
Hari ini, tepat 2 tahun Dinda dan Ariel jadian. Mereka berencana untuk jalan-jalan keliling kota karena mengikuti mood Dinda saja.
Dinda bilang bioskop, ke bioskop.
Dinda bilang time zone, ke time zone.
Ariel manggut-manggut saja tanpa protes sedikit pun. Karena hal yang menjadi kesukaan Dinda kini juga jadi kesukaannya.
Terlebih ia sangat paham bagaimana cara mengambil hati Dinda. Dengan mengikuti saja apa katanya maka Ariel nanti akan dengan mudah mendapatkan izin pergi nongkrong dengan teman-temannya.
Hari ini bertepatan dengan hari sabtu, di mana kantor Ariel dan kampus Dinda sedang libur. Jalanan hari ini pun tampak cukup lengang.
Dinda dan Ariel menggunakan mobil milik Dinda, sebab mobil Ariel sedang di perbaiki karena terakhir kali Ariel pakai tiba-tiba mengeluarkan asap di bagian depannya. Karena takut kenapa-napa maka mobil itu segera Ariel larikan ke bengkel terdekat.
"Sayang, habis keliling ini kita kemana lagi ?" tanya Ariel yang sedang menyetir sambil merapikan sedikit kerah kemeja yang ia pakai.
"Time zone yah, sekalian nanti kita tukarin tiket yang udah kekumpul banyak waktu kita main pas tahun kemaren. Soalnya kalo di tunda-tunda malah keburu expired" kata Dinda sambil sesekali menciumi bahu Ariel. Karena wangi parfum yang Ariel gunakan memang sangat ia sukai. Wangi vanilla.
"Oke sayang, aku juga kepengen banget sih main time zone. Soalnya kita udah lama ga pernah ke sana lagi. Ada kali ya 5 bulanan? tanya Ariel sambil matanya memicing berusaha mengingat-ngingat.
"Mata udah sipit, sok begitu-gitu segala" ledek Dinda.
"Haha, biar sipit begini. Pesona cewek cantik kaya kamu tuh ga bisa terelakkan. Tetap kelihatan" goda Ariel sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dinda.
"Aduuuh, basi banget hahaha" remeh Dinda pada gombalan Ariel.
__ADS_1
"Kamu udah ga mempan ya di gombalin, ilmunya udah meningkat" ucap Aril sambil mencubit pipi Dinda sampe merah.
"Aw... Kamu tuh, hati di patahin, pipi di merah-merahin" kesal Dinda sambil mengusap-usap pipinya yang perih karena cubitan Ariel yang seperti jepitan kepiting.
"Uuuuu, tayang tayang... sini peyuk" bujuk Ariel sambil menggapai Dinda masuk ke pelukannya dengan tangan kirinya.
"Sayang, kita kok lempeng banget ya hubungannya. Ga kaya orang-orang" ucap Dinda yang masih mendekap di dada bidang Ariel kemudian melepaskannya.
"Lho, sama aja. Kita kan orang" pungkas Ariel sekenanya.
"Ishh, kita beda. Orang-orang Anniversarynya di rayain pakek bunga-bunga, makan malam romantis, ah pokonya yang sweet-sweetlah. Ulang tahun pasangannya juga di rayain, di kasih surprise macem-macem. Kok kita ngga?" beber Dinda yang seketika wajahnya terlihat lesu tak bersemangat.
"Hei... sayang, aku bukannya ga mau. Tapi kamu sendiri ga bilang kalo kamu mau kaya gitu. Makanya ada mau apa-apa tuh bilang sama aku. Aku tadinya ngira kamu ga suka yang berlebihan kaya gitu" tutur Ariel sambil memegang dagu Dinda demi memutar wajahnya agar bisa melihat dalam ke matanya. Meski sesekali Ariel harus lihat ke depan karena sedang menyetir.
Dengan posisi tangan Ariel yang menggenggam dagu Dinda itu, malah sengaja pula ia main-mainkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Alhasil mulut Dinda bergerak-gerak seperti ikan dalam air. Ariel pun tertawa ngakak.
