
Boleh nanya gak guys, kalian tau novel ini darimana?
☺
...-_-...
Beberapa hari kemudian
Rama sedang memusatkan perhatiannya pada tabletnya. Tiba-tiba Pak Ali datang dan mengatakan bahwa tadi pagi Maudy menyerahkan surat pengunduran dirinya tapi tetap akan melaksanakan pekerjaannya sampai shiftnya berakhir sore ini. Pak Ali tidak bermaksud apa-apa, namun ia rasa Rama perlu tahu sebab selama ini dirinya merasa ada sesuatu antara Rama dan Maudy.
Rama pun meminta Maudy datang menemuinya keruangan direktur. Rama ingin mendengar alasan kemunduran wanita itu secara langsung.
Tok...tok...tok
"Masuk" titah Rama.
Maudy masuk dengan senyum tipis dan wajah sembab. Ia tampak tegar dan menganggap semuanya baik-baik saja sehingga ia begitu hormat kepada Rama.
"Silahkan duduk" titah Rama lagi.
Maudy pun mengikuti perintahnya.
"Mengapa kamu ingin resign?"Jadi pertanyaan pertama Rama.
"Menurut saya, bekerja disini membuat saya tidak profesional lagi pak. Saya sudah usahakan untuk tidak mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan perasaan, tapi saya tidak bisa. Keputusan saya sudah bulat, saya ingin keluar dari sini" ungkap Maudy.
"Kamu mau pindah dari sini?" tanya Rama.
"Iya pak" jawab Maudy tanpa ragu-ragu.
"Mau saya bantu rekomendasikan ke rumah sakit yang mana? Saya bisa masukkan kamu ke rumah sakit mana saja di kota ini" tawar Rama berniat membantu Maudy.
"Tidak usah pak, biarkan saya mencari jalan saya sendiri. Saya perlu kembali melatih ketangkasan dan kemampuan saya sendiri, selama ini kan hidup saya sudah cukup enak. Segala sesuatunya ada yang membantu. Dan sekarang, sudah tidak ada lagi. Jadi biarkan saya sendiri yang menentukan Pak" tolak Maudy dengan halus.
__ADS_1
Rama sadar, yang Maudy maksud dari ada yang membantu itu adalah dirinya. Ya, sejak awal mereka berpacaran Rama memang selalu bertanggung jawab penuh pada Maudy. Tak pernah ia biarkan Maudy mengalami kesusahan.
Rama bahkan pernah menolong orang tua Maudy dengan menggelontorkan uang sekian milyar karena perusahan milik orang tua Maudy yang banyak hutang dan berakhir gulung tikar. Tapi meski begitu, Rama tetap selalu ada untuk Maudy. Butuh apapun selalu Rama sediakan. Bahkan uang penebus hutang orang tuanya Rama ikhlaskan untuk tidak dikembalikan padanya.
Rama khawatir akan kehidupan Maudy kedepannya, ia pun tak bisa berbuat lebih jika Maudy sudah menolak bantuannya. Ibarat kata, jika kita memelihara harimau di penangkaran. Maka jangan lepaskan lagi ia ke hutan. Karena, hidup di penangkaran membuatnya manja dan tidak mampu bertahan hidup di alam liar.
"Apa kamu sudah benar-benar yakin mau pergi dari rumah sakit ini?" tanya Rama lagi.
Maudy terdiam, ia menundukkan kepalanya dan menghapus air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Rama pun begitu, begitu sesak hatinya saat merasakan kembali debar-debar di dadanya, tak sanggup ia melihat Maudy yang menganggap dirinya kini adalah orang asing. Padahal sebenarnya Rama tidak masalah jika kini Maudy meminta pertolongannya, ia akan senang bisa membantu Maudy.
"Yakin gak yakin pak. Tapi ini harus, untuk kebaikan saya juga" jawabnya dengan menegakkan kembali pandangannya.
"Baiklah Dy, kamu boleh keluar sekarang. Saya sudah mengizinkan kamu untuk meninggalkan rumah sakit ini, tapi jika kamu ingin kembali kesini saya akan dengan senang hati menerima kamu lagi" Sebenarnya ini bertentangan dengan hati nuraninya, tapi yang terpenting ia sudah memberi jaminan yang terbaik untuk Maudy.
"Terimakasih pak, saya pamit dulu mau melanjutkan tugas saya" ucap Maudy dengan berusaha tegar.
"Iya, silahkan" ucap Rama.
