran tangan Dinda. Dinda pun segera menarik kembali uluran tangannya.


"Mungkin dipikiran kamu, saya adalah orang yang merebut Nanda dari kamu. Tapi menurut saya di antara kita tidak ada yang merebut dan direbut" ucap Dinda berusaha sedewasa mungkin.


"Mudah banget lo ngomong begitu. Asal lo tahu, gue kenal Nanda udah lama, dia orang yang gak asal suka sama cewek. Tapi gara-gara lo, gue jadi kehilangan sosok yang selama ini gue cintai" Feza mendadak naik pitam setelah mendengar ucapan Dinda. Hal ini pun membuat keduanya menjadi pusat perhatian karyawan dan semua pengunjung di restoran itu.


Dinda yang tak menyangka akan mendapat respon mengejutkan dari Feza pun buru-buru ingin menyudahi percakapan mereka.


"Tapi kami sudah menikah, Feza. Seperti yang teman kamu bilang, kamu ini good looking dan good rekening. Itu artinya kamu pasti bisa mendapatkan pria manapun. Terkecuali suami saya" ucap Dinda lalu berbalik badan hendak meninggalkan restoran itu.


Namun rambutnya keburu dijambak dengan kuat oleh Feza. Dinda berteriak kesakitan. Dan ia hanya berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Feza di kepalanya tanpa berniat membalas serangan Feza. Kejadian itu membuat beberapa karyawan restoran ikut turun tangan membantu Dinda. Semua pengunjung hanya mengerumuni dan ada juga beberapa yang merekam aksi Feza tersebut.


Sedangkan dua orang teman Feza hanya mematung tak membantu Dinda sama sekali. Beruntung karyawan restoran itu dengan cepat melepaskan tangan Feza dari kepala Dinda.


"Mbak, mbak pergi aja dari sini sebelum mbak ini nyerang lagi" ucap salah satu karyawan yang membantu Dinda tadi.


"Makasih ya" ucap Dinda sambil merapikan rambutnya yang sudah banyak rontok akibat tarikan Feza.


"Lo punya raganya, tapi tidak dengan hatinya. Karena dia sendiri sudah mengakui kalo sebenarnya dia juga mencintai gue" teriak Feza mengiringi kepergian Dinda dari restoran itu.


Dinda yang kini sudah sampai di mobil pun menangis tertahan, ia tak menyangka akan di perlakukan demikian oleh Feza. Jika saja tak ada orang lain selain mereka berdua, tentulah Dinda tak akan tinggal diam. Dinda akan membalas serangan tak terduga Feza, bahkan mungkin lebih parah.


Kini Dinda memutuskan untuk segera pulang kerumah. Ia tetap memaksakan diri mengendarai mobil sampai kerumah walau dengan kondisi kepala yang cenat-cenut. Ia juga tak memikirkan kalimat terakhir Feza. Karena ia lebih tahu dan lebih percaya pada suaminya dibanding Feza.


●●●


Jangan lupa:


Vote, like dan komen yaa...

__ADS_1


Terimakasih:)


__ADS_2