"Lagi serius-seriusnya malah becanda" omelnya lagi.
"Iya-iya sayang, ada lagi yang mau di sampein ?" tanya Ariel mengusap-usap kepala Dinda biar marahnya cepat reda.
"Ada" jawab Dinda.
"Waktu dan tempat saya persilahkan" sahut Ariel sambil memutar setir ke arah yang ia tuju.
"Sayang, aku mau ultah aku besok di rayain ya. Ga muluk-muluk kok, cukup kita berdua aja juga ga papa. Atau liwetan di rumah juga ga papa. Biar kesannya aku tuh penting di mata kamu. Huft" gerutu Dinda yang kemudian sebel sendiri.
__ADS_1
"Lho, kok gitu ? Haha, jangan marah dong, kamu tuh penting sayang. Cup cup cup... Duh, jadi makin sayang deh" bujuk Ariel lagi sambil membawa Dinda dalam dekapannya dan memukul-mukul pelan bahu Dinda.
"Janji ya, aku ulang tahun di rayain" ucap Dinda pelan.
"Iya sayang, janji. I love you" kata Ariel yang kemudian mengecup punggung tangan Dinda dan meletakkannya di paha Ariel.
"I love you too" balas Dinda bersemangat lalu mencium singkat pipi Ariel.
"Kalo annivenya gimana ? mau di rayain kaya gimana sayang ?" tanya Ariel hati-hati.
"Annivenya tetep kaya gini aja sayang, kan kaya gini juga seru. Main di time zone, nonton horor, jalan-jalan, makan-makan. Ya, kan?" pekik Dinda meminta pendapat Ariel.
"Iya sayang, aku bahagia banget malah. Kamu ga nuntut apa-apa dari aku. Semua serba berjalan apa adanya. Ga penting seberapa besar biaya yang kita keluarkan. Yang paling penting itu, seberapa berkualitasnya hal yang kita lakukan" tukas Ariel serius dan membuat Dinda seakan tak percaya karena tumben sekali Ariel bisa mengeluarkan kata-kata mutiara begini.
"Aku bangga sama kamu, Mas" ucap Dinda cengengesan.
Begitu terus, kalo Ariel serius pasti di becandain sama Dinda. Karena seriusnya Ariel itu sesuatu yang amat jarang terjadi. Dan membuat taraf kegantengannya meningkat. Dinda kan deg-degan ya kalo liat Ariel makin ganteng. Di tambah lagi, namanya cewek pasti ada insecurenya. Selalu merasa bahwa Ariel tuh kok mau sama aku, padahal dia ganteng. Akunya pas-pasan. Semua cewe-cewe yang pernah Ariel deketin waktu itu, pada cakep-cakep dan masa depannya jelas. Aku aja masih kuliah. Kok Ariel mau sih sama aku ? Begitu pikir Dinda.
2 jam mereka berkeliling tanpa tujuan, kini Ariel membelokkan mobil ke dalam parkiran salah satu mall yang ada di kotanya. Mereka akan ke restoran jepang yang ada di mall tersebut karena mendadak Ariel mendadak lapar, katanya. Setelah itu baru mereka akan membakar kalori di arena bermain yang ada di mall tersebut.
Setelah selesai makan, mereka pun berjalan ke tempat arena permainan berada. Ariel berjalan dengan semangat 45 sambil menarik tangan Dinda.
"Kamu jalannya biasa aja dong, lagian tempatnya di situ-situ aja. Ga bakal ilang" gerutu Dinda yang merasa jalan Ariel terlalu cepat sehingga ia kewalahan mengimbangi langkah Ariel.
"Aku udah ga sabar ini, pengen main basket. Kira-kira kita bakal ketemu lagi ngga sama adek lucu yang waktu itu ?" tanya Ariel sambil melirik Dinda di belakangnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Kayanya ngga deh, kan random banget kalo tiba-tiba ketemu lagi sama adek itu. Toh dia juga pasti udah lupa sama kita" tutur Dinda.
Lalu tiba-tiba...