Saat Maudy sudah keluar dari ruangannya, Rama termenung. Ia rasanya tak tega melihat Maudy yang tersiksa begini. Mau bagaimana pun Maudy menutupi, Rama paling tahu tentang wanita itu. Bagaimana dia marah, bagaimana dia kecewa, bagaimana dia berusaha menghadapi segala kesulitan dalam hidupnya tanpa bercerita pada orang tuanya. Rama sangat tahu penderitaan anak sulung dengan 4 orang adik itu.
Ataukan kamu juga akan segera menikah makanya kamu sudah mempersiapkan diri untuk jadi ibu rumah tangga?
"Ah iya, aku belum bertanya kapan dia akan menikah" Rama pun keluar dari ruangannya untuk mengejar Maudy yang pasti belum terlalu jauh perginya.
Setelah mendapati punggung Maudy yang berjalan, Rama pun memanggilnya dan berlari kecil untuk bisa segera sampai menuju Maudy.
"Bapak kok panggil saya?" tanya Maudy.
"Berhenti panggil aku pak. Aku mau nanya sesuatu sama kamu" kata Rama.
"Nanya apa?" tanya Maudy.
"Kapan kamu akan menikah?"
__ADS_1
Maudy hanya diam, matanya terus bergerak seolah tengah mencari jawabannya.
Dari gerak-gerik Maudy, Rama tahu pasti ada sesuatu.
"Kenapa?" tanya Rama.
"Kami tidak jadi menikah, karena 3 hari yang lalu ia baru saja ditangkap polisi dengan kasus transaksi jual beli narkoba. Dan ternyata dia bandar besar di kota ini, aku juga baru tahu semalam" ujar Maudy.
"Dy ..." Rama sedih mendengarnya. Bagaimana hidup wanita ini kedepannya. Wanita yang dulu saat bersamanya tak ia biarkan kekurangan satu apapun, kini justru lepas dari Rama malah terkena banyak masalah.
"Aku gakpapa Ma, aku baik-baik aja" Maudy hendak berlalu dari hadapan Rama namun langkahnya terpaksa terhenti sebab Rama yang memeluknya dari belakang.
"Dy, biarkan aku masuk ke kehidupan kamu lagi. Jika tidak bisa menjadi sepasang kekasih, biarlah kita menjadi teman baik. Aku akan selalu siap membantu kamu. Jangan hadapi semuanya sendiri, jangan pendam sendiri. Ada banyak orang yang peduli dan mau bantu kamu Dy" Rama semakin mempererat ikatan tangannya di tubuh Maudy. Terlebih saat wanita itu melepas seluruh tangisannya, tubuh Rama bahkan ikut bergetar.
"Gak Ma, aku dan keluarga akan pergi dari sini. Aku gak tahan dengan gunjingan orang. Aku gak tahan tetap bertemu keluarga yang malah jadi penyebab aku seperti ini. Meninggalkan kamu dan berakhir menyedihkan. Aku malu Ma sama kamu, kamu udah baik sama aku. Kamu gak pantas masuk lagi dalam kehidupan aku yang penuh goncangan ini, aku udah jahat sama kamu. Menerima kebaikan kamu malah akan membuat langkah aku semakin berat" Maudy begitu keras untuk tetap menolak bantuan Rama, hatinya tersiksa jika terus-terusan melihat Rama. Rama yang dulu bisa ia miliki dan yakini tak kan pergi meninggalkan, kini malah berubah menjadi kasih yang tak sampai.
Rama memutar tubuh Maudy sehingga menghadap kearahnya. Rama mengusap air mata itu yang terus saja mengalir.
"Apa kamu sanggup?" tanya Rama.
Maudy hanya mengangguk, dirinya juga sebenarnya tak yakin. Tapi, ini demi agar Rama tak berlebihan mengkhawatirkannya.
"Aku yang gak sanggup" Rama meneteskan air matanya. Lalu lengannya mendorong Maudy dari belakang agar masuk dalam pelukannya.
Keduanya menangis terisak di koridor rumah sakit lantai atas, yang memang cukup sepi karena hanya di khususkan untuk ruangan para petingginya saja.
Keduanya terhanyut dalam buaian pelukan erat masing-masing. Tanpa mereka tahu jika kini ada sepasang mata yang ikut memerah setelah melihat dengan jelas calon suaminya yang masih sangat mencintai mantan kekasihnya.
Ia juga tak lupa memfoto Rama yang tengah berpelukan dengan Maudy dan menjadikannya wallpaper di ponselnya. Sengaja melakukan hal itu sebagai pengingat bahwa dirinya hanya akan menjadi istri pajangan dan jangan sampai melibatkan perasaan.
...-_-...
😍
__ADS_1
😍
Mohon di like dan komen yaa, biar aku semangat up lagi🤗